Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Aku ingin membuatmu bahagia," kata Dominic manis. Tidak lupa senyumnya pun terus menghiasi wajahnya.
Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menekan dada Vivienne. Karena tidak ada ketulusan dan kejujuran dari pancaran sinar mata.
Laki-laki yang berdiri di hadapannya adalah suami yang sama yang diam-diam berselingkuh. Pria yang sama yang tega memanfaatkan dirinya. Namun malam ini, pria itu masih mampu berdiri di hadapannya dan mengatakan ingin membuatnya bahagia.
Vivienne menelan rasa sakitnya. Ia justru tersenyum lebih manis. Dia pun akan melakukan perannya.
"Kalau begitu, aku juga akan berusaha menjadi istri yang membuatmu bahagia," ujar Vivienne sambil berdiri,
Vivienne kemudian memeluk Dominic dengan mata terpejam. Pria itu pun membalas pelukan itu dengan hangat.
Perlahan mata Vivienne tetap terbuka. Tatapannya kosong menatap pantulan mereka di cermin.
Tidak ada cinta di sana. Tidak ada kehangatan. Hanya luka yang perlahan berubah menjadi tekad.
Beberapa detik kemudian, Dominic melepaskan pelukan mereka. "Kamu kenapa?" tanya Dominic.
Vivienne berkedip. "Kenapa apanya?" tanyanya balik.
"Pelukan tadi terlihat berbeda," ujar Dominic.
Vivienne langsung tertawa kecil. "Oh, itu."
Wanita mengusap perutnya. "Aku hanya memikirkan bayi kita," jawab Vivienne.
Ekspresi Dominic langsung melunak. "Kamu bahagia?" tanya Dominic.
Vivienne mengangguk. "Tentu saja," jawabnya.
"Karena sebentar lagi kita punya anak?" tanya Dominic.
Vivienne menatap wajah suaminya cukup lama. "Iya," jawabnya. "Anak yang sudah kita tunggu begitu lama."
Dominic mengecup keningnya. "Semua akan baik-baik saja," ucap Dominic.
Vivienne tersenyum kecil. "Semoga saja," jawabnya.
Dominic tidak tahu bahwa kata itu bukan doa. Melainkan peringatan.
Satu jam kemudian, Dominic sudah tertidur. Vivienne membuka mata perlahan. Ia menoleh ke arah suaminya dan memastikan pria itu benar-benar terlelap. Setelah itu, ia bangkit dari tempat tidur. Vivienne keluar kamar tanpa menimbulkan suara.
Begitu pintu kamar tertutup, senyum di wajahnya langsung menghilang. Ia mengambil ponsel dan mencari satu nama, Estelle.
Panggilan tersambung.
"Bagaimana?" tanya Estelle dari seberang.
Vivienne menatap gelang berlian di pergelangan tangannya. "Dia memberiku hadiah," jawab Vivienne.
"Serius?" tanya Estelle terkejut sekaligus tak menyangka.
"Iya," jawab Vivienne.
"Setelah mengkhianatimu, dia masih sempat membelikan berlian?" tanya Estelle dengan nada tidak percaya.
Vivienne terkekeh. "Katanya ingin membuatku bahagia," jawabnya.
Beberapa detik hening. Kemudian Estelle tertawa tertahan.
"Vivi ...." panggil Estelle.
"Hm?" sahut Vivienne.
"Kamu tahu apa yang paling lucu?" tanya Estelle.
"Apa?" tanya Vivienne.
"Dia membelikanmu gelang menggunakan uang yang sebenarnya diambil dari kamu dan ingin dia berikan kepada keluarganya," jawab Estelle.
Vivienne ikut tertawa. "Makanya aku menerimanya," jawab Vivienne.
Vivienne mengangkat tangannya dan memperhatikan kilauan berlian tersebut. "Dan aku ingin dia terus merasa semuanya baik-baik saja. Sementara diam-diam aku menyusun pembalasan."
Estelle terkekeh. "Kalau begitu, aku tidak sabar melihat langkah pertamamu," kata Estelle.
Vivienne tersenyum tipis. "Aku sudah memutus aliran dana buat keluarga Dominic."
"Apa?! Pasti mereka pada kerepotan karena jadi enggak punya uang," celetuk Estelle di seberang sana.
"Tentu saja. Mereka terus menelepon aku, tapi aku abaikan. Akhirnya merengek kepada Dominic."
"Ha-ha-ha. Bagus ... bagus!" kata lawan bicaranya. "Tapi, mereka tidak akan mengamuk ke kamu, kan?"
"Jangan khawatir," jawabnya. "Aku masih bisa mengatasi keluarga Dominic.
***
Sore itu, sebuah acara fashion digelar di salah satu hotel mewah di pusat kota. Area depan hotel dipenuhi puluhan fotografer dan wartawan yang sudah menunggu sejak siang. Kilatan kamera terus menyala setiap kali sebuah mobil berhenti di depan pintu masuk.
Para model datang satu per satu dengan penampilan terbaik mereka. Ada yang mengenakan gaun panjang, ada pula yang tampil dengan pakaian rancangan desainer ternama.
Di antara kerumunan itu, sebuah mobil mewah berhenti. Pintunya terbuka, Giselle Moreau turun dengan anggun.
Gaun putih yang dikenakannya membuat tubuhnya terlihat semakin ramping dan elegan. Rambut panjangnya ditata dengan sempurna, sementara senyum manis menghiasi wajahnya. Begitu melihat para fotografer, Giselle mengangkat tangannya dan melambaikan tangan dengan percaya diri.
"Giselle! Lihat ke sini!"
"Nona Giselle, tolong lihat kamera sebelah!"
"Giselle, apakah benar Anda akan tampil di Paris bulan depan?"
Giselle hanya tersenyum sambil berpindah posisi. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.
Bagi orang-orang yang melihatnya sore itu, Giselle tampak seperti wanita yang memiliki kehidupan sempurna. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa hari terakhir tidak berjalan seindah senyum yang ia tunjukkan. Salah satu kontrak iklannya tiba-tiba ditunda. Hari ini, agensinya juga memberitahukan bahwa sebuah kerja sama besar yang hampir pasti menjadi miliknya kembali masuk tahap evaluasi.
Namun, Giselle tidak terlalu mengkhawatirkannya. Ia masih percaya pada kecantikan dan namanya yang sudah dikenal di dunia internasional. Selama bertahun-tahun, hampir semua pintu selalu terbuka untuknya. Ia yakin kali ini pun akan sama.
Giselle baru saja hendak memasuki gedung ketika seorang perempuan muda menghampirinya.
"Nona Giselle," sapa perempuan itu sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna putih.
Giselle menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanyanya sambil menatap kotak tersebut.
"Ini ada hadiah untuk Anda," jawab perempuan itu dengan sopan.
Giselle mengerutkan kening. "Hadiah?"
"Iya, Nona."
"Dari siapa?" tanya Giselle lagi.
Perempuan itu menggeleng. "Pengirimnya tidak mencantumkan nama."
Giselle menatap kotak itu beberapa saat. Rasa penasaran akhirnya mengalahkan keraguannya. Ia menerima kotak tersebut.
"Baiklah. Terima kasih."
"Sama-sama, Nona." Perempuan itu membungkukkan kepala sebelum pergi.
Giselle memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh. Setelah itu, ia kembali menatap kotak kecil di tangannya. Entah mengapa, tiba-tiba ada perasaan tidak nyaman yang menyusup ke dalam dadanya. Namun, ia segera menepisnya.
Giselle membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah kartu kecil. Ia mengambil kartu itu dan membacanya.
[Untuk seseorang yang selalu terlihat sempurna.]
Alis Giselle langsung bertaut. "Apa maksudnya ini?" gumamnya pelan.
Ia membalik kartu itu. Tidak ada nama. Tidak ada pesan lain. Hanya kalimat singkat tersebut. Giselle kembali melihat ke dalam kotak.
Sebuah cermin kecil tergeletak di sana. Ia mengangkat cermin itu. Tidak ada sesuatu yang aneh. Hanya cermin biasa. Namun, entah kenapa, pantulan wajahnya sendiri justru membuat perasaannya semakin tidak nyaman.
"Siapa yang mengirim ini?" tanya Giselle sambil menoleh kepada asistennya.
Asistennya menggeleng. "Saya tidak tahu, Nona."
Giselle menghela napas. Ia memasukkan kembali cermin itu ke dalam kotak.
"Buang saja."
"Baik, Nona," jawab asistennya.
Giselle kemudian berjalan masuk ke dalam gedung. Ia kembali memasang senyum sempurnanya. Seolah tidak pernah menerima hadiah aneh itu.
Di sisi lain ruangan, dua wanita berdiri agak jauh dari kerumunan. Vivienne Laurent mengenakan gaun sederhana berwarna lembut yang membungkus tubuhnya dengan anggun. Perutnya yang mulai membesar terlihat jelas. Di sampingnya, Estelle berdiri dengan pakaian elegan sambil sesekali melirik ke arah Giselle.
Begitu melihat Giselle meninggalkan kotak tersebut kepada asistennya, Estelle menutup mulutnya. Bahunya bergetar menahan tawa.
"Kamu benar-benar mengirim cermin?" bisik Estelle dengan mata berbinar geli.
Vivienne menyeruput minumannya dengan tenang.
"Kenapa?" tanyanya polos.
Estelle hampir tertawa lagi. "Jahil sekali."
Vivienne menahan senyum. "Aku hanya mengingatkan dia."
"Mengingatkan apa?" tanya Estelle sambil memiringkan kepala.
Vivienne menoleh ke arah Giselle yang kini sedang dikelilingi beberapa fotografer.
"Mengingatkan bahwa kecantikan dia bukan satu-satunya hal yang bisa membuat orang lain kehilangan segalanya. Aku hanya ingin dia tahu bahwa wajah cantik tidak akan bisa menyelamatkannya kalau semuanya mulai berantakan.”
Estelle terdiam. Ia menatap wajah sahabatnya beberapa detik. Sejak mengetahui pengkhianatan Dominic, Vivienne memang berubah. Dulu, wanita itu selalu lembut, terlalu mudah percaya. Bahkan ketika diperlakukan buruk oleh keluarga Dominic, Vivienne masih berusaha mencari alasan untuk memaklumi mereka.
Namun, perempuan yang berdiri di samping Estelle sekarang berbeda. Ia masih tersenyum dan berbicara dengan suara lembut, tetapi di balik ketenangan itu, ada perhitungan yang matang.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡