Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Yang Tidak diakui
Sejak kejadian di kantin tadi, suasana kelas XII-A berubah aneh. Semua orang mulai sadar: Nevran Garendra—cowok paling dingin sedunia itu—sedang bad mood. Dan itu bahaya. Sangat bahaya. Bahkan Kael yang biasanya paling berisik pun memilih diam sambil makan permen.
Zevian melirik Nevran sekilas dari samping. “Lo kenapa?”
Nevran tak menjawab. Tatapannya masih lurus ke arah jendela kelas. Dingin. Dan itu cukup membuat teman-temannya saling pandang. Karena mereka tahu—kalau Nevran diam terlalu lama, artinya isi kepalanya sedang kacau.
---
Di sisi lain, Brielle juga tidak tenang. Gadis itu duduk sambil mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen. Tatapannya diam-diam melirik Nevran. Cowok itu bahkan tidak melihat ke arahnya sedikit pun sejak masuk kembali ke kelas.
Keisha berbisik dari bangku belakang. “Lo berantem?”
“Hah? Sama siapa?”
“Si cadel.”
“Najis amat gue berantem sama dia.”
“Terus kenapa lo liatin dia terus?”
Deg. Brielle langsung salah tingkah. “Mana ada!”
Celine ikut menyipitkan mata curiga. “Bri…”
“Hm?”
“Lo sadar gak sih?”
“Sadar apa?”
“Nevran marah gara-gara lo.”
“GAK MUNGKIN.”
Keisha langsung mendekat dramatis. “Anjir cowok posesif.”
“POSESIF PALE LO!”
Namun kalimat itu malah terus terngiang di kepala Brielle. Marah gara-gara gue? Ah. Mana mungkin. Si cadel nyebelin itu?
---
Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi. Guru matematika masuk. Dan sialnya—hari itu ada tugas kelompok.
“Baik,” ucap guru mereka sambil membuka buku daftar nilai. “Kelompoknya sesuai tempat duduk.”
Hening. Lalu satu kelas langsung ribut.
“ANJIR GUE SAMA MANTAN!”
“WOI TUKER PAK!”
“PAK SAYA RELA DIHUKUM ASAL JANGAN SAMA DIA!”
Guru itu hanya menghela napas. “Tidak bisa. Ini nilai harian.”
Sementara itu, Brielle menoleh pelan ke arah Nevran. Cowok itu masih cuek. Matanya menatap meja kosong di depannya.
“Kerjain.”
“Hah?”
Nevran mendorong buku tugas ke arah Brielle tanpa menatapnya. “Lo pintar.”
Brielle langsung mendelik. “Lo nyuruh gue?”
Nevran akhirnya menatapnya datar. “Bukan nyuruh.”
“Terus?”
“Nyadalin.”
“APASIHHH!”
Namun anehnya, sudut bibir Kael yang duduk dua bangku di samping langsung naik. Kael menyikut Zevian. “Waduh akhirnya ngomong juga.”
Zevian mengangguk kecil. “Iya anjir, dari tadi kek mayat hidup.”
Sedangkan Brielle malah makin kesal. “Lo tuh ya…” Namun baru ingin marah, Nevran tiba-tiba menarik buku tugas itu lagi.
“Yaudah.”
Lalu ia mulai mengerjakan sendiri. Bolpoinnya berjalan cepat di atas kertas. Tanpa bicara. Tanpa melirik. Dan itu sukses bikin Brielle bengong.
Eh… biasanya kalau gue ngomel, dia bakal balas. Atau minimal ngeselin balik. Tapi sekarang dia malas meladeni gue?
Dan itu bikin Brielle gak nyaman. Setelah menahan diri beberapa menit, akhirnya ia meraih ujung buku itu.
“Yaelah sini.”
Nevran melirik sekilas. “Apa?”
“Kerjain bareng.”
Hening sejenak. Lalu perlahan Nevran menggeser buku itu ke tengah meja. Dan sepanjang tugas berlangsung, mereka diam-diam bekerja sama. Tanpa sadar. Bahkan beberapa kali tangan mereka bersentuhan saat mengambil pulpen. Dan setiap itu terjadi, Brielle langsung refleks menarik tangan cepat. Sedangkan Nevran tetap datar—walau telinganya merah tipis di balik poni yang menutupi dahi.
---
Jam pulang sekolah. Langit mulai mendung. Siswa-siswi sibuk pulang satu per satu sambil waspada dengan gerimis yang mulai turun. Brielle masih membereskan bukunya sambil menguap kecil.
“Capek banget…”
Keisha sudah berdiri di samping pintu. “Ayo pulang, ntar hujan deras.”
“Iya, bentar.”
Namun saat Brielle berdiri dan mengambil tasnya—tiba-tiba listrik sekolah mati.
“AAAA!”
Satu kelas langsung heboh. Suara kursi terdorong, koper jatuh, dan beberapa cewek berteriak kecil karena kaget. Brielle sendiri sempat terpaku setengah detik karena matanya belum menyesuaikan dengan kegelapan.
Dan sebelum ia sempat bereaksi—
Brak.
Tubuhnya menabrak sesuatu.
Atau lebih tepatnya—seseorang.
Deg.
Aroma parfum maskulin langsung memenuhi indra penciumannya. Hangat. Kayu dan sedikit mint. Dan tangan besar otomatis menahan pinggangnya agar tidak jatuh.
“Pelan.”
Suara rendah itu membuat Brielle membeku. Nevran. Karena kelas gelap dan hampir semua orang sibuk mencari ponsel masing-masing, posisi mereka sekarang terlalu dekat. Sangat dekat. Napas Nevran bahkan terasa samar di wajah Brielle.
Deg. Deg. Deg.
Jantung Brielle mendadak tidak normal. Berdebar terlalu kencang. Dadanya sesak. Dan untuk pertama kalinya ia sadar—tinggi Nevran hampir satu kepala di atasnya.
Nevran diam beberapa detik. Tatapannya turun pelan ke wajah Brielle yang hanya terlihat samar karena cahaya hujan dari jendela. Cantik. Dan itu bikin rahangnya mengeras.
“Lo kalau jalan…” suara Nevran rendah, nyaris berbisik. “…selalu nabrak ya?”
Brielle langsung sadar lalu buru-buru mundur. Kakinya hampir tersandung kursi. “Kan gelap!”
“Alasan.”
“DIEM!”
Namun sebelum Brielle pergi—tangan Nevran tiba-tiba menarik pergelangan tangannya pelan. Tidak keras. Tapi cukup untuk menghentikan langkahnya.
Deg. Brielle langsung menoleh. “Hah?”
Nevran diam cukup lama. Seolah sedang menahan sesuatu. Matanya mencari bentuk wajah Brielle dalam gelap. Mulutnya setengah terbuka. Lalu akhirnya—
“Jangan pulang sama dia hari ini.”
Deg. Brielle membeku. “Apa?”
“Hujan.”
“Terus?”
Nevran menatap Brielle lurus. Tatapan yang anehnya membuat suasana semakin menyesakkan. Dia menarik napas pelan. “Gua an—”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya—suara Elvaro terdengar dari depan kelas.
“Princess! Lo di mana? El jemput.”
Seketika, tangan Nevran langsung terlepas dari pergelangan Brielle. Seperti tersengat. Seperti sadar bahwa dia sudah melewati batas. Dan ketika cahaya ponsel beberapa siswa mulai menerangi ruangan, wajah Nevran kembali datar. Dingin. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Brielle masih berdiri diam. Perasaannya campur aduk. Jantungnya belum reda. Dan dia tidak tahu harus berkata apa.
Elvaro masuk ke kelas dengan ponsel sebagai senter. Begitu melihat Brielle, ia langsung tersenyum. “Udah siap? Ayo pulang, hujannya makin gede.”
Brielle mengangguk pelan. “I-iya.”
Ia melangkah mengikuti Elvaro. Namun di ambang pintu, tanpa sadar ia menoleh ke belakang. Nevran masih berdiri di tempatnya. Ponselnya menyala samar di tangan. Wajahnya setengah teduh.
Dan saat itu—Brielle bisa bersumpah dia melihat sesuatu di mata cowok itu.
Bukan marah.
Bukan dingin.
Tapi… kecewa.
Kecewa yang dalam. Yang ditahan mati-matian.
Brielle menggigit bibir. Lalu berbalik dan pergi meninggalkan kelas.
---
Di dalam mobil Elvaro, hujan mulai turun deras. Suara rintik air mengetuk kaca mobil menjadi latar yang sunyi. Elvaro menyetir dengan hati-hati. Sesekali melirik ke samping.
“Sayang, lo diem aja dari tadi. Capek?”
Brielle tersadar. “Eh… iya. Ngantuk.”
Elvaro tersenyum lembut. Tangannya meraih jemari Brielle lalu mengecupnya pelan. “Istirahat aja. Nanti El bangunin kalau udah sampai.”
Brielle hanya mengangguk kecil. Lalu memejamkan mata.
Namun di balik kelopak matanya—yang terbayang bukan wajah Elvaro. Bukan juga tugas sekolah yang belum selesai. Tapi tatapan Nevran di kegelapan kelas tadi. Tatapan yang seolah berkata: Gua mau bilang sesuatu. Tapi lo gak akan pernah denger. Dan tangan Nevran yang sedetik tadi menggenggam pergelangannya dengan hangat… lalu terlepas begitu saja.
Kenapa sih rasanya…
Brielle menghela napas pelan.
…seperti gue yang salah lagi?
---
bantu support juga yaa😇