NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 : Bekas Sandaran & Pertahanan Yang Goyah

    Hari Senin pertama setelah kegiatan kemping terasa seperti ujian fisik bagi murid-murid angkatan kelas XI. Suara bel masuk pukul tujuh pagi disambut helaan napas berat berjamaah. Langkah-langkah kaki yang diseret pelan memenuhi koridor lantai dua, menggambarkan betapa pegal dan remuknya badan satu angkatan.

​Di dalam kelas XI IPS 2, suasana sudah lumayan riuh oleh rintihan dan obrolan random.

"Aduh, betis gue rasanya kayak kram permanen," keluh Bimo sambil meluruskan kakinya di bawah meja. "Ini mah bukan kemping refreshing, tapi nyiksa diri namanya."

​"Makanya, senam itu dipraktekkan, bukan ditinggal merem di pinggir lapangan!" celetuk Rian yang baru masuk membawa dua spidol hitam kelas di genggamannya.

​"Seriusan, gue aja masih kerasa pegel di bahu gara-gara ngegotong carrier," sahut Okta menimpal sambil memutar-mutar bahu kanannya yang kaku.

Fathir yang duduk di belakang Okta menepuk meja pelan. "Sama, Ta. Mana tidur di dalam tenda alasnya terpal tipis begitu bikin punggung gue berasa ditimpa batako."

​Sementara di deretan meja cewek, suasananya lebih tenang meski tetap ramai. Neona, Maya, dan Sisil yang kemping kemarin di tenda bersama, berkumpul di sekitar meja Kiara.

​"Kia, flu lo gimana? Udah mendingan belum?" tanya Maya lembut dengan raut wajah perhatian.

​"Udah mendingan kok, May. Tinggal serak dikit aja," jawab Kiara tersenyum tipis seraya mengusap lehernya sendiri.

​"Tapi beneran deh, Kia, muka lo pas di perkemahan semalam pucat banget," timpal Nisya dari samping. "Gue yang pas malam-malam dengar lo bersin dari tenda sebelah aja udah ngeri duluan, takut lo demam lagi kaya waktu itu."

​"Iya, makanya dari pulang kemping gue stop dulu minum es sama makan manisnya," balas Kiara meyakinkan mereka.

Di dalam hatinya, Kiara sebenarnya sedang sibuk merapikan benteng pertahanan yang sempat luluh. Kejadian saat Khafi menarik tangannya di tengah kegelapan hutan, minyak kayu putih yang disodorkan malam-malam, hingga momen kepalanya menyandar di bahu Khafi sepanjang perjalanan pulang di bus terus berputar ulang di kepalanya. Tapi Kiara buru-buru menepis bayangan itu rapat-raptan.

​Dia cuma kasihan sama gue yang lagi sakit. Gak lebih. Jangan baper, Kiara. Inget posisi lo. Batin Kiara memeringati dirinya sendiri.

Tepat saat itu, pintu kelas terbuka. Khafi melangkah masuk bersama Pandu, Ferdi, dan Kevin. Seperti biasa, tampilannya rapi dengan seragam putih abu-abu, tas ransel disangkutkan di sebelah bahu, dan raut wajah yang datar tanpa ekspresi.

​Ferdi yang berjalan di belakang Khafi sempat menepuk bahu cowok itu sambil terkekeh pelan, karena mengingat kejadian saat di bus yang menurutnya menggemaskan. "Bahu kiri lo robek nggak, Khaf? Bekas menopang beban berat kemarin."

​"Berisik, Di," sahut Khafi dingin, menepis tangan Ferdi tanpa berniat melayani ledekan itu.

​"Dih, galak amat si Bos. Padahal urang cuma nanya," gumam Ferdi tertawa kecil lalu berjalan mendahului menuju mejanya di belakang.

​Langkah Khafi berlanjut menyusuri lorong antar meja. Namun, begitu melewati meja Kiara, langkah kakinya mendadak melambat sejenak. Tanpa memandang wajah Kiara dan tanpa menghentikan jalannya secara penuh, Khafi meletakkan sebungkus permen pelega tenggorokan rasa lemon dan satu botol air mineral hangat yang baru dibelinya dari kantin tepat di sudut meja cewek itu.

​"Nih," gumam Khafi pendek, suaranya sangat datar seolah cuma sedang menjalankan kewajiban acak. "Suara lo makin nggak enak didengar, mirip bebek kejepit."

Kiara seketika terpaku di tempatnya. Matanya menatap permen lemon dan botol air mineral itu bergantian, lalu beralih menatap punggung Khafi yang sudah berjalan santai menuju bangkunya sendiri di deretan belakang.

​Jantung Kiara berdesir kencang, hampir membuat benteng pertahanan yang tadi dibangunnya goyah seketika. Namun, gengsi dan ketakutannya langsung mengambil alih kendali. Kiara menegakkan tubuhnya, menoleh sedikit ke belakang dan mendelik tipis ke arah Khafi yang sudah duduk santai sambil merogoh HP dari sakunya.

​"Gue nggak minta ya, Khaf," sahut Kiara dengan nada ketus yang dipaksakan. "Suara gue biasa aja, nggak usah sok tahu."

​Khafi tidak menoleh sama sekali dari layar HP-nya, tapi dari suaranya terdengar menjawab santai tapi malas. "Ya udah, buang aja kalau nggak mau. Nggak sengaja juga itu belinya, mumpung gue lagi ada kembalian sisa beli kopi tadi."

​Kiara mendengus pelan, mengepalkan jemarinya di bawah meja. Tuh kan! Beneran cuma gara-gara sisa kembalian doang! Omel Kiara dalam hati.

​Meski mulutnya mengomel dan sikapnya tetap jual mahal, tangan Kiara perlahan-lahan meraih bungkus permen itu dan memasukkannya ke dalam laci meja. Sementara di barisan belakang, Khafi menyunggingkan senyum tipis yang sangat tipis di balik HP-nya—merasa puas berhasil membalas ketusan Kiara tanpa perlu merusak gengsinya sendiri.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    Setibanya bel pelajaran ketiga, Bu Iis—guru Bahasa Indonesia yang terkenal santai tapi tegas—melangkah masuk ke kelas XI IPS 2. Materi hari ini adalah Bab Debat, dan Bu Iis sudah berdiri di depan papan tulis dengan spidol di tangan.

​"Oke, anak-anak. Karena teori unsur-unsur debat seperti Tim Afirmasi, Oposisi, dan Netral sudah kita bahas minggu lalu, hari ini Ibu mau lihat simulasi singkat secara spontan," ujar Bu Iis memindai seisi ruangan. "Ada yang mau coba maju secara sukarela buat contoh?"

​Seketika seisi kelas mendadak hening. Bimo berpura-pura sibuk mengikat tali sepatu, Fathir mendadak khusyuk membaca buku pelajaran, sementara Okta pura-pura batuk.

​"Dih, pada ngumpet semua," celetuk Rian dari mejanya. "Bu! Kalau masalah debat IPS Dua kan sudah jelas ada perwakilannya, dorong aja yang paling sering adu argumen tiap hari!"

​"Nah! Bener tuh, Pak KM!" sahut Pandu cepat sambil menunjuk ke arah sampingnya. "Saran saya, langsung panggil Tom and Jerry-nya kelas kita, Bu! Khafi sama Kiara!"

​"Iya, Bu Iis! Pas banget itu! Tanpa teks pun mereka udah berbakat!" timpal Ferdi ikut-ikutan menepuk meja.

​Anak-anak kelas langsung riuh mengiyakan, membuat Kiara yang sedang tenang mengunyah permen lemonnya kaget setengah mati.

​"Kok gue sih?! Nggak ya! Malas banget!" tolak Kiara cepat sambil memelototi Pandu dan Ferdi.

​Di deretan belakang, Khafi hanya bersedekap dada sambil menyender santai. "Ogah, Bu. Nanti ada yang nangis gara-gara kalah argumen."

​"Siapa juga yang mau nangis?! Jangan kepedean ya." tembak Kiara tidak terima.

​Bu Iis menahan senyum melihat respon cepat keduanya. Beliau sangat paham dinamika dua muridnya ini yang tidak pernah bisa tenang kalau disatukan dalam satu ruangan.

​"Nah, kebetulan banget," potong Bu Iis sambil mengetukkan spidol ke papan tulis. "Ibu memang berniat panggil kalian berdua. Khafi dan Kiara, maju ke depan sekarang. Tidak ada penolakan. Ini masuk nilai keaktifan."

​Dengan helaan napas berat dan muka cemberut, Kiara akhirnya berdiri. Sementara Khafi menghela napas malas lalu mengekor berjalan menuju depan kelas. Mereka berdiri berhadapan di samping meja guru dengan jarak satu meter.

​"Mosi debat singkat kita hari ini," Bu Iis berdeham sejenak, mencari topik acak. "Siswa Sekolah Menengah Atas Tidak Perlu Diberikan Tugas Rumah Agar Fokus Pada Pengembangan Diri. Khafi di tim Afirmasi atau tim Pro yang setuju mosi, dan Khafi di tim Oposisi atau kontra yang menolak mosi. Silakan dimulai dari tim Afirmasi"

​Awalnya, debat berjalan cukup canggung karena keduanya berusaha menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baku sesuai arahan Bu Iis.

​Khafi berdeham pelan, memasukkan sebelah tangannya ke saku celana. "Terima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh moderator. Menurut pandangan kami dari tim Afirmasi, peniadaan tugas rumah sangat relevan. Siswa sudah menghabiskan waktu sekitar delapan jam di sekolah. Jika beban belajar ditambah dengan PR di rumah, waktu untuk interaksi sosial dan istirahat akan tergerus, yang berpotensi memicu stres berlebihan pada siswa."

​Anak-anak kelas mendadak bertepuk tangan pelan. "Anjay, bahasanya formal banget si Khafi, " bisik Bimo ke Fathir.

​Kiara memutar otaknya cepat, berusaha mengimbangi gaya baku Khafi meski dadanya sudah bergemuruh karena gugup. "Saya... maksud saya, kami dari tim Oposisi sangat tidak setuju dengan argumen dari tim Afirmasi. PR diberikan bukan untuk menyiksa siswa, melainkan sebagai sarana evaluasi dan pemantauan agar materi yang diajarkan di kelas tidak meluap begitu saja dari ingatan siswa. Tanpa adanya PR, siswa cenderung menghabiskan waktu luang untuk hal-hal yang tidak produktif!"

​"Izin menyanggah, Moderator," potong Khafi cepat, matanya menatap tajam ke arah Kiara. "Pernyataan pembicara Oposisi sangat tidak berdasar. Produktivitas tidak hanya diukur dari lembaran kertas PR. Kegiatan seperti olahraga, berorganisasi, atau bahkan sekadar istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan tubuh—seperti agar tidak mudah bersin-bersin dan masuk angin di tempat umum—itu juga bentuk produktivitas yang jauh lebih penting."

​Kiara mendelik lebar. Nyebelin banget, dia mulai bawa-bawa kejadian kemping! batinnya kesal.

​Kaidah baku yang tadinya mereka jaga ketat perlahan lebur berganti emosi pribadi.

​"Interupsi!" seru Kiara agak menaikkan nada suaranya, melupakan kata 'Moderator'. "Argumen Afirmasi terlalu mengada-ada dan melenceng! Lagipula, fakta di lapangan membuktikan kalau siswa yang tidak punya PR bukannya olahraga atau berorganisasi, tapi malah sibuk main game sampai larut malam atau asal-asalan dalam mengerjakan tugas lain—seperti contohnya memotong bahan makanan pas kemping yang ukurannya segede gaban gara-gara malas!"

​"Bentar, kok jadi bawa-bawa potong kentang?!" celetuk Pandu dari bangkunya yang langsung disusul gelak tawa seisi kelas.

​Khafi tidak mau kalah, sudut bibirnya terangkat menantang. "Pembicara Oposisi harap tidak emosional dan tetap fokus pada mosi. Lagipula, memotong bahan makanan dengan ukuran besar itu memiliki efisiensi waktu, daripada sibuk mengkritik tapi ujung-ujungnya malah teler gara-gara kena angin malam terus ngerepotin orang di sebelahnya sepanjang perjalanan pulang!"

​"Khafi!" bentak Kiara dengan muka merah padam antara kesal dan malu setengah mati. "Itu tuh nggak ada hubungannya sama mosi ya! Lagian yang minta dibantu siapa?! Dasar sok tau!"

​"Siapa yang bilang lo yang minta? Gue cuma menyajikan data empiris di lapangan," balas Khafi santai dengan nada provokatif yang paling menyebalkan.

​"Data empiris mata lo pecah?!" semprot Kiara lupa diri kalau Bu Iis masih berdiri tepat di sampingnya. "Bu Iis! Dia ini nyerang pribadi, bukan nyerang argumen! Mana ada tim Afirmasi modelan tengil kayak gini!"

​Seisi kelas XI IPS 2 langsung pecah oleh tawa heboh. Bimo sampai memukul-mukul mejanya karena kegirangan melihat pertengkaran di depan kelas.

​"Anjir! Dari debat Bahasa Indonesia berubah jadi ajang klarifikasi urusan kemping!" teriak Ferdi tertawa terbahak-bahak.

​"Lanjutin, Khaf! Buka semua kartunya!" provokasi Kevin ikut-ikutan.

​Bu Iis yang berdiri di antara mereka berdua hanya bisa memijat pelipisnya yang mulai pusing. Namun, raut wajah guru Bahasa Indonesia itu tidak bisa menyembunyikan rasa geli melihat interaksi anak didiknya.

​"Sudah, sudah!" potong Bu Iis sambil menepuk tangannya keras-keras untuk menenangkan kelas yang riuh. "Khafi, Kiara, cukup. Ini simulasi debat Bahasa Indonesia, bukan forum adu mulut perkemahan!"

​Kiara bersedekap dada sambil melotot galak ke arah Khafi, sementara Khafi cuma menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi tanpa dosa.

​"Tapi ya..." ujar Bu Iis sambil mengulum senyum gembira, "dari segi penyampaian argumen, kosa kata, dan penguasaan panggung, kalian berdua sebenarnya sudah lumayan aktif. Cuma sayang, kaidah bakunya cuma bertahan satu menit pertama, sisanya malah curhat colongan."

​"Si Khafi yang mulai duluan tuh, Bu!" tuduh Kiara cepat.

​"Kok gue? Lo yang kepancing duluan, Kuntil," balas Khafi tenang.

​"Sudah! Silakan balik ke kursi masing-masing sebelum kelas ini makin kacau," lerai Bu Iis menggelengkan kepala.

​Kiara melangkah balik ke mejanya dengan muka cemberut dan napas yang masih memburu kesal. Saat melewati meja Kiara untuk menuju ke mejanya sendiri, Khafi berbisik sangat pelan dengan nada mengejek yang halus.

​"Suara lo udah nggak serak lagi tuh pas teriak-teriak. Efektif kan permennya?"

​Kiara menghentikan langkahnya sekilas, mendelik tajam ke arah Ghibran sebelum menghentakkan kakinya menuju bangkunya sendiri. Di balik kekesalannya yang membumbung tinggi, Kiara tidak bisa menahan desiran hangat di dadanya yang kembali bikin pertahanannya berantakan.

    Sisa gelak tawa anak-anak IPS 2 belum sepenuhnya reda ketika Bu Iis merapikan spidol dan lembaran kertas di atas mejanya. Sebelum bel pergantian pelajaran berbunyi, beliau kembali berdeham pelan, mengetuk papan tulis dua kali untuk menenangkan kelas.

​"Oke, anak-anak, perhatikan sebentar!" seru Bu Iis. "Karena minggu depan kita sudah masuk ke penilaian praktis, hari ini Ibu kasih tugas kelompok."

​Seketika terdengar desahan kompak dari sudut belakang kelas.

​"Tugasnya gampang," lanjut Bu Iis santai. "Tolong dicatat. Setiap kelompok berisi dua orang. Tugas kalian adalah menyusun satu Naskah Teks Debat Utuh lengkap dengan strukturnya: ada topik mosi, argumen Tim Pro, argumen Tim Kontra, sampai kesimpulannya. Diketik rapi dan dikumpulkan hari Senin minggu depan."

​Bimo langsung mengacungkan tangannya dari belakang. "Bu! Kelompoknya boleh pilih sendiri nggak?"

​"Tidak boleh," potong Bu Iis cepat sambil tersenyum misterius. "Semua kelompok sudah Ibu bagikan sesuai nomor absen pasangan meja. KECUALI..."

​Bu Iis sengaja menggantungkan kalimatnya, lalu matanya melirik ke arah Khafi dan Kiara.

​"...Kecuali dua orang yang simulasi di depan tadi. Karena argumen kalian berdua paling heboh dan saling melengkapi, Ibu sengaja satukan kalian berdua dalam satu tim. Khafi bikin bagian Pro, Kiara bagian Kontra. Tinggal kalian satukan jadi satu naskah."

​Seketika mata Kiara membelalak lebar. "Lho? Bu! Kok digabung sama Khafi sih?!" protes Kiara refleks berdiri dari bangkunya. "Kan nomor absen kami lumayan jauh, Bu!"

​"Iya, Bu," sahut Khafi dari belakang, suaranya malas walau nadanya tetap sopan. "Satu kelompok sama Kiara yang ada malah habis waktunya buat ngebantah hal nggak penting."

​"Ih! Siapa yang ngajak ngebantah duluan?!" semprot Kiara membalikkan badan, melotot galak ke arah Khafi.

​Bu Iis cuma mengetukkan spidolnya ke meja, tertawa kecil melihat reaksi mereka. "Keputusan Ibu sudah bulat. Justru dinamika kalian berdua tadi itu bagus banget kalau dituangkan ke dalam tulisan. Biar adil sama yang lain, tidak ada tukar-tukan pasangan kelompok. Silakan dikompromikan sendiri kapan mau dikerjakan!"

​Begitu Bu Iis melangkah keluar kelas, Kiara langsung menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi, menyenderkan punggungnya kasar sambil mengomel pelan. "Apes banget hari ini, astaga..."

​"Sabar, Kia," bisik Neona mengusap-usap bahu sahabatnya sambil menahan tawa. "Lagian kan cuma bikin naskah debat, tinggal bagi tugas ngetik doang."

​"Gimana mau tenang,Ona? Wong pasangannya modelan Si Khafi tengil gitu!" gerutu Kiara gemas.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    ​Saat bel istirahat pertama akhirnya berbunyi melengking, sebagian besar anak-anak IPS 2 langsung berhamburan keluar kelas menuju kantin. Suasana kelas yang tadinya riuh perlahan menyepi, menyisakan hanya beberapa orang yang sibuk sendiri, termasuk Khafi yang masih santai duduk di bangkunya sambil merogoh HP dari saku seragam.

​Kiara melirik ke arah tas sekolahnya di bawah meja. Jemarinya meraba paperbag polos berwarna cokelat yang disiapkan Mamanya tadi pagi. Di dalam paperbag itu, terlipat rapi jaket parka khaki milik Khafi yang sudah dicuci bersih dan wangi.

​Kiara menggigit bibir bawahnya ragu. Aduh... ngembaliinnya sekarang atau nanti pas pulang ya? Tapi kalau ditunda-tunda, ntar dipikir gue betah menyimpan barang dia lagi, batin Kiara berdebat dengan gengsinya sendiri.

​Setelah menyusun keberanian dan memasang raut muka secuek mungkin, Kiara menarik paperbag itu. Ia berdiri, melangkah pelan mendekati meja Khafi yang berada di deretan belakang.

​Klek.

​Kiara meletakkan paperbag cokelat itu di atas meja Khafi, tepat di samping HP cowok itu.

​Khafi tidak langsung mendongak. Ia menghentikan sapuan jarinya di layar HP, melirik paperbag itu sekilas, lalu perlahan mengangkat pandangannya menatap Kiara dengan sebelah alis terangkat.

​"Apaan nih?" tanya Khafi singkat dengan nada datarnya yang khas.

​"Jaket lo," sahut Kiara cepat, melipat kedua tangannya di dada untuk menutupi rasa canggung yang mendadak menyerang. "Udah dicuciin Mama kemarin. Udah bersih, udah wangi, nggak ada kuman bekas flu gue lagi."

​Khafi tidak langsung mengambil kantong itu. Ia menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap wajah Kiara yang tampak berusaha keras memasang ekspresi ketus.

​"Kan udah gue bilang, gausah buru-buru dikembaliin. Gue juga nggak bakal nagih kaya hoodie waktu itu," balas Khafi santai.

​"Ya gue nggak mau punya utang barang sama lo ya, Khafi!" cetus Kiara gengsi. "Lagian Mama yang nyuruh langsung dikembaliin hari ini, katanya makasih udah dipinjemin pas di bus."

​"Oh... dari Tante Riana?" sudut bibir Khafi terangkat tipis, menyunggingkan senyum miring yang paling bikin Kiara gemas. "Bilangin ke Tante, sama-sama. Tapi sebenarnya lo sendiri mau ngomong makasih nggak nih?"

​Wajah Kiara seketika merona merah padam. Ia mendelik tajam, menyipitkan matanya galak. "Gue kan udah ngomong kemarin pas dijemput, Jangan ngelunjak ya!"

​"Gue nggak denger. Kemarin suara lo terlalu pelan, kalah sama suara mesin mobil," ledek Khafi tanpa beban.

​"Apa sih, Khaf!" pekik Kiara menahan kekesalannya yang mau meluap. "Terserah lo deh! Yang penting jaket lo udah balik!"

​Kiara baru mau berbalik badan untuk kabur ke mejanya, tapi suara berat Khafi kembali menghentikan langkahnya.

​"Bentar, Kuntil."

​Kiara menoleh malas. "Apaan lagi?!"

​Khafi meraih HP-nya, membuka aplikasi catatan lalu menyodorkan layarnya ke arah Kiara. "Soal tugas dari Bu Iis tadi. Gue nggak bisa dikerjain mepet, ada hampir seminggu ini ada latihan basket. Nanti sore habis pulang sekolah, kita kerjain draft naskahnya dulu di perpustakaan."

​Kiara menatap layar HP Ghibran, lalu menatap cowok itu curiga. "Harus banget nanti sore? Gue masih agak lemes tau."

​Khafi melirik penampilan Kiara dari atas sampai bawah, raut wajahnya agak melunak walau bahasanya tetap dijual mahal. "Cuma ngetik poin-poinnya doang setengah jam. Kalau lemes, ntar dilanjut sama gue aja deh. Daripada nunda-nunda terus besok-besok tugas lo makin numpuk."

​Kiara diam sejenak, memikirkan tawaran itu. Walau mulut Khafi selalu memancing emosi, harus diakui cowok itu kalau soal tugas sekolah memang selalu cekatan dan tidak pernah menunda-nunda.

​"Ya udah..." gumam Kiara akhirnya pasrah. "Di perpus aja. Jangan lama-lama tapi."

​"Dih, siapa juga yang mau lama-lama sama lo," celetuk Khafi terkekeh pelan. "Ya udah, sana pergi. Bikin sepet mata gue aja berdiri di depan meja dari tadi."

​"Ih! Siapa juga yang betah berdiri di sini!" semprot Kiara sambil menghentakkan kakinya melangkah pergi kembali ke meja sendiri.

​Di bangkunya, Khafi meraih paperbag cokelat itu, membukanya sedikit, dan menghirup aroma wangi lembut dari jaket parkanya. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis tanpa disadari oleh siapapun di ruangan itu. Pertahanan gengsi mereka berdua mungkin masih berdiri kokoh, tapi ruang kelas IPS 2 siang itu diam-diam jadi saksi kalau jarak di antara mereka perlahan-lahan makin terkikis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!