Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu Yang Kenyal
"UGHHH... AAAAGGHHH!!"
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh Ash tanpa ampun.
Tangannya gemetar hebat, napasnya kacau, dan pandangannya mulai buram. Namun cahaya penyembuhan itu tetap aktif karena ia terus memaksa dirinya bertahan demi memastikan gadis elf itu benar-benar selamat.
"Kuuhh... sial..."
Tubuhnya terasa seperti dihancurkan dari dalam. Tulang-tulangnya seperti retak, dan luka-luka yang berpindah padanya terasa terlalu banyak untuk ditanggung tubuh manusia biasa.
Pada akhirnya tubuh Ash roboh ke tanah.
Bruk.
Cahaya penyembuhan perlahan menghilang, dan kesadarannya ikut tenggelam ke dalam kegelapan.
Beberapa menit berlalu...
Di dasar jurang yang sunyi itu hanya terdengar suara angin dingin yang berhembus pelan.
Kelopak mata gadis elf itu bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka.
"Nn..."
Ia memandang ke sekitar dengan tatapan kosong selama beberapa detik.
"Aku masih hidup...?" gumamnya lemah.
Perlahan ia bangkit ke posisi duduk sambil mencoba memahami keadaan di sekitarnya yang gelap gulita. Tubuhnya terasa ringan. Padahal sebelumnya ia yakin dirinya dipenuhi luka yang hampir merenggut nyawanya.
Saat mencoba menopang tubuhnya, tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu. "Hm...?"
Ia menoleh dan langsung sedikit terkejut. "Ma-manusia...?"
Seorang laki-laki terbaring tepat di sampingnya dalam keadaan penuh luka. Tubuhnya dipenuhi memar dan darah, sementara napasnya terdengar berat dan tidak teratur.
Gadis elf itu sempat mundur sedikit karena terkejut, tetapi tak lama kemudian ekspresinya berubah menjadi bingung.
"Apa mungkin dia yang nyelametin aku?" gumamnya pelan.
Ia buru-buru melihat tubuhnya sendiri. Tidak ada luka dan darah, bahkan bekas luka kecil pun sudah menghilang sepenuhnya.
Tatapannya perlahan kembali jatuh pada tubuh Ash. "Lalu kenapa dia malah..."
Sebuah dugaan mulai muncul di benaknya. "Mungkinkah... dia memindahkan semua lukaku pada dirinya sendiri...?"
Gadis elf itu terdiam cukup lama.
Sulit dipercaya... Mana mungkin seseorang rela menanggung luka orang asing sampai separah ini? batinnya.
Ia kembali menatap wajah Ash. Wajah manusia itu terlihat masih muda. Meski sedang pingsan dan dipenuhi luka, ekspresinya justru terlihat cukup tenang. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit hangat saat melihat laki-laki itu.
Ia mencoba berdiri, tetapi tubuhnya masih terlalu lemas.
"Ah..." Kakinya sedikit goyah hingga akhirnya ia kembali duduk di dekat Ash.
Tatapannya terus tertuju pada laki-laki tersebut. Wajahnya perlahan memerah samar. "Aneh sekali..."
Ia bahkan tidak mengenal manusia ini, tetapi melihat seseorang terluka separah itu demi menyelamatkannya membuat perasaannya terasa kacau.
Dengan sedikit ragu, gadis elf itu perlahan mengulurkan tangannya ke arah wajah Ash. Jarinya sempat berhenti sesaat sebelum menyentuh pipinya. Namun pada akhirnya ia tetap melakukannya. Sentuhan itu terasa hangat.
Gadis elf itu sedikit terdiam sebelum akhirnya mengangkat kepala Ash dengan hati-hati dan meletakkannya di atas pahanya.
Rambut silver panjangnya jatuh lembut di sekitar tubuh Ash.
Sementara itu, gadis elf tersebut hanya diam menunduk sambil memandangi wajah laki-laki yang telah menyelamatkannya.
"Manusia aneh," gumamnya pelan.
Gadis elf itu masih menatap wajah Ash dalam diam. Namun beberapa saat kemudian, matanya perlahan melebar.
"Hm...?"
Luka-luka di tubuh Ash mulai berubah. Memar di lengannya perlahan memudar. Luka sobek di bahunya mulai menutup dengan sendirinya, sementara darah yang mengering di tubuhnya perlahan menghilang tanpa bekas.
"Apa... yang terjadi...?" Gadis elf itu membeku.
Ia melihat dengan jelas bagaimana tubuh manusia itu memulihkan dirinya sendiri sedikit demi sedikit. Meski kecepatannya tidak terlalu cepat, kemampuan regenerasi itu tetap terasa tidak normal.
Dalam beberapa menit, luka-luka yang sebelumnya memenuhi tubuh Ash benar-benar hilang tanpa sisa. Kulitnya kembali seperti semula.
Gadis elf itu menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. "Manusia ini... sebenarnya siapa...?"
Tak lama kemudian, alis Ash bergerak kecil.
"Ngh..."
Kelopak matanya terbuka perlahan. Pandangannya masih buram dan kepalanya terasa berat, kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Namun saat membuka mata... sesuatu langsung memenuhi pandangannya.
Dua benda bulat dan lembut tepat berada di depan wajahnya.
"Apa ini...?" gumam Ash setengah sadar.
Karena belum benar-benar memahami situasi, tangannya bergerak pelan menyentuh benda tersebut.
"Kyaa!" Suara teriakan gadis langsung terdengar.
Namun Ash masih belum sepenuhnya sadar. "Ini... lembut..." gumamnya pelan.
Tangannya tanpa sadar sedikit menekan. "Dan... hangat...?"
"Hgghh... a-apa yang kau lakukan...?" suara gadis elf itu terdengar gemetar malu.
Wajahnya memerah sampai ke telinga. Ia langsung memegang tangan Ash dan menghentikannya meraba dadanya sebelum buru-buru mendorong tubuh Ash menjauh dari pangkuannya.
"Ahh!" Ash terkejut dan langsung tersadar sepenuhnya.
Pandangan matanya akhirnya fokus. Lalu ia membeku.
"..."
"..."
Ash menatap gadis elf di depannya.
Gadis elf itu menatap balik dengan wajah merah padam sambil menutupi dadanya menggunakan kedua tangan.
Beberapa detik suasana berubah hening total.
Otak Ash perlahan mulai memproses apa yang baru saja terjadi. Dan saat ia menyadarinya—Wajahnya langsung pucat.
"T-TUNGGU DULU!! INI SALAH PAHAM!!" serunya.
"Apa bagian dari itu yang terlihat seperti salah paham?!" balas gadis itu.
Ash langsung panik setengah mati sambil melambaikan kedua tangannya.
"Aku kira tadi itu bantal atau semacamnya!" Ash melontarkan alasan acak yang ada dalam kepalanya.
"Jadi... kau sering meraba bantalmu juga?" balas gadis elf itu dengan tatapan dingin.
Ash langsung terdiam.
"..."
Sial...! Kenapa alasan yang keluar malah makin aneh?!
"B-Bukan! Maksudku... ugh... aku cuma belum sadar sepenuhnya!" Ash mencoba menjelaskan dengan wajah panik.
Namun semakin ia berbicara, suasananya justru semakin canggung.
Gadis elf itu terus menatapnya dengan wajah merah sambil menjaga jarak.
Sementara Ash sendiri mulai berharap jurang itu menelannya sekali lagi.
Di tengah suasana canggung itu, suara Chiron tiba-tiba terdengar santai dari samping Ash.
"Seperti yang diharapkan dari Tuan. Baru bangun langsung meraba dada gadis yang ada di hadapannya. Keberanian Anda patut dipuji." Chiron mengangguk-angguk kecil sambil tersenyum puas.
Wajah Ash langsung berubah kesal. "Diam kau!" balasnya ketus.
Namun sesaat setelah mengatakan itu, Ash langsung menyadari sesuatu.
"Eh?" Gadis elf di depannya membelalakkan mata.
"Hah?!" Wajahnya langsung berubah kesal. Tatapannya yang sebelumnya malu kini berubah tajam menusuk Ash.
"Aku baru saja dilecehkan lalu malah dibentak?!" katanya ketus.
"Eh?! B-bukan begitu!" Ash langsung panik sambil melambaikan kedua tangannya. "Aku tidak sedang berbicara denganmu!"
Gadis elf itu malah makin curiga. "Lalu dengan siapa?" tanyanya dengan nada penuh ketidakpercayaan.
"..."
Ash langsung terdiam.
Tatapan gadis elf itu semakin tajam melihat Ash yang mendadak diam. "Jangan bilang kau mulai membuat alasan aneh lagi."
"Bukan alasan aneh!" balas Ash cepat.
"Lalu?"
Ash membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar. Keringat dingin mulai muncul di dahinya.
Kalau aku bilang ada roh centaurus tak terlihat yang sedang mengejekku... dia pasti bakal menganggapku gila.
Di sampingnya, Chiron justru terlihat menikmati situasi itu.
"Kalau saya jadi Anda, saya akan langsung meminta maaf dengan sopan," saran Chiron.
"Aku tahu!" balas Ash berbisik.
"Dan mungkin jangan menatap wajahnya terus seperti itu," lanjut Chiron.
"Aku tidak menatap—" Ash refleks menoleh ke arah gadis elf itu.
Tatapan mereka langsung bertemu.
"..."
"..."
Wajah gadis elf itu kembali memerah.
Ash buru-buru memalingkan wajahnya.
"Ugh..."
Kenapa suasananya malah makin aneh gini?!
Pada akhirnya Ash menghela napas pasrah. "Maaf..."
Gadis elf itu sedikit terdiam mendengar nada suara Ash yang kali ini terdengar benar-benar tulus.
"Aku benar-benar tidak sengaja tadi," lanjut Ash sambil menggaruk pipinya canggung. "Aku baru sadar setelah didorong."
Gadis elf itu masih terlihat kesal, tetapi tatapannya sedikit melunak.
"Hmph...!" Ia memalingkan wajahnya pelan. "Meski begitu, kau tetap mesum."
"Itu salah paham," Ash mencoba meluruskan.
"Yang kulihat barusan tidak seperti salah paham," Gadis itu kembali menatap Ash dengan tajam.
"Aku sudah bilang itu refleks!" celetuk Ash.
"Refleks macam apa yang malah meremas?!" balas Gadis itu.
"Woi jangan diulang lagi bagian itu!" Ash langsung berseru.
Chiron yang melihat pertengkaran itu hanya tertawa kecil sambil menyilangkan tangan. "Entah kenapa saya mulai merasa perjalanan ini tidak akan membosankan."