Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Baru saja ia menuruni tangga menuju taman belakang fakultas, seorang wanita dengan gamis cokelat susu dan jilbab senada tiba-tiba muncul dari sisi lain koridor.
Senyum Zahira mengembang begitu menyadari kehadiran Hanan. Ada binar di matanya yang tampak terlalu dipaksakan untuk sebuah pertemuan yang tidak disengaja.
“Mas Hanan?” sapanya dengan suara lembut dan nada antusias yang terlalu manis untuk disebut kebetulan.
Hanan menghentikan langkahnya, cukup terkejut.
“Oh, Zahira. Kelas kamu udah pulang, lagi ada kegiatan tambahan?” tanyanya sopan, menjaga intonasi tetap netral.
Zahira tersenyum, lalu berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa dua langkah.
“Iya, tadi ada seminar. Tapi gak nyangka bisa ketemu Mas di sini. Antarin bekal ya?” Matanya melirik tas makan di tangan Hanan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Hanan mengangguk. “Iya, buat Kanza.”
Zahira tersenyum lagi, tapi kali ini senyumnya terasa menyimpan agenda.
“Wah... Mas romantis banget ya. Sampai bela-belain nganterin makanan sendiri ke kampus. Padahal Mas kan sibuk banget hari ini.”
Hanan hanya tersenyum sopan. “Dia belum makan dari pagi. Jadi sekalian lewat, saya antar.”
Zahira mengangguk pelan, lalu menatap tas makan itu sejenak.
“Kalau Kanza nggak bisa datang, Mas bisa titip ke saya, kok. Saya gak keberatan bantuin Mas. Kebetulan kelas kami searah.”
Hanan langsung mengernyit tipis. Ada nada protektif yang tiba-tiba muncul di raut wajahnya.
“Terima kasih, tapi saya mau pastikan dia makannya langsung. Dia sering pura-pura kenyang padahal belum makan.”
Zahira tak kehilangan akal.
“Mas... boleh jujur gak? Saya tuh suka liat hubungan Mas sama Kanza. Tapi... kadang saya mikir, beneran nyaman gak sih, Mas? Maksudku, Kanza tuh... unik banget orangnya. Terlalu ekspresif, mungkin?”
Hanan menatap Zahira, nadanya tenang tapi tegas.
“Unik, iya. Tapi justru itu yang bikin saya sayang. Dia bisa bikin hidup saya gak ngebosenin. Dunia saya yang kaku ini jadi lebih berwarna karena dia.”
Zahira tampak menahan napas. Senyumnya meredup beberapa derajat, tapi dia belum menyerah.
“Saya cuma kasihan aja, Mas. Takut Mas capek sendiri menghadapi sifatnya yang masih kekanak-kanakan.”
Hanan tersenyum tipis, lalu memperbaiki posisi tas makan di tangannya.
“Justru kalau saya gak sama Kanza, saya yang capek nyari kebahagiaan. Dia udah lebih dari cukup buat saya.”
Belum sempat Zahira membalas, terdengar suara langkah kaki cepat yang beradu dengan lantai porselen dari arah taman.
Kanza muncul dari balik semak, napas sedikit ngos-ngosan, hijab agak berantakan karena terburu-buru, dan wajahnya penuh curiga yang tidak ditutup-tutupi.
“Mas?!” panggilnya setengah teriak, matanya langsung mengunci pemandangan di depannya.
Hanan menoleh, dan wajahnya langsung melunak seketika. Ketegasan yang tadi ia tunjukkan pada Zahira menguap, digantikan binar jenaka.
“Sayang... sini. Mas bawain makan.”
Namun Kanza bukan fokus ke bekal.
Dia menatap tajam ke Zahira, lalu nyengir miring tipe seringai yang menandakan wilayahnya sedang diganggu.
“Eh, ketemu ustadzah juga. Apa kabar, Kak? Misi, ya... Kanza mau jemput bekal cinta dulu biar gak salah alamat ke perut orang lain.”
Hanan menahan tawa, menyadari istrinya sedang dalam mode "siaga satu".
Zahira tersenyum kaku.
“Alhamdulillah, baik. Baru selesai seminar.”
“Seminar apa? Cara menaklukkan suami orang secara syar'i?” sahut Kanza pelan, tapi pas banget masuk telinga.
Hanan langsung batuk pura-pura untuk menutupi rasa gelinya.
Kanza dengan sigap mengambil bekal dari tangan suaminya, lalu menyender manja ke bahu Hanan, seolah sedang memasang barikade tak terlihat.
“Makasih, Mas. Kanza lapar banget... laper sayang, laper perhatian, laper pujian. Tapi gak laper drama yang pakai kedok silaturahmi ya.”
Hanan memeluk pundaknya sebentar, menikmati aroma parfum Kanza yang menenangkan.
“Mas tau. Makanya Mas datang sendiri, biar rasanya sampai ke hati.”
Zahira hanya bisa tersenyum canggung, menyadari kehadirannya sudah benar-benar tidak diinginkan, lalu berpamitan.
“Saya duluan, ya, Mas. Kanza.”
Setelah Zahira menjauh dan bayangannya menghilang di balik koridor, Kanza langsung mendongak menatap Hanan dengan mata menyipit.
“Mas... ni cewek makin hari makin ngeluarin taring halus. Kanza harus bener-bener pasang gigi gergaji nih supaya dia gak berani mepet-mepet lagi.”
Hanan mengusap kepala istrinya dengan lembut, merapikan anak rambut yang keluar dari hijabnya.
“Tenang... Mas cuma makan di satu warung. Gak akan pindah-pindah meski ada menu baru di luar sana.”
Kanza menatapnya serius, meski ujung bibirnya menahan senyum.
“Warungnya harus pake gembok ganda. Plus CCTV, pagar listrik, dan kalau perlu kasih papan pengumuman: 'Hati-hati, pemilik warung galak'.”
Hanan tertawa kecil, menarik Kanza menuju kursi taman untuk menikmati makan siang mereka.
“Deal.”
Setelah momen ‘bekal romantis’ yang nyaris berubah jadi ‘perang dunia ketiga’, Kanza Arumi menyeret langkahnya ke taman belakang kampus dengan perasaan yang masih campur aduk antara kesal dan ingin tertawa.
Di salah satu bangku batu di bawah pohon rindang, Tasya sudah duduk manis sambil ngemil cilok sambal pedas level maut.
Wajahnya santai, ekspresi ceria seperti biasa, padahal tangan sibuk ngipasin mulut sendiri karena kepedasan.
Begitu melihat Kanza datang dengan wajah tertekuk seperti sandal jepit ketindihan motor, Tasya langsung tahu ada yang gak beres dalam radar rumah tangga sahabatnya itu.
“Eh lo kenapa? Wajah lo kayak habis liat mantan nikah sama guru ngaji lo,” buka Tasya sambil nyodorin tusuk cilok yang bermandikan bumbu kacang.
Kanza langsung duduk berat di sebelahnya, sampai bangku batu itu seolah ikut mengeluh.
“Tasya… dunia ini kejam bagi perempuan yang suaminya terlalu mirip pangeran di Novel.”
“Waduh, serius banget opening lo,” Tasya ngunyah pelan, menatap penasaran.
“Emang kenapa lagi? Mas Hanan lupa hari jadi?”
Kanza menghela napas panjang, lalu menatap langit yang mulai jingga.
“Tadi Mas Hanan ke kampus bawain bekal. So sweet kan? Gue udah mau lari peluk dia sambil gaya ala film India.”
Tasya mengangguk antusias. “Sweet banget! Lo kayak main di drama Korea musim semi.”
“Nah,” Kanza menekuk alis.
“Sebelum gue samperin dia… tahu-tahu si Zahira udah nongol duluan. Kayak pop-up iklan judi online yang muncul tiba-tiba pas lagi asyik nonton.”
Tasya langsung berhenti ngunyah. “Serius lo? Si ukhti lemah lembut itu?”
“Serius. Dia kayak muncul dari semak-semak bawa niat busuk dan aura mintain restu,” jawab Kanza dramatis.
“Terus, dia mulai deh... yang kayak ‘Mas Hanan romantis banget sih’... ‘Kalau Kanza gak bisa ambil, bisa kok saya tolongin’... Intinya dia menawarkan diri jadi kurir pribadi yang siap antar sampai ke pelaminan kedua.”
“Ya ampun, itu kode keras tingkat dewa,” komentar Tasya, wajah ikut panas karena empati (dan mungkin karena cilok).
“Terus lo ngapain? Lo jambak?”
Kanza mendongak bangga, membetulkan letak hijabnya yang sedikit miring.
“Gue dateng kayak pahlawan kesiangan yang lagi bad mood. Muka gue udah kayak mau cabut ijazah seluruh mahasiswa. Gue samperin sambil bilang ‘jemput bekal cinta dulu’ dengan nada paling manis bin pedas.”
Tasya ngakak sampai tersedak. “Lo gila sih, frontal banget.”
“Gue lebih gila lagi habis itu,” lanjut Kanza.
“Gue bilang, ‘Seminar apa? Cara menaklukkan suami orang?’ Depan mukanya banget, Tas!”
Aisah hampir keselek cilok lagi. “ADUH GILA KANZA! Itu mah bukan nyindir lagi, itu namanya penyerangan tanpa deklarasi perang!”
Kanza mengangguk mantap. “Gue harus pertahanin Mas Hanan, Tas. Itu cowok udah kayak spesies langka di hutan rimba laki-laki zaman sekarang. Sopan, mapan, alim, gak main cewek, setia, dan sabar banget sama gue yang kadang perilakunya kayak lemari berisik jatuh dari tangga.”
Tasya cengengesan. “Tapi bener sih... Mas Hanan tuh harta karun yang sudah di-unboxing tapi masih banyak yang mau. Gak heran si Zahira mupeng.”
“Gue tuh insecure, Tas,” bisik Kanza pelan, suaranya sedikit mengecil.
“Dia pinter, sholehah, lembut, pantes banget jadi istri idaman versi ustadz-ustadz. Dan... kayaknya semua orang tua Mas Hanan tuh suka sama dia. Termasuk Umah.”
Tasya langsung melotot.
“Jangan-jangan ini sinetron hidayah? Umah tiba-tiba jodohin Mas Hanan sama Zahira gara-gara lo terlalu barbar?”
“Gue takut ke situ,” gumam Kanza.
“Meskipun Mas Hanan selalu bilang gue satu-satunya. Tapi kan... hati manusia itu kayak kuah bakso, bisa berubah rasa kalau kelamaan kena panas. Bisa goyah. Bisa kebawa arus.”
Tasya narik napas dalam, lalu nepak bahu Kanza dengan penuh tenaga sampai sahabatnya itu tersentak.
“Denger ya... lo itu unik, absurd, dan agak rusuh, iya. Tapi lo juga punya hati yang tulus banget, sayang banget sama suami lo, dan... jujur, Mas Hanan tuh gak butuh istri kedua yang kalem. Dia cuma butuh lo buat bikin hidupnya yang kaku itu tetap seru.”
Kanza menatap Tasya, matanya agak berkaca-kaca, terharu.
“Tasya... elo so sweet. Kenapa kita gak jadian aja dari dulu sih kalau lo sebijak ini?”
Tasya ngakak. “Gila lo, abis ngomong drama langsung belok ke genre lain.”
“Ya siapa tau,” sahut Kanza santai, mood-nya perlahan membaik.
“Tapi serius, Tas. Gue harus mulai perang taktis nih. Harus mulai bikin benteng-benteng perlindungan dari fitnah dan godaan pihak ketiga yang hobi pakai embel-embel 'titip salam'.”
Tasya berdiri dari bangku batu, bergaya ala jenderal yang siap memimpin pasukan di medan tempur.
“Kita bentuk Tim Anti Madu. Lo jadi ketua, gue jadi wakil yang bagian makanin bekal kalau lo lagi sibuk berantem.”
Kanza berdiri juga, memberikan gaya hormat dengan penuh semangat.
“Siap, Komandan! Demi pernikahan yang waras, penuh cinta, dan tanpa plot twist menjengkelkan!”