NovelToon NovelToon
Cinta di Balik Keheningan

Cinta di Balik Keheningan

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Dark Romance
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Ferrer

Di dunia yang bicara dengan peluru dan darah, satu-satunya bahasa yang benar-benar dipahami Xavier Callahan adalah keheningan seorang gadis.

Xavier adalah penguasa kartel paling ditakuti di Texas—dingin, kejam, tak tersentuh. Tapi di hadapan Luna, gadis bisu-tuli yang bicara lewat isyarat tangan, sang raja yang tak pernah tunduk pada siapa pun rela belajar tiga bahasa isyarat hanya agar bisa berbisik ke telinga yang masih bisa mendengarnya. Bagi dunia, Luna hanyalah "gadis cacat" yang lemah dan mudah diinjak. Bagi Xavier, ia adalah satu-satunya alasan jantungnya masih berdetak.

Namun cinta di kerajaan mafia tak pernah gratis.

Ketika sebuah pengkhianatan berdarah mengoyak keluarga Callahan dan tangan-tangan tak terlihat mulai menggerakkan bidak untuk menghancurkan semua yang Xavier cintai, Luna dipaksa memilih: tetap menjadi gadis rapuh yang selalu dilindungi, atau bangkit sebagai perempuan yang berani berkata "tidak"—bahkan kepada lelaki yang memujanya.

Dari peternakan gelap di Texas, salju Sankt Peterburg, hingga takhta berdarah keluarga mafia Italia, sebuah rahasia keluarga yang terkubur bertahun-tahun perlahan terungkap—rahasia tentang bayi yang hilang, darah yang dicuri, dan cinta yang menolak mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Luka dan Hasrat

Hari-hari yang menyusul di peternakan Callahan berlangsung suram, terbungkus keheningan yang mencekik.

Flora telah menarik diri ke dalam nerakanya sendiri. Ia tak berbicara, nyaris tak makan, dan menolak segala kontak dengan dunia luar. Gadis yang dulu penuh kehidupan kini menjadi bayangan yang menghabiskan hari-harinya terkunci di kamar yang dulu ia siapkan penuh cinta untuk sang bayi. Ia duduk berjam-jam di lantai, dalam gelap, memeluk pakaian mungil yang takkan pernah dikenakan putranya, menangis sampai tak ada lagi air mata.

Sementara itu, kondisi kesehatan Xavier menunjukkan perbaikan bertahap. Obat paling manjur bagi jantungnya yang rapuh bukan berasal dari botol-botol di unit medis, melainkan dari kehadiran Luna yang tak pernah absen. Luna tak meninggalkannya sedetik pun. Ia mengurus obat-obatannya, menyiapkan makanannya, dan memastikan Xavier tak melakukan hal yang bisa memicu serangan angina berikutnya.

Sore itu, matahari jingga Texas mulai terbenam, mewarnai kamar Xavier dengan rona hangat dan lembut. Xavier duduk di tepi ranjang, mengamati Luna yang sedang menata beberapa obat di meja samping tempat tidur.

Meski beban duka masih menggantung di seluruh rumah, kecantikan lembut Luna adalah satu-satunya hal yang mampu membawa ketenangan bagi pikiran Xavier yang kalut.

Luna berbalik ke arahnya, dan menyadari tatapan lelaki itu yang tak lepas darinya, ia tersenyum tipis. Tangannya bergerak perlahan, berisyarat dalam bahasa yang hanya mereka berdua pahami:

"Kamu harus istirahat. Dokter bilang jantungmu masih butuh ketenangan."

Xavier menggenggam tangan Luna dengan lembut, menghentikan isyaratnya. Ia menariknya perlahan agar lebih dekat, membuat Luna berdiri di antara kedua kakinya sementara ia tetap duduk di ranjang.

"Jantungku baik-baik saja saat kamu di sini, gadis kecilku," Xavier berisyarat dengan satu tangan, sementara tangan lainnya naik membelai wajah lembut Luna, ibu jarinya berhenti di dekat telinga kiri, tempat alat bantu dengar itu berada.

Luna sedikit bergidik oleh sentuhan itu. Jantungnya berdegup kencang.

"Xavier..." gumamnya, suaranya keluar malu-malu.

Xavier tak menjawab dengan kata-kata. Ia menatap dalam ke mata Luna dan menariknya lembut pada pinggang, merapatkan tubuh Luna ke tubuhnya. Kedekatan itu membuat napas keduanya tersendat. Tangan Xavier naik ke tengkuk Luna, menyusupkan jari-jarinya ke rambut gadis itu, sementara ia mendekat perlahan, memberi Luna waktu untuk mundur jika ia mau.

Namun Luna tak mundur. Ia mencengkeram bahu lebar Xavier, terpaku oleh tatapan intens lelaki yang selalu melindunginya.

Xavier menyapukan bibirnya lembut ke bibir Luna, sentuhan yang begitu ringan hingga terasa nyaris menyiksa. Luna tersengal, memejamkan mata, merasakan getaran listrik menjalar sepanjang tulang punggungnya.

"Aku belum pernah..." bisik Luna, suaranya bergetar menyingkap ketidakberpengalamannya. "Xavier, aku belum pernah mencium siapa pun..."

Mata Xavier menggelap oleh hasrat, dilingkupi kelembutan yang dalam. Ia tersenyum tipis, menempelkan keningnya ke kening Luna.

"Aku tahu, sayang..." bisiknya dekat mulut Luna, suaranya berat dan serak. "Pejamkan saja matamu dan santai. Biar aku yang mengajarimu."

Xavier menawan bibir Luna dalam ciuman yang tenang dan dalam. Ia mulai dengan sapuan lembut, mengajari Luna mengikuti irama mulutnya. Ketika ia merasakan keraguan Luna luruh, Xavier meminta izin masuk dengan lidahnya, dan Luna membuka bibirnya, menyerahkan diri sepenuhnya pada momen itu.

Ciuman yang berawal lambat itu dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang panas dan menggulung. Gairah yang lama terpendam meledak di antara mereka. Xavier menariknya lebih kuat ke pangkuannya, mendudukkan Luna di atas kedua pahanya. Tangannya turun menyusuri punggung Luna, menekan pinggangnya dengan tegas dan penuh posesif, sementara lidahnya menjelajahi setiap sudut mulut Luna, merenggut napas gadis itu.

Luna melepaskan erangan kecil yang tertahan di mulut Xavier, menjalinkan jari-jarinya di rambut lelaki itu, menariknya makin dekat, terdorong oleh panas yang membara di perutnya. Itu ciuman pertamanya, tetapi di bawah kendali Xavier yang berpengalaman dan intens, ia merasa melayang.

Ketika kekurangan udara menjadi tak tertahankan, Xavier melepas bibirnya perlahan, memberi kecupan-kecupan kecil yang lama sebelum menjauhkan wajahnya hanya beberapa sentimeter.

Keduanya terengah. Bibir Luna memerah, sedikit membengkak dan terbuka; matanya yang setengah terpejam berbinar oleh campuran keterkejutan dan hasrat murni.

Xavier menempelkan keningnya ke kening Luna, merasakan dada gadis itu naik-turun dengan cepat menempel di dadanya. Ia tersenyum, tangannya membelai pipi Luna yang merona.

"Kamu belajar terlalu cepat..." gumamnya dengan suara sarat gairah.

Luna menyembunyikan wajahnya di leher Xavier, malu, merasakan panas di pipinya, tetapi tak mampu melepaskan pelukan dari pinggang lelaki itu.

Xavier memejamkan mata, menghirup aroma rambut Luna dan mendekapnya erat ke dada.

"Aku selalu memimpikan ini, Luna..." akunya dalam bisikan yang tulus, suaranya sarat emosi. "Bertahun-tahun, setiap kali menatapmu, satu-satunya yang kuinginkan hanyalah memilikimu seperti ini... di dalam pelukanku. Dan aku bersumpah demi Tuhan, tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan merenggutmu dariku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!