Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 12: Bangun, Ketua OSIS
Motor Ninja hitam milik Arga akhirnya membelok memasuki jalan utama menuju gerbang SMAN 1 Yogyakarta.
Arloji di pergelangan tangan Arga menunjukkan pukul 06.27 WIB. Seperti biasa, gerbang besi sekolah sudah terbuka lebar. Beberapa guru piket berdiri tegap di depan menyambut kedatangan para siswa dengan senyum hangat.
Di sisi kanan gerbang, meja piket OSIS sudah tertata rapi. Beberapa pengurus OSIS kelas sebelas terlihat sibuk mencatat nama siswa-siswi yang datang hampir mepet batas waktu. Di dekat mereka, berdiri dua orang guru pembina yang sangat familier bagi Arga—Pak Toni, guru Pendidikan Pancasila sekaligus pembina OSIS, dan Bu Sinta, guru Bahasa Indonesia.
Arga melambatkan laju kendaraan. "Udah lumayan ramai," gumamnya pelan.
Saat motor melintas perlahan di depan gerbang...
Tin... tin...
Arga menekan tombol klakson pelan, memberikan salam hormat.
Pak Toni langsung menoleh, menyunggingkan senyum khasnya. "Wah... Kapten Basket kita udah mendarat!"
"Pagi, Pak Toni," sapa Arga ramah dari balik helm.
"Pagi, Ga!"
Bu Sinta ikut melambaikan tangan. "Pagi, Arga."
"Pagi, Bu Sinta."
Pak Toni melirik ke arah jok belakang motor Ninja Arga, mengernyit heran. "Lho? Ketua OSIS-nya mana, Ga? Kok nggak kelihatan?"
Arga hanya tersenyum tipis, memiringkan kepalanya sedikit ke belakang. "Ada kok, Pak. Itu di belakang."
Pak Toni memperhatikannya lebih saksama. Detik berikutnya, tawa renyah sang pembina OSIS meledak. "Ya ampun... ketiduran lagi?!"
Arga mengangguk pasrah. "Iya, Pak. Teler dari separuh jalan tadi."
Bu Sinta sampai menutup mulutnya, berusaha menahan tawa agar tidak terdengar siswa lain. "Nadira memang dari kelas sepuluh nggak berubah ya, Ga."
"Iya, Bu. Kalau naik motor pagi-pagi kena angin dingin, pasti matanya langsung meram," kekeh Arga.
Pak Toni menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa geli. "Kasihan betul kamu, Ga. Harus ekstra sabar bawa 'beban hidup' di belakang."
"Nggak apa-apa, Pak. Udah hafal luar kepala dari jaman SMP," balas Arga santai.
Bu Sinta menimpali dengan nada bercanda, "Untung kamu sabar ya, Ga. Kalau boncengannya sama yang lain, bisa-bisa Ketua OSIS kita nyasar sampai Gunungkidul!"
Arga ikut tertawa renyah. "Makanya tadi sepanjang jalan udah saya ajak ngobrol terus, Bu. Eh, tetep aja kepalanya mengangguk-angguk ketiduran."
Pak Toni terkekeh pelan. "Yaudah, masuk sana ke area parkir. Bangunin gih, kasihan nanti Bu Ketua OSIS kesiangan ngawasi piket gerbang."
"Siap, Pak!"
Arga melambaikan tangan singkat sebelum memutar gas pelan menuju area parkir siswa di sudut belakang sekolah.
Area parkir sudah tampak padat oleh barisan motor milik siswa kelas sebelas dan dua belas. Arga mengarahkan kendarannya ke sudut teduh di bawah pohon mahoni—lapak parkir langganannya.
Brumm... klik.
Mesin Ninja dimatikan. Suasana mendadak hening seketika.
Arga melepas helm full-face-nya terlebih dahulu, lalu memutar badannya menoleh ke jok belakang.
...
Dan benar saja. Nadira masih duduk mematung di sana. Kepalanya terkulai menunduk, kelopak matanya terpejam rapat, dan napasnya berembus teratur.
Arga menghela napas panjang, menatap sahabatnya itu dengan geleng-geleng kepala. "Ya Allah... beneran pingsan." Ia sampai terkekeh sendiri. "Padahal tadi pas ditanya Merapi udah melek."
Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Arga membantu mengendurkan tali helm putih Nadira lalu mengangkatnya pelan agar tidak menjambak kerudungnya.
"Nad..." panggil Arga halus.
Tak ada respons.
"Dira..."
Masih hening.
Arga melirik jam tangannya. "Wah, ini kalau nggak dibangunin paksa, bisa-bisa sampai bel masuk dia tetep nempel di jok."
Arga menepuk-nepuk pelan bahu terbalut jas almamater itu. "Hey... Bu Ketos. Bangun."
Satu detik... dua detik... masih hening.
Arga menyunggingkan senyum geli, mencondongkan wajahnya sedikit. "Ketua Osiiiis... bangun, Kanjeng Ratu..."
"Hmmm..." Suara gumaman pelan akhirnya terdengar dari bibir gadis itu.
"Bangun woy... udah sampai sekolah ini," dorong Arga pelan.
Nadira mengerjapkan matanya lambat, menyesuaikan pendar cahaya pagi. "Hah...? Udah sampai?"
Arga meledakkan tawa pelannya. "Lah! Waktu tempuh lima belas menit perjalanan... buat kamu berasa cuma lima detik ya?"
Nadira mengucek matanya pelan, mengumpulkan nyawanya yang sempat berkelana. "Ya ampun... aku ketiduran lagi ya, Ga?"
"Iya! Bahkan tadi pas kita lewat gerbang depan, Pak Toni sama Bu Sinta merhatiin kamu ketiduran di jok belakang."
Seketika mata Nadira membulat sempurna, rasa kantuknya menguap tanpa sisa. "Hah?! Beneran?!"
"Beneran. Muka kamu ngangguk-angguk pasrah gitu," goda Arga.
Pipi Nadira seketika memerah merona. "Ihh, Arga! Malu banget...!"
Tawa Arga makin keras melihat reaksi heboh sahabatnya. "Makanya! Makanya jangan sok-sokan ngajak berangkat pagi kalau matanya masih tinggal lima persen."
Nadira menutup wajahnya yang memerah menggunakan kedua telapak tangan. "Astaga... malu banget sama Pak Toni..."
Arga menepuk pelan bahu Nadira, menyuntikkan kesadaran. "Udah, nggak usah meratapi nasib. Bangun sana. Piket gerbang menanti. Pembina OSIS kamu tadi udah nungguin di depan."
Nadira spontan menoleh ke arah jalan menuju gerbang. Dari kejauhan emang terlihat Pak Toni sedang mengobrol dengan pengurus OSIS lainnya.
"Ya Allah! Kenapa kamu nggak bangunin aku dari tadi pas di depan gerbang, Arga?!" cerocos Nadira panik.
"Lah? Tadi pas dibangunin kamu cuma jawab 'hmm...' terus meram lagi!" omel Arga tak mau disalahkan.
Nadira meringis pelan, menghembuskan napas pasrah. "Maaf..."
"Maaf mulu dari tadi. Buruan turun, nanti anggota OSIS kamu bingung nyariin Ketuanya."
"Iya... iya..."
Nadira terburu-buru turun dari boncengan motor. Ia membetulkan posisi kerudung putihnya di cermin spion motor Arga, memastikan name tag Ketua OSIS-nya terpasang lurus, lalu meraih ransel pink, tumbler, tas bekal, serta map OSIS tebal dari dekapan motor.
Melihat barang bawaan Nadira yang melimpah, Arga secara otomatis mengulurkan tangan, hendak mengambil alih map dan tas bekalnya. "Nih, biar Arga bawain sampai depan ruang OSIS."
Nadira menggeleng cepat seraya menjauhkan barangnya. "Nggak usah, Ga! Aku bisa bawa sendiri."
"Yakin? Banyak banget itu."
"Yakin! Lagian nanti kalau anak-anak lihat kamu yang bawain, dikira aku malah nyuruh-nyuruh Kapten Basket."
Arga mengangkat kedua bahunya santai. "Yaudah. Nanti kalau pegal bilang."
Nadira mengulas senyum manisnya. "Makasih banyak ya, Arga."
"Sama-sama. Yuk."
Mereka berdua berjalan berdampingan melintasi selasar sekolah menuju koridor utama. Seperti biasa, sepanjang jalan beberapa siswa-siswi yang melintas tak absen menyapa mereka.
"Pagi, Kak Ketos!" "Pagi, Kak Arga!"
"Pagi!" balas Nadira ramah menyunggingkan senyum hangat.
Di belakang mereka, dua siswi kelas sepuluh yang baru melintas saling berbisik pelan.
"Eh, itu Kak Nadira Ketua OSIS sama Kak Arga Kapten Basket, kan?" "Iya, yang rumornya sahabatan dari jaman kecil itu." "Oh... pantesan serasi banget ya kalau jalan bareng."
Temannya mengangguk-angguk setuju. "Iya, denger-denger dari kelas sepuluh mereka selalu sekelas dan sebangku terus. Nggak pernah pisah." "Serius?! Keren banget ya..."
Kedua siswi itu tidak pernah tahu... bahwa bagi Arga dan Nadira, berjalan berdampingan di koridor sekolah setiap pagi bukanlah sebuah adegan romantis yang disengaja. Itu hanyalah bagian dari ritme hidup—sebuah kebiasaan yang telah bergulir bertahun-tahun.
Dan justru karena sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran satu sama lain... tak pernah satu kali pun terlintas di benak mereka, bahwa kelak akan datang suatu hari di mana kebiasaan indah ini harus dipaksa berhenti oleh takdir.