NovelToon NovelToon
The Moon Curse

The Moon Curse

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Kutukan
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: stella bluebell

wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.

usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?

semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 - Suara Misterius

Sementara itu, di ruang guru...

"Sera, kenapa kamu menangis?" tanya guru wanita itu pelan. "Apa yang dilakukan gadis kecil itu kepadamu?"

Kak Sera perlahan mengangkat kepalanya. "Kau juga melihatnya, bukan?"

Hanna mengernyit bingung.

"Langit gelap yang tiba-tiba muncul tadi," ucap Kak Sera lirih setelah dirinya sedikit lebih tenang.

"Tentu saja. Kudengar dari Kepala Sekolah, langit itu sempat menutupi seluruh penjuru dunia. Bahkan pihak kerajaan sudah mengirim para kesatria elite untuk menyelidikinya," jawab Hanna.

Kak Sera menggenggam tangannya pelan. "Kau tahu siapa yang menciptakannya?"

Suaranya bergetar tipis.

"Gadis tadi."

Hanna membelalakkan mata. "Apa? Gadis itu menciptakan sihir sebesar itu di sini... sendirian? Berapa lama dia merapalkan mantranya? Kenapa kita tidak menyadarinya sejak tadi pagi?"

"Hanna..." Kak Sera menundukkan kepalanya pelan. "Dia hanya merapalkan satu kalimat... dalam hitungan detik."

"Tidak mungkin..." Hanna masih sulit mempercayainya.

"Itu benar-benar terjadi. Aku melihatnya sendiri."

"Hanna..." Kak Sera kembali membuka suara. "Aku tidak pernah melihat rambut ungu berkilau yang bercampur perak seperti itu."

Tatapan Hanna berubah rumit. "Dia mungkin saja iblis yang menyusup ke akademi."

"Bukan," potong Kak Sera cepat. "Itu adalah warna rambut khas dari pengguna sihir elemen kegelapan. Sama seperti ibuku..."

Hanna hanya bisa terdiam di tempat.

"Rambutnya... sangat indah, bukan?" gumam kak Sera pelan.

Kak Sera tersenyum tipis di balik sisa air matanya. "Dia sangat mirip dengan ibuku. Bukan hanya rambutnya. Cara bicaranya juga sama seperti Ibunda..."

"Mungkin Dewi benar-benar memberiku kesempatan kedua..."

"...untuk melindunginya."

"Adikku tercinta."

"Celestia Lunastella Celesthior."

Upacara pengumuman hasil ujian diadakan hari ini di Lapangan Utara Akademi. Di tengah lapangan terdapat sebuah Magic Grading Board berukuran besar yang berfungsi menampilkan hasil ujian seluruh siswa. Pada papan tersebut tertera nama para siswa, mulai dari peringkat tertinggi hingga terendah.

Dan aku, Celestia Lunastella Celesthior, mendapat...

Jreng Jreng Jreng!!

Peringkat satu.

Aku berpikir mungkin itu karena aku mengikuti dua ujian sekaligus sehingga memperoleh nilai tambahan.

Malam harinya, akademi mengadakan pesta perjamuan besar yang dihadiri langsung oleh Raja Edward Farnis de Silveth. Tentu saja, para orang tua murid juga diundang untuk menghadiri perjamuan tersebut.

Raja diminta untuk membuka acara dengan pidato.

"Aku, sebagai Raja negeri ini, mengucapkan selamat kepada anak-anak yang berhasil diterima di akademi," ucap Raja.

Sudah kuduga, pembukaannya sangat buruk, batinku.

"Baik, sekarang saatnya pidato dari murid dengan nilai tertinggi."

Pembawa acara membuka gulungan kertas di tangannya.

"Celestia Lunastella Celesthior."

Aku langsung membeku.

Aku bingung, panik, takut...

Semuanya datang secara bersamaan.

Tentu saja aku tidak tahu kalau murid dengan nilai tertinggi juga harus menyampaikan pidato.

Aku berjalan menuju atas panggung dan berdiri tepat di samping Raja.

"Wah, kamu lagi! Hahaha!"

Sungguh tawa yang menjengkelkan, batinku.

"Aku, Celestia Lunastella Celesthior, mengucapkan terima kasih kepada para guru dan juga Yang Mulia Raja karena telah memberiku kesempatan untuk berdiri di sini."

Aku menarik napas pelan.

"Aku, sebagai putri keluarga Viscount Celesthior, juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuaku yang selalu mendukungku."

Isi pidatoku memang singkat. Namun menurutku, itu sudah cukup bermakna untuk pidato yang kususun hanya dalam beberapa menit.

"Sebagai penutup," lanjutku pelan, "aku ingin memberikan hadiah kecil kepada seluruh murid yang berhasil diterima di akademi."

"Hei, tunggu!-" ucap Raja.

Namun, aku sudah lebih dahulu mengangkat tangan ke arah langit-langit aula.

"Astra Lunalia... Stelle Tarvale... Seleron... Sadit Silco Somonium..."

"Starfall."

Perlahan, bintang-bintang kecil berkilauan turun dari langit-langit aula bagaikan hujan cahaya. Semua orang langsung terdiam, terpukau oleh pemandangan itu.

Rambutku perlahan berubah menjadi keemasan setelah menggunakan sihir. Namun, tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Pesta perjamuan pun berakhir dan dilanjutkan dengan pesta dansa yang diadakan di aula akademi.

"Celes," panggil Kael sambil menghampiriku.

"Kael? Kenapa kau berada di sini? Bukankah kau anggota OSIS yang bertugas mengurus pesta dansa? Lalu, ada apa?"

Tiba-tiba, Kael sedikit membungkukkan tubuhnya dan mengulurkan tangan ke arahku.

"Putri, maukah kau berdansa denganku?"

Entah kenapa, mendengar Kael berbicara seperti itu membuatku merasa sedikit aneh. Hari ini, dia terdengar sangat sopan!.

Sebenarnya aku ingin menolak, tetapi menolak ajakan berdansa dianggap tidak sopan di kalangan bangsawan. Lagi pula, dia adalah tunanganku.

"Dengan senang hati."

Aku menerima uluran tangannya, lalu kami mulai berdansa di tengah aula yang megah itu.

Dari lantai dua, Ayah dan Ibu tampak memandang kami sambil tersenyum. Namun, di saat yang sama, aku juga bisa merasakan tatapan penuh kebencian dari banyak orang.

"Jadi, itu tunangan Tuan Muda Kael."

"Aku tidak percaya Tuan Muda Kael bertunanangan dengan bangsawan miskin."bisik para gadis.

"Aku sering melihat banyak siswi akademi memberikan bunga, surat, dan berbagai hadiah kepada Kael,meski tau dia sudah bertunangan,tapi pada akhirnya semua hadiah itu akan jatuh ke tangan ku..."

"Kasihan..."batinku setelah mendengar bisikan para gadis.

"Yang kau pikirkan?" tanya Kael pelan, seolah menyadari lamunanku.

"Mereka bilang kita tidak cocok," jawabku lirih.

"Aku akan membuat kita menjadi cocok."

Aku menatapnya pelan.

"Itu mustahil."

"Dilihat dari sudut mana pun, kita sangat tidak cocok."

"Dan menurutmu... apakah aku terlihat seperti orang yang akan menyerah?"

Aku terdiam.

Kael menatapku lurus dengan sorot mata yang tenang.

"Aku mencintaimu bukan karena status ataupun pertunangan ini."

Jawaban itu membuat kami saling menatap dalam diam.

Selama ini, aku selalu mengira pertunangan kami hanyalah keputusan keluarga. Namun sekarang...

Aku tidak lagi mengerti bagaimana perasaanku sebenarnya.

"Selalu ada alasan mengapa aku mencintaimu."

"Jadi... apakah kau juga mencintaiku?"

Bukankah berbahaya jika aku berbohong saat dia menatapku setajam itu? batinku.

"Aku tidak tahu."

Untuk saat ini, hanya itu jawaban yang bisa kuberikan.

Aku pun mengalihkan pandanganku darinya.

"Baiklah."

"Mungkin perasaan itu akan muncul seiring berjalannya waktu."

"Aku akan menunggu sampai saat itu tiba," ujar Kael lembut.

Tak lama kemudian, musik pun berakhir. Kael mengantarku kembali ke tepi aula sebelum akhirnya pergi entah ke mana.

Tak lama setelah Kael pergi, bisikan-bisikan kembali , di sekitarku.

"Lihat itu, dia ditinggal Tuan Muda Kael."

"Kasihan sekali."

"Sudah jelas pertunangan itu hanya paksaan."

Aku hanya terdiam mendengar bisikan mereka.

Namun, sebelum sempat melangkah pergi...

"Nona, kau terlihat sedang kebingungan."

"Maukah kau berdansa satu lagu denganku?"

Suara tenang itu terdengar begitu jelas di telingaku.

Aku menoleh.

Seorang laki-laki yang tampak sedikit lebih tua dariku, dengan rambut gelap dan mata emas, berdiri beberapa langkah di hadapanku sambil mengulurkan tangan.

Pangeran Keempat Kerajaan Silveth, Asher Celion de Silveth.

"Pangeran..." ucapku pelan.

Ia hanya tersenyum tipis sambil kembali mengulurkan tangannya.

"Jadi... apa aku ditolak?"

Aku sedikit ragu.

Namun akhirnya, aku menerima uluran tangannya.

"Dengan senang hati."

Perlahan, kami mulai berdansa mengikuti alunan musik.

Berbeda dengan Kael yang memberikan kesan hangat dan menenangkan, aura Pangeran Asher terasa jauh lebih tajam dan sulit ditebak.

"Aku cukup terkejut," ucapnya tiba-tiba.

"Apa maksud Anda?"

"Kael benar-benar tidak melepaskan pandangannya darimu."

Aku sedikit terdiam.

"Dia memang seperti itu."

Pangeran Asher tertawa kecil.

"Tidak, maksudku berbeda."

Tatapan mata emasnya kemudian mengarah ke lantai dua aula.

"Biasanya Kael sangat dingin kepada orang lain."

Aku mengikuti arah pandangannya.

Benar saja.

Kael berdiri tidak jauh dari sana sambil terus menatap ke arah kami.

"Atau mungkin..." lanjut Pangeran Asher pelan, "...dia hanya tidak suka melihat tunangannya berdansa dengan pria lain."

Wajahku langsung memerah karena malu.

Aku segera memalingkan wajah untuk menghindari tatapan Pangeran Asher.

Melihat reaksiku, ia hanya tersenyum tipis.

"Kael cukup terkenal di akademi ini. Hanya saja, bangsawan yang mencoba mendekatinya selalu diabaikan."

"Itu karena dia serius menjalankan tugasnya sebagai anggota OSIS," jawabku pelan.

"Atau mungkin..." Pangeran Asher tersenyum tipis. "Karena dia memang hanya tertarik pada satu orang."

Aku langsung terdiam.

Musik dansa terus mengalun lembut di tengah aula yang dipenuhi para bangsawan.

"Jujur saja," ujar Pangeran Asher tiba-tiba, "aku cukup penasaran."

"Gadis seperti apa yang bisa membuat Kael berubah sejauh ini."

Tatapan mata emasnya perlahan tertuju kepadaku.

"Dan sekarang... aku mengerti alasannya."

Pesta dansa masih berlangsung dengan megah. Musik memenuhi aula, sementara para bangsawan sibuk membahas pertunangan, politik, dan berbagai urusan keluarga.

Namun, entah kenapa suasana pesta mulai terasa aneh bagiku. Tatapan beberapa bangsawan terasa terlalu tajam, seolah-olah mereka sedang mengawasiku.

Karena merasa sesak, akhirnya aku meminta izin meninggalkan aula sebentar.

"Aku akan kembali nanti, Pangeran."

Pangeran Asher menatapku beberapa detik sebelum mengangguk pelan.

"Jangan pergi terlalu jauh."

Aku berjalan keluar dari aula dansa menuju lorong belakang akademi yang jarang digunakan para tamu. Lorong itu gelap dan sunyi. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela-jendela tinggi di sepanjang dinding.

Suara musik pesta perlahan menghilang seiring langkahku yang semakin menjauh.

Saat melewati sebuah pintu tua di ujung lorong, aku mendengar suara pelan dari dalam ruangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!