"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Pagi di Lembang dan Kepastian di Dubai
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden dinding kaca, menyiram kamar utama vila dengan cahaya keemasan. Hawa dingin Lembang masih terasa menusuk tulang.
Nadira menggeliat pelan, perlahan mengumpulkan kesadarannya. Matanya mengedip beberapa kali menatap langit-langit kamar yang asing. Saat mencoba menarik selimut tebalnya, ada yang ganjil. Rasa dingin mendadak menyapa kulit bahu dan dadanya.
Nadira menunduk menatap dirinya sendiri.
Kedua matanya mendadak membelalak selebar-lebarnya. Ia masih terbalut kain handuk mandi putih tebal yang sudah sedikit melorot dari batas dada!
"KYAAAAA! ASKARA PRADIPTA!" jerit Nadira histeris melengking, suaranya memecah keheningan pagi.
GEDEBUK!
Di sofa panjang tak jauh dari ranjang, Askara yang sedang tertidur lelap kaget setengah mati mendengar jeritan itu. Tubuh jangkungnya refleks berguling dan jatuh terjerembab ke lantai marmer dengan posisi tengkurap.
"Aduh!" ringis Askara memegangi pinggangnya yang menghantam lantai. Pria itu mengusap matanya yang masih sepet, duduk linglung di lantai. "N-Nadira?! Ada apa?! Ada kebakaran?!"
"LO! KENAPA GUE MASIH PAKE HANDUK HAH?!" teriak Nadira menarik selimut sampai ke leher, menunjuk Askara dengan wajah memerah padam. "LO APAIN GUE SEMALAM?!"
Askara menghela napas panjang, menepuk jidatnya sendiri. Ia berdiri perlahan, merapikan kaus hitamnya yang sedikit kusut.
"Astaga, Nadira... Semalam lo panik, nangis-nangis trauma gara-gara terkunci di kamar mandi," celoteh Askara dengan suara serak khas bangun tidur. "Gue yang nggendong lo ke kasur, gue nyelimutin lo. Gue bahkan rela tidur di sofa semalaman demi nahan diri biar gak macam-macam sama lo! Sekarang lo malah nuduh gue?!"
Nadira menelan ludahnya, ingatannya tentang kejadian semalam perlahan berputar kembali. Rasa hangat saat Askara mendekapnya, ucapan tulus pria itu, hingga bagaimana Askara dengan sabar menjaganya semalaman. Tidak ada bekas aneh di tubuhnya, dan kemeja yang dipakai Askara semalam pun sudah berganti.
Nadira menunduk canggung, meremas selimut. "Y-ya kan... gue cuma kaget, Ka. Lagian kenapa gak ingetin gue ganti baju?"
"Lo udah keburu molor duluan pas meluk gue semalam," ledek Askara dengan senyuman miringnya, berjalan mendekati kasur. "Gimana? Mau dapet bonus dicium lagi biar ingatan lo makin segar?"
"ENGGAK! PERGI GAK LO! GUE MAU GANTI BAJU!" jerit Nadira menyambar bantal dan melemparnya ke arah Askara.
Askara menangkap bantal itu dengan santai sambil tertawa renyah. "Iya, iya. Gue tunggu di teras luar. Jangan dikunci lagi tuh pintu, atau gue dobrak lagi!"
Satu jam kemudian, hawa sejuk dan pemandangan lembah hijau Lembang menyapa mereka di teras luar lantai dua. Nadira sudah tampil segar dengan sweater rajut warna krem dan celana jins santai, sementara rambutnya dikuncir kuda.
Di atas meja kayu teras, sudah tersaji dua piring bubur ayam panas dengan kuah kuning terpisah, ekstra kerupuk, dan dua cangkir teh manis hangat.
"Wah! Bubur ayam Pak Haji!" seru Nadira berbinar-binar, langsung duduk di kursi. "Lo yang beli, Ka?"
"Bukan, penjaga vila yang gue suruh beliin tadi pagi," sahut Askara duduk di hadapannya.
Askara meraih piring bubur Nadira lebih dulu. Dengan telaten, pria itu menaburkan kacang, bawang goreng, kerupuk yang dihancurkan, dan menuangkan kuah kuning secukupnya—persis seperti racikan bubur favorit Nadira yang tidak suka terlalu banyak kecap.
"Nih," sodor Askara menyerahkan mangkuk itu kembali.
"Makasih, Calon Suami," puji Nadira refleks dengan senyum manis tanpa dosa, menyambar sendoknya.
Askara tertegun sejenak. Kata 'Calon Suami' yang keluar santai dari bibir Nadira membuat dadanya berdesir hangat, namun raut wajah Askara perlahan berubah menjadi lebih serius dari biasanya. Pria itu menyesap teh hangatnya, menatap lurus ke arah Nadira yang sedang mengunyah bubur dengan lalap.
"Nad," panggil Askara pelan namun tegas.
"Hmm? Apaan?" sahut Nadira tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.
"Soal pernikahan kita... gue mau dimajuin. Pokoknya bulan depan, pas ulang tahun lo yang ke-30, kita harus udah resmi nikah."
Mata Nadira berkedip. Ia meletakkan sendoknya, menatap Askara heran. "Lah, kan dari kemarin emang rencananya pas ultah gue kan? Kenapa lo ngomongnya serius banget gitu?"
Askara menyandarkan kedua tangannya di atas meja, memajukan tubuhnya. "Gue gak cuma mau akad formalitas atau sekadar tuntasin janji konyol lima tahun lalu, Nad. Gue mau pernikahan yang sah secara hukum dan agama, secepatnya."
Nadira tertegun melihat sorot mata Askara yang begitu dalam dan tanpa bercanda sedikit pun. "Kok mendadak banget, Ka? Ada masalah?"
"Bulan depan, tepat seminggu setelah ulang tahun lo, gue ada rencana perjalanan bisnis ke Dubai," jelas Askara jujur. "Perusahaan gue baru aja menang tender proyek ekspansi besar di sana. Gue harus tinggal di Dubai minimal tiga sampai enam bulan buat pegang kendali langsung."
Dada Nadira mendadak berdesir aneh. Tiga sampai enam bulan? Di luar negeri?
"L-lo mau ke Dubai... lama banget?" cicit Nadira pelan, rasa tidak rela mendadak menyusup di hatinya.
"Maka dari itu, gue butuh kepastian dari lo sekarang," tegas Askara, menatap iris mata Nadira rapat-rapat. "Gue gak mau ninggalin lo di Jakarta sendirian dengan status yang gak jelas. Gue gak mau ada cowok-cowok penipu atau anak magang kayak Gara yang manfaatin kelengahan gue pas gue jauh."
Askara meraih tangan kanan Nadira di atas meja, mengusap punggung tangannya dengan lembut.
"Kalau kita nikah bulan depan, lo bakal ikut gue ke Dubai sebagai istri sah gue," lanjut Askara, suaranya melembut namun sarat akan tuntutan kepastian. "Lo bisa urus kerjaan kantor lo secara remote, atau ambil cuti panjang. Yang jelas, gue mau lo ada di samping gue."
Nadira terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Selama ini, ia selalu menganggap janji usia 30 tahun sebagai pelarian atau gertakan gengsi belaka. Namun melihat bagaimana Askara merencanakan masa depan mereka hingga ke luar negeri, Nadira sadar bahwa Askara benar-benar serius menginginkan dirinya menjadi pendamping hidup seutuhnya.
"Ka... tapi persiapan nikah kan gak gampang," gumam Nadira canggung, memalingkan wajahnya yang mendadak panas. "Masa cuma seminggu sebelum berangkat..."
"Semua vendor, WO, dan berkas pernikahan udah diurus sama Bimo dan Tante Dinan sejak minggu lalu, Nad," potong Askara dengan senyuman miring yang percaya diri. "Lo cuma perlu bilang 'ya', dateng pas hari H, ganti gaun, terus ikutan gue ke Dubai. Paham?"
Mata Nadira membelalak lebar. "WHAT?! MAMA SAMA BIMO UDAH URUS DARI MINGGU LALU?! LO BOHONGIN GUE YA?!"
"Bukan bohong, tapi persiapan matang," sahut Askara santai, lalu menarik tangan Nadira dan mengecup jemarinya lembut. "Jadi gimana, Nadira Ruella? Lo siap ikut gue ke Dubai sebagai istri Askara Pradipta?"
Nadira menatap wajah tampan sahabatnya itu. Di balik rasa kesalnya karena selalu dijebak, ada rasa hangat dan aman yang tak tergantikan. Dengan bibir yang cemberut namun pipi merona merah, Nadira menunduk pelan.
"Terserah lo deh... Lagian kalau gue gak ikut, siapa yang bakal ngurusin cowok posesif dan mesum kayak lo di Dubai?" cicit Nadira pelan.
Senyuman lebar dan lega merekah sempurna di wajah Askara. Pria itu menarik tangan Nadira lebih dekat, menggenggamnya rapat-rapat seolah tak akan pernah melepaskannya lagi.
semangat terus thor...
/Heart/