NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terapi Aneh

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.

"Ibu, besok kan PR nya dibawa?"

"Iya, Nak....." jawab Elisya.

"Tuh kan......" ucap siswa itu pada teman yang di sampingnya.

Elisya tersenyum tipis melihat tingkah muridnya itu.

"Hati-hati, Nak......" ucap Elisya sambil berjalan ke ruang guru.

Murid-murid berlarian keluar, sementara para guru membereskan meja dan bersiap pulang.

Elora memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya lalu menoleh ke arah Elisya yang sedang merapikan lembar tugas murid.

"Ya sudah, Sya....."

Elisya membalas tersenyum tipis.

"Supaya otakmu tidak muter-muter terus, kita makan eskrim saja......"

"Makan eskrim?"

"Iyaa......terapi terbaik,"

Elisya tertawa pelan, "itu terapimu."

"Dan terbukti berhasil." balas Elora cepat.

"Kapan?"

"Setiap saat."

Elisya menggeleng geli. Elora, sahabatnya itu bisa saja membuatnya cepat berubah.

"Makasih ya....." ucap Elisya.

"Nah, gitu dong...... Sekarang aja ya,"

"Tapi aku tidak ikut."

Senyum Elora langsung menghilang.

"Hah? Gimana?"

"Aku mau ke tempat lain....."

"Kemana?"

"Toko buku."

Elora langsung menghela napas panjang.

"Agak lain......"

"Apa maksud mu?"

"Kau memang agak lain. Memang aneh."

Elisya terkekeh.

Sementara bagi kebanyakan orang, pergi ke kafe, menonton film, atau berjalan-jalan mungkin menjadi cara melepas penat.

Tapi, bagi Elisya, tempat yang paling menenangkan justru toko buku. Aroma buku baru. Rak-rak yang tersusun rapi. Dan suasana yang tenang yang membuat pikirannya perlahan kembali teratur.

"Ya udah lah..... Ayok," ajak Elora.

"Aku nggak ikut," jawab Elisya.

"Jalan sama ke GERBANG!" tegas Elora.

Elisya tertawa melihat tingkah temannya itu.

Di depan gerbang, langkah mereka berhenti.

"Astaga....... Kau naik grab?" tanya Elisya.

"Jelas lah...... Jadi maksudmu aku jalan sendiri ke kontrakan?"

Di persimpangan jalan, keduanya berhenti. Dan disana, driver itu sudah menunggu.

"Ini helm nya Mbak."

"Sebentar ya, Pak....." ucap Elora.

"Sya, jadi kau benar mau ke toko buku?" tanya Elora tiba-tiba teringat sesuatu.

Elisya mengangguk.

"Kalau begitu, coba ke Lentera Kata saja."

Elisya mengernyit.

"Lentera Kata?" ulangnya.

"Iya....."

"Dimana itu?"

Kini giliran Elora yang melotot heran.

"Tunggu....."

"Apaan?"

"Kau tidak tahu Lentera Kata?"

Elisya menggeleng, "Memangnya kenapa sih?"

Elora langsung menunjuk sahabatnya seolah menemukan sesuatu yang mustahil.

"Kau ini kan kutu buku."

Elisya tertawa kecil melihat Elora yang terlihat tidak percaya.

"Serius, kau tidak tau?"

"Engga....."

"Elisya Mayura Pasaribu?"

"Apa lagi?"

"Itu toko buku yang lagi hits sekarang."

Elisya tampak berpikir sejenak.

"Tapi serius, aku memang tidak pernah dengar."

Elora sampai menghela napas panjang.

"Bagaimana bisa seorang guru yang menghabiskan setengah hidupnya di toko buku tidak tau Lentera Kata?"

"Itu berlebihan....."

"Tidak berlebihan." balas Elora.

"Pak, bisa tunggu sebentar lagi kan?" tanya Elora pelan pada Driver itu.

Driver itu mengangguk.

Elora lalu mulai bercerita dengan semangat.

"Tempatnya baru buka beberapa bulan lalu. Katanya koleksi bukunya banyak. Dan yang paling penting..... katanya tempat itu punya ciri khas yang berbeda dari toko buku yang lain." jelas Elora.

"Ciri khas gimana?" Elisya terlihat heran tak mengerti.

Elora menggaruk kepalanya, "Kurang tau juga sih..... Soalnya aku juga belum pernah ke sana."

Elisya menggeleng sambil tersenyum.

Mungkin karna beberapa bulan terakhir ini, hidupnya hanya berputar antara sekolah, kontrakan, dan setiap Minggu ya tentu......ke gereja.

"Lokasinya dimana?"

"Tidak jauh dari pusat kota." jawab Elora.

"Oh iya..... Lagian kan sekarang udah mudah Elisya..... Maps udah ada, gimana sih?" ucapnya setengah kesal.

Elisya menatapnya datar, "aku kira kau tau alamat detailnya. Ternyata cuma sekedar juga...." balas Elisya pelan.

Elora memakai helmnya.

"Daripada engga tau sama sekali....."

"Eh.... Daripada....."

"Sttt!! Pokoknya kesana aja sekarang. Semoga pulang dari sana, tuh muka lebih segar." Potong Elora cepat.

"Pak, jalan aja." minta Elora pada drivernya.

Mereka melaju pergi. Sementara Elisya berdiri beberapa saat di pinggir jalan.

"Lentera Kata" gumam Elisya.

Elisya masih berdiri di tepi jalan sambil memikirkan nama toko itu. Tepat saat itu, sebuah angkot berwarna biru muda melambat di depannya.

"Bu guru, naik?"

Elisya tersadar dari lamunannya. Angkot itu berhenti tepat di pinggir trotoar. Sang supir itu menunggu dengan sabar.

"Mau kemana Bu guru Cantik?"

Elisya ragu sejenak. Lalu teringat tujuan yang baru saja disebut Elora tadi.

"Pak, tau toko buku Lentera Kata?"

Wajah supir itu langsung berubah seolah mengenali tempat yang dimaksud."

"Oh, pastinya....."

"Serius, Pak?"

"Serius. Yang baru buka itu kan?"

Elisya mengangguk.

"Tahu. Tempat itu lagi ramai sekarang."

Jawaban itu membuat Elisya sedikit lega.

Sang supir menunjuk kursi kosong di dalam angkot.

"Naik saja."

Elisya akhirnya melangkah masuk. Penumpang di dalam tidak terlalu banyak. Hanya beberapa orang yang duduk berjauhan sambil sibuk dengan urusan masing-masing.

Tak lama kemudian, angkot itu kembali berjalan. Di luar jendela, kendaraan berlalu lalang. Dan ia hanya memperhatikan jalanan yang terus bergerak.

"Mau beli buku, Bu Guru?" tanya supir itu.

Elisya tersenyum kecil.

Supir itu mengangguk kagum.

"Pantas."

Elisya mengernyit bingung.

"Kelihatannya memang suka baca buku." jelas supir itu.

Elisya hanya membalas dengan senyum kecil.

Angkot yang ditumpangi Elisya mulai melambat. Sang supir melirik ke kaca spion lalu menunjuk ke arah seberang jalan.

"Itu tokonya."

Elisya mengikuti arah jari itu. Dan seketika matanya tertuju pada sebuah bangunan dua lantai dengan desain hangat dan modern.

Di bagian depan terpampang papan nama berwarna gelap dengan tulisan berwarna keemasan.

LENTERA KATA

Dari luar saja, tempat itu sudah terlihat nyaman. Dan beberapa orang tampak keluar masuk sambil membawa buku.

"Wah....." gumam Elisya pelan.

Elisya membuka dompetnya lalu menyerahkan ongkos. Namun saat ia hendak turun, sang supir tiba-tiba bercanda.

"Kalau perlu, saya bisa antar sampai dalam...." goda supirnya.

Elisya langsung menoleh.

"Hah?"

"Biar tidak tersesat."

Supir itu tertawa lebar.

"Tidak usah, Pak." jawab Elisya sopan.

Beberapa penumpang lain bahkan ikut tersenyum mendengar candaan itu.

Elisya akhirnya turun dari angkot.

"Terimakasih ya, Pak.

Kini Elisya berdiri sendiri di trotoar. Pandangannya tertuju pada bangunan di hadapannya.

Suasana di depannya langsung menarik perhatian Elisya. Tanpa sadar, senyum tipis muncul di wajahnya.

Kemudian ia merapikan tali tas di bahunya dan melangkah pasti.

Saat Elisya menaiki anak tangga kecil menuju pintu masuk, tangannya terangkat ingin mendorong pintu itu.

Tapi sebelum sempat menyentuhnya, pintu itu sudah lebih dulu terbuka dari dalam. Seorang laki-laki muda membukanya.

"Silahkan, Kak"

Elisya sedikit terkejut.

"Oh, terimakasih."

Pria itu tersenyum ramah. Penampilannya rapi. Kemeja putih, name tag kecil terpasang di dadanya, dan rambutnya tertata rapi. Dari name tag itu, Elisya bisa menebak bahwa ia adalah salah satu karyawan toko.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!