Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindahan ke Paviliun Mawar Merah (Alara Bikin Sistem Pengamanan "Smarter Home")
Proses pindahan rumah Alara dari Istana Dingin yang beraura mistis ke Paviliun Mawar Merah yang super mewah berlangsung dengan kehebohan luar biasa.
Ratusan kasim dikerahkan untuk mengangkut barang-barang Alara yang anehnya, sebagian besar isinya adalah stoples-stoples camilan, botol kecap asin pemberian Kaisar, dan berkarung-karung bahan makanan hasil berburu di selatan.
Paviliun Mawar Merah benar-benar definisi "fasilitas bintang lima". Kamar tidurnya dilapisi tirai sutra berlapis tiga, ranjangnya empuk karena menggunakan kasur bulu angsa premium, dan bak mandinya terbuat dari batu giok hijau utuh yang dilengkapi sistem saluran air hangat otomatis.
"Wah, gila... Ini sih namanya naik kasta dari penghuni kos-kosan petak langsung jadi pemilik penthouse di Sudirman!" seru Alara takjub, menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk sembari berguling-guling riang.
Lily yang sibuk merapikan baju-baju baru Alara meneteskan air mata haru.
"Selir... hamba seperti sedang bermimpi. Sekarang kita tidak perlu lagi makan nasi basi atau kedinginan di malam hari. Semua selir yang dulu merundung kita, tadi pagi mendadak mengirimi kita buah-buahan segar dan kain sutra sebagai tanda damai."
Alara langsung bangkit, duduk bersila dengan ekspresi waspada. "Eits, Lily. Di dunia persilatan istana, kalau ada uler madu mendadak ngasih hadiah, itu namanya taktik trojan horse.
Mereka pura-pura baik biar kita lengah, terus pas kita tidur, tahu-tahu di bawah kasur kita udah ditaruh kalajengking atau boneka santet buat memfitnah kita makar."
Lily langsung pucat pasi. "L-lalu apa yang harus kita lakukan, Selir?"
Alara menyeringai licik, otak modernnya yang sering menonton video DIY (*Do It Yourself*) dan sistem pengamanan Smart Home langsung berputar cepat.
"Saatnya kita pasang sistem keamanan canggih versi hemat energi. Ambilkan saya benang nilon transparan, lonceng-lonceng tembaga kecil dari gudang, minyak goreng curah, dan bubuk cabai kering sisa kemarin!"
Sore harinya, Alara dan Lily sibuk "merenovasi" Paviliun Mawar Merah. Alara memasang benang-benang nilon transparan setinggi mata kaki di sepanjang koridor masuk dan menghubungkannya dengan lonceng di kamarnya sebagai sensor gerak manual.
Di ambang pintu belakang, dia melumuri lantai marmer dengan minyak goreng tebal agar siapa pun yang mengendap-endap langsung terpeleset estetik.
Terakhir, di atas kusen pintu utama, Alara memasang sebuah jebakan mekanis sederhana menggunakan ember kecil berisi campuran abu gosok dan bubuk cabai kering. 'Siapa pun uler istana yang berani menyelinap malam-malam, bersiaplah merasakan sensasi drakor genre aksi komedi!' batin Alara puas.
Tepat saat Alara selesai mengikat tali simpul terakhir di dekat pilar teras, sebuah langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Alara yang sedang berjongkok membelakangi jalan langsung berteriak tanpa menoleh, "Woi! Jangan maju dulu! Di situ ada sensor—"
*KLANG! KRINGGG!'
Tali nilon itu tertendang. Namun, sosok yang menendangnya tidak jatuh. Malahan, dengan refleks tingkat dewa, sosok jangkung itu melompat ringan, melayang di udara melewati jebakan minyak, dan mendarat dengan anggun tepat di depan Alara tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Alara mendongak, matanya menatap jubah naga hitam yang sangat familiar. Kaisar Kaivan berdiri di sana, menatap benang transparan di bawah kakinya, lalu beralih menatap seember bubuk cabai di atas pintu dengan satu alis terangkat tinggi.
"Alara Villin," suara bariton Kaivan menggema, terdengar antara heran dan gemas. "Apakah kau sedang mempersiapkan paviliun ini untuk menghadapi perang gerilya melawan pasukan barbar, atau kau hanya sedang bosan hidup?"
Alara langsung nyengir kuda, bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk debu di gaun barunya. "Eh, Tuan Kai! Kirain siapa. Ini namanya sistem Home Security preventif, Yang Mulia. Maklum, selir-selir Anda yang lain kan hatinya sebusuk alpukat matang karbitan. Saya cuma jaga-jaga biar gak ada penyusup malam hari."
Kaivan menggelengkan kepala, melangkah masuk ke dalam aula dalam (setelah memastikan tidak ada minyak lagi di jalurnya) dan duduk di kursi utama.
"Kau tidak membutuhkan benang-benang konyol ini, Alara. Aku sudah menempatkan sepuluh pengawal bayangan terbaik dari Paviliun Naga Emas untuk menjaga tempat ini dua puluh empat jam penuh."
"Wah, beneran?" Mata Alara berbinar-binar. Dia langsung duduk di samping Kaivan tanpa jarak, menyenggol lengan sang Kaisar dengan akrab.
"Berarti sekarang saya aman sentosa dong? Makasih ya, Suamiku yang perhatian! Sebagai imbalannya, mau saya buatkan camilan sore yang lagi viral gak?"
Sentuhan kasual dan panggilan "Suamiku" yang keluar begitu saja dari mulut Alara lagi-lagi membuat sistem saraf Kaivan mengalami gangguan fungsi. Semburat merah samar muncul di pipinya yang tegas, membuat wajah esnya mendadak terlihat menggemaskan.
"Camilan apa? Jangan yang aneh-aneh," ketus Kaivan, memalingkan wajah untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang kuadrat.
"Tenang, ini namanya Cireng Kuah Seblak versi lokal Dinasti Ruelle! Kebetulan saya dapet tepung tapioka kuno dan cabai rawit dari pelabuhan kemarin. Rasanya kenyal, pedas, gurih, pokonya bikin lidah Anda bergoyang!" seru Alara bersemangat, langsung ngacir ke dapur mini paviliunnya sebelum Kaivan sempat menolak.
Kaivan yang ditinggal sendirian di aula hanya bisa menatap punggung Alara yang menjauh dengan senyuman tipis yang sangat tulus.
'Wanita ini... benar-benar membuat istanaku yang dingin dan kaku menjadi penuh warna dalam sekejap,' batin Kaivan melembut.
Namun, kedamaian sore itu mendadak terusik. Dari luar paviliun, terdengar suara lengkingan Kasim yang membawa kabar buruk dari Kediaman Ibu Suri.
"BERITA DARURAT! Yang Mulia Kaisar, Ibu Suri mendadak mengumumkan bahwa besok pagi akan diadakan 'Ujian Kualifikasi Selir' untuk menguji kelayakan Selir Alara tinggal di Paviliun Mawar Merah! Jika Selir Alara gagal dalam ujian menulis kaligrafi kuno dan merajut sutra, dia harus dikembalikan ke Istana Dingin secara permanen!"
Mendengar pengumuman sepihak itu, wajah Kaivan langsung menggelap sedingin badai salju. Sementara Alara, yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa sepiring cireng goreng panas, justru membelalakkan matanya dengan binar-binar penuh tantangan.
'Menulis kaligrafi kuno? Merajut sutra? Wah, Ibu Suri nantangin boomer versus milenial nih namanya. Kita lihat saja besok, siapa yang bakal kena mental!' batin Alara, menggigit cireng nya dengan bunyi *kriuk' yang penuh arti.
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪