Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Aruna mundur selangkah, tubuhnya terasa lemas seketika. [Dia bisa mendengar isi pikiranku?]
"Bukan hanya aku," ucap Sebastian pelan namun jelas.
Aruna semakin bingung. "Apa maksudmu?"
Sebastian menutup buku tebal bersampul hitam yang sedari tadi digenggamnya. "Kau sungguh belum menyadarinya? Sejak hari pertama kau membuka mata di dunia ini... orang-orang yang paling dekat denganmu telah mendengar setiap suara yang ada di dalam hatimu."
Aruna tertegun tak mampu bernapas. "Apa..."
Cedric memejamkan mata sejenak. Saat itulah, rahasia yang selama ini mereka simpan pun akhirnya terungkap sepenuhnya.
"Ayahmu," lanjut Sebastian pelan namun tegas. "Ibumu. Kedua kakakmu. Dan bahkan tunanganmu sendiri."
Mata Aruna terbelalak tak percaya. Perlahan ia menoleh kepada Cedric yang berdiri tak jauh darinya. Cedric tak menyangkal. Ia hanya menatapnya dengan tatapan yang lembut namun penuh kepasrahan.
"Kalian..." Aruna mundur kembali, merasa seakan tanah di bawah kakinya ikut berguncang. "Selama ini..."
Cedric mengangguk pelan. "Ya."
Aruna pun menatap Adrian yang berdiri di sampingnya. Kakaknya itu pun mengangguk perlahan. "Benar, Aruna."
Kepalanya terasa berputar hebat. [Mereka mendengar semuanya? Segala sesuatu yang terlintas di hatiku?]
"Sejak detik pertama kau terbangun menjadi Evelyne," tambah Cedric lembut.
Wajah Aruna memerah seketika hingga ke pangkal leher. Ia menutup mulutnya dengan gemetar.
[Lantas... mereka juga tahu betapa kagumku kepada Ayah? Betapa seringnya aku mengeluh tentang Cedric? Bahkan betapa tampannya Putra Mahkota di mataku? Dan keinginanku untuk kabur dari pernikahan ini?!]
Cedric menahan senyum di sudut bibirnya, sementara Adrian justru memalingkan wajah menyembunyikan senyum yang tak sengaja terlukis.
Namun Aruna tiba-tiba terdiam. Ada satu hal yang jauh lebih penting dari segala rasa malunya. Ia menatap lurus ke manik mata Cedric.
"Lantas... mengapa kalian tak pernah sekalipun mengatakannya kepadaku?"
Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Hingga akhirnya Adrian menjawab pelan, "Karena kami takut. Kami takut jika kau mengetahui hal ini, kau akan semakin takut kepada kami dan menjauh."
Cedric melangkah mendekat lalu menatapnya dalam. "Kami tak pernah bermaksud memaksamu. Kami hanya ingin memastikan kau aman dan bahagia di sini, sesederhana itu."
Mata Aruna perlahan berkaca-kaca. Selama ini ia mengira dirinya berjuang seorang diri. Ia mengira harus menyembunyikan segala sesuatu agar tetap bertahan hidup di dunia yang asing baginya.
Ia tak pernah menyadari bahwa sejak hari pertama, mereka semua telah mendengar ketakutannya, kesedihannya, dan segala harapan yang senantiasa ia simpan rapat di dalam hati.
Beberapa jam kemudian mereka kembali ke kediaman Ashcroft. Begitu melangkah masuk ke ruang tengah, Duke Arthur dan Duchess Helena segera menyambut mereka dengan wajah cemas.
"Bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi?"
Adrian pun menjawab tenang, "Kami bertemu dengan Lord Sebastian Vale."
Wajah Arthur seketika berubah serius. "Sebastian Vale?"
"Benar."
Aruna melangkah mendekat kepada kedua orang tuanya. Ada pertanyaan yang sejak tadi bergemuruh di kepalanya dan tak bisa ia tunda lebih lama lagi.
"Ayah... Ibu..."
Arthur menatap putrinya dengan lembut. "Ada apa, Nak?"
Aruna menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Benarkah... sejak awal kalian mampu mendengar segala apa yang terlintas di hatiku?"
Helena terdiam sejenak, lalu melangkah mendekat dan menggenggam tangan putrinya dengan hangat. "Sejak detik pertama kau membuka mata di hadapan kami."
Aruna menunduk dalam. "Lantas mengapa... mengapa tak pernah sekalipun kalian mengatakannya?"
Helena tersenyum lembut sambil mengusap pipi putrinya. "Karena saat itu tatapanmu begitu penuh ketakutan, seakan berada di tempat yang asing bagimu. Kami takut jika kami mengatakannya saat itu, kau akan semakin takut dan menjauh dari kami."
Arthur pun melangkah mendekat dan menatapnya penuh kasih sayang. "Dan karena bagiku... apa pun jati dirimu yang sebenarnya, kau tetaplah putri yang kucintai sepenuh hati."
Air mata yang sejak tadi ditahannya pun akhirnya jatuh membasahi pipi. "Padahal... aku bukanlah Evelyne yang kalian kenal."
Arthur tersenyum dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Di mata kami, kau tetaplah anak yang dikirimkan Tuhan untuk kami cintai."
Aruna pun tak lagi mampu menahan tangisnya. Helena segera merangkulnya erat, membiarkan putrinya meluruhkan segala kesedihan dan kebingungan yang selama ini dipikulnya seorang diri. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia asing ini, Aruna merasa benar-benar pulang ke rumah yang sesungguhnya.