Keira baru saja menyaksikan kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil.
Detik berikutnya, dia membuka mata -- dan menyadari dirinya terjebak di tubuh bayi berusia satu setengah tahun.
Ini bukan mimpi. Ini adalah kehidupan keduanya. Dan hari ini... adalah sehari sebelum Papa Jiankok dan Mami Sherly bercerai.
Di kehidupan pertamanya, perceraian itu menghancurkan segalanya. Papa kembali menjadi budak Oma Hoo -- nenek yang pernah mencubit bayi Keira sampai merah, yang menyebut cucunya sendiri "anak cewek nggak berguna," yang menggeledah kantong celana Jiankok sampai ke dalam untuk merampas uang terakhirnya. Mami Sherly berjuang sendirian sampai tubuhnya hancur. Dan pada akhirnya, mereka berdua pergi meninggalkan Keira selamanya.
Tapi kali ini, Keira tidak akan membiarkan itu terjadi.
Dengan otak dewasa di balik wajah bayi yang menggemaskan, Keira mulai bergerak. Langkah pertama: pastikan Papa tidak menyerahkan uang terakhirnya ke Oma. Langkah kedua: bantu Mami jualan nasi di pinggir proyek -- dari penghasilan dua puluh dua ribu per hari. Langkah ketiga: gunakan ingatan dari kehidupan sebelumnya untuk mengubah keluarga kecil ini dari nol... menjadi kerajaan bisnis bernilai miliaran.
Tapi mengubah nasib tidak semudah membalik telapak tangan.
Oma Hoo datang dengan rencana menculik Keira. Keluarga Goh menuntut Sherly jadi "ATM" untuk adik laki-lakinya. Dan ketika keluarga Hoo mulai kaya, seluruh kerabat yang dulu menginjak-injak mereka tiba-tiba datang mengetuk pintu dengan senyum manis.
Maka Keira merancang satu strategi besar: **pura-pura miskin**.
Di balik baju lusuh dan mobil butut, tersembunyi kekayaan yang tak seorang pun tahu.
Dan di antara semua kekacauan ini, ada seorang anak laki-laki pemurung bernama Yuchuan -- pewaris keluarga konglomerat Tjia -- yang tujuh tahun lalu pernah diselamatkan oleh seorang gadis kecil gemuk yang memanggilnya "teman."
Akankah Keira berhasil menyelamatkan keluarganya, menjaga rahasia kekayaannya, dan menemukan kembali cinta pertamanya... sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: TK Elit, Langkah Pertama ke Dunia Atas
"Orang kaya... suka makan enak."
Kalimat itu membuat Sherly diam cukup lama. Besoknya ia benar-benar pergi melihat TK elit yang ada di brosur. Pulangnya, wajahnya seperti orang baru saja melihat harga emas.
"SPP-nya mahal sekali," katanya sambil duduk di meja makan. "Uang pangkalnya bisa buat beli motor bekas."
Jiankok tersedak teh. "Sebanyak itu?"
Sherly menyodorkan brosur.
Jiankok membaca, lalu memegang dadanya. "Anak umur tiga tahun sekolah semahal ini belajar apa? Belajar beli ruko?"
Keira yang sedang makan bubur mengangkat kepala.
Kalau ada kelas itu, aku mau daftar.
Sherly mengetuk meja. "Tapi fasilitasnya bagus. Muridnya kebanyakan anak keluarga Tionghoa menengah atas. Bahasa Inggris, Mandarin dasar, kegiatan seni. Jaraknya juga masih bisa ditempuh motor."
"Kalau terlalu mahal..."
"Mahal, tapi bisa jadi investasi."
Keira langsung bertepuk tangan kecil. "Mami pintar."
Sherly menatapnya. "Jangan senang dulu. Kamu sekolah di sana harus benar-benar belajar."
Keira mengangguk serius.
Belajar mengenal calon pelanggan, maksud Mami?
Beberapa minggu kemudian, Keira resmi masuk TK elit itu.
Pagi pertama, Sherly mengantarnya naik motor bebek lama. Keira duduk di depan, memakai seragam kecil yang masih agak kebesaran. Rambutnya diikat dua, pipinya bulat, tas mungilnya bergambar kelinci.
Di gerbang sekolah, motor mereka berhenti di antara mobil-mobil yang membuat Sherly sempat terdiam.
Ada Innova baru, sedan mengilap, bahkan satu Alphard hitam yang membuat beberapa ibu menoleh. Para mama turun dengan rambut rapi, tas branded, sandal bersih, dan aroma parfum mahal. Sherly memakai kemeja sederhana, celana kain, dan helm yang catnya sudah tergores.
Keira merasakan punggung Mami sedikit kaku.
Ia langsung menepuk tangan Sherly.
"Mami cantik."
Sherly menunduk. Ketegangannya pecah sedikit. "Bisa saja kamu."
"Kei juga cantik."
"Itu baru anak Mami."
Keira turun dari motor tanpa rasa malu. Ia menatap gerbang sekolah, anak-anak berseragam, guru yang tersenyum, dan para orang tua yang saling mengukur dengan mata halus. Dunia ini berbeda dari proyek, pasar, dan gang sempit. Di sini orang bicara pelan, tapi persaingannya tidak kalah tajam.
Bagus.
Semakin banyak orang kaya, semakin banyak peluang.
Di kelas, Keira langsung menyapa teman sebelahnya. "Halo. Aku Kei."
Anak perempuan itu berkedip, lalu tersenyum. "Aku Wendy."
"Kamu suka bapao?"
Wendy bingung. "Apa?"
Keira tersenyum manis. "Nanti coba."
Hari pertama berjalan lancar. Keira tidak menangis ditinggal. Ia menggambar rumah dengan tiga lantai, menyusun balok lebih cepat dari anak lain, lalu pura-pura tidak tahu ketika guru memuji bahwa bentuknya mirip toko.
Sementara itu, Sherly tidak pulang jauh. Ia berdiri di seberang sekolah, mengamati arus orang tua. Pagi hari mereka terburu-buru. Banyak yang tidak sempat sarapan. Ada yang menyuruh sopir membeli roti dari minimarket, ada yang memegang kopi instan dari gelas plastik, ada yang mengeluh anaknya tidak mau makan sebelum sekolah.
Siang hari, saat menjemput Keira, Sherly sudah punya catatan di kepala.
"Kamu benar," katanya pelan begitu Keira naik motor. "Orang kaya juga butuh makan."
Keira menatapnya bangga.
Direktur utama sudah melihat pasar.
Dalam dua minggu, Sherly menyewa satu kios kecil tidak jauh dari sekolah. Tidak sebesar Warung Kei, tapi bersih dan rapi. Menu-nya berbeda. Bukan nasi bungkus pekerja proyek, melainkan sarapan kecil yang terlihat cantik: bapao mini, mantou kukus, telur gulung, bubur ayam dalam cup kecil, teh hangat, susu kedelai, dan kopi untuk orang tua.
Karyawan memakai celemek bersih, masker, dan penutup rambut. Sisi ditugaskan mengatur tampilan makanan. Shanshan mengurus kasir pagi bergantian. Daniel mengantar bahan dari Warung Kei sebelum mengirim pesanan lain.
Hari pertama, beberapa mama hanya melihat.
Hari kedua, satu ibu membeli susu kedelai.
Hari ketiga, Wendy datang menggandeng mamanya. "Ma, itu teman aku yang bilang bapao."
Keira berdiri di samping Sherly dengan wajah malaikat.
Mama Wendy mencoba satu bapao mini. Matanya langsung berubah.
"Ini enak. Tidak terlalu manis."
Sherly tersenyum profesional. "Kami buat pagi-pagi, Bu. Kalau anak susah sarapan, bisa pesan paket kecil."
Dalam seminggu, kios itu punya pelanggan tetap.
Dalam sebulan, pendapatan pagi kios dekat TK itu hampir menyamai Warung Kei pada hari biasa. Bedanya, pelanggan di sini tidak banyak menawar. Mereka membayar untuk bersih, cepat, dan rasa yang konsisten.
Sherly pulang malam itu dengan wajah lelah tapi bersinar. "Pasar orang kaya beda."
Jiankok tertawa. "Mereka makan lebih sedikit, bayar lebih banyak."
"Mereka bayar rasa aman. Anaknya makan bersih, mereka tenang."
Keira mengangguk.
Mami benar-benar cepat belajar.
Sejak masuk TK elit, Keira juga mulai mengamati area sekitar. Banyak rumah lama berpagar rendah, halaman luas, pemiliknya sudah tua. Di kehidupan sebelumnya, beberapa tahun lagi area itu akan berubah. Jalan diperlebar, kios naik harga, rumah tua dibeli pengembang.
Ia menunjuk salah satu halaman saat dibonceng Sherly.
"Mami, rumah itu... nanti mahal."
Sherly menyipit. "Kamu tahu dari mana?"
Keira tertawa kecil. "Teman di TK yang bilang."
"Temanmu umurnya tiga tahun atau tiga puluh?"
Keira pura-pura sibuk membetulkan tas.
Sherly mencubit pelan pipinya. "Kamu ini kayak orang tua kecil."
"Kei kecil."
"Iya, kecil. Tapi otaknya bikin Mami cepat tua."
Mereka tertawa di atas motor.
Beberapa bulan berjalan begitu. Keira sekolah, kios TK berkembang, Warung Kei tetap ramai. Uang masuk dari dua pasar yang berbeda: pekerja proyek yang butuh kenyang dan orang tua kaya yang butuh praktis.
Lalu suatu sore, saat Keira pulang sekolah, ia menarik ujung baju Sherly.
"Mami."
"Hm?"
"Tahun depan Imlek... kita pulang kampung."
Wajah Sherly langsung berubah. "Buat apa?"
Keira menatap jalan di depan sekolah, tempat mobil-mobil mahal bergerak pelan keluar dari gerbang.
"Pura-pura miskin."
Sherly mengerem motor begitu hati-hati sampai tidak ada yang sadar, tapi Keira merasakan tubuhnya menegang.
"Kei."
Keira menoleh, tersenyum manis.
"Bikin mereka... minta pisah KK."
jadi makin seru
Ending nya dapet banget
💪semangat thoor