NovelToon NovelToon
Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mafia / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.

Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keinginan Kecil dan Jawaban Tanpa Sengaja

Bab 32

Malam mulai larut, suasana kamar Alvaro sudah remang dan tenang, hanya diterangi lampu tidur berwarna kuning lembut yang membuat suasana makin damai. Elena baru saja selesai membacakan dongeng terakhir tentang ksatria yang melindungi istana, merapikan selimut anak itu hingga menutupi dada dengan rapi, dan hendak mencium keningnya untuk pamit keluar kamar. Alvaro masih memeluk erat boneka beruang kesayangannya yang sudah agak usang, matanya belum sepenuhnya terpejam, seolah masih ada sesuatu yang tertahan di kerongkongan, sesuatu yang sudah lama ingin ia sampaikan namun selalu takut untuk diucapkan.

"Mama..." panggilnya pelan, tangan kecilnya menarik ujung gaun Elena perlahan agar wanita itu berhenti melangkah pergi.

Elena segera berlutut kembali di samping tempat tidur, menyamakan tingginya dengan putranya, lalu mengusap rambut hitam itu dengan penuh kasih sayang. "Ada apa, sayang? Kau belum bisa tidur? Atau ada yang membuatmu takut?"

Alvaro menggeleng pelan, lalu menatap sekilas ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka, seolah takut ada orang lain yang mendengar ucapannya. Namun saat ia kembali menatap wajah ibunya yang penuh senyum lembut dan pengertian, keberaniannya perlahan muncul meski pipinya memerah malu.

"Alvaro... boleh minta punya adik tidak?" tanyanya dengan suara begitu halus namun penuh harap. "Rumah ini kadang terasa sepi sekali kalau Mama dan Papa sedang sibuk bekerja atau mengurus hal lain. Alvaro ingin ada teman bermain, teman berbagi cerita, dan teman saat kita duduk bersama di beranda nanti. Nanti kalau ada adik, Alvaro janji akan menjaganya dengan sangat baik, tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya, persis seperti Papa menjaga Mama."

Elena tertegun sejenak, hatinya bergetar hebat mendengar permintaan yang begitu tulus dan penuh harapan dari mulut kecil itu. Matanya perlahan berkaca-kaca, terharu sekaligus terkejut. Ia belum sempat mengatur kata-kata apa yang akan diucapkan, belum sempat tersenyum atau sekadar mengangguk pelan, belum sempat menjawab ya atau tidak. Belum sempat bibirnya bergerak sedikit pun untuk memberi jawaban.

Namun suara berat Leonid tiba-tiba terdengar dari balik pintu, memecah keheningan malam itu. Pria itu ternyata berdiri diam di sana sejak tadi, mendengar setiap kata yang terucap dengan saksama, dan seolah tak mampu menahan diri lagi untuk ikut memberikan jawaban.

"Boleh kok, Nak," ucap Leonid mantap dan tegas, melangkah masuk perlahan ke dalam kamar. Ia berlutut di sisi lain tempat tidur, menatap putranya dengan senyum lembut yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapa pun. "Ayah sangat setuju sekali dengan keinginanmu. Kau mau adik perempuan atau adik laki-laki?"

Seketika itu juga, Elena menoleh cepat ke arah Leonid. Matanya menatap tajam tepat ke manik mata pria itu. Tatapan itu bukan berisi amarah yang meledak-ledak, melainkan tatapan penuh pertanyaan yang jelas berkata: Kau bicara apa ini? Kita belum pernah membahas hal ini sebelumnya! Kenapa kau berani menjawab duluan atas nama kita berdua?

Leonid menyadari tatapan tajam itu seketika. Ia terdiam sejenak, menyadari bahwa ia mungkin terlalu terburu-buru terbawa perasaan mendengar harapan putranya, namun ia tak menunduk atau mundur sedikit pun. Ia hanya menatap balik Elena dengan pandangan yang berkata bahwa ia sungguh menginginkannya, bahwa ia sudah siap, dan bahwa ia ingin melengkapi keluarga kecil ini bersama wanita yang ia cintai.

Alvaro yang melihat pertukaran pandangan antara ayah dan ibunya sedikit bingung sejenak, namun kegembiraannya masih jauh lebih besar daripada rasa bingung itu. "Kalau boleh... Alvaro mau adik perempuan dulu. Nanti Alvaro bisa melindunginya, mengajaknya bermain, dan memberitahunya betapa baiknya Mama dan Papa."

Elena menghela napas panjang pelan, namun tatapan tajamnya pada Leonid belum sepenuhnya hilang, jantungnya masih berdegup kencang karena kejutan jawaban Leonid yang tiba-tiba itu. Ia kembali menatap putranya dan tersenyum lembut, mencoba menenangkan diri. "Nanti kita bicarakan baik-baik lagi ya, sayang. Sekarang cobalah tidur dulu dengan tenang. Besok kan kau harus bangun pagi untuk sekolah."

Setelah memastikan Alvaro kembali memejamkan mata, menarik selimutnya hingga rapi, dan perlahan terlelap dengan senyum tipis di bibirnya, mereka berdua keluar kamar melangkah beriringan dengan langkah yang sangat pelan agar tidak membangunkan anak itu kembali. Namun saat pintu kamar tertutup rapat di belakang mereka, Elena langsung berhenti melangkah, lalu menatap Leonid kembali dengan tatapan yang sama tajamnya.

"Kau bicara apa tadi?" tanyanya pelan namun tegas. "Kita belum pernah membahas hal ini sama sekali, Leonid. Kenapa kau begitu cepat menjawab atas nama kita berdua? Kau tahu sendiri betapa besarnya hal ini, bukan sekadar memberi mainan atau izin bermain."

Leonid tidak memalingkan wajah, ia justru menatap Elena dengan tulus dan penuh penyesalan yang tulus. "Maafkan aku. Saat mendengar keinginan Alvaro, aku sadar... aku juga menginginkannya. Sangat menginginkannya. Aku hanya tak sabar melihat keluarga kita makin lengkap, melihat rumah ini makin ramai dengan tawa anak-anak kita. Aku tidak bermaksud mendahuluimu atau memaksamu, aku hanya terbawa perasaan karena betapa bahagianya mendengar harapan tulus putra kita."

Elena terdiam, rasa tajam di matanya perlahan luruh melihat ketulusan yang terpancar jelas dari wajah pria itu. Ia tahu Leonid benar, ia juga menginginkannya, hanya saja ia belum siap untuk mengatakannya secepat itu.

 

BERSAMBUNG...

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
putmelyana
next Thor ceritanya
ocvia: oke,malam nanti up lagi kok ,kak
total 1 replies
ocvia
"Halo semuanya! Terima kasih sudah menunggu ya 🥰 Besok aku ada urusan ke kampus, jadi mungkin baru bisa update-nya malam hari setelah pulang dari kampus. Nantikan ya! Terima kasih sudah tetap mendukung ceritaku
Susi Nugroho
Sebentar lagi hadir ke dunia....
Susi Nugroho
Sehat - sehat di dalam perut ya.... Semoga dapat kembar cowok cewek
Anita Rahayu
kasih sepasang thor biar gk capek melahirkan✊✊✊✊✊✊
ocvia: Siap Kak! 🫡
total 1 replies
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu..... Semangat
ocvia: baik siap kak
total 1 replies
Susi Nugroho
wah debay hadir.... Sehat - sehat di perut mommy...
Susi Nugroho
Betul betul betul.....
Susi Nugroho
Widih ada yg ngaku - ngaku jadi istrinya..... Tp boleh juga sih ada sedikit konflik, biar ada warnanya.
Susi Nugroho
Senangnya..... Lanjut
Susi Nugroho
Nanti bikin Elena mengandung kembar.... Lanjut....
yula
👍
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ocvia: siap kak
total 1 replies
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu.... Semangat
ocvia: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!