Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Seragam bersih melekat rapi dibadannya. Kerudung putih bersihnya menutup kepala dengan cantiknya. Hawa tidak merias wajahnya, hanya sekedar sunscreen, pelembab bibir dan parfum. Memakainya tidak berlebihan. segera mengambil menyandangkan tas dipunggungnya, siap untuk turun sarapan bersama keluarga suaminya. memutar kenop pintu dan menariknya terpampang lorong yang sepi dan dingin. Ia berjalan keluar kamar lalu menutupnya pelan. Sampai diujung tangga Hasby baru keluar kamar. Terlihat buru-buru, netranya melihat Hawa yang sudah rapi,segera menghampirinya. "Wa, tunggu." memasukkan tangannya kekantong baju seragamnya, mengambil sesuatu. Menyodorkan uang seratus ribuan lima lembar.
"Ini uang sakumu, maaf baru bisa ngasih sedikit." ucapnya tenang. Hawa membulatkan matanya tidak percaya. Ia dikasih uang saku sama suaminya. "Kebanyakan kak" perasaan tak enak karena uang yang diberikan terlalu banyak.
"Tidak, ambil semua, kalau kurang langsung bilang sama aku!" perintahnya tegas. Hawa meraih uang itu dengan tangan gemetarnya.
"makasih kak" gumam hawa pelan. Memasukkan uang kedalam dompetnya. Dikantonginya cepat.
"sama-sama. Ayo cepat sarapan. Papa Mama sudah menunggu" Hasby melangkah turun tangga. Hawa mengikuti dibelakangnya.
Tap tap tap
Dimeja makan Mama Papa menoleh tersenyum melihat anak dan menantunya sudah rapi siap sekolah.
"Assalamu'alaikum mah, pah" ucap Hawa semangat, senyum ceria menghiasi wajahnya.
"Wa'alaikumsalam Wa,,, ayo lekas sarapan, Hasby ayo cepat" mama menyuruh mereka sarapan. Mereka duduk bersisian, Hawa dengan sigapnya mengambilkan makan untuk Hasby. Mama dan Papa melihat dengan senyum menggoda,wah ada peningkatan, batin mama. Siap-siap menggoda Hasby. Hasby orang yang peka,
" Mah, Pah buruan makan" ucapnya datar. Menetralkan degub jantungnya karena Hawa mengambilkan makannya didepan orang tuanya. Malu dan canggung, tentu saja. Hawa tersenyum kikuk melihat mertuanya yang memperhatikan apa yang dilakukannya.
Papa dan Mama terkekeh melihat mereka yang malu-malu. Menjadikan suasana saparan kali ini berbeda. Lebih hangat dan akrab. Menyelesaikan dengan tenang, setelah menenggak segelas susu , Hasby berdiri dari bangkunya. Hawa mengikutinya.
"Mah, Pah kita berangkat sekolah dulu" ucap Hasby meraih tangan orang tuanya dan mencium punggung tangannya. Bergantian dengan Hawa.
"iya hati-hati By, Wa. Kalian barengan terus ya!" pesan Mama lembut.
"insyaa allah mah" ucap Hawa tenang, sedangkan Hasby menganggukkan kepalanya singkat.
Hasby mengendarai mobilnya, hadiah kenaikan kelas 3 kemarin. karena nilai-nilainya yang tinggi. Melebihi ekspetasi orang tuanya.
Hawa duduk dibangku samping Hasby. Hasby fokus memegang stir mobil. sedangkan istrinya melihat keluar jendela mobil. Seakan takut melewatkan pemandangan pagi ini, tanpa mempedulikan suaminya. Hasby menghela napas pelan.
"wa, nanti turun diparkiran aja!" ucapnya datar, tanpa menoleh kepada Hawa. Hawa memutar kepalanya menatap suaminya itu.
"Kenapa nggak halte sebelum sekolah aja kak?" tanyanya panik,mimik wajahnya lucu. Menggembungkan pipi chubby nya. Karena takut satu sekolah curiga. Hasby meliriknya sekilas, menghela napas pelan.
"Aku bisa dimarahi Mama kalau nurunin kamu dihalte." jawabnya datar, masih tetap fokus menyetir. Jalanan yang sangat ramai kendaraan membuatnya harus benar-benar memperhatikan jalanan.
"nggak mungkin Mama marah, mama kan baik kak, pokoknya aku mau turun di halte." ucap Hawa tegas."apalagi aku takut satu sekolah tahu kalau aku bareng ketos mereka" gumamnya pelan.
"Apa kamu bilang?" Hasby masih bisa mendengar gumaman Hawa.
"Pokoknya tolong turunin aku di Halte kak. please kak?!" Hawa memasang wajah memelas dan menangkupkan tangan didepan dadanya. Lirikan tajam Hasby membuatnya terdiam. Percuma mendebat suaminya itu. Hasby memang terkenal tegas, gak ada bantahan pokoknya. Hawa membalikkan badan kearah jendela kaca dan melihat kendaraan yang memenuhi jalanan menuju berbagai arah itu. Ia terdiam pasrah. Biarlah nanti memikirkan jawaban atas pertanyaan teman-temannya.
Tak lama mobil melewati halte yang dimaksud Hawa, tapi mobil melaju memasuki gerbang sekolah dan berhenti diparkiran siswa. Hawa melotot melihat Hasby.
"Turun!" titahnya tegas. "Kak, astaghfirullah, bagaimana kalau ada gosip. Kenapa .... Kenapa aaargh." gregetan sendiri. Menggerutu kesal dengan Hasby yang tidak mau menurunkannya dihalte. Saat hendak membuka pintu, tapi nggak bisa, ternyata masih dikunci. "Tolong buka kuncinya kak!" ucap Hawa. Tersirat rasa kesal dan marah yang kentara sekali. Hasby menaikkan alisnya sebelah, heran mendengar nada suara istrinya itu. Tak menanggapi ucapan Hawa, tiba-tiba Hasby menyodorkan tangan kepada Hawa. Hawa mendongak menatap Hasby bingung. " Salim!" Hasby tak sabar ingin cepat melaksanakan tugasnya sebagai Ketua Osis.
"o...oo maaf kak, lupa. Belum terbiasa." cengiran Hawa sungguh menggemaskan, meraih tangan Hasby mendekatkan ke bibirnya. Mencium punggung tangan suaminya singkat. Melepaskan dan mengalihkan pandangannya. Malu. Hasby terpaku sejenak saat merasakan bibir Hawa menyentuh punggung tangannya. Menetralkan degub jantungnya yang tak biasa ia segera membuka kunci mobil. Karena banyak mata memandang Hasby kenapa tidak segera keluar dari mobilnya. Hawa langsung keluar dan berlari menuju ruang kelasnya. Menghindari pandangan mata dari teman-temannya. Hasby keluar dengan santainya dan bergabung bersama anggota Osis yang sudah berdiri dihalaman sekolah.
"Kenapa telat?" tanya Tian, seorang anak laki-laki yang memakai kacamata. Tampan tapi kelihatan jutek dan dingin. hampir sama seperti Hasby.
"Macet" Hasby melengos melihat siswa-siswi yang baru memasuki gerbang sekolah.
"Bareng siapa tadi?" kali ini yang bertanya Ryan, cowok berambut keriting yang super care ini tiada tandingannya. Matanya jeli melihat sikap dan tingkah temannya.
Hasby melihatnya memastikan Ryan tidak melihat Hawa mencium punggung tangannya tadi.
"Adik kelas. Tadi ketemu dijalan." elaknya tenang. Merahasiakan sesuatu dari teman-temannya memang susah. Satu kebohongan yang dibuat untuk menutupi sebuah rahasia akan melahirkan kebohongan-kebohongan lainnya.
"Yakin? Bukan gebetanmu kan By?" celetuk Reno memicingkan mata menilai Hasby. Gaya tengil yang suka ceplas ceplos itu memang sering tepat sasaran. Hasby menghela napas sejenak.
"Bukan, kembali ke tugas masing!" ucapnya dingin. Teman-temannya saling pandang dan tersenyum penuh arti.
Tanpa disadari segerombolan anak perempuan memperhatikan anggota Osis itu dengan minat yang berlebih. Terlebih Shela vallerie, primadona sekolah. Cantik,putih,ramah, tinggi,pinter, apalagi coba yang kurang dari dia.
...
Dikelas Hawa, iya duduk mengatur napasnya yang terputus-putus. Meraih air minum yang terletak disamping tas sekolahnya. Meminum hampir setengah botol. Menghembuskan napas cepat. Alis Asrina tertaut bingung melihat Hawa.
"Kenapa kamu Wa?"
"Capek, haus" jawab Hawa singkat. "As,, kangeeeen" meraih teman sebangkunya memeluknya erat.
"Samaaa,, kamu agak kurusan." Asrina mengurai pelukannya, melihat Hawa dari pucuk kepala sampai kaki. Hawa terkekeh pelan" nggak As, masih sama kok" Hawa mengembalikkan botolnya. "Beda, tapi tunggu... Kamu tinggal sendiri dong sekarang?" menatap Hawa sendu.
"Tidak As, aku ikut saudaraku." jelasnya singkat. Tidak mau Asrina bertanya lebih detailnya. Ia belum sanggup memberi tahu temannya itu. Walaupun Asrina menatap dan terlihat masih ingin bertanya. Tapi Hawa mengalihkan netranya. Segera ia mengeluarkan buku dan alat tulisnya
Bel berdering dengan nyaring. Menandakan waktu belajar akan segera dimulai. Hawa dan Asrina mulai mengikuti pelajaran jam pertamanya. Hawa sangat merindukan sekolah. Kemarin selama izin libur, ia sangat bosan dirumah. Sekarang sudah bisa kembali mengikuti kegiatan belajar disekolahnya dengan tertib dan aman.
Semua siswa memasuki kelas dengan berlari, bejalan, mereka juga ingin belajar untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Termasuk Hasby dan Hawa. Apalagi mereka sudah punya ikatan resmi. Hawa selalu berdo'a semoga ia bisa melewati dan menjalani dengan sebaik-baiknya.