NovelToon NovelToon
Setelah Dihina: Istri Gemuk Itu Kini Menjadi Dewi Cantik

Setelah Dihina: Istri Gemuk Itu Kini Menjadi Dewi Cantik

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Nayra, gadis berbadan gemuk yang selalu merasa rendah diri, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga — CEO termuda, terkaya, dan paling tampan yang diidamkan semua wanita. Pernikahan itu langsung menjadi bahan gunjingan seluruh kota.

Di mana pun dia melangkah, hinaan selalu menghampiri.
"Mana pantas gadis gemuk sepertimu berdiri di samping Tuan Arga?"
"Dia cuma aib bagi keluarga besar ini!"
"Pasti sebentar lagi diceraikan, kan suaminya malu punya istri jelek begini."

Bahkan di depan suaminya sendiri, dia sering diremehkan orang lain. Rasa sakit hati, malu, dan amarah perlahan menggerogoti hatinya. Nayra menangis malam itu dan bersumpah dalam hati:
"Kalian menghinaku karena aku gemuk? Kalian mengira aku tak berharga? Tunggu saja... aku akan buktikan! Aku akan berubah sampai kalian semua menyesal seumur hidup!"

Sejak hari itu, Nayra bangkit. Dia tinggalkan sifat malasnya. Tiap hari dia bangun subuh, berolahraga keras, menjaga makanan, menahan segala godaan, dan berjuang m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM PERTAMA YANG PENUH CINTA DAN KESUCIAN

Suasana di dalam mobil mewah itu hening namun penuh dengan kehangatan dan rasa bahagia yang meluap-luap. Rombongan besar keluarga Pradipta baru saja pulang dari acara penganugerahan penghargaan bergengsi itu. Semua orang masih sibuk membicarakan kehebatan Nayra, kebanggaan keluarga, dan betapa indahnya momen tadi siang. Namun di dalam mobil pribadi yang hanya berisi Nayra dan Arga, ada perasaan lain yang lebih dalam, lebih lembut, dan lebih menyatukan dua jiwa itu.

Nayra duduk di samping Arga, wajahnya masih bersinar terang sisa kebahagiaan dan rasa haru tadi. Matanya yang indah menatap lurus ke depan, namun jantungnya berdegup pelan namun kencang. Ada rasa gugup yang manis, ada rasa malu yang menyenangkan, dan ada rasa kesiapan yang utuh di hatinya. Selama ini, meskipun mereka sudah tidur satu kamar, sudah saling mencintai, sudah saling memeluk dan menyayangi... hubungan mereka masih bersih, masih suci, masih menunggu waktu yang tepat. Arga selalu menjaganya dengan sangat baik, selalu menghargainya, tidak pernah sedikit pun memaksa atau menuntut haknya sebagai seorang suami. Arga bilang dia ingin menunggu sampai Nayra SIAP DENGAN SENDIRINYA, sampai Nayra merasa dirinya pantas, merasa bahagia, dan merasa utuh sepenuhnya.

Dan malam ini... Nayra merasa dirinya sudah utuh sempurna. Dia sudah cantik, dia sudah dihormati, dia sudah dicintai, dia sudah membuktikan segalanya. Tidak ada lagi rasa minder, tidak ada lagi rasa rendah diri. Hanya ada Nayra yang seutuhnya, berdiri tegak sebagai wanita, sebagai istri, dan sebagai pasangan setara bagi Arga.

Arga yang menyadari istrinya diam dan tampak gugup, perlahan mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, menggenggam jemari mungil Nayra. Dia menatap istrinya dengan senyum lembut dan penuh kasih sayang.

"Kenapa diam saja, Sayang?" bisik Arga pelan, ibu jarinya mengusap punggung tangan Nayra dengan lembut menenangkan. "Masih memikirkan kata-kata indahmu di panggung tadi? Kau tahu tidak, saat kau bicara tadi... aku merasa aku adalah pria paling beruntung yang hidup di dunia ini. Punya istri secantik, secerdas, dan semulia kamu."

Nayra menoleh perlahan, menatap manik mata Arga yang begitu dalam dan tampan itu. Pipi cantiknya memerah merona indah diterangi cahaya lampu jalan yang lewat di luar kaca mobil. Dia menggeleng pelan, lalu menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberaniannya.

"Bukan itu, Arga..." jawab Nayra dengan suara lirih namun jelas, matanya menatap lurus ke mata suaminya tanpa berkedip. "Aku memikirkan kita. Memikirkan perjalanan kita yang panjang sekali. Dulu aku merasa aku ini tidak ada apa-apanya buatmu. Aku merasa aku beban, aku aib, aku wanita yang jelek dan tidak pantas menyentuhmu. Makanya dulu... aku selalu menolak, selalu menghindar, selalu merasa belum pantas untuk menjadi istrimu yang sesungguhnya."

Arga mengerutkan kening sedikit, mendengarkan dengan saksama, genggamannya di tangan Nayra makin erat dan lembut.

"Tapi sekarang, Arga..." lanjut Nayra, bibirnya sedikit gemetar karena rasa malu bercampur bahagia. "Sekarang semuanya sudah berbeda. Aku sudah berubah. Aku sudah cantik, aku sudah punya harga diri, aku sudah diakui semua orang... dan yang paling penting: Aku sudah merasa pantas berdiri di sampingmu. Aku sudah merasa siap sepenuhnya menyerahkan diriku seutuhnya untukmu."

Jantung Arga seolah berhenti berdetak sejenak mendengar kalimat itu. Matanya membelalak sedikit, tatapannya berubah menjadi tatapan penuh rasa ingin tahu, rasa haru, dan rasa bahagia yang meledak di dada. Dia paham betul apa maksud ucapan istrinya itu. Selama ini dia menunggu momen ini dengan sabar, menunggu sampai Nayra sendiri yang mengatakannya. Dan malam ini... momen itu akhirnya tiba.

"Kau... serius, Sayang?" tanya Arga parau, suaranya berubah lebih berat dan lebih lembut. Dia mendekatkan wajahnya, menatap lekat-lekat wajah cantik istrinya, memastikan dia tidak salah dengar. "Kau benar-benar sudah siap? Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa ragu lagi?"

Nayra mengangguk kuat-kuat, air mata bahagia mulai menggenang di matanya, tapi bibirnya tersenyum indah sekali.

"Siap, Arga. Aku sudah siap. Malam ini... aku ingin melaksanakan kewajibanku sebagai istrimu yang sesungguhnya. Aku ingin malam ini menjadi malam pertama kita, malam di mana kita menyatukan jiwa dan raga sepenuhnya. Karena aku milikmu, Arga... selamanya hanya milikmu."

Mobil mewah itu akhirnya sampai di halaman kediaman besar mereka. Begitu mobil berhenti dan pintu dibuka, Arga tidak menunggu lama. Dia langsung mengangkat tubuh Nayra mendadak ke dalam gendongannya, menggendong istrinya seperti putri raja, membawanya masuk ke dalam rumah, melewati lorong-lorong rumah yang hening, menuju ke kamar tidur utama mereka.

Para pelayan yang kebetulan melihat hanya bisa tersenyum malu-malu dan bahagia melihat tuannya begitu mencintai istrinya. Mereka tahu, malam ini adalah malam yang sangat istimewa bagi tuan dan nyonya mereka.

Sesampainya di dalam kamar yang luas, mewah, dan hangat itu, Arga meletakkan Nayra perlahan di atas tempat tidur besar yang empuk. Dia tidak langsung mendekat. Dia berdiri di sisi tempat tidur, menatap Nayra dengan pandangan yang begitu lekat, begitu penuh cinta, dan begitu penuh rasa syukur. Cahaya lampu kamar yang remang dan berwarna keemasan membuat wajah Nayra tampak makin bercahaya, makin cantik, dan makin mempesona bak bidadari sejati.

"Ya Tuhan..." bisik Arga parau, matanya tak lepas menelusuri setiap inci wajah dan tubuh indah istrinya yang kini terbuka penuh di hadapannya. "Kau begitu indah, Nayra. Begitu sempurna. Aku sudah menunggu lama sekali untuk momen ini. Aku berjanji... aku akan menjagamu, aku akan menyayangimu, dan aku akan membuat malam ini menjadi kenangan terindah seumur hidup kita."

Arga perlahan mendekat, berlutut di sisi tempat tidur, lalu menggenggam kedua tangan Nayra dan mencium punggung tangannya dengan penuh penghormatan dan kasih sayang.

"Makasih ya, Sayang..." bisik Arga dengan suara bergetar karena emosi yang meluap. "Makasih sudah berjuang, makasih sudah berubah, makasih sudah bertahan, dan makasih sudah menyerahkan dirimu untukku. Aku tidak tahu apa yang sudah kulakukan di masa lalu sampai Tuhan mengirimkan wanita seindah dan sebaik kamu untukku."

Nayra tersenyum haru, tangannya yang gemetar perlahan menyentuh pipi tampan suaminya, mengusapnya dengan penuh cinta. "Jangan bilang begitu, Arga. Kamu yang terbaik buatku. Kamu yang sabar, kamu yang percaya, kamu yang mendukungku sampai aku jadi seperti sekarang. Semua kebahagiaanku ini karena kamu."

Perlahan namun pasti, jarak di antara mereka pun hilang. Arga naik ke atas tempat tidur, mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka saling bersentuhan. Napas mereka bercampur menjadi satu, hangat dan penuh rasa cinta yang membara namun tetap lembut dan suci.

Malam itu, di bawah langit yang penuh bintang dan di dalam kamar yang penuh kehangatan itu, akhirnya mereka melaksanakan apa yang seharusnya sudah menjadi hak dan kewajiban mereka sejak lama. Tidak ada paksaan, tidak ada rasa canggung, tidak ada rasa takut. Yang ada hanya rasa cinta yang begitu besar, rasa rindu yang terpendam lama, rasa saling memiliki, dan rasa bahagia yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Arga memperlakukan Nayra dengan sangat lembut, sangat hati-hati, dan sangat penuh kasih sayang. Dia memanjakan istrinya, dia memuji setiap keindahan yang ada pada diri Nayra, dia membuat Nayra merasa menjadi wanita paling istimewa, paling dicintai, dan paling berharga di seluruh dunia. Di pelukan Arga, Nayra merasa aman, merasa tenang, merasa lengkap, dan merasa bahagia luar biasa. Semua rasa sakit hati, semua air mata masa lalu, semua penghinaan yang pernah dia terima... lenyap sudah digantikan oleh kebahagiaan sempurna yang dia rasakan malam ini.

Di saat yang sama, Nayra pun memberikan seluruh dirinya dengan tulus, penuh kasih, dan penuh kesiapan. Dia menyerahkan jiwa dan raganya sepenuhnya kepada suaminya tercinta, pria yang dulu dia impikan, pria yang dulu tidak memandangnya, tapi kini menjadi pria yang rela berlutut dan memuja-mujanya.

Malam itu adalah malam pertama mereka yang sesungguhnya, malam penyatuan dua jiwa yang sudah saling berjuang, saling menunggu, dan saling mencintai melewati segala rintangan. Malam di mana status Nayra sebagai istri Arga Pradipta menjadi sempurna seutuhnya.

Menjelang pagi, saat cahaya fajar mulai menyelinap masuk perlahan lewat celah tirai jendela, Nayra terbangun perlahan. Dia sadar dirinya terbaring nyaman di atas dada bidang Arga, terbungkus erat dalam pelukan hangat suaminya yang tidur pulas sambil tersenyum damai. Lengan kekar Arga melingkar erat di tubuhnya, seolah takut wanita itu akan hilang atau pergi ke mana pun.

Nayra mengangkat wajahnya perlahan, menatap wajah Arga yang tertidur damai itu dengan senyum bahagia yang tak pernah hilang dari bibirnya. Dia mengusap wajah suaminya pelan, penuh rasa cinta dan rasa syukur yang mendalam.

"Sekarang aku benar-benar milikmu sepenuhnya, Arga..." bisik Nayra pelan, matanya berbinar bahagia. "Malam ini adalah malam terindah dalam hidupku. Aku tidak akan pernah menyesal berjuang keras mengubah diriku. Karena hasilnya... aku mendapatkanmu sepenuhnya, dan kebahagiaan yang sempurna seperti ini."

Arga yang ternyata sudah terjaga sedikit, perlahan membuka matanya dan tersenyum lebar saat melihat istrinya sudah bangun dan menatapnya penuh cinta. Dia mempererat pelukannya, mencium kening Nayra lama dan lembut.

"Selamat pagi, istriku tercinta..." sapa Arga dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar begitu seksi dan penuh kasih. "Selamat pagi, wanitaku yang sempurna. Mulai hari ini, tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita. Kita sudah menjadi satu jiwa dan raga selamanya. Aku berjanji... sisa hidupku akan kuhabiskan untuk membuatmu bahagia, untuk menjagamu, dan untuk mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini."

Nayra tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya kembali di dada suaminya, mendengarkan detak jantung Arga yang berirama sama dengan detak jantungnya sendiri.

Perjalanan panjang mereka sudah berlalu. Dari rasa benci, rasa acuh, rasa rendah diri, penghinaan, perjuangan berat, perubahan diri, cinta yang tumbuh, sampai akhirnya mencapai puncak kebahagiaan yang paling indah dan sempurna ini. Nayra Pradipta, wanita yang dulu dihina karena gemuk dan dianggap tidak berguna, kini hidup bahagia penuh cinta, dihormati semua orang, dicintai mati-matian oleh suaminya, dan menjadi wanita paling beruntung serta paling bahagia di dunia ini.

Dan kisah mereka menjadi legenda abadi: Bahwa cinta sejati dan perjuangan keras akan selalu berakhir dengan kebahagiaan yang paling indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!