NovelToon NovelToon
Jodoh Kok Bikin Emosi

Jodoh Kok Bikin Emosi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12 - Tatapan yang Berbeda

Gelap.

Seluruh lantai kantor mendadak kehilangan cahaya. Hanya suara beberapa orang yang mengeluh dan bunyi kursi bergeser memecah keheningan.

"Lho, listrik mati?"

"UPS belum nyala?"

"Kayaknya satu gedung."

Nadira refleks meraih ponselnya di atas meja, tetapi dalam gelap tangannya justru menyentuh tangan seseorang.

Hangat.

"Tenang."

Suara Arga terdengar pelan.

"Aku di sini."

Tanpa sadar, Nadira menggenggam lengan kemeja Arga. Baru beberapa detik kemudian ia menyadari apa yang sedang dilakukannya.

Ia langsung melepaskan tangan itu.

"Maaf."

"Nggak apa-apa."

Nada suara Arga tetap tenang, seolah kejadian itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

Lampu darurat akhirnya menyala redup.

Ruangan tidak lagi gelap gulita.

Namun cukup terang untuk memperlihatkan seseorang yang berdiri di ujung lorong.

Seorang pria berjas abu-abu.

Tatapannya mengarah lurus kepada Nadira.

Pria itu tersenyum tipis.

"Nadira."

Senyum di wajah Nadira langsung menghilang.

"...Mas Reza?"

Arga menoleh bergantian ke arah mereka.

"Kalian saling kenal?"

---

Reza Pratama.

Nama itu sudah hampir dua tahun tidak muncul dalam hidup Nadira.

Mantan atasannya di perusahaan lama.

Sekaligus...

Pria yang pernah hampir menjadi pasangan hidupnya.

"Boleh ngobrol sebentar?" tanya Reza.

Nadira tampak ragu.

"Ada perlu apa?"

"Cuma sebentar."

Arga memperhatikan perubahan ekspresi Nadira.

Wajah perempuan itu yang biasanya tegas, kini terlihat canggung.

"Aku tunggu di ruang meeting," ujar Arga pelan.

Nadira mengangguk kecil.

"Terima kasih."

---

Mereka berdiri di balkon kantor.

Hujan di luar belum juga reda.

Reza membuka pembicaraan lebih dulu.

"Aku dengar kamu pindah ke sini."

"Iya."

"Betah?"

"Alhamdulillah."

Hening.

Reza tersenyum tipis.

"Kamu masih sama."

"Maksudnya?"

"Kalau gugup, kamu selalu meremas ujung lengan baju."

Refleks Nadira melihat tangannya.

Benar.

Ia sedang melakukannya.

"Ada apa sebenarnya, Mas?"

Reza mengembuskan napas pelan.

"Aku mau minta maaf."

Nadira menatapnya tanpa berkata apa-apa.

"Dulu..."

"Aku terlalu sibuk mengejar karier."

"Aku pikir hubungan kita bisa menunggu."

"Ternyata..."

Ia tersenyum pahit.

"...nggak semua orang bisa terus menunggu."

Nadira memalingkan wajah ke arah hujan.

Luka itu memang sudah tidak sesakit dulu.

Tetapi bukan berarti benar-benar hilang.

"Semuanya sudah lewat."

"Aku tahu."

"Tapi aku tetap merasa bersalah."

Nadira mengangguk pelan.

"Aku sudah memaafkan."

Reza tampak lega.

"Terima kasih."

Sebelum pergi, ia sempat bertanya pelan.

"Pria tadi..."

"Teman kerja."

Reza tersenyum kecil.

"Kalau cuma teman kerja..."

Ia melirik ke arah ruang meeting, tempat Arga menunggu.

"...kenapa dia melihat ke sini terus sejak kita mulai bicara?"

Nadira ikut menoleh.

Benar saja.

Melalui dinding kaca, Arga terlihat duduk sambil membuka laptop.

Tetapi sesekali pandangannya mengarah ke balkon.

Begitu mata mereka bertemu, Arga buru-buru pura-pura membaca dokumen.

Tanpa sadar, sudut bibir Nadira terangkat.

---

Setelah Reza pergi, Nadira masuk kembali ke ruang meeting.

Arga langsung menutup laptop.

"Udah selesai?"

"Iya."

"Semuanya baik-baik aja?"

"Iya."

Arga mengangguk, tetapi raut wajahnya masih menyimpan banyak pertanyaan.

"Nadira."

"Hm?"

"Kalau nggak mau cerita juga nggak apa-apa."

"Tapi..."

Ia berhenti sejenak.

"...tadi kamu kelihatan sedih."

Kalimat sederhana itu membuat hati Nadira menghangat.

Bukan karena Arga memaksa ingin tahu.

Justru karena ia tahu kapan harus berhenti bertanya.

"Dia mantan atasanku."

"Hanya itu?"

Nadira tersenyum kecil.

"Dan mantan."

Arga terdiam.

"Oh."

Hanya satu kata.

Namun Nadira bisa melihat rahangnya sedikit mengeras.

"Cemburu?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Arga terkekeh pelan.

"Aku nggak punya hak."

"Itu bukan jawaban."

Arga menatapnya beberapa detik.

"Aku cuma..."

Ia mengembuskan napas pelan.

"...nggak suka lihat ada orang yang pernah bikin kamu sedih."

Jantung Nadira kembali berdebar.

Kalimat itu terdengar begitu tulus.

Tidak berlebihan.

Tidak juga dibuat-buat.

---

Lembur kembali berlanjut.

Sekitar pukul sebelas malam, proposal akhirnya selesai.

Pak Dimas yang baru turun dari lantai atas tampak puas.

"Bagus."

Beliau membuka halaman demi halaman.

"Besok tinggal latihan presentasi."

Seluruh tim langsung bersorak lega.

"Akhirnya."

"Aku udah pegal."

Pak Dimas tertawa kecil.

"Udah, pulang sana."

---

Di parkiran kantor, hujan sudah berhenti.

Nadira hendak mengambil helm ketika Arga memanggil.

"Dir."

"Hm?"

"Tunggu."

Arga mengeluarkan sesuatu dari dalam mobil.

Sebuah kotak kecil berwarna biru muda.

"Apa ini?"

"Buka aja."

Nadira membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat sebuah gantungan kunci berbentuk cangkir teh dengan tulisan kecil:

**"Don't skip your breakfast."**

Nadira tertawa pelan.

"Lucu."

"Aku lihat kemarin."

"Terus kepikiran kamu."

Nadira menatap benda kecil itu cukup lama.

"Kenapa?"

"Soalnya..."

Arga menggaruk tengkuknya, sedikit malu.

"...aku capek ngingetin kamu sarapan tiap pagi."

Nadira menggenggam gantungan kunci itu erat.

"Kalau aku lupa lagi?"

Arga tersenyum.

"Berarti aku bakal ngingetin lagi."

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada lagi rasa canggung seperti beberapa hari lalu.

Yang tersisa hanyalah kehangatan yang tumbuh perlahan.

Namun dari seberang parkiran, seseorang baru saja menghentikan langkahnya.

Celine.

Ia datang untuk mengambil berkas yang tertinggal di kantor.

Dan tanpa sengaja, ia melihat Arga memberikan hadiah kecil kepada Nadira.

Senyum di wajahnya perlahan memudar.

Ia berbalik tanpa menyapa.

Tidak ada yang menyadari kepergiannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak memutuskan hanya menjadi teman, hati Celine kembali terusik.

**Bersambung ke Episode 13...**

1
Dewi Sinta
lusa hari senin dong.. kan mau ngerayain ultahnya mamanya arga hari minggu mesti nya besok😂
Seranovelle: "Ya ampun, bener juga. 🤣 Untung ada Kakak, kalau enggak Arga ngerayain ulang tahun mamanya lompat hari. 😂"
total 1 replies
Dewi Sinta
ayah tiri ya thoor, krn di bab sebelumnya ayah arga udah meninggal
Seranovelle: Cobaa tebak kak, ayah arga sudah meninggal atau belum yaa kak?
total 1 replies
Dewi Sinta
perasaan masih pagi thoor 😂
Seranovelle: Perjalanan dangat jauh ni kak, waktu pagi terasa singkat.. dan tibatiba sudah masuk jam makan siang deh kaa 🤭
total 1 replies
Dewi Sinta
Gar.. apa itu thor.. sy kira arga.. mesti nya bilang Ar..😌
Seranovelle: Btw kak, Gar itu nama panggil argaa yaa kak 😬🤍
total 2 replies
Dewi Sinta
sudah bertemu 3 kali thoor 😂
Seranovelle: Author lagi kena efek butterfly. Pertemuan ketiga tiba-tiba menghilang. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!