NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Ruang bawah tanah itu

remang-remang.

Hanya beberapa lampu berwarna kekuningan yang menggantung di langit-langit beton, menciptakan bayangan panjang yang membuat suasana terasa semakin menyesakkan.

Udara dingin. Lembap.

Dan sunyi. Di tengah ruangan, seorang pria terikat pada kursi besi dengan kondisi mengenaskan. Pakaiannya berantakan, wajahnya penuh lebam, napasnya tersengal-sengal seolah setiap tarikan udara adalah perjuangan terakhirnya.

Suara langkah kaki bergema

pelan.

Tok.

Tok.

Tok.

Altair berjalan santai memasuki ruangan dengan kedua tangan berada di saku celana. Di belakangnya, Aron mengikuti beberapa langkah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Mereka berhenti tepat di depan pria yang tertunduk lemah itu. Altair memiringkan kepala sedikit.

"Yakin dia orangnya?"

Suaranya tenang. Terlalu tenang. Aron menjawab tanpa ragu.

"Ya, Tuan."

Ia membuka tablet di tangannya.

"Nama Loren Vance. Pemimpin Vance Holdings."

Altair mengangguk pelan.

Kemudian—

Bruk!

Tendangan keras menghantam dada pria itu.

Kursi yang semula tegak langsung terbalik. Tubuh pria itu jatuh menghantam lantai beton.

"Akh-!"

Pria itu mengerang kesakitan. Altair melangkah mendekat. Lalu tanpa ekspresi menginjak dadanya menggunakan sepatu kulit hitam yang mengilap.

Pria itu langsung memucat.

Napasnya memburu. Ketakutan terlihat jelas di matanya.

Altair menatapnya seolah sedang melihat serangga yang menarik perhatian sesaat.

Senyum tipis muncul di bibirnya.

"Berani sekali membuat masalah denganku."

Pria itu langsung menggeleng panik.n"T-tidak...

saya-"

Tekanan di dadanya

bertambah. Membuat suaranya tercekat.

"Tolong..."

"Tolong?" Altair mengulang kata itu pelan.

Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang lucu. Pria di bawahnya mulai gemetar hebat.

"Aku bukan—"

Batuk. Pria itu batuk keras.

"Aku bukan Loren-"

Batuk lagi. Kali ini lebih parah. Darah segar keluar dari sudut bibirnya.

Altair dan Aron sama-sama diam memperhatikan. Pria itu berusaha mengangkat kepala.

Matanya membelalak.

Seolah mati-matian ingin menyampaikan sesuatu.

"A-aku..."

"Aku bukan..."

"Lo-"

Kalimatnya terputus. Tubuhnya mendadak menegang. Kemudian lemas. Kepalanya terkulai ke samping.

Sunyi. Hanya suara dengung pendingin ruangan yang terdengar. Beberapa detik berlalu. Tidak ada gerakan lagi.

Tidak ada napas. Tidak ada suara.

Altair menatap mayat itu cukup lama. Lalu perlahan mengangkat kakinya dari dada pria tersebut.

"..."

Aron mengernyit. Sesuatu terasa tidak beres. Altair berjongkok.

Menatap wajah pria yang sudah tidak bernyawa itu. Lama Sangat lama. Sampai akhirnya ia berdiri kembali.

"Aron."

"Ya, Tuan."

"Kau salah orang."

Ruangan langsung hening.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke sana, ekspresi Aron berubah.

"Tidak mungkin."

Altair meliriknya. Aron segera menunjukkan data di tablet miliknya.

"Saya sudah memverifikasi identitasnya tiga kali." Ia membuka beberapa berkas digital. "Foto. Riwayat perjalanan. Data perusahaan.

Semuanya cocok."

Altair menerima tablet itu.

Tatapannya menyapu layar.

Beberapa detik. Dan semakin lama...

Senyumnya perlahan muncul. Namun kali ini berbeda. Bukan senyum biasa. Melainkan senyum yang membuat udara di ruangan terasa lebih dingin. Aron mengenal senyum itu. Dan setiap kali senyum itu muncul...

Biasanya ada seseorang yang akan menyesal. Altair menyerahkan kembali tablet tersebut.

"Menarik." Suaranya rendah. Aron terdiam.

"Tuan?"

Altair menoleh ke arah mayat di lantai. "Kalau semua datanya benar... Maka hanya ada dua kemungkinan."

Aron mendengarkan dengan saksama. Altair melanjutkan. "Kemungkinan pertama. Seseorang memalsukan seluruh identitas Loren Vance selama bertahun-tahun."

Aron menggeleng pelan. "Itu hampir mustahil, karena hanya Anda yang bisa."

"Benar."

Altair tersenyum.

"Kemungkinan kedua..."

Matanya menyipit. "Orang yang sebenarnya sedang bermain denganku."

Sunyi. Aron langsung memahami maksudnya.

Seseorang. Entah siapa. Telah dengan sengaja mengarahkan mereka kepada target palsu.

Dan yang lebih mengkhawatirkan... Orang itu berhasil melakukannya tanpa meninggalkan jejak. Altair menatap mayat di lantai sekali lagi.

Kemudian tertawa pelan.

Sangat pelan. Namun cukup untuk membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.

"Jadi ingin bermain denganku?" Senyumnya semakin lebar. "Baiklah."

"Kalau begitu mari bermain." Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Altair merasa tertarik. Dan bagi orang yang telah memancing perhatiannya itu...

Mungkin itu justru kabar terburuk yang bisa terjadi.

_______

Malam itu terasa berat dan asing bagi Evelyn. Jarum jam di dinding menunjuk tepat pukul 23.00. Setelah menyelesaikan seluruh tumpukan tugasnya, gadis itu akhirnya merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur.

Matanya terpaku menatap langit-langit kamar yang kosong, namun pikirannya justru semakin ruwet.

Sebuah keanehan merayap di benaknyabenaknya.semakin hari, ingatan tentang alur cerita yang seharusnya ia pegang teguh justru semakin mengabur, seolah terhapus oleh kabut tebal yang tak kasat mata.

Dengan frustrasi, ia mengacak-acak rambutnya sendiri. Bayangan wajah datar Kael tadi siang terus berputar di kepalanya. "Apa maksudnya semua ini?"batinnya geram, namun tak ada jawaban yang muncul dari keheningan kamar itu.

Akhirnya, Evelyn menghembuskan napas panjang yang kasar. Menyerah pada kepenatan, ia memutuskan untuk membiarkan dunia berputar tanpa ia pikirkan lagi malam ini. Ia menarik selimut hingga menutupi dagu, memejamkan mata, dan membiarkan kesadarannya perlahan tenggelam.

Namun, di balik ketenangan semu itu, ada sepasang mata yang tak pernah berkedip mengawasinya.

Di unit apartemen yang berbeda, di balik layar laptop yang memancarkan cahaya redup, sosok itu duduk terpaku. Altair. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya saat melihat gadis di layar monitor itu tampak begitu frustrasi, meski ia tak bisa mendengar keluhan yang terucap dari bibir Evelyn.

Perlahan, ia bangkit dari duduknya. Langkah kakinya terdengar nyaris tanpa suara saat ia melintasi lorong menuju unit milik Evelyn. Sistem keamanan apartemen yang seharusnya ketat ternyata tak lebih dari lelucon di hadapannya; dengan beberapa manipulasi kode yang mudah, akses pintu masuk Evelyn terbuka tanpa mengeluarkan decit sedikit pun.

Pria itu melangkah masuk, bergerak seperti bayangan menuju kamar tidur gadis itu. Aneh. Baru saja tadi siang ia menatap wajah itu, namun entah mengapa, rasa rindu yang membakar di dadanya seolah tak pernah benar-benar padam.

Ia mendekati sisi kasur, duduk di tepi, dan membungkuk sedikit. Sebelum melakukan apa pun, Altair mengeluarkan sebuah benda kecil, mengarahkannya ke hidung Evelyn. Aroma manis yang segera menyebar, memastikan gadis itu terperangkap dalam tidur yang lebih dalam dan lelap, jauh dari jangkauan mimpi buruk.

Setelah yakin Evelyn tak akan terbangun, senyum tipis itu kembali muncul. Jemarinya yang dingin mulai menelusuri kontur wajah Evelyn. Ia mengelus pipinya, lalu turun perlahan menyentuh bibir gadis itu dengan sentuhan yang begitu lembut, seolah sedang menyentuh barang pecah belah yang sangat berharga. Evelyn tetap diam, napasnya teratur, seolah tak merasa terganggu oleh kehadiran "hantu"di malam hari ini.

Altair semakin mendekat. Ia membenamkan wajahnya ke lekuk leher Evelyn, menghirup dalam-dalam aroma khas gadis itu, wangi yang seolah memabukkan dan menenangkan sekaligus.

Tiba-tiba, Evelyn bergumam pelan dalam tidurnya.

"Jangan..."

Altair mengerutkan kening.

Ia menatap kqmbali wajah gadis itu dengan tatapan bertanya.

"Sebenarnya kamu bermimpi apa, hmm?" ucapnya pelan, hampir seperti bisikan, sambil terus mengelus pipi halus itu dengan ibu jarinya.

Namun, detik berikutnya, udara di kamar itu seolah membeku.

"Altair..."

Suara itu terdengar sangat pelan, nyaris tak berbentuk, namun bagi telinga Altair yang tajam, itu terdengar jelas bagai gema yang membelah keheningan malam. Seketika, ekspresi datar di wajah pria itu retak, digantikan oleh keterkejutan yang nyata.

Jantungnya berdegup kencang.

"Bagaimana mungkin Evelyn mengetahui nama itu?"

Nama yang ia kubur dalam-dalam, nama yang hanya diketahui oleh segelintir orang yang masih bernapas di dunia ini.

Suara itu terdengar sangat pelan, nyaris tak berbentuk, namun bagi telinga Altair yang tajam, itu terdengar jelas bagai gema yang membelah keheningan malam. Seketika, ekspresi datar di wajah pria itu retak, digantikan oleh keterkejutan yang nyata.

Jantungnya berdegup kencang.

"Bagaimana mungkin Evelyn mengetahui nama itu?"

Nama yang ia kubur dalam-dalam, nama yang hanya diketahui oleh segelintir orang yang masih bernapas di dunia ini.

Tanpa berpikir panjang, Altair memegang dagu Evelyn dengan genggaman yang sedikit lebih keras dari sebelumnya, memaksanya untuk sedikit menengadah meski gadis itu masih terlelap. Ia mendekatkan wajahnya, jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa milimeter.

Rahangnya sdikit mengeras, otot-otot di wajahnya menegang saat ia mengamati setiap inci wajah gadis itu dengan tatapan tajam, penuh curiga, dan pencarian akan kebenaran di balik kelopak mata yang terpejam itu.

"Bagaimana kau bisa tahu nama itu?" desis Altair, suaranya rendah, berat, dan sarat akan ancaman yang tak bisa lagi ia sembunyikan.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!