NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Mereka pasti belum jauh!"

Elara menggigit bibirnya dalam air, merasakan jantungnya berdetak begitu kencang hingga terasa seolah bisa terdengar oleh para pembunuh.

Dreven, yang tetap tenang meski dalam situasi genting, perlahan menggeser posisinya, menarik Elara lebih dalam ke dalam air agar lebih tersembunyi. Meskipun tubuhnya lumpuh, tangannya masih kuat untuk memegang Elara. Gerakannya begitu hati-hati, nyaris tidak menimbulkan riak.

Elara ingin percaya pada Dreven, tapi di dalam hatinya ada ketakutan besar yang menggerogoti pikirannya. Bagaimana jika mereka tidak bisa bertahan cukup lama? Bagaimana jika mereka ditemukan? Terlebih Dreven yang tidak bisa berenang sendiri—Elara harus menopang tubuh pria itu agar tetap mengapung.

Tiba-tiba, suara langkah itu berhenti tepat di tepi danau.

"Danau ini cukup dangkal di beberapa bagian," salah satu pria berkata.

"Kalau begitu, tembak saja ke dalam air. Jika mereka bersembunyi di sana, mayatnya akan mengapung."

Elara membelalakkan matanya dalam air, napasnya hampir habis, dan ketakutan semakin menguasai dirinya. Mereka akan menembak ke dalam air!

Suara pistol yang sedang mengisi amunisinya terdengar.

Elara mengeratkan pegangannya pada Dreven, dia tak berani melihat dan bersiap menerima rasa sakit dan berharap dia tak mati meskipun terluka.

Pelukan Dreven pada Elara pun semakin erat bahkan tubuh besarnya mampu melindungi tubuh kecil itu di balik tubuhnya. Meskipun dia tidak bisa bergerak bebas, dia menggunakan sisa kekuatan tangannya untuk menahan Elara tetap di bawah air.

DOR! DOR!

Suara tembakan bertubi-tubi dengan arah tak menentu membuat tubuh Elara bergetar di bawah air.

"Uhh!"

Gerakan Dreven yang sedikit melonggarkan pelukannya membuat Elara terkejut, air yang sebelumnya sedikit keruh kini berubah menjadi warna darah yang samar.

Dreven tertembak.

Elara yang masih berada dalam pelukannya menahan napas sekuat tenaga, meskipun panik mulai menguasainya.

Tapi pria itu tetap bertahan.

Meskipun tertembak, Dreven tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyerah. Tangannya masih erat memeluk Elara, tubuhnya tetap menjadi tameng di antara peluru-peluru yang mungkin masih melesat ke dalam air. Meskipun kakinya tidak bisa bergerak, dia tetap bisa melindungi Elara dengan tubuhnya.

Elara menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir keluar. Ini salahnya. Jika saja dia tidak keluar dari rumah, mereka tidak akan berada dalam bahaya seperti ini.

Di atas permukaan, suara langkah kaki mulai terdengar bergerak ke arah lain.

"Hei disana aku seperti melihat semak-semak bergerak dan seperti ada langkah kaki berlari, ayo kita kejar!"

Pria yang tadi menembak ke arah danau mengangguk dan tak sempat melihat air danau yang sudah berubah warna di permukaan.

Elara menahan napasnya, berharap orang-orang itu benar-benar terganggu oleh sesuatu di semak-semak dan menjauh dari danau. Ini kesempatan mereka untuk bertahan hidup.

Dreven masih dalam pelukannya, tubuhnya terasa berat dan lemas. Darah yang mengalir dari luka di bahunya membuat air di sekeliling mereka semakin merah. Dia kehabisan darah.

Elara tidak bisa menunggu lebih lama. Jika mereka tetap di sini, Dreven bisa mati.

Dengan sisa tenaganya, ia menarik tubuh Dreven menuju tepian danau. Setiap gerakannya terasa berat karena Dreven yang tidak bisa bergerak sendiri, jantungnya berdetak kencang karena takut mereka masih bisa terlihat oleh para pembunuh itu.

Setelah berjuang beberapa menit, akhirnya Elara berhasil menyeret Dreven ke daratan. Tubuhnya gemetar karena kedinginan dan kelelahan, tapi dia tak peduli.

Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa Dreven.

Tangannya gemetar saat merobek lengan baju Dreven, mencoba menghentikan pendarahnya dengan menekan luka itu sekuat tenaga.

"Bertahanlah... Dreven, buka matamu, jangan mati disini!" bisiknya, suaranya bergetar antara panik dan putus asa.

Dreven mengerang pelan, matanya setengah terbuka. "Apa.. mereka sudah pergi?"

Elara mengangguk, dan Dreven mulai merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya untuk diberikan pada Elara.

"Telpon ayah," gumamnya sambil mengerang rasa sakit.

Elara meraih ponsel itu dengan tangan gemetar. Dengan cepat, ia mencari kontak ayah mertuanya dan menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya suara berat di ujung sana menjawab, "Dreven?"

"Ayah! Ini Elara! Dreven tertembak, kami diserang! Kami butuh bantuan sekarang juga!" Suaranya nyaris pecah karena panik.

Di seberang sana, terdengar tarikan napas kasar sebelum suara tegas itu menjawab, "Di mana kalian sekarang?"

Elara menoleh ke sekitar, mencoba mengenali lokasi mereka. "Kami... di dekat danau. Aku tidak tahu pasti di mana, tapi—"

"Bertahanlah. Aku akan mengirim orang ke sana secepatnya."

Elara mengangguk, meskipun orang di ujung telepon tidak bisa melihatnya. "Cepatlah... dia kehilangan banyak darah."

Begitu panggilan berakhir, Elara menatap Dreven yang masih terbaring lemah di tanah. Napasnya berat, dan keringat dingin membasahi dahinya. Kursi roda elektroniknya masih tergeletak di dekat tepi danau, tidak bisa digunakan di medan seperti ini.

Elara menekan luka tembaknya lebih kuat, berusaha menghentikan pendarahan sebisanya. "Bertahanlah sedikit lagi, bantuan akan datang."

Dreven tersenyum lemah, matanya memandang Elara dengan intens. "Kau... terlihat lebih khawatir daripada biasanya..."

Elara mendelik padanya, "Tentu saja! Kau pikir aku ingin membawa mayatmu pulang, hah?!"

Dreven tertawa kecil, lalu mengerang kesakitan. "Sial... tertawa pun menyakitkan."

Elara menghela napas, menahan air mata yang hampir jatuh. "Jangan banyak bicara, bodoh. Simpan energimu."

Dreven tersenyum tipis, meskipun menyakitkan setidaknya setimpal karena bisa melihat wajah yang biasanya tak peduli itu terlihat ketakutan saat melihatnya akan mati.

"Ini menyenangkan," batinnya.

---

Suara ambulance dari kejauhan dan juga suara sirine polisi membuat para pembunuh yang sejak tadi mengelilingi hutan langsung saling berpandangan.

"Sial, kita harus cepat pergi atau masalah akan semakin rumit!"

"Hilangkan jejak, kita tak boleh tercium aparat keamanan!"

Tanpa banyak bicara, para pembunuh itu segera bergerak. Mereka dengan cepat menghapus jejak kaki di tanah berlumpur, membakar kain atau benda lain yang mungkin meninggalkan bukti, lalu menghilang ke dalam kegelapan malam.

Sementara itu, di tepi danau, Elara mendengar suara sirene yang semakin mendekat. Napasnya sedikit lega, tapi tangannya masih sibuk menekan luka di bahu Dreven.

"Dengar itu?" bisiknya. "Bantuan datang."

Dreven yang matanya setengah terbuka tersenyum samar. "Bagus... Aku tidak perlu mati di tepi danau ini."

Elara mendengus, meskipun hatinya masih berdebar kencang. "Aku tak akan membiarkanmu mati begitu saja."

Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat.

"Elara? Dreven?"

Elara mengenali suara itu. Raviel, ayah Dreven.

Beberapa pria berseragam muncul dari balik pepohonan, diikuti seorang pria paruh baya dengan ekspresi tegang.

Begitu melihat Elara dan putranya yang tergeletak lemah, pria itu langsung berlutut di sampingnya. "Elara kau tak apa, nak?"

Dreven mengerang kesal dari tanah, "yang hampir mati anakmu, tapi kau malah bertanya pada orang yang jelas-jelas sehat!"

Raviel menghela napas, lalu menatap Dreven dengan ekspresi setengah lega, setengah kesal. "Kalau kau masih bisa marah-marah seperti itu, berarti kau belum sekarat."

Dreven mendengus, tapi kemudian mengerang lagi karena rasa sakit di bahunya. Paramedis segera menstabilkan kondisinya sebelum mengangkatnya ke tandu. Elara membantu mengangkat tubuh Dreven yang lumpuh dengan hati-hati, memastikan tidak ada gerakan yang memperparah lukanya.

Elara, yang masih duduk di tanah dengan tangan berlumuran darah Dreven, akhirnya berdiri. Matanya bertemu dengan tatapan tajam Raviel.

"Kau benar-benar baik-baik saja?" tanya pria itu lagi, kali ini lebih serius.

Elara mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja."

Raviel memperhatikan ekspresinya sejenak sebelum mengangguk. "Kita harus pergi. Ini bukan tempat yang aman."

Begitu mereka bergerak menuju ambulans, beberapa pria bersenjata berjaga di sekitar, memastikan area itu bersih dari ancaman. Elara berjalan di samping tandu Dreven, matanya sesekali melirik pria yang terbaring lemah itu.

Untuk pertama kalinya, dia melihat Dreven tidak sebagai pria menyebalkan yang selalu mengganggunya, tetapi sebagai seseorang yang... melindunginya tanpa ragu.

Dan itu membuat hatinya terasa aneh.

Bersambung...

1
Muft Smoker
hati2 elara ,, Galileo pria yg berbahaya ,,
Muft Smoker: 😱😱😱😱😱🤭🤭
total 2 replies
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
Alia Chans: siap kl🤭
total 1 replies
Muft Smoker
hihihi sbar yx dreven🤭🤭😂😂
Miranda.
kek anak kecil yang lagi bujuk emaknya wkwk
Alia Chans: Dreven nya caper🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Miranda.
akting ga sih ini? biar dapet perhatian dari sang istri?/Doge//Doge/
Miranda.
apa sih kek bocil aja lu, Ren, Ren😂😂
Miranda.
daren aja duduk dikursi. masa bisa ngebalik kursi lain ups—
Muft Smoker
lanjuut kak ,,
Miranda.
jangan bilang BU pliss. si perantara bakalan ngejual harga miring itu nantinya😭😭
Alia Chans: 🤣🤣🤣🤣 gimana ya kak..
total 1 replies
Miranda.
untung ga dikhianati sm dja/Smile/
Miranda.
agak jahat sih. memanfaatkan rasa seseorang
Miranda.
sebuah perintah, atau ramalan nih?🤔
Alia Chans: tannya orang nya langsung 🙄🙄
total 1 replies
Mingyu gf😘
bisa saja draven sebenarnya sudah bisa berjalan, tapi hanya pura pura saja
Alia Chans: bisa jadi sih🤭🤭
total 1 replies
Mingyu gf😘
nahhb semakin curiga sama draven
Mingyu gf😘
jangan jangan draven itu mafia
Mingyu gf😘
waduhhh😭😭prontal banget woyy
Muft Smoker
jgn2 ni ulah Galileo Galilei 🤔🤔🤔



🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁😁😁😁
total 2 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
emm serem tapi oke🤭🤭
Alia Chans: wow... semoga suka ya☺
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
aaaaw so sweet
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Wanita yang dia maksud adalah istrinya sendiri
Alia Chans: 🤣🤣🤣 biasa Dreven nyari kesempatan🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!