Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Riak di Jagat Maya
Cassian Noir tidak pernah mengambil keputusan berdasarkan dorongan emosi semata. Setiap langkahnya adalah kalkulasi murni.
Sore itu, setelah tiba di mansion The Bridle Path, Cassian memutuskan untuk menempatkan Aisya di kamar tamu premium sayap timur yang terpisah dari area privasinya. Bagi Cassian, menyeret seorang gadis naif yang mengenakan niqab ke atas podium Gala Dinner besok malam yang dipenuhi ratusan lampu kilat paparazzi bukanlah gayanya. Itu terlalu dramatis dan tidak efisien untuk ukuran pria korporat sepertinya.
Ia tidak membutuhkan kehadiran fisik Aisya di sana. Yang ia butuhkan hanyalah kekuatan hukum yang mengikat.
"Tuan, akta pernikahan sipil dari Catatan Sipil Ontario dan sertifikat dari Islamic Centre sudah dilegalisasi oleh tim hukum kita," ujar Kevin, meletakkan sebuah map kulit hitam eksklusif di atas meja kerja Cassian. "Kedua dokumen ini sudah ditandatangani secara sah oleh Anda dan Nona Aisya Manik Sulayman siang tadi. Secara hukum, hak veto warisan Anda atas Noir Enterprises sudah aktif dan tidak bisa diganggu gugat lagi oleh Tuan Alexander."
Cassian membuka map tersebut, menatap guratan tanda tangan Aisya yang rapi di samping tanda tangannya sendiri. Sebuah senyuman dingin terukir di wajahnya. "Simpan dokumen ini di dalam safe deposit box utama. Besok malam, cukup tampilkan pindaian dokumen ini di layar utama aula saat Alexander dan Rebecca mulai membacakan pidato aliansi mereka. Itu sudah lebih dari cukup untuk mengunci kemenangan kita dalam satu detik."
Bagi Cassian, misi mengamankan takhtanya sudah selesai. Papan catur telah dikunci, dan bidak bernama Aisya telah menjalankan tugasnya dengan sempurna tanpa gadis itu menyadari apa pun. Cassian menganggap Aisya sangat mudah disetir dan dibohongi; gadis itu begitu percaya pada ketulusan palsunya hanya karena ia berpura-pura bersujud kemarin. Padahal, ia menjadi mualaf murni demi selembar sertifikat resmi, bukan karena iman.
Namun, Cassian Noir yang genius melupakan satu hal: duniaku yang dikelilingi algoritma digital bergerak jauh lebih liar dan instan daripada sistem keamanan korporat mana pun.
Di tempat lain, di dalam sedan mewah miliknya yang sedang terjebak di kemacetan pusat kota Toronto, Rebecca Winston sedang menatap layar ponselnya dengan napas yang memburu cepat. Kemarahannya yang tertahan sejak pagi kini telah berubah menjadi sebuah syok yang luar biasa besar.
"Tidak mungkin..." bisik Rebecca, kukunya yang di-manikur mahal mencengkeram pinggiran ponsel hingga memutih.
Aplikasi Instagram di hadapannya sedang menampilkan sebuah video reels yang diunggah oleh sebuah akun komunitas muslim lokal di Toronto sekitar tiga puluh menit yang lalu. Video itu diambil secara diam-diam oleh salah satu pengunjung lewat ponsel pintar kemarin siang, dan kini telah ditonton oleh ratusan ribu orang, menjadi FYP dan viral dengan sangat cepat di jagat maya Kanada.
Dalam video berdurasi singkat namun beresolusi tinggi itu, terlihat jelas sosok pria berbadan tegap yang sangat dikenali Rebecca. Cassian Noir. Pria yang selama ini terkenal dingin, sinis, dan tidak tersentuh oleh dogma apa pun, kini sedang duduk bersila dengan kening berkerut serius di atas karpet masjid. Di hadapannya, Imam Abdulaziz sedang menunjuk sebuah buku kecil, dan Cassian terlihat menggerakkan bibirnya, dengan patuh menirukan pelafalan kata dengan kaku namun bersungguh-sungguh.
Judul unggahan dengan font estetik kekinian itu tertulis jelas:
"BILLIONAIRE CASSIAN NOIR SPOTTED LEARNING RECITING IN TORONTO ISLAMIC CENTRE! HAS THE HEIR OF NOIR ENTERPRISES CONVERTED?!"
Kolom komentar di bawahnya langsung meledak. Mulai dari spekulasi publik, analisis saham Noir Enterprises yang mendadak berfluktuasi, hingga ribuan netizen yang membuat teori konspirasi di TikTok dan Twitter (X).
Rebecca merasakan kepalanya berputar hebat. Detak jantungnya berpacu liar digerogoti rasa murka dan penghinaan yang amat sangat. Pria yang pagi ini mengabaikan panggilan teleponnya, pria yang menolak aliansi keluarga Winston, ternyata sedang merendahkan dirinya di sebuah institusi keagamaan pinggiran kota.
"Cassian..." desis Rebecca, suaranya melengking tajam di dalam mobil yang sunyi. Matanya berkilat penuh dendam saat melihat video itu berulang kali. "Kau membatalkan rapat penting kita, mengabaikan ayahmu, hanya untuk berlutut di tempat itu?! Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?!"
Rebecca langsung menekan tombol panggilan cepat ke nomor Alexander Noir. Begitu panggilan tersambung, ia bahkan tidak memberi kesempatan bagi ayah Cassian untuk menyapa.
"Alexander! Buka Instagram-mu sekarang juga!" tergah Rebecca histeris, air mata kemarahan mulai merusak riasan matanya. "Putra mahkotamu yang agung... dia baru saja membuat gempar seluruh negeri dengan video mualafnya! Cari tahu apa yang dia lakukan di masjid itu sekarang juga, sebelum aliansi bisnis kita hancur berantakan karena skandal ini!"
Kemarahan Rebecca Winston tidak mereda sedikit pun setelah sambungan teleponnya dengan Alexander Noir diputus secara sepihak. Mobil Porsche Taycan merah miliknya membelah jalanan sibuk pusat kota Toronto dengan kecepatan tinggi, mencerminkan isi kepalanya yang sedang dilanda gempa tektonik.
PenjElasan Alexander di telepon bahwa Cassian mungkin hanya "bermain-main dengan egonya" sama sekali tidak memuaskan insting tajam Rebecca. Sebagai wanita yang tumbuh di lingkaran elit yang penuh dengan intrik sikut-menyikut, ia tahu betul bahwa Cassian Noir bukanlah pria impulsif yang akan membuang waktu di sebuah institusi keagamaan pinggiran kota tanpa rencana yang matang. Ada sesuatu yang busuk yang sedang disembunyikan di balik video viral tersebut.
Bukannya kembali ke rumah keluarga Winston di kawasan mewah Rosedale, Rebecca memutar kemudinya menuju sebuah kondominium penthouse eksklusif di King Street West—sebuah properti rahasia atas nama perusahaan cangkang miliknya yang tidak pernah diketahui oleh publik maupun media.
Begitu pintu akses privat penthouse terbuka, suasana ruangan yang temaram langsung menyambutnya. Di dekat bar pribadi, seorang pria berbadan tegap dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka sedang berdiri tenang, memutar-mutar gelas berisi wiski.
Dia adalah Julian Vance, wakil direktur operasional di Noir Enterprises. Lebih dari sekadar eksekutif bertangan dingin, Julian adalah orang nomor dua di perusahaan sekaligus pria yang diam-diam berbagi ranjang dengan Rebecca di balik bayang-bayang rencana pertunangan paksanya dengan Cassian Noir.
"Kau terlihat sangat berantakan, Babe," ujar Julian dengan nada malas yang seksi, berjalan mendekati Rebecca lalu menyerahkan satu gelas wiski kepadanya. "Kulihat video viral calon suamimu benar-benar merusak harimu."
Rebecca menerima gelas itu, meneguknya kasar hingga tenggorokannya terasa terbakar, lalu menghempaskan tas desainer mahalnya ke atas sofa kulit. "Alexander menganggap remeh hal ini! Dia pikir Cassian hanya sedang mencari perhatian publik. Tapi aku tahu Cassian, Julian! Pria sedingin es itu tidak akan pernah berlutut di atas karpet masjid dan mengeja kata-kata asing jika tidak ada keuntungan besar yang sedang dia incar!"
Julian terkekeh rendah, mengambil tempat di samping Rebecca lalu melingkarkan lengan kokohnya di sekeliling bahu wanita itu. Aroma parfum maskulin Julian yang familier perlahan meredakan ketegangan di bahu Rebecca.
"Lalu apa teorimu? Apakah si genius Cassian tiba-tiba mendapatkan hidayah religius sebelum gala dinner besok malam?" tanya Julian dengan nada sarkasme yang kental.
"Jangan bercanda, Julian! Ini serius!" Rebecca berbalik, menatap langsung ke dalam manik mata Julian dengan tatapan tajam. "Cassian sedang membangun zirah. Dia sengaja mematikan enkripsi GPS mobilnya hari ini dan mengosongkan jadwal. Sesuatu yang besar sedang terjadi di belakang kita, dan jika itu sampai mengacaukan pengumuman merger keluarga kita besok malam, kita semua akan hancur."
Jemari Julian bergerak perlahan, mengelus rahang Rebecca dengan lembut, mencoba menenangkan wanita yang sedang berapi-api itu. Sisi kompetitif Julian sebagai orang nomor dua yang selalu berada di bawah bayang-bayang Cassian mendadak tersulut. Jika mereka bisa menemukan kartu as yang sedang disembunyikan Cassian sebelum podium esok malam, situasi bisa berbalik sepenuhnya.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku?" bisik Julian, matanya menyipit penuh intrik.
"Gunakan jaringanmu di dalam kantor pusat. Selidiki pergerakan Kevin sepanjang hari ini," perintah Rebecca tegas. "Di mana pun sekretaris sialan itu berada, di situ rahasia Cassian disimpan. Periksa apakah ada mutasi rekening taktis atau dokumen sipil terenkripsi yang keluar dari sistem hukum perusahaan dalam tiga hari terakhir. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di Islamic Centre itu."
Julian terdiam sejenak, menatap cairan amber di dalam gelasnya sebelum senyuman licik terukir di wajah tampannya. "Baiklah. Aku akan mengerahkan orang-orangku malam ini untuk memeriksa setiap jengkal pergerakan Kevin. Kita lihat, apakah Cassian benar-benar sedang menyiapkan kejutan atau hanya sekadar menggali kuburannya sendiri."
Julian memajukan wajahnya, merapatkan jarak di antara mereka hingga napasnya yang hangat menerpa bibir Rebecca. "Tapi untuk beberapa jam ke depan... lupakan dulu tentang Cassian Noir."
Rebecca menatap sepasang mata Julian, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan pria yang jauh lebih bisa ia kendalikan ketimbang sosok Cassian yang tak tersentuh. Di dalam keheningan kondominium mewah itu, sebuah persekutuan gelap yang sarat akan gairah, ambisi, dan pengkhianatan terus bergulir, bersiap menyambut badai besar yang akan diledakkan di bawah lampu kristal gala dinner esok malam.
semangat jg buat author nya 😍
di tunggu kelanjutannya Thor 😍
tegas dan bertanggung jawab
lanjut thor😍