Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Dadakan
"Rio!" teriak Jinsin. Johin tertawa jahat, karena telah memegang wanita cantik. Lalu Rio melihatnya berwajah marah. Dia tidak bisa berbuat banyak, karena fokus kepada Rio.
"Hei, lepaskan dia. Kau akan mendapat akibat dariku!" teriak Jinsin kepada Johin sambil memegang pedang.
"Aku tidak peduli dengan kalian semua!"
"Biarkan aku lewat." Johin hendak keluar desa melalui pintu utama desa. Rio tetap diam menatap tajam Johin. Para pemanah menahan serangan ke Johin. Jinsin bertanya kepada Rio melalui tanda gerakan tubuh.
"Mundur! jangan ada yang menghalangiku." Rio memberinya lewat, dia membawa wanita cantik menuju gerbang desa.
"Jangan ada yang coba menyerangku." Johin bergerak mundur, melihat sekeliling berwajah marah.
"Rio..!" teriak Jinsin. Rio tidak menanggapi ucapan Jinsin, namun Rio menatap Johin yang berdiri di dekat hutan.
"Bagaimana ini, tuan? Itu gadisku." seorang pria berlari dan jongkok di hadapan Rio memohon untuk di selamatkan. Rio menatap seorang pria itu. Lalu melihat gerbang desa sudah tidak nampak lagi wujud Johin di sana.
"Tenang, pak. Saya akan selamatkan." ucap Rio.
"Terima kasih, tuan." Perasaan pria itu lega setelah mendengar jawaban Rio.
"Semuanya bawa para petarung yang terluka ke tempat ruang pengobatan. Lalu sita senjata mereka dan kumpulkan dalam satu tempat."
Rio memberi perintah kepada semua warga desa untuk membawa sisa anggota Johin yang berjumlah 31 orang. Para warga berjalan ke tumpukan para petarung yang mengalami luka-luka. Lalu Jinsin berdiri menatap Rio di lewati oleh para warga sedang lalu lalang. Rio menarik kursi, lalu duduk berwajah santai melihat situasi hutan di depan desa.
"Rio kenapa kamu biarkan mereka membawa sandera. Wanita pula lagi?" Jinsin berdiri di belakang Rio.
"Tenang Jinsin. Firasatku mengatakan masih ada anggota lagi yang masih bersembunyi." ucap Rio jawab santai.
"Kau ini."
"Plaaaakk..." Jinsin memukul kepalanya sampai wajah Rio terjedut ke meja.
"Aduh. Salah ku apa?" tanya Rio mengelus kepalanya.
"Kau pikir sendirilah!" Jinsin memukul meja lalu berjalan ke hutan sendirian meninggalkan Rio. Rio terdiam terhadap reaksi Jinsin, dia melihat dengan bingung. Lalu melipat kedua tangan di perut.
"Sial masih tidak paham lagi. Memangnya siapa dia membiarkan warga desa di sandera begitu. Wanita pula lagi." Jinsin kesal lalu menebas ranting pohon yang menghalanginya sampai terpotong. Jinsin lalu bersembunyi melihat Johin mengikat tubuh wanita itu. Dia menyandarkan di pohon. Hanya Johin seorang diri.
"Itu orangnya. Sebaiknya aku hajar dia sekarang." Jinsin bersiap. Saat Johin sedang lengah, Jinsin beraksi dengan memotong tali yang mengikat tubuh wanita itu.
"Cepat kamu kembali ke desa sekarang."
"Baik."
Saat Jinsin hendak berdiri, Johin telah berdiri di belakangnya lalu bersiap menyerang. Jinsin pingsan keadaan telungkup ke tanah.
"Hei, jangan kabur!" Johin berusaha menangkap wanita muda itu dengan memegang tangan kanan. Namun dia menggigit tangan Johin sampai dia melepaskan genggaman tangan.
"Adooohh. Sial, dia kabur." ucap Johin.
Wanita itu terus berlari tergesa-gesa melewati hutan yang lebat. Johin terus mengejar dari belakang. Namun dia sudah sampai di gerbang utama di jaga oleh Rio seorang diri.
"Apa, aku harus sembunyi. Sebaiknya aku kembali." Johin kembali ke tempat persembunyian, lalu dia mengikat Jinsin memakai tali yang tidak sadarkan diri dan meletakkan tubuh di pohon.
"Tolong. Tolong. Tuan. Hah hah hah hah." wanita muda berlari menghampirinya lalu terduduk di tanah karena kelelahan di depan Rio duduk di kursi sendirian.
"Loh, kamu kembali?" tanya Rio. Lalu Rio menoleh ada wanita itu. Lalu dia jongkok memegang tangan dan menyuruh berdiri untuk duduk.
"Apa yang terjadi."
Wanita itu duduk, napasnya masih kencang. Dia belum bisa bicara. Rio memanggil seorang warga untuk membawa air minum. Rio memberikan air minum ke wanita muda yang di bawa seorang warga desa. Wanita itu masih belum bisa bicara karena masih sangat lelah. Setelah beberapa menit Rio menunggu, wanita muda itu berbicara dengan tenang.
"Wanita itu di culik, tuan. Aku berhasil kabur darinya. Karena dia menolongku. Tapi dia tidak selamat, tuan." Wajah Rio langsung panik saat wanita itu bilang Jinsin.
"Terima sudah memberitahuku, sebaiknya kamu masuk."
"Baik tuan."
Wanita muda itu hendak masuk ke dalam desa di temani seorang pria desa. Rio berdiri menatap hutan dengan tatapan tajam. Jinsin batuk lalu membuka mata, dia melihat objeknya masih berbayang. Lalu penglihatan jadi jelas. Wajah Jinsin bingung dan lemas saat dia melihat tubuhnya terikat tali.
"Hei, kenapa aku disini." Jinsin berusaha melepaskan diri, tapi kedua kakinya juga di ikat. Lalu Jinsin berpikir sebentar untuk mengingat kejadian tadi.
"Tadi aku menolong wanita muda yang di sandera. Lalu aku jongkok. Terus aku pingsan. Sepertinya aku di pukul oleh Johin saat aku lengah. Sialan kau!" Jinsin berteriak sekeras mungkin di dalam hutan. Sampai suaranya menggema.
"Hah. Suara apa itu tadi." Rio mendengar teriakan wanita seperti suara Jinsin.
"Maaf tuan. Apakah anda akan pergi menyelamatkan wanita itu?" tanya seorang pria berdiri di belakang.
"Kenapa kamu bertanya?"
"Tidak ada apa-apa, tuan."
"Saya belum memikirkan itu. Sebaiknya kalian tetap rawat para petarung itu. Lalu jaga keamanan desa."
"Baik, tuan." pria itu kembali ke desa untuk menjalankan perintah Rio.
"Hei wanita cantik, sudah bangun ya. Dimana pria payah itu." Johin duduk di depan Jinsin sambil memegang wajahnya dengan ekspresi tertarik.
"Cuuih.."
"Dia tidak payah kau yang payah." Jinsin meludahi Johin saat wajah berada di dekatnya. Johin kaget lalu mengelap wajah pakai kain.
"Wangi juga ludah kau itu. Coba ludahi aku lagi." Johin hendak mendekatkan wajah ke Jinsin cukup jauh. Jinsin menendang wajah Johin sampai terjedut ke pohon pakai kedua kaki sampai tubuhnya terlentang.
"Sial, hebat juga wanita ini." Johin bangkit, lalu memegang wajahnya yang kotor. Dia berdiri di hadapan Jinsin. Ekspresi Jinsin melihat Johin berdiri sangat jijik lalu menolehkan wajahnya.
"Hei kau, tidak akan ada yang menolong kamu. Kau tahu itu!" teriak Johin. Jinsin diam mendengar suara Johin memarahinya. Wajahnya diam sedih melihat ke tanah tidak menanggapi balasan Johin. Malam hari, Johin menghidupkan api unggun. Johin menyuapi Jinsin.
"Aku tidak mau." ucap Jinsin.
"Cuuih..." Jinsin meludah. Johin diam, lalu meletakkan mangkuk makanan di tanah dan dia melihat Jinsin.
"Kalau kau tak makan. Kau akan sakit." ucap Johin.
"Biar saja. Aku tak sudi di suapi oleh mu." Jinsin menoleh dari Johin dengan wajah kesal.
"Besok pagi aku akan pindah lokasi ke tempat lain. Kau akan ikut juga." Johin berbicara sambil duduk merapikan api unggun dengan wajah tenang. Lalu dia mengelap ludah pakai kain ke wajahnya. Jinsin mendengar perkataan itu berubah panik. Lalu Jinsin berusaha melepas ikatan tali di tubuhnya dengan mencari benda di sekitarnya.