Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fenomena Buku "Sampah" dan Undangan Emas
Pagi itu, pemandangan di sepanjang jalan protokol ibu kota tampak sangat tidak lazim. Di depan setiap toko buku terkemuka, antrean panjang orang-orang bersetelan jas mahal dan sosialita dengan tas bermerek terlihat mengular hingga ke trotoar. Namun, mereka tidak sedang mengantre untuk peluncuran gawai terbaru atau tiket konser diva internasional. Mereka sedang mengantre untuk sebuah buku berjudul "Gerimis Sembilan Februari" karya Rizky Adhitya—buku yang dibanderol dengan harga seratus juta rupiah per eksemplar.
Di dalam kantor pusat Adhitya Publishing, Rizky Adhitya duduk bersantai di sofa kulitnya yang baru, menghirup aroma teh dari daun teh yang hanya dipanen setahun sekali di lereng gunung tertinggi. Ia tertawa kecil saat membaca laporan di tabletnya. Wajahnya tampak sangat periang dan santai, jauh dari bayangan sosok antagonis yang seharusnya sedang merencanakan kejahatan,.
"Rafa, lihat ini!" Rizky menunjukkan layar tabletnya kepada Rafa Ariyanto yang sedang berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat pasi. "Kritikus sastra menyebut bukuku sebagai 'manifesto kemewahan yang mendobrak batas-batas seni'. Padahal, aku hanya menulis tentang seorang pria yang menangis karena mi instannya tumpah di tanggal sembilan Februari. Benar-benar komedi tingkat tinggi!",.
Rafa hanya bisa menghela napas panjang, tangannya gemetar memegang laporan keuangan yang menunjukkan angka triliunan. "Tuan Muda, Anda menghabiskan ratusan miliar untuk mencetaknya dengan sampul kulit domba dan tinta emas murni. Tentu saja mereka menyebutnya seni! Di kalangan elit, tidak memiliki buku ini di meja tamu mereka dianggap sebagai penghinaan terhadap status sosial mereka sendiri",.
Rizky tertawa terbahak-bahak. Sebagai mantan penulis novel miskin yang karyanya selalu ditolak karena dianggap tidak laku, melihat para konglomerat memuja tulisan "sampahnya" hanya karena kemasannya mahal memberikan kepuasan yang tak ternilai,. Ia tidak peduli pada isi sastranya; ia hanya menikmati fakta bahwa uangnya telah mengubah "kegagalan" menjadi "fenomena".
Sementara itu, di sebuah sudut perpustakaan kota yang sepi, Rama Wijaya berdiri dengan rahang mengeras. Ia menatap rak buku utama yang biasanya memajang karya-karyanya sebagai penulis inspiratif dan "pahlawan literasi". Kini, rak tersebut telah dibersihkan secara paksa untuk memberi ruang bagi buku emas milik Rizky Adhitya,.
Buku milik Rama sendiri kini tertumpuk di keranjang diskon dekat pintu keluar dengan tulisan besar: "BELI 1 GRATIS 10".
"Ini penghinaan!" geram Rama, suaranya bergetar karena amarah yang berusaha ia tekan di balik topeng hero munafik-nya. "Dia menggunakan uang ayahnya, Rizal Adhitya, untuk menginjak-injak kerja keras penulis sungguhan. Dunia ini sudah gila karena memuja pria jahat itu hanya karena dia kaya",.
Rama merasa harga dirinya hancur. Semua panggung yang ia bangun dengan narasi "perjuangan dari bawah" tenggelam oleh kilauan emas dari buku Rizky. Ia merogoh saku jasnya, menyentuh sebuah brosur tentang Pelelangan Naga Emas yang akan diadakan lusa. Itu adalah satu-satunya harapannya. Dalam alur yang ia ketahui, pelelangan itu akan memunculkan "Medali Keberuntungan"—sebuah artefak kuno yang secara mistis akan menaikkan reputasi pemiliknya ke tingkat internasional.
"Aku harus mendapatkan medali itu," bisik Rama penuh ambisi gelap. "Dengan medali itu, pengaruhku akan melampaui uang Rizky. Aku akan menunjukkan siapa pahlawan yang sebenarnya".
Kembali ke kantor Rizky, suasana jauh lebih ceria. Rizky baru saja memenangkan satu level dalam gim videonya saat Rafa melangkah masuk dengan sebuah amplop berwarna emas murni yang sangat tebal.
"Tuan Muda, ini baru saja tiba melalui kurir khusus," kata Rafa, memberikan amplop itu dengan enggan. "Ini adalah undangan eksklusif untuk Pelelangan Naga Emas."
Rizky membuka amplop itu dan membacanya sekilas. "Pelelangan Naga Emas? Oh, acara di mana orang-orang kaya berkumpul untuk memperebutkan barang rongsokan kuno dengan harga yang tidak masuk akal? Kedengarannya sangat menyenangkan!".
[Ding! Misi Terdeteksi!] [Target: Pelelangan Naga Emas.] [Tujuan: Rama Wijaya sedang mengincar 'Medali Keberuntungan' untuk memulihkan reputasinya. Inang dilarang membiarkan Rama mendapatkan satu helai benang pun dari acara ini!] [Misi Tambahan: Habiskan minimal 1 Triliun Rupiah dalam satu malam!] [Hadiah: Peningkatan Atribut 'Intuisi Plot' Level 2 dan Voucher 'Beli Gedung Gratis'!]\,.
Mata Rizky berbinar melihat notifikasi dari System Menghamburkan Uang-nya. "Rafa! Siapkan semua yang kita butuhkan. Aku ingin menghadiri lelang ini!"
Rafa segera bersiap dengan catatan di tabletnya. "Baik, Tuan Muda. Barang apa yang ingin Anda incar? Artefak peninggalan dinasti kuno? Atau lukisan maestro dunia?"
Rizky berdiri dan menatap ruangan kantornya yang sangat luas namun hanya berisi sedikit furnitur karena ia baru saja membeli gedung baru tersebut. "Semuanya, Rafa. Aku ingin membeli seluruh isi katalog lelang tersebut."
Rafa membeku. "Seluruh... seluruh katalog? Tuan Muda, ada lebih dari lima ratus barang berharga di sana! Nilainya bisa mencapai ribuan miliar!"
"Persis!" Rizky menjentikkan jarinya dengan wajah periang. "Lihat ruangan ini, Rafa. Kosong sekali, bukan? Aku bosan melihat sudut-sudut ruangan yang sepi ini. Daripada repot-repot memilih satu per satu, lebih baik kita borong saja semuanya untuk dijadikan pajangan. Medali keberuntungan? Artefak kuno? Kita jadikan pengganjal pintu atau tempat menaruh payung saja!",.
"Tuan Muda, Anda benar-benar gila!" Rafa memegang kepalanya yang mulai berdenyut. "Bagaimana saya menjelaskan ini pada bagian keuangan? Ayah Anda akan berpikir Anda sedang membangun museum tanpa izin!",.
"Gunakan Kartu Hitam Tanpa Batas-ku, Rafa. Jangan pakai uang perusahaan Ayah," Rizky menepuk bahu Rafa dengan akrab sambil tertawa. "Ingat, tujuan kita bukan untuk memiliki barang-barang itu, tapi untuk memastikan Rama Wijaya pulang dengan tangan hampa dan wajah yang pucat pasi karena tidak mampu menawar bahkan untuk sebuah sapu tangan antik!",.
Di sisi lain kota, Aprillia Rahma sedang duduk di kafe sambil memegang buku emas milik Rizky. Ia menatap buku itu dengan perasaan bingung dan bimbang,. Di sampul dalamnya, Rizky menuliskan sebuah dedikasi singkat: "Untuk April, yang lebih berharga daripada tinta emas ini—meskipun aku tetap lebih suka menghamburkan uangnya daripada mengejarmu."
April mendengus, namun ada senyum tipis yang tak sengaja muncul di wajahnya. Perubahan Rizky yang menjadi sangat humoris dan jujur tentang keinginannya untuk bersenang-senang membuatnya merasa bahwa pria ini jauh lebih jujur dibandingkan Rama yang selalu bicara tentang moralitas namun tampak sangat terobsesi dengan kekuasaan akhir-akhir ini.
"Dia ingin membeli seluruh isi lelang lusa nanti," gumam April setelah membaca berita dari informannya. "Dia benar-benar tidak terduga. Rizky yang dulu akan membunuh untuk mendapatkan perhatianku, tapi Rizky yang sekarang... dia seolah ingin membeli dunia hanya karena dia merasa dunianya sedang sepi",.
April menutup buku emas itu. Ia memutuskan untuk hadir di pelelangan tersebut. Bukan untuk mendukung Rama, tapi untuk melihat kegilaan apa lagi yang akan dilakukan oleh tunangannya yang kini telah berubah menjadi sultan paling eksentrik di dunia tersebut.
Rizky Adhitya telah menetapkan panggungnya. Dengan sebuah kartu hitam di saku dan niat untuk "menghias" kantornya dengan barang antik triliunan, ia siap memberikan serangan finansial yang akan membuat Rama Wijaya menyadari bahwa dalam permainan ini, pahlawan tidak selalu menang melawan orang kaya yang sedang bosan,.