"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030: Titik Balik di Dewan Direksi
Ruang rapat dewan PT Hartono Group belum pernah terasa sepadat itu.
Meja panjang mengilap memantulkan wajah-wajah yang datang dengan kepentingan berbeda. Bu Agung duduk di kepala meja, punggung lurus, tangan di atas tongkat perak. Hendra dan Bambang mengambil sisi kanan, ditemani beberapa pemegang saham keluarga cabang samping. Galang duduk sedikit di belakang mereka, wajahnya penuh keyakinan yang belum berhak ia miliki.
Di sisi lain, Kiara Hartono duduk bersama Sinta Rahayu.
Di sebelah Kiara, Bu Kartika Wijaya membuka map hitam tanpa suara.
Kehadiran pengacara itu membuat beberapa orang mulai tidak nyaman bahkan sebelum rapat dimulai.
Hendra memulai lebih cepat dari agenda resmi.
"Kita semua tahu kenapa hari ini kita berkumpul," katanya. "PT Hartono Group mendapat peluang kerja sama strategis dengan keluarga Nishikura. Nilainya besar. Akses regionalnya jelas. Namun CEO kita menolak tanpa membawa proposal itu ke pembahasan yang layak."
Kiara tidak langsung menjawab.
Ia sudah belajar sesuatu dari Arga: orang yang terlalu cepat membela diri sering memberi lawan bentuk serangan berikutnya.
Bambang menambahkan, "Tidak ada yang ingin mencampuri urusan pribadi. Tetapi kalau urusan pribadi menghambat kepentingan perusahaan, kita sebagai pemegang saham wajib bertanya."
Galang mencondongkan tubuh.
"Saya mengusulkan agar dewan mempertimbangkan kembali proposal Nishikura dan, jika perlu, membentuk komite khusus untuk menilai stabilitas kepemimpinan."
Stabilitas kepemimpinan.
Kata itu berjalan di ruangan seperti pisau yang dibungkus kain.
Ratna tidak hadir sebagai anggota dewan, tetapi jejak suaranya ada di sana. Bimo duduk beberapa kursi dari Bu Agung, wajahnya tegang, seolah berharap seseorang mengambil keputusan yang tidak perlu ia tanggung.
Bu Agung menatap Kiara.
"Kamu ingin menjawab?"
Kiara mengangguk.
"Saya akan menjawab. Tapi bukan dengan perasaan."
Ia menoleh ke Bu Kartika.
"Bu Kartika, silakan."
Beberapa alis terangkat.
Hendra langsung berkata, "Ini rapat internal keluarga dan perusahaan. Apakah perlu membawa pengacara luar?"
Bu Kartika mengangkat wajah. "Saya hadir sebagai kuasa hukum yang ditunjuk oleh Direktur Utama untuk memberi pendapat hukum terkait risiko transaksi. Jika rapat ini hendak membahas proposal yang dapat mengikat perusahaan, pendapat hukum justru wajib didengar agar dewan tidak bertindak lalai."
Nada suaranya tidak keras.
Justru karena itu, Hendra kehilangan tempat untuk marah tanpa terlihat takut.
Bu Kartika membagikan salinan ringkas kepada semua peserta.
Judul di halaman pertama membuat ruangan berubah:
Analisis Risiko Hukum dan Keuangan atas Proposal Kerja Sama Nishikura.
Galang membaca dua baris pertama lalu mengerutkan kening, seperti seseorang yang baru sadar tulisan di hadapannya bukan bahan gosip.
"Ada tiga masalah utama," kata Bu Kartika. "Pertama, proposal ini mengaitkan kerja sama bisnis dengan penyesuaian struktur pengaruh keluarga, tetapi tidak menjelaskan secara terbuka apakah pihak Nishikura telah memiliki komunikasi atau komitmen samping dengan pemegang saham keluarga tertentu."
Hendra menyela, "Komunikasi awal dalam bisnis hal biasa."
"Betul," jawab Bu Kartika. "Karena itu masalahnya bukan komunikasi. Masalahnya adalah jika komunikasi itu disertai janji keuntungan, success fee, penempatan posisi, atau dukungan suara yang tidak diungkap kepada dewan."
Beberapa pemegang saham cabang samping mulai saling pandang.
Bu Kartika membuka halaman berikutnya.
"Kedua, ada klausul komite integrasi yang memberi ruang bagi pihak Nishikura untuk memengaruhi keputusan operasional setelah pendanaan tahap awal, sementara kewenangan dan batas tanggung jawabnya tidak jelas. Ini berisiko menciptakan pengendalian efektif tanpa prosedur persetujuan yang memadai."
Bambang menegakkan tubuh. "Itu bisa dinegosiasikan."
"Bisa. Tetapi tidak bisa dijadikan dasar tekanan terhadap CEO sebelum dinegosiasikan."
Kalimat itu membuat Sinta menunduk agar senyumnya tidak terlihat.
Bu Kartika belum selesai.
"Ketiga, tim forensic accounting kami menemukan indikasi awal bahwa beberapa konsultan yang memperkenalkan proposal ini memiliki hubungan pembayaran dengan entitas yang terkait keluarga Nishikura."
Ruangan langsung menjadi berat.
Hendra memucat sedikit.
Galang berhenti bergerak.
Bu Agung akhirnya mengangkat kepala lebih tinggi.
"Indikasi apa?" tanyanya.
Bu Kartika menggeser satu lampiran.
"Transfer bertahap melalui dua perusahaan konsultan komunikasi dan strategi. Kami belum menyimpulkan adanya pelanggaran pidana. Namun cukup untuk mengatakan bahwa jika dewan memaksa proposal ini masuk ke keputusan resmi tanpa pemeriksaan penuh, setiap anggota yang menyetujui dapat dianggap mengabaikan duty of care."
Kata tanggung jawab pribadi bekerja lebih cepat daripada semua moral di dunia.
Pemegang saham cabang Solo yang kemarin masih bicara tentang stabilitas langsung bertanya, "Tanggung jawab pribadi dalam arti apa?"
"Gugatan pemegang saham, pemeriksaan regulator, potensi sanksi jika terbukti ada keterbukaan informasi yang sengaja diabaikan."
Seseorang menelan ludah.
Kiara memperhatikan semuanya.
Kemarin, mereka berbicara tentang masa depannya seperti membahas aset. Hari ini, ketika risiko masuk ke nama mereka sendiri, suara mereka mulai mengecil.
Bu Kartika meletakkan dokumen terakhir di meja.
"Kesimpulan hukum sementara: proposal Nishikura tidak layak dibawa ke pemungutan suara sebelum ada due diligence independen, pengungkapan lengkap seluruh komunikasi dengan pemegang saham keluarga, dan klarifikasi sumber dana serta pihak perantara. Memaksakan voting hari ini adalah tindakan berisiko tinggi."
Hendra mencoba bertahan.
"Ini hanya pendapat hukum dari pihak Kiara."
Kiara akhirnya berbicara.
"Bukan. Ini pendapat hukum atas dokumen yang kalian paksa masuk ke perusahaan."
Ia menatap satu per satu wajah di seberang meja.
"Saya menolak proposal itu bukan karena saya emosional. Saya menolak karena proposal itu memakai tubuh dan hidup saya sebagai jaminan tidak tertulis, sambil menyembunyikan risiko hukum di belakang kata strategi."
Galang mencibir, tetapi suaranya tidak sekuat tadi.
"Kamu dramatis."
Kiara menatapnya.
"Kalau kamu yakin ini proposal bersih, tanda tangani pernyataan bahwa kamu siap bertanggung jawab pribadi jika kemudian ditemukan pembayaran tersembunyi kepada pihak keluarga."
Galang membuka mulut.
Tidak ada suara yang keluar.
Bambang berdeham. "Tidak perlu sejauh itu."
"Tadi kalian mau sejauh hidup saya," kata Kiara. "Sekarang hanya diminta bertanggung jawab atas tanda tangan sendiri, tiba-tiba terlalu jauh?"
Sunyi.
Kali ini bukan sunyi takut.
Sunyi itu punya rasa malu.
Bu Agung mengetukkan ujung tongkatnya sekali ke lantai.
"Cukup."
Semua orang menoleh.
Perempuan tua itu mengambil salinan laporan Bu Kartika dan membaca halaman pertama lagi. Wajahnya tidak menunjukkan rasa kalah, tetapi ia juga bukan orang yang cukup bodoh untuk menabrak tanda bahaya ketika semua orang melihat.
"Proposal Nishikura tidak dibawa ke voting hari ini," katanya.
Hendra ingin bicara, tetapi Bu Agung mengangkat tangan.
"Saya bilang tidak hari ini."
Keputusan itu menjatuhkan suhu ruangan.
Beberapa pemegang saham samping langsung menunduk, menyimpan kertas, seolah dokumen di tangan mereka bisa menggigit. Galang menatap Kiara dengan marah, tetapi bahkan ia mengerti bahwa menyerang sekarang hanya akan membuatnya terlihat seperti orang yang ingin menutupi sesuatu.
Bu Kartika menutup map hitam.
Sinta menghela napas hampir tanpa suara.
Kiara tidak tersenyum.
Kemenangan yang baik seharusnya terasa ringan.
Yang ini tidak.
Rapat selesai tanpa tepuk tangan.
Hendra keluar lebih dulu, wajahnya gelap. Bambang mengikuti. Galang berjalan melewati Kiara dan berhenti sebentar, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tajam, tetapi kehadiran Bu Kartika di sebelahnya membuat ia menelan kata-kata itu.
Bu Agung menjadi orang terakhir yang berdiri.
Ia menatap Kiara lama.
"Kamu menang hari ini."
"Saya melindungi perusahaan."
"Kadang dua hal itu berbeda."
"Hari ini tidak."
Bu Agung tidak menjawab. Ia pergi dengan langkah pelan, meninggalkan aroma parfum tua dan ancaman yang belum selesai.
Ketika ruangan kosong, Kiara tetap duduk.
Sinta ingin mendekat, tetapi Bu Kartika memberi isyarat kecil agar ia membiarkan sebentar.
Di meja, laporan forensic accounting terakhir masih terbuka.
Kiara melihat angka, nama perusahaan konsultan, tanda panah, catatan hukum. Semua itu seharusnya membuatnya bangga. Ia telah bertahan. Ia telah membalik serangan. Ia tidak dijual.
Namun yang terasa di tubuhnya hanya lelah.
Lelah karena harus membuktikan bahwa dirinya bukan barang.
Lelah karena keluarganya baru mundur ketika hukum mengancam mereka. Kata tidak dari mulutnya sendiri tidak pernah cukup.
Lelah karena setiap kemenangan di rumah ini selalu menuntut ia meninggalkan sedikit bagian dari dirinya di meja.
Ia menarik napas panjang.
Lalu satu pertanyaan muncul begitu jujur sampai ia tidak sanggup mengusirnya.
Berapa lama lagi aku harus bertahan di sini?