Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.
Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.
Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.
Brak!
Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.
Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?
Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Setelah upacara selesai,suasana kelas mulai kembali ramai,Siswa-siswi masuk satu per satu sambil masih membicarakan jalannya upacara tadi,Ayla duduk di bangkunya bersama rina dan salsa.
Rina masih tertawa mengingat kejadian ulang tahun kemarin.
"Bagas benar-benar meyakinkan waktu bilang mau putus."
Salsa mengangguk.
"Aku saja hampir percaya."
Ayla memutar bolpennya sambil tersenyum jahil.
"Tapi dia terlalu serius waktu itu."
Rina menatap ayla curiga.
"Kamu mau balas?."
Ayla hanya tersenyum.
"Sedikit."
...••••••...
Di koridor sekolah,Bagas sedang berdiri bersama raka dan dimas sambil mengobrol,Tiba-tiba ayla datang mendekat,Rina dan salsa berdiri agak jauh memperhatikan.
Ayla berhenti tepat di depan bagas.
"Pagi."
Bagas menoleh.
"Pagi."
Ayla menyilangkan tangan sambil tersenyum kecil.
"Bagaimana kabarnya mantan?."
Raka langsung menutup mulut menahan tawa dan dimas hampir tertawa keras.
Bagas mengerutkan kening.
"Hah?."
Ayla menjawab santai.
"Mantan."
Ayla menunjuk bagas.
"Kan kemarin kamu bilang putus."
Raka berbalik pura-pura melihat ke arah lapangan dan dimas sudah gemetar menahan tawa.
Bagas menatap ayla tajam.
"Sayang."
"Iya,mantan?."
Bagas mulai terlihat kesal.
"Berhenti panggil aku begitu."
Ayla pura-pura tidak mengerti.
"Kenapa?Kamu sendiri yang bilang."
Bagas menghela napas kasar.
"Itu prank."
Ayla menaikkan alis.
"Tapi kamu terlihat mengatakannya sangat serius."
Dimas akhirnya tertawa kecil.
"Gas mulai panas."
Bagas langsung menatap ayla dengan wajah benar-benar kesal.
"Sayang,dengar."
Suara bagas sekarang lebih tegas.
"Aku tidak pernah jadi mantanmu."
Ayla masih tersenyum kecil.
"Oh ya?."
Bagas melangkah sedikit mendekat.
"Kita gak pernah putus."
Ayla melihat wajah bagas yang benar-benar kesal,Akhirnya ayla tertawa pelan.
"Baiklah,Baiklah."
Ayla mengangkat kedua tangannya.
"Aku cuma bercanda."
Bagas masih menatapnya kesal.
Ayla menatapnya dengan senyum kecil.
"Maaf ya."
Bagas menghela napas panjang.
"Sengaja."
Ayla mengangguk santai.
"Sedikit."
Dimas akhirnya tertawa.
"Balas dendam karena prank kemarin."
Raka mengangguk.
"Adil."
Bagas akhirnya menggeleng kecil,Namun sudut bibirnya sedikit naik.
"Jangan panggil aku mantan lagi."
Ayla tersenyum.
"Iya."
Ayla menambahkan pelan.
"Tunangan."
Raka dan dimas langsung bersiul menggoda.
Bagas memutar matanya tapi tidak benar-benar marah lagi.
...••••••...
Di depan gerbang sekolah,Ayla baru saja keluar bersama rina dan salsa.
Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka,Pintu mobil terbuka,Bagas keluar.
Rina langsung berbisik.
"Seperti biasa jemputan datang."
Salsa tersenyum.
"Wah,Romantis."
Bagas berjalan mendekat.
"Sayang."
“Iya?”
Bagas berkata singkat.
"Ayo."
"Rina,Salsa aku duluan yah"
"Okey,hati-hati"jawab rina dan salsa.
Ayla masuk ke mobil,Sebelum pintu ditutup, Ayla sempat berkata pelan kepada bagas.
"Terima kasih mantan."
Bagas langsung menatapnya.
"Ayla."
Ayla tertawa kecil.
"Bercanda."
Mobil itu pun perlahan meninggalkan gerbang sekolah.
...••••••...
Beberapa menit kemudian mobil bagas berhenti di depan sebuah mall besar.
Ayla turun dari mobil sambil melihat sekeliling.
"Kenapa kita kesini?."
Namun bagas justru berjalan ke arah toko handphone.
Ayla langsung berhenti.
"Bagas?."
Bagas menoleh.
"Masuk."
Ayla terlihat bingung.
"Kita ke sini?."
Bagas hanya menjawab singkat.
"Hmm."
Mereka masuk ke dalam toko.
Di etalase terlihat berbagai handphone terbaru.
Ayla masih menatap Bagas heran.
"Kamu mau beli handphone?."
Bagas menunjuk satu handphone di etalase.
"Yang itu."
Pegawai toko langsung mengambilnya.
"Ini iphone keluaran terbaru,Kak."
Ayla langsung menatap bagas kaget.
"Bagas?."
Bagas mengambil kotak handphone itu lalu menyerahkannya ke ayla.
"Ini untukmu."
Ayla langsung menggeleng cepat.
"Tidak!."
Bagas sedikit mengerutkan kening.
"Kenapa?."
Ayla terlihat panik.
"Ini mahal."
Bagas menjawab santai.
"Tidak masalah."
Ayla langsung mengangkat tangannya menolak.
"Tidak Bagas,Aku tidak bisa menerima."
Bagas menatapnya.
"Kenapa tidak?."
Ayla mengeluarkan handphonenya dari tas,Layarnya memang retak di sudut,Namun masih bisa dipakai.
"Handphoneku masih bisa digunakan."
Bagas melihat layar retak itu.
"Kamu menyebut ini masih bagus?."
Ayla langsung menyembunyikan handphonenya sedikit.
"Masih bisa dipakai."
Bagas menjawab datar.
"Layarnya retak."
"Tidak apa-apa."
Bagas menatapnya serius.
"Sayang."
Ayla menggeleng lagi.
"Aku tidak mau."
Pegawai toko bahkan ikut diam melihat mereka.
Ayla melanjutkan.
"Ini terlalu mahal."
Bagas masih memegang kotak iphone itu.
"Ini hadiah ulang tahunmu."
Ayla tetap menolak.
"Aku tidak butuh."
Bagas menatapnya beberapa detik,Lalu tiba-tiba ia berkata ke kasir.
"Yang ini saya ambil."
Ayla langsung terkejut.
"Bagas!."
Namun Bagas sudah menyerahkan kartunya,Beberapa detik kemudian transaksi selesai,Kasir memberikan kotak handphone itu,Bagas langsung memasukkannya ke tangan ayla.
"Pegang."
Ayla masih menatapnya tidak percaya.
"Bagas."
Bagas menatapnya dengan wajah tenang.
"Kalau handphone lamamu rusak dan kamu tidak bisa menghubungiku,Siapa yang repot?."
Ayla terdiam.
Bagas melanjutkan.
"Aku."
Ayla masih memegang kotak itu,Namun ayla masih mencoba menolak.
"Aku tetap tidak enak."
Bagas menjawab singkat.
"Simpan saja."
Ayla menatapnya beberapa detik,Lalu menghela napas kecil.
"Kenapa kamu selalu menang."
Bagas menjawab santai.
"Karena kamu keras kepala."
Ayla akhirnya tersenyum kecil.
"Terima kasih."
Namun beberapa detik kemudian ayla berucap jahil lagi.
"Baiklah sekarang aku harus selalu mengangkat teleponmu."
Bagas mengangguk.
"Hmm."
Ayla lalu menambahkan pelan sambil tersenyum.
"Supaya mantanku tidak khawatir."
Bagas langsung menatapnya tajam lagi.
"Sayang."
Ayla langsung tertawa kecil.
"Bercanda!"
Setelah dari mall,Ayla tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan mobil.
"Bagas kita ke makam,Yah."
Bagas menoleh,Lalu mengangguk pelan,bagas sudah tidak kaget lagi,Ini bukan pertama kalinya ayla mengajaknya ke sana.
"Iya,Ayo."
Beberapa menit kemudian,Mobil berhenti di tempat yang sudah begitu familiar bagi mereka.
Ayla turun lebih dulu,Berjalan pelan menuju dua makam yang berdampingan,Wajahnya tenang,Tapi sorot matanya menyimpan banyak hal.
Bagas mengikuti dari belakang,Seperti biasa diam,Tapi selalu ada.
Ayla berjongkok di depan makam,Tangannya menyapu pelan daun-daun kering yang jatuh di atasnya.
"Ma,Pa"ucapnya lembut.
Sejenak ia terdiam,lalu tersenyum kecil.
"Ayla datang lagi,Sama bagas."
Ayla melirik sekilas ke arah bagas,Lalu kembali menatap nisan di depannya,Hening sejenak,Lalu suaranya melembut,sedikit bergetar.
"Kemarin ayla ulang tahun,Ma,Pa."
Angin berhembus pelan,Membuat suasana terasa semakin sendu.
"Ayla nggak bilang ke siapa-siapa,Tapi ayla tetap ingat kalian."
Air matanya mulai jatuh perlahan.
"Ayla kangen."
Ayla mengusap pipinya cepat,berusaha tetap tersenyum.
"Tapi ayla baik-baik aja kok,Ada bagas yang selalu jagain ayla."
Ayla menoleh ke arah bagas,lalu tersenyum kecil.
"Dia masih sama cuek,Tapi selalu ada."
Bagas menatapnya tanpa berkata apa-apa,Tapi kehadirannya terasa jelas.
Ayla kembali menghadap makam.
"Ma,Pa ayla janji bakal terus kuat,Ayla bakal bikin kalian bangga.”
Ayla menunduk,Berdoa dalam diam.
Beberapa saat kemudian,Bagas melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya.
"Kamu nggak sendiri,Ayla."
Ayla menoleh,Matanya masih basah, tapi kali ini ada kehangatan di sana.
"Iya aku tahu."
Beberapa saat mereka hanya berdiri dalam diam di depan makam.
Angin sore berhembus pelan,Menggoyangkan dedaunan di sekitar area pemakaman.
Ayla mengusap sudut matanya lalu menarik napas panjang.
"Aneh ya"ucap ayla pelan.
Bagas menoleh.
"Apa?."
Ayla tersenyum kecil sambil menatap nisan kedua orang tuanya.
"Setiap kali aku datang ke sini,Rasanya selalu sama."
Bagas tetap mendengarkan.
"Aku selalu kangen."
Hening sejenak.
"Lalu aku selalu berharap mereka masih ada."
Tatapan ayla sedikit menunduk.
"Cuma buat lihat aku sebentar saja."
Bagas berdiri di sampingnya tanpa berkata apa-apa.
Ayla tertawa kecil meski matanya masih sedikit merah.
"Padahal aku tahu itu nggak mungkin."
Bagas akhirnya berbicara.
"Kalau mereka ada di sini sekarang."
Ayla menoleh.
"Mereka pasti bangga."
Kalimat itu membuat ayla terdiam cukup lama,Matanya kembali tertuju pada nisan kedua orang tuanya.
"Menurut kamu begitu?."
Bagas mengangguk pelan.
"Iya."
Ayla tersenyum kecil.
"Padahal mereka bahkan nggak sempat lihat aku tumbuh besar."
Bagas memasukkan kedua tangannya ke saku.
"Tapi mereka pasti tahu."
Ayla menoleh.
"Tahu dari mana?."
Bagas berpikir sejenak.
"Lihat saja kamu sekarang."
Ayla mengerutkan kening.
"Aku kenapa?."
Bagas menjawab tenang.
"Kamu baik."
Ayla langsung memprotes.
"Itu pujian yang sangat singkat."
Bagas mengangkat bahu.
"Aku memang bicara singkat."
Ayla tertawa kecil.
Bagas melanjutkan.
"Kamu juga kuat."
"Kamu peduli sama orang lain."
"Kamu selalu memikirkan anak-anak panti."
"Kamu belajar dengan serius."
"Kamu nggak pernah menyerah walaupun hidup kamu nggak mudah."
Ayla perlahan terdiam,Bagas jarang berbicara panjang seperti ini Karena itu setiap kalimatnya terasa lebih berarti,Ayla menunduk kecil.
"Kalau dipuji terus begini aku jadi malu."
Bagas menatapnya datar.
"Itu fakta."
Ayla tertawa pelan.
"Lihat?Kamu bahkan nggak bisa memberi pujian dengan cara normal."
Bagas mengangkat alis.
"Ada cara normal dan tidak normal?."
"Tentu ada."
"Contohnya?."
Ayla berpikir.
"Hmm."
Lalu ayla tersenyum jahil.
"Misalnya bilang aku cantik."
Bagas langsung menatapnya.
"Kamu memang cantik."
Ayla yang tadinya bercanda justru langsung salah tingkah.
"Hah?."
Bagas terlihat bingung.
"Kenapa?."
Ayla menutup wajahnya sebentar.
"Kamu nggak boleh menjawab secepat itu."
Bagas semakin bingung.
"Kenapa lagi?."
Ayla menggeleng cepat.
"Nggak apa-apa."
Bagas hanya mengangguk.
"Oke."
Ayla memandangnya beberapa detik.
Lalu tertawa.
"Kamu benar-benar nggak sadar ya."
"Sadar apa?."
"Nggak jadi."
Bagas memutuskan tidak bertanya lagi,Beberapa saat kemudian mereka mulai berjalan pelan meninggalkan area makam,Langkah mereka pelan di antara pepohonan yang mulai diterpa cahaya sore.