NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Hari Senin

Hari yang lumayan cerah untuk hati yang suram. Dua hari beristirahat membantu Naya mengembalikan kesehatannya yang sempat down.

Pagi-pagi sekali Naya sudah berangkat ke kantor, niatnya menghindari bertemu orang-orang di lobi atau dimanapun itu. Entahlah, Naya merasa setelah kejadian itu, dirinya malu pada semua orang, pada orangtua, pada dirinya sendiri. Sampai-sampai Naya enggan bercermin menatap wajahnya sendiri.

Naya tidak menyadari kalau sejak ia datang, seseorang sudah mengekor dibelakang, yang rela menunggu di dalam mobil sejak satu jam lalu.

Tentu saja itu Ibra.

Tepat ketika Naya berbelok dengan tergesa, Ibra memanggilnya dengan suara pelan. "Naya. Tunggu sebentar."

Mendengar suara yang pernah dia dengar membuat Naya terperanjat dan refleks menjatuhkan genggam tas yang berisi berkas, yang sebelumnya dia peluk.

Beruntung tidak sampai berhambur, Naya buru-buru menunduk dan mengambilnya. Ibra dipijakan terdiam sebab reaksi Naya yang menurutnya terlalu berlebihan.

Pria itu melihat bahu Naya yang sedikit berguncang halus—sebuah gestur yang Ibra mengerti.

​"Naya, saya hanya mau--"

​"Jangan," potong Naya, menunduk.

​Suasana langsung surut, rasa takut, canggung dan ketidaknyamanan terasa memagut. Bahkan udara di koridor sepi itu mendadak menyempit hingga rasanya sulit untuk bernapas.

​"Saya bahkan belum selesai bicara."

​"Apapun itu, lupakan. Aku—maksudnya saya h-hanya ingin bekerja." Naya sedikit gemetar mengucapnya, bahkan remasannya pada tas berkas menguat. Begitu kuat, seolah tas itu adalah satu-satunya perisai yang ia punya.

​Ibra menghela nafas. Tatapan matanya menyapu wajah Naya yang enggan mendongak sedikit pun. Ada jarak tak kasat mata yang terbentang sangat jauh dan pekat di antara mereka.

"Oke, saya harap kamu baik-baik saj—" Ibra menghentikan kalimatnya. Kembali menghela nafas panjang. Sadar bahwa keberadaannya saat ini tak ubahnya ancaman besar bagi perempuan di hadapannya. "Saya harap kamu bisa memberitahu saya apapun dan semoga kamu sehat sela--lu."

​Naya sudah meninggalkannya bahkan saat ucapannya belum usai. Langkah kakinya tergesa-gesa. Ibra memandang punggung kecil itu, yang masuk ke dalam lift.

"Na-naya..."

​Pintu lift tertutup rapat, memutus pandangan Ibra secara penuh.

Ibra mengepalkan kedua tangannya. Bagaimana? Bagaimana bersikap yang seharusnya?

​Di dalam ruang sempit berdindingkan cermin itu, Naya bersandar pasrah. Tubuhnya merosot perlahan hingga ia berlutut di lantai lift yang dingin. Napasnya terengah-engah seolah baru saja lolos dari kejaran marabahaya.

Suara panggilan Ibra tadi masih berdengung di telinganya, memicu ingatan kelam saat pertama kali terbangun di kamar hotel.

"Aku enggak tahu harus berbuat apa, aku takut."

​Sementara itu, Ibra masih mematung. Pria itu meraup wajahnya kasar dengan sebelah tangan, mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa bersalah dan kelelahan. Reaksi Naya adalah tamparan paling keras baginya.

​Ibra menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Jemarinya menekan satu nama di daftar kontak.

​"Halo, Ar," ucap Ibra begitu panggilan tersambung, suaranya dingin dan kaku. "Gue minta rekaman CCTV hotel tiga hari lalu di tempat lo kerja, gue bayar, berapapun."

****

Naya begitu sibuk di mejanya, sampai saat pintu terbuka menampilkan sosok Gea yang masuk, Naya menoleh dan menyapa seperti biasanya.

"Hai, Kak," sapa Naya, berusaha agar tetap sama seperti sebelum-sebelumnya.

"Hai, Nay. Oh, ya, gue mau nanya tentang malam itu, lo pulang gimana?"

Gea menatap Naya sebentar, memperhatikannya.

Naya yang sedang menulis di salah satu kertas menghentikan gerak penanya. Gurat gelisahnya tertangkap oleh pendar Gea.

"A-aku di jemput, Kak." Entah kenapa, Naya sudah menyiapkan jawaban ini namun tetap saja ia tercekat kala mengatakannya.

Dan sebelum Gea sempat bertanya lebih lanjut, suara derap langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat ke area kubikel mereka.

​Marina dan Lady berjalan berdampingan. Wajah keduanya tampak berusaha tenang, tetapi ada raut cemas yang tak sanggup disembunyikan sepenuhnya dari sorot mata mereka—terutama Lady.

​"Hai, Nay," sapa Marina sok ramah. "Gimana liburnya kemarin? Enak banget, libur tiga hari berturut-turut."

Lady ikut menyambung, "Yakan, eh terus gimana hari jumat itu, Nay?"

Naya menaikkan satu alisnya. "M-maksud Kak Lady?"

​Lady merutuk mulutnya dalam hati, sialan sekali, harusnya jangan terburu-buru, terkesan dia tahu sesuatu jadinya. "E-enggak, m-maksudku kamu waktu hari jumat gimana? Pas bangun itu anu maksudnya kamu kan mabuk dan gak pernah minum, yakan, katamu."

"Ohh." Naya tersenyum kaku. "Pas di rumah, aku agak pegel aja, Kak."

Hah, rumah?

Lady dan Marina saling pandang. Kalau Naya di rumah, bagaimana caranya? Aneh sekali.

Tapi apapun itu, setidaknya mereka jauh dan lepas dari masalah.

Gea menyadari ada yang aneh. Biasanya Marina dan Lady tak pernah begitu, bertanya sampai ke akar-akar. Tapi sejak hari terakhir kerja kemarin, Gea nampak melihat banyak kejanggalan dari keduanya saat Naya libur itu.

​"Kenapa lo liatin gue?" tanya Lady.

​Gea mengangkat bahu saja.

​Lady entah kenapa merasa waswas, Gea si irit bicara itu entah kenapa terlihat menyebalkan. Lady juga tahu Gea ini sangat apatis, jadi ia meyakinkan diri kalau Gea hanya terpaksa mendengarkan percakapan tadi, bukan penasaran.

​Lalu keduanya, Marina dan Lady, duduk di kursi kerja masing-masing. Keempat perempuan itu nampak fokus pada kerjaan.

​Naya juga bersyukur hari ini Marina dan Lady tidak menyuruh-nyuruhnya seperti biasa.

​Sampai jam Istirahat Siang.

​Denting jam menunjukkan pukul dua belas tepat. Naya memegangi perutnya yang mulai terasa perih. Sejak pagi tadi belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam tubuhnya. Naya memberanikan diri melangkah menuju kantin kantor. Teman satu ruangannya sudah menghilang lebih dulu setelah kerjaan mereka selesai.

​Namun, begitu Naya menggeser pintu kantin, matanya tak sengaja menangkap sosok Ibra yang sedang duduk sendirian di meja sudut.

​Seketika rasa mual dan panik menyerang dadanya. Tanpa berpikir panjang, Naya langsung memutar balik badannya, memilih kembali ke ruangan administrasi dengan perut kosong demi menghindari pria itu.

​Sampai di kubikelnya, Naya terpaksa memesan makanan lewat aplikasi online delivery.

Naya tak bisa jika bertemu dengan laki-laki itu, meski Naya tahu bahwa ini semua terjadi bukan sepenuhnya kesalahan Ibra. Tak berapa lama, ia turun sebentar ke lobi mengambil bungkusan itu, lalu membawanya kembali ke meja kerja.

Bersamaan dengan itu muncul Marina dan Lady yang selesai makan di kantin.

​Melihat hal itu, Lady yang kini duduk tak jauh darinya langsung mendesis sinis. "Dih, gaya amat. Makan aja harus pesan online," cibir Lady dengan nada keras yang sengaja ditujukan pada Naya. "Sok eksklusif banget enggak mau ke kantin. Kayak yang punya banyak duit aja."

​Marina tertawa kecil menyahuti, "Iya nih, serasa paling sibuk se-kantor."

​Naya menunduk dalam-dalam, meremas kantong plastiknya. Seperti biasa, ia memilih membisu.

​Tiba-tiba, suara ketikan papan ketik dari meja sebelah berhenti total.

​"Aduh berisik, ini laporanku jadi salah ketik," ucap Gea dengan suara lantang dan dingin. Tatapannya tetap lurus menatap layar monitor, tak mengalihkan pandangan sedikit pun.

​Lady yang merasa tersindir langsung menoleh tajam dengan raut tak terima. "Oh, bisa ngomong toh, kirain bisu."

​Gea menghentikan gerakan jemarinya, lalu menoleh pelan. Tatapannya dingin, merendahkan, dan menusuk lurus ke mata Lady tanpa berkedip.

​"Bisa. Dan mulutku dipakai buat kerja, bukan buat ngurusin makanan orang lain," sahut Gea datar, suaranya tenang tapi sarat intimidasi.

"Kerjaan kalian udah kelar? Atau mau aku komplain ke Pak Danang biar sekalian dibantu?"

​Hanya dua kalimat datar itu, tapi sukses membuat tenggorokan Lady seperti tersumbat. Mengingat nama Pak Danang, atasan divisi mereka membuat Lady dan Marina mengatupkan bibir rapat-rapat.

Wajah Lady memerah padam antara malu dan kesal, lalu terburu-buru menghadap kembali ke mejanya tanpa ingin membalas lagi.

​Gea kembali menatap layar monitornya, melanjutkan ketikannya seolah tak terjadi apa-apa.

​Di sebelahnya, Naya menghembuskan napas lega yang tertahan. Meskipun Gea melakukannya bukan karena peduli melainkan karena merasa terganggu, pertolongan singkat itu cukup membentengi Naya hari ini.

Naya pun mengetik pesan singkat sebelum makan.

​****

​Pukul lima sore. Begitu bel tanda jam kerja berakhir berbunyi, Naya tergesa-gesa merapikan tasnya. Ia ingin menjadi orang pertama yang keluar dari ruangan Divisi Administrasi agar tidak perlu berpapasan dengan siapa pun, meski mustahil.

​Naya melangkah pelan menuju pintu. Sebelum mendorongnya, ia melirik waswas ke lorong dan

tampak lengang, membuat Naya sedikit bernapas lega. Namun, tepat saat Naya melangkah keluar pintu, pintu kaca Divisi Engineering di seberangnya mendadak terbuka.

​Dion, yang memberikan kertas beberapa hari lalu melangkah keluar. Melihat ada Naya diseberang, laki-laki itu tersenyum dan melambai. Naya tersenyum juga, ikut melambai.

Lalu ketika Naya melangkah, baru dua langkah, kaki Naya berhenti, ada sosok Ibra—orang yang di hindarinya.

​Jantung Naya berdesir hebat. Rasa panik memagut dadanya secara mendadak. Tanpa berpikir panjang, Naya memutar tubuhnya seketika. Mengabaikan area lift utama yang berada persis di hadapannya, Naya memilih berlari kecil menuju pintu tangga darurat di sudut koridor.

​Ibra sempat melangkah untuk mengejar, tetapi langkahnya terhenti kaku begitu pintu besi tangga darurat tertutup rapat dengan dentuman halus.

Pria itu menyandarkan satu telapak tangannya di daun pintu yang dingin, mendengarkan gema langkah kaki Naya yang menuruni anak tangga dengan terburu-buru demi menjauhinya.

​Ibra meraup wajahnya kasar, menghembuskan napas panjang yang amat sesak. Menghindarinya sejauh ini... Naya benar-benar ketakutan padanya.

Dion, yang sedari awal melihat mematung ditempat. Tunggu? ada apa ini?

1
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!