maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Begitu pintu ruang BK ditutup dari luar, koridor sekolah terasa sunyi namun mencekam. Albert Laxsman sudah melangkah pergi terburu-buru dengan wajah gusar, mengabaikan anaknya sendiri demi menyelamatkan sisa-sisa urusan bisnisnya di stasiun barat Berlin.
Sementara itu, Paul keluar dari ruang BK dengan langkah kaku, tangan yang masih mengepal erat, dan pipi yang merah memar akibat tamparan ayahnya sendiri. Sifatnya yang tinggi hati membuat dia menolak menatap siapa pun.
Namun, kejutan belum berakhir di sana.
Mata tajam Paman Michael langsung menangkap tiga siluet yang sedang kikuk berdiri di dekat loker seberang lorong. Hartonkind, Cade, dan Reze ternyata sedari tadi mengintip dan mendengarkan keributan dari luar ruang BK. Wajah mereka bertiga seketika pucat pasi begitu melihat Paul keluar dengan kondisi babak belur, diikuti oleh sosok perwira tinggi perkeretaapian Jerman yang auranya sangat mengintimidasi.
Michael berhenti melangkah. Postur tubuhnya yang tegap dibalut mantel hitam panjang, memancarkan tekanan visual yang kuat. Dia melirik luka perban di lutut Maizy, lalu beralih menatap ketiga cecunguk yang semalam ikut menyiksa keponakannya di gang gelap.
Bagi Michael, urusan dengan Paul mungkin sudah dijatuhi sanksi skors oleh sekolah, tapi urusan pribadi pria dingin ini dengan para pelaku yang menyentuh keluarganya sama sekali belum kelar.
"Maizy," suara Michael terdengar berat dan datar, memecah keheningan koridor.
"Iya, Paman?" Maizy mendongak, membetulkan letak kacamata cadangannya.
"Naiklah ke kelasmu duluan. Ambil tas dan rapikan barang-barangmu," perintah Michael tanpa menoleh, matanya tetap mengunci pergerakan geng Paul. "Ada beberapa hal yang perlu kubicarakan empat mata dengan anak-anak ini."
Sifat Maizy langsung terusik. Dia tahu betul kalau pamannya yang berwatak kaku dan dingin ini sudah turun tangan, kalimat yang keluar dari mulutnya tidak akan pernah main-main. Maizy khawatir Michael akan melakukan kontak fisik atau menggunakan kekuasaannya terlalu jauh.
"Paman... tapi jangan—"
"Masuk ke kelasmu, Maizy. Ini perintah," potong Michael mutlak, nadanya tidak menerima bantahan sedikit pun.
Maizy menelan ludah. Di bawah aura kepemimpinan Michael yang begitu kuat, dia akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. Dengan langkah yang agak pincang, Maizy perlahan berjalan melewati koridor dan naik menuju lantai atas, menyisakan Michael yang kini berdiri berhadapan dengan Paul, Hartonkind, Cade, dan Reze.
Setelah memastikan Maizy sudah tidak terlihat di belokan tangga, Michael membalikkan badannya sepenuhnya menghadap keempat remaja tersebut. Dia merapatkan mantel hitamnya, lalu berjalan mendekat hingga jarak di antara mereka mengikis habis.
"Kalian bertiga," ucap Michael dingin, pandangannya tertuju lurus pada Hartonkind, Cade, dan Reze yang kini mendadak gemetaran, tidak ada lagi sisa-sisa keberanian saat mereka merusak kacamata Maizy semalam. "Dan kau, Paul."
Michael menatap Paul yang masih memasang wajah tegang menahan amarah.
"Kalian mungkin berpikir status sosial orang tua kalian bisa melindungi kalian di sekolah ini," suara Michael merendah, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti vonis yang mematikan. "Tapi di kota Berlin, aku bisa memastikan masa depan kalian berempat berakhir sebelum sempat dimulai. Surat skorsing kalian akan keluar siang ini. Dan jika aku melihat wajah kalian lagi di sekitar keponakanku... tamparan yang kau terima dari ayahmu tadi, Paul, tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang bisa kulakukan pada keluarga kalian."
Keempat cowok itu hanya bisa mematung seribu bahasa di koridor, tersadar bahwa mereka baru saja membangunkan monster yang salah.
Jam pulang sekolah akhirnya tiba, ditandai dengan bunyi bel yang menggema di seluruh penjuru Winterhall International School. Setelah melewati hari yang sangat melelahkan dan penuh ketegangan, Maizy merapikan barang-barangnya ke dalam tas. Paman Michael sendiri sudah pulang sejak pagi tadi setelah menyelesaikan urusannya di ruang BK, kembali ke stasiun untuk melanjutkan tugasnya memimpin kereta cepat.
Dengan langkah yang masih agak pelan karena luka di lututnya, Maizy berjalan menyusuri koridor utama menuju pintu keluar sekolah. Frame kacamata cadangannya bertengger di hidungnya saat dia melangkah membaur di antara kerumunan murid lain.
Namun, tepat di dekat area loker utama yang menuju gerbang luar, langkah Maizy mendadak terhenti. Kerumunan murid di depannya tampak berbisik-bisik heboh sambil memberikan jalan.
Dari arah berlawanan, Paul, Hartonkind, Cade, dan Reze berjalan beriringan dengan kepala tertunduk. Begitu jarak mereka mengikis, Maizy bisa melihat dengan jelas kondisi mereka berempat.
... babak belur.
Kondisi mereka benar-benar mengenaskan, jauh lebih parah daripada saat Paul baru saja ditampar oleh ayahnya di ruang BK tadi pagi. Wajah Hartonkind tampak bengkak di bagian rahang dengan sudut mata yang membiru pasrah. Cade dan Reze berjalan sambil memegangi perut mereka yang tampak nyeri, dengan beberapa noda tanah di seragam kaku mereka yang kini sudah berantakan.
Sementara Paul Graxiel Laxsman—si Ketua Paskibra yang biasanya selalu tampil sempurna dan mutlak tidak mau kalah—kini berjalan dengan bibir yang pecah dan memar besar yang semakin menghitam di pipinya. Jubah atau seragam kebanggaannya tampak kusut, dan sorot matanya yang tajam kini meredup, menyiratkan rasa sakit fisik sekaligus syok mental yang luar biasa.
Rupanya, "obrolan empat mata" dengan Paman Michael di koridor sepi tadi pagi benar-benar membekas secara fisik dan mental pada mereka berempat. Michael tampaknya memberikan "pelajaran langsung" yang setimpal dengan apa yang mereka lakukan pada Maizy di gang gelap semalam, memastikan mereka tahu bagaimana rasanya menjadi pihak yang tidak berdaya.
Saat mereka berempat papasan tepat di samping Maizy, suasana mendadak hening.
Jika biasanya Hartonkind atau Cade akan langsung memasang wajah sinis atau melempar ejekan, kali ini mereka bertiga refleks membuang muka ketakutan. Bahu mereka menciut, dan mereka buru-buru mempercepat langkah kaki seolah-olah melihat hantu. Mereka benar-benar tidak berani lagi menatap mata Maizy, apalagi menyentuhnya.
Paul sempat menghentikan langkahnya selama satu detik tepat di sebelah Maizy. Cowok Kanada itu melirik Maizy dari sudut matanya yang bengkak. Ada kilatan amarah yang tertahan di sana, namun rasa takut yang ditanamkan oleh aura mutlak Michael Siegfried Falkenhayn jauh lebih besar menekan harga dirinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Paul mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu kembali berjalan lurus, meninggalkan koridor sekolah bersama gengnya untuk menjalani masa skorsing panjang mereka.
Maizy berdiri terpaku di tengah koridor, menatap punggung mereka yang menjauh. Sifatnya sempat membuat dia merasa sedikit ngeri melihat luka-luka baru di wajah mereka. Namun, di sisi lain, ada rasa lega yang teramat besar menyeruak di dadanya. Teror itu akhirnya berakhir. Perlindungan dingin namun nyata dari Paman Michael hari ini benar-benar meruntuhkan kesombongan penguasa Winterhall tersebut.