NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Cambuk Besi dan Retakan Mahkota

Bau karat, kelembapan yang membusuk, dan aroma amis darah di ruang bawah tanah Mansion Utama terasa semakin pekat seiring malam yang merambat mati. Di dalam sel isolasi yang gelap gulita, Alana tidak dibiarkan beristirahat lebih lama untuk memulihkan tenaganya. Sunyinya malam mendadak pecah oleh suara derap langkah boots militer yang berat, disusul suara berderit kasar dari pintu besi sel yang dibuka paksa hingga membentur dinding beton.

"Berdiri, Anak Haram," sebuah suara kasar memerintah tanpa empati.

Sebelum Alana sempat menggerakkan tubuhnya yang masih lemas, empat pengawal berbadan tegap dan berwajah dingin langsung merangsek masuk. Tanpa sedikit pun rasa belas kasihan, dua di antaranya mencengkeram lengan Alana secara kasar, menyeret tubuh kecilnya menyusuri lantai semen yang kasar hingga menyisakan goresan perih di kakinya. Mereka membawanya kembali ke ruang interogasi tengah yang luas—sebuah ruangan yang dirancang khusus untuk mematahkan kewarasan dan tubuh para pengkhianat keluarga Garrick.

Namun kali ini, tidak ada lagi kursi besi yang disediakan untuknya duduk.

"Angkat dia," perintah sang kepala pengawal.

Tubuh Alana ditarik ke atas dengan paksa. Dua borgol besi berat yang tergantung pada rantai tebal dari langit-langit beton dipasangkan ke kedua pergelangan tangannya. Dengan bunyi klek yang dingin, rantai itu ditarik ke atas menggunakan katrol manual hingga kedua lengan Alana teregang lurus di atas kepala. Tubuh kecilnya tergantung tak berdaya, memaksa ujung jarinya nyaris tidak menyentuh lantai marmer yang dingin. Setiap tarikan napasnya kini terasa berat, karena seluruh beban tubuhnya bertumpu pada sendi bahu yang seolah siap terlepas dari mangkuknya.

Di depan Alana, Eleanor Rossi berdiri dengan keanggunan yang mengerikan. Wanita paruh baya itu perlahan melepas sarung tangan sutranya, menggantinya dengan sepasang sarung tangan kulit hitam yang ketat. Di tangan kanannya, dia menggenggam sebuah cambuk kulit tipis berkepala sembilan—senjata disiplin yang biasanya digunakan untuk menguliti mata-mata sebelum mereka dieksekusi.

Kemarahan Eleanor telah mencapai puncaknya setelah makan malam formal tadi. Siasat Xavier yang menahan anggarannya dan Julian yang merusak dokumen pernikahan politiknya di meja makan membuktikan bahwa otoritasnya sebagai Istri Sah mulai digoyang dari akar. Dan malam ini, dia akan melampiaskan seluruh frustrasi, ketakutan, dan harga dirinya yang terluka kepada Alana.

"Kamu pikir kamu sangat cerdas, Alana?" desis Eleanor, suaranya terdengar sangat rendah namun bergetar oleh kegilaan yang tertahan. Dia melangkah maju, menggunakan ujung cambuk yang dingin untuk mengangkat dagu Alana agar menatapnya. "Kamu pikir dengan memprovokasi Cedric siang tadi, kamu bisa memecah belah faksi pertama? Kamu hanyalah anak haram yang lahir dari rahim seorang pelayan murahan! Berani-beraninya kamu bermain api di rumahku?!"

Alana tidak menjawab. Dia hanya menatap Eleanor dengan sepasang mata yang jernih, mengabaikan getaran hebat di lengannya yang mulai kehabisan darah.

Plakkk!

Tanpa peringatan, Eleanor mengayunkan lengan kanannya dengan kekuatan penuh. Cambuk kulit itu melesat cepat di udara, membelah keheningan dengan suara desingan tajam sebelum menghantam bahu kanan Alana.

Rasa perih yang teramat sangat, seperti disiram air raksa mendidih, seketika menjalar ke seluruh sistem saraf Alana. Sabetan itu begitu kuat hingga merobek kain gaun abu-abu kusamnya, meninggalkan bekas luka garis merah tebal yang dalam hitungan detik langsung mengembunkan butiran merah segar. Kulit halusnya pecah seketika.

Alana memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menggigit bibir bawahnya sendiri dengan sangat erat—begitu erat hingga rasa asin darahnya sendiri mulai memenuhi mulutnya. Dia menolak. Jiwa sang profesional berdarah dingin di dalam dirinya menolak untuk mengeluarkan jeritan kesakitan yang sangat ingin didengar oleh Eleanor sebagai pemuas egonya.

"Buka mulutmu, Tikus Kecil!" bentak Eleanor, wajah anggunnya kini berubah menjadi monster yang haus darah. "Katakan padaku, rahasia apa yang kamu berikan kepada Xavier?! Mengapa dia sampai berani membekukan asetku?! Dan apa yang kamu rencanakan dengan Julian?!"

Plakkk! Plakkk!

Dua sabetan berikutnya mendarat beruntun di punggung dan lengan kiri Alana. Kali ini, ujung-ujung cambuk kulit itu merobek kulit punggungnya yang tipis, menciptakan luka silang yang mengerikan. Cairan merah segar mulai mengalir deras, membasahi kain gaunnya yang abu-abu hingga berubah warna menjadi merah pekat yang gelap. Tubuh Alana tersentak hebat di udara, rantai besi di atas kepalanya berdenting nyaring akibat guncangan tubuhnya yang menahan rasa sakit yang luar biasa.

Napas Alana menjadi pendek dan terputus-putus. Keringat dingin bercampur darah mengalir dari pelipisnya, membasahi matanya. Pandangannya sempat mengabur, dunianya berputar, dan rasa sakit fisik itu mencoba menarik kesadarannya ke dalam kegelapan. Namun, tekadnya yang sekeras baja menolak untuk menyerah. Dia memaksakan dirinya untuk tetap sadar. Di tengah siksaan yang sanggup membuat orang biasa memohon ampunan mati, Alana perlahan mendongakkan kepalanya kembali.

Dia menatap Eleanor yang terengah-engah di depannya. Dan yang membuat Eleanor merinding adalah, tidak ada setitik pun rasa takut di mata Alana. Sebaliknya, sepasang mata itu memancarkan kilatan kepuasan yang dingin. Setetes darah mengalir dari sudut bibirnya, membentuk kontras yang mengerikan dengan senyuman tipis yang tiba-tiba terukir di wajah pucatnya.

"Siksa saya... sesuka Anda, Nyonya Eleanor..." bisik Alana, suaranya terdengar serak, parau, namun sarat akan intimidasi psikologis yang mematikan. "Tetapi... setiap cambukan yang Anda daratkan di tubuh saya siang ini... hanya akan mempercepat... runtuhnya mahkota Anda. Anda memukul saya... karena Anda takut, bukan? Anda takut karena menyadari... bahwa Anda mulai kehilangan kendali atas anak Anda sendiri."

"Tutup mulutmu! Diam kau!!"

Eleanor yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang tahanan yang sekarat, menjadi gelap mata. Dia mengangkat cambuknya tinggi-tinggi, bersiap untuk mengayunkan sabetan fatal ke arah leher Alana yang tak terlindungi.

Brakkk!

Pintu ruang interogasi mendadak ditendang terbuka secara kasar dari luar. Cedric Garrick melangkah masuk dengan napas memburu dan wajah yang dipenuhi ketegangan. Pria bertato ular itu menatap pemandangan di depannya: tubuh Alana yang tergantung dengan darah yang menetes ke lantai marmer, dan ibunya yang memegang cambuk dengan napas terengah-engah.

Efek dari "racun" manipulasi Alana siang tadi, ditambah dengan fakta dari Julian di meja makan bahwa dokumen Eropa Selatan sengaja dirahasiakan darinya, seketika meledak di dalam kepala Cedric. Sifat protektifnya terhadap takhta masa depannya memicu paranoia yang akut.

"Ibu, hentikan!" bentak Cedric, melangkah maju dengan cepat dan langsung mencengkeram pergelangan tangan Eleanor yang sedang memegang cambuk.

Eleanor tersentak, menatap putranya dengan tidak percaya. "Cedric! Lepaskan tanganmu! Apa yang kamu lakukan?!"

"Aku yang harus bertanya, apa yang Ibu lakukan?!" suara Cedric menggelegar di dalam ruangan bawah tanah, urat-urat di lengannya menegang. "Jika Ibu menghancurkan tubuhnya lebih parah lagi, pihak sindikat Eropa Selatan akan menganggap kita mengirimi mereka barang cacat! Aliansi militer itu bisa batal! Atau... jangan-jangan... ucapan anak haram ini benar? Ibu sengaja ingin merusak kesepakatan ini karena Ibu memang tidak pernah berniat memberikan sepuluh ribu pasukan itu kepadaku?!"

"Cedric! Jaga bicaramu! Ibu melakukan ini demi memeras informasi darinya! Dia telah memanipulasi Xavier dan Julian!" teriah Eleanor, suaranya melengking karena frustrasi melihat putranya sendiri kini berani menuduhnya secara terang-terangan di depan para pengawal.

"Cukup, Ibu! Aku tidak bodoh!" Cedric melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Eleanor terhuyung mundur. Cedric menatap Alana yang tergantung lemas dengan senyuman tipis yang masih tersisa di bibirnya, lalu kembali menatap ibunya dengan tatapan penuh keraguan dan ketidakpercayaan yang mendalam. "Mulai sekarang, urusan pengamanan anak haram ini berada di bawah kendaliku. Jangan menyentuhnya lagi tanpa izinku!"

Keretakan hubungan di antara ibu dan anak itu resmi pecah secara terbuka di depan mata Alana. Eleanor yang menyadari bahwa situasi psikologis putranya telah dirusak sepenuhnya oleh lidah beracun Alana, akhirnya melempar cambuk kulitnya ke lantai dengan gusar.

"Turunkan dia!" perintah Eleanor kepada para pengawal dengan suara bergetar menahan amarah. "Kurung dia kembali ke sel isolasi! Perketat penjagaan dan kunci pintunya! Jangan biarkan siapa pun, termasuk Cedric, mendekati selnya tanpa perintah tertulis dariku!"

Tubuh Alana dijatuhkan ke lantai saat belenggu rantaiannya dilepas. Rasa sakit baru menghantam bahunya saat dia mendarat di marmer yang keras, namun Alana tidak mengeluarkan suara. Dia membiarkan dirinya diseret kembali ke dalam kegelapan sel isolasi, mengetahui bahwa perang saudara di faksi pertama telah resmi dimulai.

Sementara Alana terbaring lemah dengan luka-luka yang mengucurkan darah di dalam selnya, sebuah pergerakan rahasia yang teramat berbahaya sedang terjadi di luar dinginnya dinding Mansion Utama.

Di area taman belakang yang luas dan dipenuhi kabut malam yang tebal, dua bayangan pria berdiri di bawah bayang-bayang pohon ek tua yang besar. Xavier Garrick dan Julian Garrick—dua pemangsa tertinggi dari faksi ketiga dan faksi kedua—kini terpaksa mengadakan pertemuan darurat yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh siapa pun di organisasi.

"Mata-mataku di dalam Mansion Utama baru saja melapor," ucap Xavier, suaranya yang biasa terdengar flamboyan dan santai kini berubah menjadi sangat rendah, dingin, dan dipenuhi aura membunuh yang pekat. Jemari tangannya mencengkeram pemantik api peraknya begitu keras hingga engsel besinya berderit retak. "Eleanor sudah menggunakan kekerasan fisik. Dia mencambuk Alana hingga sekarat di ruang bawah tanah."

Julian membetulkan posisi kacamatanya dengan gerakan lambat, namun wajah pucatnya tampak sedingin es di bawah temaram sinar rembulan. "Gadis itu adalah variabel penting, Xavier. Jika dia sampai patah atau mati di tangan Eleanor sebelum kita mendapatkan apa yang kita butuhkan, faksi pertama akan mengonsolidasikan kekuatan mereka tanpa hambatan. Kita tidak bisa membiarkan Eleanor mengisolasinya lebih lama. Kita harus mengeluarkannya dari sana."

Julian mengeluarkan sebuah ponsel hitam bermodifikasi khusus dari saku mantelnya, lalu menekan satu tombol panggilan cepat. "Adrian, lakukan tugasmu sekarang."

Di tempat lain, tepatnya di ruang kendali bawah tanah Mansion Kedua yang dipenuhi oleh desingan ribuan kipas prosesor komputer, Adrian Garrick menyunggingkan senyuman sinis yang teramat pekat. Matanya yang dibingkai lingkaran hitam akibat kurang tidur berkilat penuh semangat di depan barisan monitor raksasa yang menampilkan barisan kode enkripsi hijau.

Jemari tangan Adrian menari dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik mekanik, meluncurkan serangan siber senyap berskala besar untuk meretas sistem keamanan inti faksi pertama.

"Enkripsi sistem keamanan berlapis milik faksi pertama telah berhasil kutembus, Kak Julian," lapor Adrian melalui sambungan earpiece nirkabel langsung ke telinga Julian dan Xavier. "Aku telah menyalin seluruh cetak biru digital sistem keamanan sel isolasi bawah tanah Mansion Utama. Rute patroli pengawal, frekuensi gelombang radio mereka, hingga titik buta kamera pengawas semuanya sudah berada di dalam genggamanku. Aku butuh waktu persiapan sedikit lagi, dan malam ini... aku akan membuat seluruh sistem keamanan Eleanor buta dan tuli selama operasi berlangsung."

Xavier melihat layar ponselnya yang bergetar, menampilkan peta digital tiga dimensi dari ruang bawah tanah tempat Alana dikurung. Sebuah senyuman tajam yang sangat pekat dan berbahaya terukir di wajah tampan sang pangeran kasino.

Dua faksi terbesar keluarga Garrick kini telah menyelaraskan langkah mereka di balik kabut. Misi penyelamatan terselubung, taktis, dan berdarah untuk mengeluarkan sang Dalang dari sarang permaisuri telah resmi dipersiapkan, dan badai besar yang sesungguhnya akan segera menghantam faksi pertama dalam hitungan jam.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!