Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Elara baru saja memasuki kelas. Beberapa siswa yang melihatnya mulai menyapa, meskipun masih terdengar sedikit canggung.
“Hai, Elara.”
“Pagi.”
Elara hanya membalas sapaan mereka dengan anggukan singkat sebelum berjalan menuju tempat duduknya.
Namun, baru beberapa langkah, suara seseorang yang terdengar pelan dan ragu membuatnya berhenti.
“Elara.”
Ia menoleh dan melihat Clara berdiri tidak jauh dari mejanya. Gadis itu terlihat ragu, bahkan kedua tangannya masih menggenggam tali tas dengan erat.
“Ada apa?” tanya Elara.
Clara tampak ragu sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Aku... tadi melihat Bianca berbicara denganmu. Apa dia... memarahimu?”
Elara terdiam sebentar, mencoba mengingat kembali percakapannya dengan Bianca.
“Aku rasa tidak.”
“Benarkah?” Clara terlihat masih belum yakin.
“Iya.” Elara kemudian berjalan mendekati mejanya. “Dia hanya terlalu banyak bertanya.”
Mendengar jawaban itu, Clara mengembuskan napas lega. “Syukurlah.”
Elara yang sudah hendak duduk kembali menatapnya.
“Kenapa?”
Clara tersenyum canggung. “Ah, tidak. Hanya saja... Aku merasa Bianca memang punya niat untuk mendekatimu.”
“Mendekatiku?”
Clara mengangguk. “Karena... semua orang juga tahu kalau Bianca selalu mengejar Leonard.” Suaranya mengecil saat menyebut nama itu. “Tapi Leonard selalu mengabaikannya.”
“Aku tahu itu,” jawab Elara tenang.
Clara mengangguk kecil, kemudian tersenyum.
“Kalau begitu, aku hanya ingin mengingatkanmu.”
Elara menatapnya beberapa saat sebelum memberikan anggukan singkat.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”
Clara tersenyum canggung, lalu berbalik menuju tempat duduknya. Namun, baru beberapa langkah berjalan, suara Elara kembali menghentikannya.
“Clara.”
Clara segera menoleh.
Elara mengambil beberapa sandwich dari dalam tasnya, lalu mengulurkannya kepada Clara.
“Ini... makanlah.”
Clara menatap sandwich di tangannya, lalu kembali menatap Elara dengan bingung.
“Kamu tidak akan bisa fokus belajar kalau perutmu kosong,” lanjut Elara dengan tenang.
Clara terdiam.
Matanya perlahan berkaca-kaca. Ia sama sekali tidak menyangka masih ada seseorang yang mau memperhatikannya seperti ini.
Padahal, Clara tidak pernah menceritakan apa pun kepada Elara tentang kehidupannya.
Dengan ragu, ia akhirnya menerima sandwich tersebut. Jemarinya menggenggamnya pelan, sementara senyum kecil mulai muncul di wajahnya.
“Terima kasih, Elara.”
“Hmm.” Elara mengangguk. “Kalau kamu lapar, kamu bisa datang kepadaku. Jangan menahannya sendiri.”
Clara kembali terdiam.
“Kalau begitu...” Ia menatap Elara dengan ragu. “Sekarang kita... berteman?”
Elara mengernyitkan kening.
“Teman?”
“Iya.” Clara tersenyum kecil. “Teman.”
Elara tampak berpikir sejenak.
“Aku tidak pernah punya teman sebelumnya,” ucapnya jujur. “Aku juga tidak tahu bagaimana cara berteman.”
Clara terkekeh pelan. “Memangnya harus ada caranya?”
Elara hanya menatapnya.
“Tidak apa-apa,” lanjut Clara. “Kita kenal pelan-pelan saja. Kalau suatu hari kamu butuh bantuan, kamu bisa mencariku.”
Elara terdiam. Ia kembali memikirkan ajakan Clara. Dalam pikirannya, terlintas ucapan kakak kembarnya yang beberapa waktu lalu meminta dirinya untuk mulai berteman dengan orang lain.
Beberapa saat kemudian, Elara mengangguk. “Hm... baiklah. Kita berteman.”
Senyum Clara langsung mengembang. Ia menggenggam sandwich di tangannya sedikit lebih erat.
“Terima kasih, Elara.”
Clara kemudian kembali ke tempat duduknya. Langkahnya terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak masuk sekolah itu, ia merasa memiliki seseorang yang bisa ia sebut sebagai teman.
Sementara itu, Elara masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti Clara yang kini sudah duduk sambil memandangi sandwich pemberiannya seperti sesuatu yang sangat berharga.
Elara memperhatikan beberapa saat.
“Begitu, ya...” gumamnya pelan.
Ia kemudian menundukkan pandangan.
“Ternyata... begini rasanya memiliki seorang teman.”
***
Setelah makan malam, tak seorang pun langsung beranjak menuju kamar. Mereka semua memilih menghabiskan waktu di ruang keluarga sebelum kembali dengan urusan masing-masing.
Malam ini, ruang keluarga terasa lebih hidup dari biasanya.
Danendra menikmati secangkir teh sambil membaca berita di tablet. Livia sibuk memotong beberapa jenis buah di meja. Faresta dan Lucas sesekali membahas pekerjaan dengan santai, sementara Leonard duduk bersandar di sofa sambil memainkan ponselnya.
Di tengah suasana yang tenang itu, Lionel justru terlihat memperhatikan Elara sejak tadi.
“Elara.”
“Hm?”
Elara yang sebelumnya fokus memperhatikan gerakan ikan di dalam akuarium pun menoleh.
Lionel memicingkan mata, seolah sedang mengamati sesuatu yang cukup serius.
“Kamu sadar tidak?”
“Apa?”
“Hari ini kamu agak aneh.”
Perkataan Lionel membuat beberapa orang yang semula sibuk dengan kegiatan masing-masing perlahan ikut menoleh.
Elara terlihat berpikir sebentar. “Aneh?”
Lionel mengangguk mantap. “Biasanya mukamu datar.”
Elara hanya menatapnya.
Lionel kembali memperhatikan wajahnya beberapa detik.
“Sekarang juga masih datar, sih.”
Beberapa anggota keluarga Halvar langsung memutar bola mata.
“Lalu apa yang aneh?” tanya Leonard sambil tetap memainkan ponselnya.
“Tunggu.” Lionel mengangkat satu tangan. “Aku belum selesai bicara.”
Ia memutar telunjuknya di udara sambil berpikir mencari kata yang tepat.
“Tapi... entah kenapa kali ini kelihatan lebih...” Lionel berhenti.
“Lebih apa?” tanya Livia sambil tersenyum.
“Lebih hidup.”
Elara berkedip bingung. “Apa selama ini aku terlihat seperti mayat hidup di matamu?”
Lucas yang sedang minum langsung tersedak kecil.
Leonard spontan menutup mulutnya, menahan tawa.
Bahkan Faresta yang sejak tadi terlihat serius ikut menghela napas panjang.
Livia menggeleng sambil tersenyum.
“Bukan begitu maksud Lio, Sayang.”
“Lalu?”
Lionel menunjuk wajah Elara. “Intinya... auramu berbeda.”
Elara terdiam.
Auraku berbeda? Apa ada entitas jahat yang mengikutiku?
Ia mulai mengingat kembali apa saja yang terjadi sejak pagi.
“Apa terjadi sesuatu di sekolah?” tanya Lucas. “Kamu terlihat lebih bersemangat hari ini.”
Mendengar pertanyaan itu, Elara akhirnya mengerti.
Rupanya bukan karena ada entitas jahat yang mengikutinya.
Hanya saja... suasana hatinya memang sedikit lebih hangat hari ini.
“Aku... punya teman.”
Ruangan itu mendadak hening. Semua orang kini menatap Elara.
Bukan karena tidak percaya, tetapi karena kalimat itu terdengar begitu mudah saat keluar dari mulutnya.
Livia menjadi orang pertama yang tersenyum. “Benarkah?”
Elara mengangguk. “Namanya Clara. Dia mengajakku berteman.”
Lionel langsung mengernyit. “Bukannya sudah banyak yang mengajakmu berteman? Kenapa baru Clara yang kamu anggap teman?”
Elara menggeleng pelan.
“Mereka mengajakku berteman karena tahu aku dari keluarga Halvar.”
“Lalu Clara?” tanya Danendra.
Elara terdiam beberapa saat.
“Dia... menyedihkan.”
Kalimat itu membuat seluruh keluarga Halvar kembali terdiam.
Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya menatap Elara lagi.
Teman yang menyedihkan?
“Jadi...” Lionel menunjuk Elara dengan wajah tidak percaya. “Kamu berteman dengan Clara karena dia menyedihkan?”
Elara mengangguk singkat. “Iya.”
Lionel mengusap tengkuknya.
“Waaah. Aku benar-benar tidak menyangka jalan pikiranmu seperti itu.”
Elara mengernyit. “Apa aku salah?”
“Bukan salah,” jawab Lionel cepat. “Cuma... alasanmu terdengar aneh.”
“Kenapa?”
“Ya...” Lionel berpikir sebentar. “Biasanya orang berteman karena nyambung, punya hobi yang sama, atau memang nyaman diajak ngobrol.”
Elara tampak memikirkan ucapan Lionel. “Dia tidak punya niat lain.”
“Karena yang dia pikirkan hanya bagaimana cara menjalani hidupnya hari ini," sambung Elara.
Keluarga Halvar yang mendengarnya perlahan mengerti maksud Elara.
Elara menundukkan pandangan.
“Padahal hatinya sedang terluka, tapi mulutnya masih bisa tersenyum.”
Livia yang sejak tadi mendengarkan dengan tenang menatap putrinya dengan lembut.
“Kamu berniat melindunginya, Nak?”
Elara menggeleng kecil. “Aku tidak tahu.”
Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan.
“Kalau dia membutuhkan bantuan, aku akan menolongnya. Clara bilang sebagai teman, kita bisa saling membantu.”
Elara menatap kosong ke depan. “Saling bercerita... dan saling menjaga.”
Hening kembali menyelimuti ruang keluarga.
Tak ada yang menyangka, gadis yang beberapa waktu lalu bahkan belum memahami arti sebuah keluarga, kini mulai belajar memahami arti seorang teman.
Danendra tersenyum tipis.
“Kalau begitu... Papa rasa Clara adalah teman yang tepat.”
Elara menoleh. “Kenapa?”
“Karena tanpa dia sadari...” Danendra meletakkan tabletnya di meja. “Dia sudah mengajarkan banyak hal padamu.”
Elara terdiam.
Ia mencoba mengingat kembali semua percakapannya dengan Clara saat jam istirahat, ketika mereka akhirnya resmi menjadi teman.
Entah mengapa... Dadanya terasa sedikit hangat. Perasaan itu masih asing baginya.
Namun... Elara tidak membencinya.
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔