"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."
"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.
"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"
Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.
Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugurkan Saja
***
"Zia! Keluar sekarang atau aku dobrak pintu ini!"
Suara bariton Alfa yang menggelegar dari balik pintu depan butik terdengar sampai ke dalam toilet, membuat tubuh Zia tersentak hebat. Di tangannya, benda pipih putih dengan dua garis merah itu terasa seperti bara api yang membakar telapak tangannya. Dua garis tegas.
Dia hamil. Di dalam rahimnya ada darah daging Alfa, pria yang bersumpah telah mematikan kesuburannya sepuluh tahun lalu.
"Zia, cepat keluar, Zia. Alfa kelihatan tidak stabil," bisik Amara memberi peringatan sekali lagi, wajah wanita yang berusia 40an itu tampak cemas saat Zia akhirnya membuka pintu toilet.
Zia tidak menjawab. Dengan langkah gemetar dan wajah sepucat kain kafan, dia berjalan ke area depan butik yang sepi tamu.
Di sana, Alfa berdiri mencengkeram rahangnya sendiri, mondar-mandir seperti singa kelaparan. Begitu melihat Zia, Alfa langsung melangkah lebar dan mencengkeram kedua pergelangan tangan Zia dengan kasar.
"Ikut aku sekarang!" desis Alfa, suaranya rendah namun penuh penekanan yang menakutkan.
"Alfa, lepaskan! Sakit!" Zia meringis, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Alfa yang seperti borgol besi.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu datang dan marah-marah seperti ini?"
"Jangan pura-pura bodoh, Zia!" Alfa menarik Zia keluar menuju mobil sedan hitamnya yang terparkir di depan butik, mengabaikan seruan protes dari Amara yang mencoba mengejar mereka. Alfa mengempaskan Zia ke kursi penumpang, lalu memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi, langsung mengunci semua pintu secara otomatis.
Mobil melaju membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Alfa, pelankan mobilnya! Kamu bisa membuat kita celaka!" teriak Zia sambil berpegangan erat pada sabuk pengaman.
"Diam, Zia! Sebelum aku kehilangan kendali dan menabrakkan mobil ini!" Alfa memukul setir dengan kepalan tangannya.
Begitu mobil sampai di parkiran bawah tanah apartemen mereka, Alfa mematikan mesin, berbalik, dan menatap Zia dengan mata yang merah menyala.
"Jelaskan padaku. Apa-apaan ini?"
Alfa melempar selembar kertas ke pangkuan Zia. Itu adalah surat pernyataan medis dari laboratorium klinik yang menyatakan bahwa Zia Anastasia telah melakukan pemeriksaan darah beta-HCG dengan hasil positif hamil.
Jantung Zia berdegup sangat kencang.
"Ka-kamu... dari mana kamu mendapatkan ini?"
"Asistenku tidak sengaja melihatmu keluar dari klinik kandungan rumah sakit pusat dua hari lalu, Zia! Dan karena aku mendanai asuransimu, semua rekam medismu langsung dikirim ke email pribadiku!" Alfa mencengkeram setir dengan sangat kuat hingga urat-urat di tangannya menonjol.
"Sekarang katakan padaku, anak siapa yang ada di dalam kandunganmu itu?!"
Plak!
Refleks, tangan Zia melayang menghantam pipi tegas Alfa. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah ruah, membasahi wajahnya yang bergetar karena rasa terhina yang teramat sangat.
"Pertanyaan macam apa itu, Alfa?! Anak siapa kamu tanya?!" suara Zia melengking, berbaur dengan tangis histeris.
"Hanya ada kamu! Selama hidupku hanya ada kamu, Alfa! Malam tiga minggu lalu di bar, saat kita mabuk... kita melakukannya! Ini anakmu! Ini darah dagingmu!"
"BOHONG!" Alfa berteriak keras, matanya melotot menatap Zia seolah wanita itu adalah pembohong paling keji di dunia.
"Aku sudah bilang padamu tiga minggu lalu, Zia! Aku sudah melakukan vasektomi! Dokter terbaik di Singapura yang memotong saluran spermaraku sepuluh tahun lalu! Aku steril! Aku tidak bisa menghasilkan keturunan! Jadi bagaimana bisa kamu hamil jika bukan karena kamu tidur dengan laki-laki lain di belakangku?!"
"Aku tidak pernah selingkuh, Alfa! Demi Tuhan, demi ibuku yang sudah di kuburan, aku tidak pernah membiarkan laki-laki lain menyentuhku selain kamu!" Zia mencengkeram kemeja hitam Alfa, memohon agar pria itu melihat kebenaran di matanya.
"Mungkin... mungkin operasimu gagal, atau ada mukjizat. Tolong percayalah padaku, ini anakmu..."
"Cukup, Zia! Cukup!" Alfa menepis tangan Zia, napasnya tersengal-sengal.
Wajahnya dipenuhi oleh ekspresi benci, takut, dan hancur yang bercampur menjadi satu. Trauma masa kecilnya kembali menghantam jiwanya dengan telak. Pikirannya langsung memutar memori saat ibunya berselingkuh dan meninggalkan ayahnya.
"Mamaku dulu juga bersumpah mencintai Papa, tapi dia berakhir di ranjang laki-laki lain! Dan sekarang kamu... kamu mau menjebakku dengan anak haram ini agar aku menikahimu dan menyerah pada Azad?!"
Zia menggelengkan kepala, hatinya serasa pecah berkeping-keping menjadi abu. Tuduhan Alfa terlalu kejam.
"Kamu... kamu menyamakan aku dengan Mamamu yang mengkhianatimu? Setelah semua kepatuhanku selama ini? Setelah aku merelakan mimpiku ke Paris demi tetap berada di sangkarmu?!"
"Kalau ini memang anakku, kenapa dia harus hadir sekarang saat posisiku sedang di ujung tanduk?!" Alfa meraup wajahnya dengan frustrasi.
Dia tidak siap menjadi ayah. Dia takut akan menjadi monster yang kejam seperti Azad, atau berakhir ditinggalkan seperti masa lalunya. Alfa membuka laci dasbor mobil, mengeluarkan sebuah kartu nama dokter kandungan swasta, lalu melemparnya tepat ke wajah Zia.
"Gugurkan kandungan itu, Zia,"
Kata-kata itu keluar dari mulut Alfa dengan begitu dingin, datar, dan tanpa beban, seolah dia sedang menyuruh Zia membuang seonggok sampah.
Zia terpaku, napasnya tercekat di tenggorokan.
"Apa... apa kamu bilang?"
"Gugurkan bayi itu minggu ini," ulang Alfa, kini dia menatap Zia dengan pandangan lurus yang beku.
"Aku sudah menghubungi Dokter sandi. Dia dokter tepercaya keluarga yang bisa menjaga rahasia. Ini satu-satunya jalan jika kamu masih ingin bersamaku, Zia. Kita bisa melupakan kesalahan ini. Aku akan tetap menjamin hidupmu, aku akan membelikanmu butik sendiri, apa saja! Asalkan janin itu lenyap,"
"Kamu gila, Alfa... Kamu benar-benar sudah gila," bisik Zia dengan tatapan ngeri. Dia melangkah mundur di kursinya, memeluk perutnya yang masih rata dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Ini manusia, Alfa. Ini anak kita. Dan kamu menyuruhku membunuhnya?!"
"Itu bukan anakku!" bentak Alfa lagi, egonya yang terluka dan ketakutannya terhadap masa lalu telah menutup seluruh mata hatinya.
"Vasektomiku tidak mungkin salah! Pilihannya cuma dua, Zia. Kamu datang ke klinik itu besok pagi dan kita tetap bersama tanpa ada anak... atau kita selesai sampai di sini, dan kamu bisa pergi membawa anak haram itu keluar dari hidupku!"
Zia menatap pria di hadapannya. Pria yang selama ini dia puja, pria yang kekangannya selalu dia maklumi sebagai bentuk rasa sayang. Kini, topeng cinta itu telah terkelupas sempurna, menyisakan sesosok monster egois yang tidak memiliki hati nurani.
"Gugurkan minggu ini, atau kita selesai," ucap Alfa memberikan ultimatum terakhirnya, lalu dia membuka kunci pintu mobil, mengisyaratkan Zia untuk keluar.
Zia tidak menangis lagi. Air matanya telah mengering, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh sumsum tulangnya. Dengan tangan yang gemetar, dia membuka pintu mobil, melangkah keluar ke area parkiran yang sepi tanpa menoleh lagi pada Alfa yang mencengkeram setir dengan penyesalan yang terlambat.
Zia berjalan kaki tanpa arah di bawah terik matahari Jakarta. Pikirannya kosong, namun tangannya tidak pernah lepas dari perutnya.
Dia merasa sangat kotor, terhina, dan kesepian. Di dunia ini, dia benar-benar tidak memiliki siapa-siapa lagi yang bisa dia jandani untuk bersandar.
Sampai akhirnya, sebuah mobil sedan mewah berwarna perak berhenti tepat di sampingnya. Kaca mobil turun, menampilkan wajah angkuh Azad Abraham.
"Masuk, Zia. Ada hal yang harus kita selesaikan," ucap Azad dari dalam mobil.
Zia yang sudah terlalu lelah untuk menghindar, akhirnya membuka pintu belakang dan duduk di samping pria paruh baya yang menjadi sumber malapetaka dalam hubungannya dengan Alfa.
Mobil berjalan pelan menuju sebuah taman kota yang sepi. Azad tidak membuang waktu. Begitu mobil berhenti, dia langsung melempar sebuah amplop putih tebal ke pangkuan Zia. Di dalamnya terdapat cek kosong yang tempo hari sempat Zia tolak, namun kali ini lengkap dengan selembar kertas dokumen surat perjanjian yang sudah ditandatangani oleh pengacara keluarga Abraham.
"Mata-mataku di rumah sakit sudah memberikan laporannya," Azad membuka suara, nadanya penuh kemenangan yang dingin.
"Kamu hamil. Dan bajingan kecil itu, Alfa pasti menuduhmu berselingkuh karena dia merasa dirinya steril akibat operasi konyolnya sepuluh tahun lalu, bukan?"
Zia menoleh, menatap Azad dengan sisa-sisa kekuatannya.
"Tuan Azad..."
"Dengar, Zia. Saya tidak peduli itu anak Alfa atau anak laki-laki lain. Di mata saya, kamu tetaplah wanita miskin yang tidak jelas asal-usulnya yang mencoba merusak dinasti Abraham," Azad menunjuk cek kosong di pangkuan Zia dengan ujung tongkat peraknya.
"Tulis nominal berapa pun yang kamu mau. Ambil uang itu, lalu pergi dari kehidupan Alfa sejauh mungkin. Jangan pernah biarkan Alfa tahu di mana kamu berada,"
"Kenapa Anda begitu kejam pada saya, Tuan?" bisik Zia, suaranya serak.
"Jika janin ini memang cucu Anda, kenapa Anda tega mengusir kami?"
"Cucu?" Azad tertawa meremehkan.
"Keluarga Abraham hanya menerima keturunan dari darah yang murni dan terhormat, bukan dari rahim seorang desainer miskin tak jelas seperti kamu. Jika kamu tetap nekat bertahan di Jakarta dengan kandungan itu, Alfa akan memaksamu melakukan aborsi demi mempertahankan egonya, atau saya yang akan bertindak kasar untuk melenyapkan bayimu sebelum dia sempat melihat dunia,"
Ancaman Azad terasa begitu nyata di telinga Zia. Di satu sisi ada Alfa yang menyuruhnya melakukan aborsi, di sisi lain ada Azad yang mengancam akan membunuh bayinya jika dia tetap tinggal.
Zia mengambil cek kosong itu. Bukan karena dia tergiur oleh uang Abraham, melainkan karena dia menyadari bahwa di kota ini, tidak ada lagi ruang aman bagi anaknya untuk tumbuh. Dia harus pergi. Demi melindungi nyawa kecil yang berdenyut di dalam rahimnya.
"Saya akan pergi, Tuan Azad," ucap Zia dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan tegar. Dia menatap mata Azad tanpa rasa takut lagi.
"Saya akan pergi bukan karena uang Anda, tapi karena saya muak dengan kegilaan keluarga Abraham. Tapi ingat satu hal... jangan pernah cari saya atau anak ini lagi di masa depan. Karena bagi kami, kalian semua sudah mati,"
Zia membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan Azad yang sempat tertegun sesaat melihat perubahan drastis dari sorot mata wanita yang biasanya selalu tunduk itu.
***
Malam harinya, hujan deras mengguyur kota Jakarta. Zia berdiri di depan pintu rumah Amara dengan pakaian yang basah kuyup, memeluk sebuah tas pakaian kecil yang sempat dia kemas dari apartemen Alfa secara sembunyi-sembunyi saat pria itu sedang mabuk di bar lain.
Pintu terbuka, menampilkan Amara yang langsung memekik kaget melihat kondisi Zia.
"Zia! Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu, sayang?!" Amara menarik Zia masuk, membungkus tubuh wanita itu dengan handuk hangat.
Zia menatap Amara dengan mata yang berkaca-kaca, lalu berlutut di lantai, memeluk kaki wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandung itu.
"Mbak... tolong aku," isak Zia dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Aku hamil anak Alfa, tapi Alfa menyuruhku menggugurkannya... Tuan Azad juga mengancam akan membunuh bayiku jika aku tidak pergi. Mbak, aku mohon... bawa aku pergi dari kota ini. Aku ingin menyelamatkan anakku..."
Amara tertegun, matanya membelalak lebar mendengar kekejaman keluarga Abraham. Dia mengepalkan tangannya dengan geram, lalu mengangkat tubuh Zia dan memeluknya dengan erat.
"Tenang, Zia. Mbak di sini. Mereka tidak akan bisa menyentuhmu lagi," Amara mengusap air mata Zia, matanya memancarkan kilat tekad yang kuat.
"Malam ini juga, kita berangkat ke Singapura. Mbak akan membawamu menemui Rayyan, sepupu Mbak. Di sana, kamu akan aman,"