Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Dia Membenciku
"Kenzo, mami tahu kamu pasti kecewa melihat semua ini, tapi inilah kenyataannya, Om Erlangga itu memang papi kalian."
Ayuna sedih salah satu dari anaknya masih tak mau berdekatan dengan Erlangga. Bahkan dia mengajaknya untuk pergi dari kediaman Erlangga. Dia lebih memilih tinggal di kontrakan kecil daripada harus tinggal di istana yang penuh dengan kebohongan.
"Kenapa selama ini mami bohong? Mami bilang papi sudah mati, tapi nyatanya..., dia masih ada dan keberadaannya ada di sekitar kita. Bahkan pertama kalinya bertemu mami tidak mengenalkannya pada kami. Kenapa mi?! Kenapa harus berbohong? Jujur ya mi, aku kecewa banget sama kalian."
Ayuna tahu betapa hancurnya perasaan anak-anaknya. Hanya saja Kenzie masih bisa memakluminya, tapi Kenzo sangat sulit untuk memberikan maaf.
"Mami minta maaf nak, mami punya alasan yang tidak bisa mami jelaskan pada kalian," cicit Ayuna. "Kalian masih sangat kecil, dan nggak seharusnya membenci orang tua sendiri."
"Aku ingin kita pergi dari sini. Aku lebih nyaman tinggal di kontrakan saja."
Ayuna menggeleng. "Jangan begitu Kenzo," cicit Ayuna. "Kamu boleh kecewa sama kami, tapi kita nggak mungkin bisa kembali tinggal di rumah kontrakan. Di sini papi sudah memiliki rumah yang layak buat kalian, dan dia tidak akan melepaskan kalian untuk hidup sengsara di luar. Apalagi sampai tinggal di rumah orang lain. Ayolah..., turunkan egomu."
Bocah kecil itu menekuk mukanya, masih juga susah meluluhkan hatinya yang kaku.
"Mami sekarang nggak berpihak padaku. Mami lebih memilihnya."
Ayuna mengambil posisi duduk di sebelahnya dengan mengusap surainya dengan lembut.
"Mami tidak berpihak pada siapapun. Kalau boleh memilih, mami bakalan ajak kalian pergi sejauh mungkin, tapi masalahnya mami nggak mampu kasih kehidupan yang layak buat kalian. Kalian butuh banyak uang untuk sekolah. Sedangkan hasil kerja mami cuma cukup buat bayar kontrakan. Haruskah kalian menderita dengan kehidupan yang dipenuhi banyak kekurangan?"
"Selama ini kita selalu hidup susah. Sudah terbiasa juga. Aku siap meskipun hidup dalam kekurangan," bantah Kenzo.
Entah siapa yang menurunkan sikap begitu egoisnya dia yang tak mau memaafkan kesalahan ayahnya.
"Mungkin kamu siap menerima resikonya, tapi adikmu..., dia butuh kehidupan yang layak. Dia menginginkan mainan, dia juga ingin merasakan makanan yang enak dan bergizi. Kalau cuma hidup dengan mami, memangnya kalian bisa mendapatkan semua itu?"
Bocah itu membuang muka dengan mempoutkan bibirnya. Sekarang tak ada lagi yang berpihak padanya. Mungkin ibunya jauh lebih memilih laki-laki yang mengaku sebagai ayahnya dibandingkan dirinya yang selama ini ada untuk menemaninya.
"Kenzo, kamu masih terlalu kecil. Nggak baik musuhan sama orang tua sendiri. Papi kalian memang bersalah, tapi nggak adakah kata maaf untuknya? Allah saja maha pemaaf, kok kita yang hanya manusia nggak mau maafin."
Hening, cukup lama tak lagi ada bantahan. Hanya ada suara jangkrik yang berbunyi nyaring bersembunyi di bawah rerumputan di taman.
"Ini sudah malam. Ayo masuk."
"Mami aja yang masuk. Aku mau di sini aja."
Ayuna menarik napas yang begitu membuatnya sesak. Awalnya ia juga selalu menghindari Erlangga, sama seperti Kenzo, tapi di sisi lain ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, ditambah lagi dengan kehidupannya yang mulai diusik orang membuatnya tak bernyali dan butuh perlindungan. Hanya Erlangga yang bisa memberinya perlindungan, selain itu dia juga ayah dari kedua anaknya.
"Coba pikirkan baik-baik. Adikmu bisa maafin papi. Dia hidupnya sudah nyaman. Apapun yang dia mau papi turuti. Kalau kamu bisa tenang sedikit saja tidak akan ada jarak antara kamu sama papi yang ada papi bakalan turuti apapun yang kamu inginkan."
Kenzo meremas jemarinya. "Aku nggak butuh apapun," serunya dengan wajah merah padam. Masih belum bisa mengontrol emosinya.
"Yakin nggak butuh apapun? Bukankah di sekolah kamu sering diejek sama teman-temanmu karena dianggap miskin? Bahkan kamu nyaris nggak punya teman."
Belum lama pindah sekolah mereka masih mendapatkan perlakuan yang buruk dari teman-temannya. Ayuna sendiri sampai bingung, harus menempatkan anaknya di sekolah mana lagi yang buat mereka nyaman.
Dari lantai atas Erlangga mengamati keberadaan mereka berdua. Dia tak habis pikir, harus dengan cara apa membujuk satu putranya yang memiliki watak kaku, yang nyaris menyerupai dirinya.
"Apakah aku kalah dengan karyaku sendiri," gumamnya. "Bukannya aku yang buat, tapi kenapa sikap tengilnya melebihi aku. Harusnya aku tidak perlu takut? Harusnya aku lebih mudah menundukkannya, sama seperti Kenzie, dia cukup mudah untuk dibujuk."
Sejak siang pikirannya tak bisa tenang. Kenzo selalu uring-uringan dan mengajak pergi ibunya meninggalkan rumah. Dan ia sendiri tak bisa membujuk, selalu terpancing emosi oleh lontaran kata-kata kasar putranya.
"Tuan belum tidur?" Sofyan melangkahkan kakinya mendekat. Pria itu selalu ada untuk menemaninya. Semenjak ada perselisihan dengan keluarganya, dia memilih untuk tinggal bersama Erlangga.
"Masih jam berapa kau menawariku buat tidur," desis Erlangga dengan menolehnya sekilas.
Pria itu terkekeh. "Tapi kan sekarang malam pertama anda dengan nyonya Tuan. Haruskah anda menemani nyonya dan membuatnya puas di bawah anda."
Erlangga menajamkan matanya. "Pikiranmu terlalu ngawur. Bagaimana aku bisa membuatnya puas? Di sana dia lagi kekurangan bahan untuk membujuk anak laki-lakinya."
Sofyan menoleh ke arah taman dan mendapati keberadaan Ayuna dengan salah satu anaknya.
"Itu Den Kenzo atau Kenzie?"
"Kenzo. Dia masih nggak mau berdamai denganku."
Sofyan melepas tawanya. "Sudah kuduga. Dia bakalan buat rumah ini bernyawa. Selama ini rumah ini terasa dingin dan sepi. Tidak ada perdebatan, tidak ada canda gurau, dan tidak ada rengekan anak kecil."
"Lebih baik melihatnya menangis daripada melihatnya manyun seperti itu. Bahkan menganggapku sebagai musuhnya. Aku ini bapaknya, harusnya dia bangga memiliki Bapak seperti aku. Kaya, tampan dan mapan. Apa lagi yang kurang?"
Erlangga merasa dirinya paling sempurna diantara yang lain. Bahkan dia tidak berpikir pernah membuat kesalahan yang membuat orang lain tersakiti.
"Tuan, seharusnya anda bersikap lebih tenang, jangan terpancing emosi seperti ini," cicit Sofyan.
Pria itu cukup tahu bagaimana perasaan Erlangga dan juga Kenzo. Kenzo sudah banyak menderita tanpa adanya perlindungan dari ayahnya. Pantas saja dia tak suka dengan kehadirannya ayahnya secara tiba-tiba. Dia merasa terusik dan tergores hatinya.
"Gimana aku nggak emosi. Aku sudah berusaha sesabar mungkin menghadapinya. Bahkan aku sudah berkali-kali meminta maaf. Tapi apa yang aku dapatkan? Dia tak berhenti mencaciku. Dia begitu membenciku, Sofyan. Kamu nggak tahu gimana rasanya dibenci oleh buatanku sendiri."
Sofyan terkekeh. "Apa yang anda alami tidak sebanding dengan apa yang saya rasakan, Tuan," balas Sofyan. "Saya difitnah, bahkan tidak diinginkan oleh keluarga saya sendiri itu jauh lebih menyakitkan. Selama ini saya sudah berjuang untuk keluarga, tapi mereka malah menyepelekan. Menurut anda, apakah kondisi saya baik-baik saja?"