Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum Terlambat
Arlan masih terus melakukan tindakan untuk mencari keberadaan Alya. Sama halnya dengan Emil yang sekarang mulai menceritakan kejadian tadi pada kakaknya.
Langit sore mulai memudar semburat jingga bersinar indah diatas sana, namun tidak dengan hati Emil yang saat ini merasa tertekan dan waspada.
Langkahnya terhenti saat sampai di depan gedung pencakar langit itu, semua staf perusahaan menunduk hormat saat dirinya datang ke tempat ini. Tempat yang sejak sepuluh tahun lalu di bangun oleh kakaknya dengan jerih payah dan kecerdasan seorang Dewa.
Sesampainya di meja resepsionis seorang staf menyapanya dengan senyum yang begitu ramah. "Selamat sore Nona Emil, ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat sore juga Mbak, saya mau bertemu Pak Dewa, apa beliau ada?"
"Beliau masih ada rapat kantor satu jam yang lalu, tunggu saja di ruangannya, mungkin beberapa menit lagi sudah selesai," ujar pegawai itu.
Emil mengangguk patuh, kemudian melangkah ke ruangan sang Kakak dengan penuh harapan besar untuk keselamatan seorang wanita yang bahkan baru ia kenal.
"Pokoknya Mbak Alya harus aku sembunyikan sejauh mungkin dari pria jahat itu," ucapnya bermonolog.
Emil pun membuka pintu ruang kerja kakaknya, aroma pengharum ruangan langsung menyambutnya. Gadis itu terduduk di sofa sejak tadi tangannya tidak berhenti mengetik pesan di layar handphonenya, untuk memberi tahu pada semua pekerja yang ada di rumah Dewa. Agar lebih hati-hati dan memperhatikan Alya.
Beberapa menit kemudian Dewa tiba di kantornya. Langkahnya sedikit terhenti saat mendapati Emil terduduk lemas di sofa ruang kerjanya. Kening pria itu langsung berkerut. Selama ini Emil hampir tidak pernah datang ke kantor tanpa alasan penting. Melihat raut wajah sang adik yang pucat dan gelisah, firasat Dewa seketika berubah tidak enak.
"Dek," sapa Dewa.
Emil pun langsung terkejut. "Kak, akhirnya Kakak selesai juga," ujar Emil.
"Ada apa?" tanyanya.
Emil terdiam sejenak matanya terpejam bayangan wajah Arlan yang menatap tajam masih terus membayangi pikirannya.
"Kak, mantan suami Alya tadi siang mendatangi kost ku, dia sepertinya marah karena aku tidak mengerti tahu keberadaan Alya, dan pastinya dia akan mencari Alya sampai ketemu," ucap Emil dengan nada sedikit gugup.
"Apa dia mendatangi kost, dia gak ngapa-ngapain kamu kan?" tanya Dewa merasa khawatir dengan keadaan adiknya.
"Enggak, dia hanya menggertak dan mengancam saja," sahut Emil.
Rahang Dewa mengeras, seolah tidak terima seseorang berbuat kasar pada adiknya. "Sekarang kemana dia?" tanya Dewa.
"Aku gak tahu, sudah jangan pikirin orang itu, lebih baik kita pikirin cara agar Mbak Alya dan calon anaknya merasa aman, karena pria itu sudah tahu jika Mbak Alya tengah mengandung benihnya.
Ucapan Emil barusan membuat suasana sunyi. Dewa tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya bergerak cepat menyusun kemungkinan-kemungkinan terburuk.
"Jadi... dia sudah tahu Alya hamil?" tanyanya pelan.
Emil mengangguk. "Iya, Kak. Dia menemukan kantong obat dan surat hasil pemeriksaan dokter. Sepertinya dari situlah dia tahu."
Dewa mengembuskan napas panjang. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya berubah jauh lebih tajam.
"Kalau begitu, dia tidak akan berhenti."
"Maksud Kakak?"
"Mulai sekarang dia bukan hanya mencari mantan istrinya. Dia juga sedang mencari anak kandungnya."
Emil menelan ludah sendiri. "Lalu kita harus bagaimana?"
Dewa bangkit dari kursinya. Ia meraih kunci mobil di atas meja, lalu menatap adiknya dengan penuh keseriusan.
"Kita tidak punya banyak waktu."
"Dia pasti akan mencari rumah sakit tempat Alya diperiksa, tempat kerjanya, bahkan semua orang yang pernah berhubungan dengannya."
"Lalu?"
"Sebelum dia menemukan jejak Alya... kita yang harus memindahkan Alya lebih dulu."
Emil mengangguk mantap. "Maksud Kakak... kita bawa Mbak Alya pergi?"
"Ya."
Tatapan Dewa berubah semakin tegas, kali ini tekadnya makin jelas, andai saja ia terlambat mengetahui hal ini pasti ceritanya sudah berbeda lagi.
"Dan kali ini... tidak ada seorang pun yang boleh tahu ke mana aku membawanya," ucapnya tegas.
☘️☘️☘️☘️☘️
Suasana di rumah Dewa terasa begitu tenang. Semilir angin sore menggerakkan dedaunan di halaman belakang. Namun ketenangan itu justru membuat Alya merasa asing.
Perempuan itu duduk di gazebo sambil memandang kosong ke arah taman. Sesekali tangannya mengusap perutnya yang masih belum terlihat membesar.
Baru beberapa langkah ia berjalan mengelilingi taman, seorang satpam langsung menghampirinya.
"Neng, hati-hati jalannya."
"Iya Pak," sahutnya.
Belum sempat ia mendekati pagar belakang, satpam itu kembali bersuara. "Maaf, Neng. Tuan berpesan Neng jangan keluar halaman sendirian."
Alya mengerutkan dahi, lagi-lagi ia merasa jika di rumah ini terlalu banyak aturan, padahal dia hanya ingin bergerak, tanpa ada yang menghalangi.
"Kenapa?"
"Perintah Tuan, Neng."
Perempuan itu memilih diam dan tak lama kemudian ia berniat membantu Mbok Ina membawa nampan dari dapur, karena memang ia tidak terbiasa berdiam diri seperti ini.
"Mbok, biar aku saja."
"Ealah jangan, Neng. Biar Mbok saja. Tuan nanti marah kalau tahu, lagian neng itu harus istirahat penuh, ingat pesan dokter kan?"
Alya mendengus kesal. Lagi-lagi nama Dewa disebut. "Kenapa sih Mbok hal sekecil ini gak boleh itu gak boleh."
"Sudah deh Neng nurut saja, itu tandanya Tuan sangat perhatian."
Alya mengembuskan napas panjang. Entah kenapa ia mulai merasa semua orang memperhatikannya, dan melarang meskipun itu hanya hal kecil.
"Kenapa mereka bersikap seperti ini?" gumamnya lirih.
Perlahan matanya menatap langit yang mulai berubah jingga. Ingatan tentang kamar kost kecilnya kembali muncul, tempat itu seolah berhasil menghipnotis Alya, bahkan meskipun ia sudah berada di rumah mewah Dewa tetap saja Kost Emil menjadi tempat ternyamannya.
"Pokonya kalau Mas dewa datang aku mau diantar ke kostan Emil," ucapnya pelan.
☘️☘️☘️☘️
Menjelang petang terdengar suara mobil memasuki halaman, seketika Alya menoleh perempuan hamil itu melangkah ke cepat keluar rumah, sedari tadi ia sudah menahan diri untuk berbicara.
Dewa yang baru saja turun dari mobil bersama Emil, terlihat begitu khawatir namun belum sempat keduanya masuk ke dalam rumah, Alya sudah lebih dulu menghampiri mereka.
"Mas Dewa," panggil Alya membuat langkah Dewa terhenti.
"Ada apa?"
"Aku ingin kembali ke kost."
Kalimat itu membuat Dewa terdiam dan saling pandang dengan adiknya. "Kenapa?"
"Aku gak nyaman tinggal di sini."
"Kurang nyaman bagaimana?" tanya Dewa nadanya sedikit meninggi.
"Aku merasa... seperti diawasi."
"Astaga! Itu demi keamananmu."
"Tapi aku merasa seperti tahanan."
Kalimat itu membuat Dewa spontan mengangkat wajahnya, sorot matanya menelisik, Alya yang menyadari akan hal itu ia buru-buru membuka suara.
"Bukan begitu maksudku," terang Alya. "Semua orang melarangku melakukan apa pun. Mau jalan sebentar dilarang. Mau bantu Mbok Ina dilarang. Bahkan keluar halaman saja gak boleh."
"Alya..."
"Aku lebih nyaman di kost."
"Tidak." Jawaban Dewa begitu tegas.
"Aku mau pulang."
"Tidak."
"Mas..."
"Aku bilang tidak!" suara Dewa tanpa sadar menyentak.
Semua orang yang berada di ruang tamu langsung terdiam, mendengar bentakan itu bahkan Alya pun seketika membeku. Sementara Dewa sendiri baru menyadari nada bicaranya terlalu keras. Namun rasa takut kehilangan membuat emosinya sulit dikendalikan.
"Kamu tahu kenapa aku melakukan semua ini?" tanyanya dengan napas memburu.
Alya hanya diam, tidak sevokal dan secerewet tadi.
"Karena aku gak mau lihat kamu masuk rumah sakit lagi."
"Mas..."
"Aku lebih memilih kamu membenciku daripada harus kehilangan kamu dan bayimu!"
Suasana mendadak sunyi, semua orang tidak ada yang berani berkomentar Alya menundukkan kepala, matanya mulai berkaca-kaca. Melihat itu, Emil segera berjalan mendekat.
"Kak..."
Dewa memejamkan mata sejenak. Ia sadar emosinya baru saja meledak. Tanpa berkata apa-apa, pria itu memilih membalikkan badan. Emil kemudian duduk di samping Alya. Perlahan ia merangkul bahu perempuan itu.
"Maaf ya, Mbak."
Alya menggeleng. "Aku cuma... gak enak terus merepotkan Mas Dewa."
"Aku tahu."
"Aku juga gak nyaman tinggal di rumah laki-laki yang bukan siapa-siapaku."
Emil tersenyum tipis. "Aku ngerti perasaan Mbak."
Beberapa detik kemudian Emil mengeluarkan ponselnya. Ia ingin Alya tahu jika kerasnya sikap Dewa itu ada alasannya, bukan hanya kemarahan biasa.
"Tapi sebelum Mbak memutuskan pulang ke kost... lihat ini dulu."
Emil menunjukkan sesuatu dalam handphone. Video pertama diputar dan gambar yang terlihat adalah wajah Arlan memenuhi layar. Suaranya terdengar jelas saat mengancam penghuni kost.
Video berikutnya memperlihatkan anak buah Arlan menggeledah setiap kamar. Lalu rekaman terakhir, Arlan berkata bahwa ia akan terus mencari Alya sampai ketemu.
Seketika Alya terkejut. Tangannya mulai gemetar, wajahnya perlahan memucat.
"Dia... benar-benar datang?"
Emil mengangguk pelan. "Iya."
"Dia juga sudah tahu Mbak sedang hamil."
Deg.
Alya refleks memegang perutnya. Air mata perlahan jatuh tanpa bisa dibendung, ia masih ingat betul bagaimana Arlan dan keluarganya tidak menginginkan dirinya, dan hal yang paling menyakitkan bagi Alya. Mereka mengusirnya tepat setelah Nek Ratih di kebumikan.
"Tidak, aku sudah tidak mau lagi bertemu dengan dia baik dipertemuan apapun aku gak akan mau," ucapnya.
Kemudian tanpa sadar langkahnya mendekati Dewa yang masih membelakangi mereka, Alya tahu jika pria itu memiliki watak keras, tapi setidaknya Alya faham jika Dewa merupakan pria yang begitu baik.
"Mas..."
Dewa menoleh. Tatapan mereka bertemu. Dengan suara yang bergetar, Alya berkata,
"Kalau aku tetap di Indonesia... cepat atau lambat dia pasti akan menemukan aku."
Dewa tidak bisa berkata apa-apa. Alya menggenggam ujung bajunya sendiri. Air mata terus mengalir di kedua pipinya.
"Mas..."
"Tolong bawa aku pergi."
"Pergi sejauh mungkin."
"Aku ingin anakku lahir di tempat yang tidak bisa dijangkau Arlan."
Ruangan kembali sunyi Dewa menatap Alya beberapa saat, entah kenapa melihat wajah sendu Alya, kekesalan dan amarahnya seolah runtuh begitu saja. Pria itu mulai mendekat ke arah Alya. Lalu perlahan menganggukkan kepalanya.
"Baik."
"Sebelum Arlan menemukanmu..."
"...aku akan memastikan dia kehilangan jejakmu untuk selamanya."
Bersambung.....
Selamat pagi masy sedikit telat ya Kak.