Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kelahiran Kembali di Dasar Jurang
Kepompong cahaya ungu keemasan itu berdenyut lambat, memancarkan gelombang energi kosmis yang membuat udara di sekitar dasar Jurang Hukuman bergetar hebat. Kabut beracun yang tadinya pekat dan mematikan di dasar jurang seolah diserap masuk, berputar mengitari cahaya tersebut layaknya pusaran air kecil.
Di dalam kepompong, tubuh Lin Tian mengalami transformasi yang mengerikan sekaligus menakjubkan.
Tulang-tulangnya yang patah akibat hantaman pembunuh tadi hancur berkeping-keping, lalu direkatkan kembali oleh energi keemasan dengan struktur yang jauh lebih sempurna dan padat. Meridian di sekujur tubuhnya—yang sejak lahir tersumbat dan cacat—dibersihkan dari segala kotoran fana. Aliran darahnya kini mengalir dengan kecepatan luar biasa, memancarkan kilau keperakan yang menyerupai sungai bintang.
Boom!
Sebuah ledakan energi nirsuara terjadi di dalam kesadaran Lin Tian. Batas pikirannya seolah terbuka lebar, memperluas persepsinya hingga menembus dinding batu jurang dan melihat dunia luar dengan kejelasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di ruang kesadarannya, sebuah bayangan raksasa berbentuk mutiara mengapung megah. Di permukaannya terukir jutaan aksara kuno yang berputar membentuk formasi galaksi mini.
"Tubuh fana telah ditempa ulang. Selamat, pewaris Mutiara Kehampaan," suara kuno itu kembali bergema, kali ini terdengar lebih jernih di dalam benak Lin Tian.
Seketika itu juga, kepompong cahaya pecah berkeping-keping, menghamburkan serpihan energi murni ke udara. Lin Tian membuka matanya. Sepasang bola matanya tidak lagi berwarna hitam biasa; ada kilatan cahaya ungu tua yang berputar di kedalaman pupilnya, memancarkan aura agung yang mampu membuat makhluk hidup berlutut secara insting.
Lin Tian berdiri perlahan. Ia mengepalkan tangan kanannya dan melepaskan sebuah pukulan ke udara kosong.
Ledakan!
Angin badai tercipta seketika dari kepalan tangannya, menghantam dinding batu sejauh sepuluh meter hingga meninggalkan lubang selebar tiga kaki.
Lin Tian menatap tangannya dengan takjub. "Kekuatan ini... di mana posisiku sekarang?"
"Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit yang kau terima telah membersihkan tubuhmu. Saat ini, kau telah melompat melewati tingkat Pengembara Qi dan Pondasi Bumi. Kau berada di puncak tahap Pengembara Qi tingkat kesembilan, dan tubuh fisiknya setara dengan tingkat Pondasi Bumi awal," jawab suara di kepalanya.
Lin Tian menarik napas dalam-dalam. Dalam dunia kultivasi, orang biasa butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai tahap Pengembara Qi tingkat kesembilan melalui meditasi berat dan pil obat. Namun dirinya, hanya dalam waktu beberapa jam setelah kematian yang hampir merenggut nyawanya, kini telah berdiri di ambang gerbang tersebut.
Dan yang lebih penting: rasa sakit akibat meridian yang rusak telah lenyap sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah aliran kekuatan tanpa batas yang siap diledakkan kapan saja.
"Terima kasih, senior," kata Lin Tian tulus sambil menangkupkan tangan ke dalam ruang kesadarannya. "Siapa sebenarnya dirimu, dan mengapa Mutiara Kehampaan memilihku?"
"Aku adalah sisa kesadaran dari entitas yang dilupakan oleh waktu. Mengenai alasan pemilihamu... darahmu membawa kebencian yang murni dan tekad yang tidak bisa dipatahkan oleh takdir. Itu adalah bahan bakar terbaik bagi Mutiara Kehampaan," jawab entitas itu datar. "Namun, jangan merasa senang dulu. Kekuatan yang kuberikan ini baru permulaan. Setiap kali kau menerobos tingkat kultivasi yang lebih tinggi, segel di dalam tubuhmu akan terbuka satu persatu. Jika kau lemah, energi mutiara ini akan membalik dan mencabik-cabik jiwamu."
Lin Tian mengangguk tegas. Matanya menatap ke atas, ke arah langit malam yang hanya terlihat secuil dari dasar jurang yang gelap. "Aku tidak takut mati. Aku sudah mati satu kali malam ini. Tujuan hidupku sekarang hanya satu: kembali ke Kota Daun Gugur dan menagih utang darah kepada mereka yang mencoba membunuhku."
Sementara itu, di kediaman utama Klan Lin, suasana tampak tenang namun tegang.
Di ruang tamu utama, Lin Feng—pemuda jenius dari cabang utama Klan Lin yang juga sepupu jauh Lin Tian—sedang duduk menyilangkan kaki sambil menyesap teh berkualitas tinggi. Di hadapannya berdiri tiga pembunuh berpakaian hitam yang tadi malam mengejar Lin Tian.
"Kalian yakin dia sudah mati?" tanya Lin Feng dengan nada dingin, memainkan cincin giok di jarinya.
Pembunuh di tengah menunduk hormat. "Tuan Muda Feng, kami melihatnya melompat sendiri ke Jurang Hukuman. Tidak ada manusia yang bisa selamat dari jurang itu, terlebih dia tidak memiliki kultivasi sama sekali. Mayatnya pasti sudah hancur berkeping-keping atau dimakan oleh binatang buas di bawah sana."
Lin Feng tersenyum miring, seringai kejam terukir di wajah tampannya. "Bagus. Sampah itu akhirnya membersihkan namanya sendiri dari klan kita. Hilangnya dia tidak akan meninggalkan jejak apa pun. Tetua Pertama tidak perlu tahu urusan kecil ini."
Ia melambaikan tangan, melemparkan kantong kain berisi koin emas ke lantai. "Ini bayaran kalian. Pergi dari kota ini dan jangan pernah kembali."
"Terima kasih, Tuan Muda Feng!" Ketiga pembunuh itu membungkuk gembira, lalu melompat keluar jendela, menghilang ke dalam kegelapan malam.
Lin Feng berdiri, berjalan ke arah jendela dan memandang ke arah halaman belakang tempat gubuk Lin Tian berada dulu. "Lin Tian, jangan salahkan aku. Di dunia ini, orang lemah yang tidak berguna tidak pantas untuk hidup, apalagi mewarisi nama Klan Lin. Tempatmu memang di tempat sampah."
Ia tertawa kecil, merasa posisinya sebagai pewaris utama klan kini sudah aman tanpa ada halangan.
Namun, Lin Feng tidak tahu—dan tidak akan pernah membayangkan—bahwa sosok "sampah" yang ia buang ke jurang kini telah bangkit kembali dengan kekuatan yang siap menghancurkan dunia tempat mereka berpijak.
Kembali ke dasar Jurang Hukuman, Lin Tian mendongak ke atas. Ia memasang kuda-kuda. Dengan dorongan energi kosmis yang baru saja dikuasainya, ia menekuk lututnya, memusatkan seluruh Qi di telapak kakinya, lalu melompat ke atas.
Bum!
Batu tempatnya berpijak hancur berkeping-keping menjadi debu. Tubuh Lin Tian melesat ke udara bagaikan roket yang ditembakkan dari tanah, menembus lapisan kabut beracun dalam hitungan detik.