Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.
Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.
Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.
Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU DI BALIK MEJA REDAKSI.
Ruang redaksi kantor penerbitan pagi itu mendadak riuh. Lembar demi lembar draf cetak majalah bulanan berserakan di atas meja panjang, menampilkan wajah tampan Barra Alfarizi sebagai tajuk utama. Hasil wawancara eksklusif yang ditulis Davina sukses besar. Pak Renaldi bahkan memujinya habis-habisan di depan rapat pleno karena gaya bahasanya yang tajam, mendalam, dan mampu menembus sisi humanis sang CEO yang terkenal tak tersentuh.
Namun, di mana ada keberhasilan, di sana pula duri kecemburuan mulai tumbuh.
Saat Davina sedang merapikan beberapa berkas di kubikelnya, sayup-sayup suara bisikan miring mulai merayap di sudut ruangan. Rendi, rekan kerja pria yang tempo hari dibungkam Barra di lobi tampak sedang berkumpul dengan beberapa karyawan lain, sengaja mengeraskan suaranya.
"Hebat ya, anak baru langsung dapat berita besar. Tapi dengar-dengar, wawancaranya kan dilakukan di ruang kerja pribadi Tuan Barra berjam-jam, berduaan lagi," sindir Rendi sambil melirik sinis ke arah Davina. "Zaman sekarang, modal jilbab lebar saja belum tentu suci. Siapa tahu dia rela menjual diri demi dapat tanda tangan kontrak liputan itu. Biar posisinya aman di kantor ini."
Kata-kata kasar itu bagai petir di siang bolong bagi Davina. Jemarinya yang memegang map kertas mendadak gemetar hebat. Wajahnya seketika memucat, menahan rasa malu dan hancur yang menghujam harga dirinya.
Sebelum Davina sempat berdiri untuk membela diri, sesosok pria dengan kamera digital yang mengalung di leher melangkah maju, berdiri tegap di depan meja Rendi. Itu Reyhan, fotografer senior kantor yang selama ini terkenal pendiam namun selalu menaruh perhatian lebih pada Davina.
"Jaga mulutmu, Rendi!" bentak Reyhan, suaranya menggelegar membuat seisi ruangan redaksi mendadak senyap. "Davina bekerja keras menyusun draf pertanyaan itu sampai larut malam. Jangan menyebarkan rumor murahan tanpa bukti hanya karena kamu kalah kompeten darinya!"
Rendi mendengus meremehkan, berdiri menantang Reyhan. "Kenapa kamu yang sewot, Rey? Oh, atau jangan-jangan kamu juga sudah mencicipi umpan dari editor kesayanganmu ini?"
Serk!
Reyhan mencengkeram kerah kemeja Rendi, emosinya tersulut hebat. Di sudut lain, Davina hanya bisa menggigit bibir bawahnya, air matanya hampir saja tumpah karena tidak menyangka gosip sekejam ini akan menerpanya.
Tanpa ada yang menyadari, di saat yang sama, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pribadi Barra Alfarizi dari salah satu orang kepercayaannya yang bertugas mengawasi keselamatan Davina di kantor. Membaca isi laporan mengenai rumor miring dan keributan yang melibatkan nama istrinya, rahang Barra seketika mengeras. Amarah yang pekat langsung membakar dada pria itu.
Satu jam setelah keributan itu mereda, suasana kantor redaksi masih terasa canggung. Davina duduk termenung di kursinya, mencoba memfokuskan pikiran meski hatinya teramat sakit. Reyhan berjalan mendekat, meletakkan sebotol air mineral hangat di meja Davina.
"Kamu tidak apa-apa, Davina?" tanya Reyhan, suaranya melembut penuh perhatian. "Jangan dengarkan ucapan Rendi. Semua orang di sini tahu bagaimana dedikasimu dalam bekerja. Kalau kamu butuh teman untuk bercerita, aku selalu ada di sini untuk melindungimu."
Davina mendongak, memaksakan seulas senyum tipis. "Terima kasih banyak, Reyhan. Terima kasih karena sudah membelaku tadi."
Reyhan tersenyum hangat, tangan kanannya perlahan bergerak, berniat menepuk pelan bahu Davina untuk memberikan ketenangan. Namun, tepat sebelum telapak tangan Reyhan menyentuh pakaian Davina, sebuah gemuruh langkah kaki yang tegas memecah keheningan lobi redaksi.
Pintu kaca besar kantor redaksi terbuka lebar. Sosok pria jangkung dengan setelan jas abu-abu mewah rancangan desainer ternama melangkah masuk. Aura dominasi dan intimidasi yang ia pancarkan begitu pekat, hingga dalam sekejap, seluruh karyawan yang berada di ruangan itu menahan napas. Pria itu adalah Barra Alfarizi.
Kehadiran sang CEO Group raksasa secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan tentu saja membuat seisi kantor syok, termasuk Pak Renaldi yang langsung berlari keluar dari ruangannya dengan wajah panik sekaligus terhormat.
"T-Tuan Barra? Suatu kehormatan besar Anda sudi mengunjungi kantor kecil kami. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Pak Renaldi dengan sikap membungkuk hormat.
Barra tidak memedulikan ucapan Pak Renaldi. Sepasang mata elangnya bergerak cepat, mengabaikan semua tatapan memuja dari para karyawan wanita, dan langsung mengunci targetnya di sudut ruangan, Davina yang sedang berdiri terpaku di samping Reyhan.
Melihat kedekatan fisik antara Davina dan fotografer pria itu, kilatan cemburu buta yang amat pekat sempat melintas di mata Barra. Namun, sebagai seorang pria kelas atas, ia menguasai ekspresinya dengan sangat elegan dan berwibawa. Pria itu melangkah tegap melintasi kubikel, membuat para karyawan otomatis membelah jalan untuknya.
Barra berhenti tepat di hadapan Davina dan Reyhan. Sorot matanya menatap Reyhan dengan pandangan dingin yang seolah siap menguliti pria itu hidup-hidup. Reyhan yang merasakan insting bahaya pun otomatis menegakkan punggungnya, membalas tatapan Barra.
"Barra... kamu sedang apa di sini?" bisik Davina dengan suara yang sangat pelan, kepanikan yang luar biasa kini merayap di dadanya. Ia takut identitas hubungan mereka akan terbongkar di depan umum.
Bukannya menjawab dengan formal, Barra justru mengambil satu langkah maju, mempersempit jarak di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat posesif namun terlihat begitu natural dan lembut, lengan kekar Barra terulur, langsung merangkul pinggang Davina dengan erat, menarik tubuh wanita itu hingga menempel pas di sisi tubuh tegapnya.
Davina tersentak sempurna, matanya membelalak menatap Barra. Seluruh karyawan di ruangan itu, termasuk Rendi dan Pak Renaldi, seketika melongo dengan mulut terbuka. Mereka tidak salah lihat? Sang CEO terkaya baru saja merangkul mesra editor lepas mereka?
Barra mengalihkan pandangan tajamnya dari Reyhan, lalu menatap Pak Renaldi dan seluruh karyawan di ruangan tersebut dengan senyuman tipis yang penuh kemenangan dan kepemilikan yang mutlak.
"Maaf mengganggu jam kerja kantor Anda, Pak Renaldi," ucap Barra, suaranya bariton, berat, dan menggema penuh wibawa di setiap sudut ruangan. "Saya ke sini hanya untuk menjemput istri saya makan siang. Tolong izinkan dia pergi sebentar."
Identitas Davina sebagai Nyonya Alfarizi yang sesungguhnya kini berada di ambang batas terbongkar sepenuhnya, menyisakan ketakutan sekaligus debaran yang tidak biasa di kontrol lagi bagi Davina.