NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Mencoba Mengintimidasi

Ponsel di atas meja kerja Shanaya bergetar liar, menggeser tumpukan sampel kain sutra yang baru saja ia periksa. Nama Alvian berkedip di layar. Shanaya membiarkan getaran itu berlangsung sepuluh detik, sengaja membiarkan pria di seberang sana menelan kecemasannya sendiri, sebelum akhirnya menekan tombol hijau.

"Pagi, Al." Shanaya menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Suaranya datar, tanpa emosi yang meluap.

"Udah baca koran ekonomi hari ini?" Suara Alvian terdengar berusaha tenang, tapi ada nada tajam yang gagal ia sembunyikan. "Foto kamu sama Steven Aditya di halaman tiga itu... nggak terlalu dekat ya posisinya? Kenapa aku baru tahu kamu ke Aditya Tower kemarin pagi?"

Shanaya memutar pena peraknya. "Itu jabat tangan bisnis, Al. Bukan sesi foto prewedding. Lagian, bukannya kamu juga ke sana siang harinya? Sayang banget ya, kita nggak papasan di lobi."

Hening sejenak di seberang sana. Shanaya tahu persis sindirannya baru saja mendarat telak di ego Alvian.

"Maksud kamu apa sih, Nay? Aku ke sana buat urusan korporat, buat nyelamatin nama Kesuma Group yang lagi berantakan gara-gara Anastasia."

"Oh, ya? Tapi Steven bilang proposal kamu ditolak." Shanaya membuang napas pendek, pura-pura bosan. "Dia bilang wajah kamu... Tidak menjual buat rating stasiun televisinya."

"Shanaya!" Suara Alvian meninggi, retakan di topeng ksatria pelindungnya mulai terlihat jelas. "Kamu nggak harus ngomong kayak gitu. Aku ini calon suami kamu. Kenapa kamu malah dukung orang asing kayak Steven?"

"Karena orang asing itu kasih aku kontrak kerjasama dengan bagi hasil lima puluh persen kendali narasi. Hal yang kamu nggak bisa dapetin kemarin." Shanaya mengetuk meja dengan ujung kuku. "Dah ya, aku ada rapat direksi. Kita ngobrol nanti malam kalau kamu udah nggak emosional gini."

Shanaya memutus sambungan telepon. Ia tahu, dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, Alvian pasti akan muncul di depan pintu kantornya. Pria itu tidak akan membiarkan kendalinya terlepas begitu saja, apalagi jika menyangkut Steven Aditya.

Benar saja. Belum sempat Shanaya menyelesaikan draf anggaran produksi, pintu ruang kerjanya terbuka kasar tanpa ketukan.

Alvian berdiri di sana. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi sedikit berantakan. Ia melangkah masuk, menutup pintu dengan bunyi debum yang cukup keras untuk membuat asisten Shanaya di luar terlonjak.

"Maksud kamu apa bicara kayak gitu di telepon tadi?" Alvian berdiri di depan meja Shanaya, kedua tangannya bertumpu di atas permukaan kayu mahoni. Ia mencondongkan tubuh, mencoba mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang lebih tinggi. "Kamu kerja sama sama Steven tanpa diskusi sama aku? Kamu tahu kan dia itu predator media? Dia bisa hancurin kamu dalam satu malam kalau dia mau."

Shanaya tidak berkedip. Ia justru menutup laptopnya perlahan, lalu menatap Alvian dengan sorot mata yang membuat pria itu sedikit mundur. "Dia emang predator, Al. Tapi setidaknya dia jujur sama niatnya. Dia mau rating, aku mau panggung. Transaksi yang adil."

"Nggak ada yang adil kalau urusannya sama Steven Aditya!" Alvian mengibaskan tangannya frustrasi. "Kamu pikir kenapa dia mau kasih kamu lima puluh persen kendali narasi? Dia itu suka sama kamu, Nay. Dia mau manfaatin posisi kamu buat masuk ke lingkaran dalam Kesuma Group."

Shanaya tertawa tipis. "Cemburu, Al? Atau kamu takut posisi pahlawan yang kamu bangun susah payah itu kegeser sama orang yang punya power asli?"

"Aku nggak cemburu! Aku cuma mikirin reputasi kamu!" Alvian membela diri dengan suara yang terlalu keras. "Publik bakal mikir apa kalau lihat kamu deket sama pria kayak dia? Skandal Anastasia aja belum beres, sekarang kamu mau nambahin bumbu rumor perselingkuhan?"

"Rumor itu cuma bakal ada kalau kamu yang bocorin ke media, kan?" Shanaya berdiri. Ia berjalan mengitari meja, berhenti tepat di depan Alvian. "Kamu yang paling tahu cara goreng berita, Al. Kayak foto kita di koran pagi ini. Takarirnya... simbol kekuatan? Kita bahkan belum tunangan secara resmi, tapi kamu udah jualan narasi itu ke publik."

Wajah Alvian memucat sepersekian detik. "Itu buat nyelamatin saham keluarga kamu, Nay! Harusnya kamu terima kasih!"

"Terima kasih?" Shanaya maju satu langkah, memaksa Alvian mundur hingga pinggulnya menabrak meja. "Terima kasih karena kamu bikin aku kelihatan kayak wanita lemah yang butuh perlindungan kamu? Aku lebih suka narasi yang aku bangun sama Steven. Di sana, aku berdiri sebagai pemilik perusahaan, bukan sekadar dekorasi di samping kamu."

Alvian terdiam. Napasnya memburu. Matanya menatap Shanaya dengan campuran antara amarah dan ketakutan yang tersamar. Ia baru menyadari kalau wanita di depannya ini bukan lagi Shanaya yang bisa ia jinakkan dengan kata-kata manis atau pelukan protektif.

"Nay, kamu berubah," bisik Alvian, mencoba mengubah taktik kembali ke mode manipulasi lembut. Ia mencoba meraih tangan Shanaya. "Mana Shanaya yang dulu selalu cerita apa pun ke aku? Mana Shanaya yang percaya kalau aku bakal jagain dia dari dunia yang jahat?"

Shanaya menarik tangannya sebelum jemari Alvian menyentuh kulitnya. "Shanaya yang itu udah mati, Al. Mati bareng sama semua janji palsu kamu."

"Janji palsu apa sih? Aku selalu ada buat kamu!"

"Termasuk waktu kamu diem-diem ketemu sama vendor kain sintetis itu?" Shanaya melempar umpan pertama. "Atau waktu kamu coba hubungin tim legal buat cek struktur kepemilikan saham Mama tanpa sepengetahuan aku?"

Alvian mematung. Jakunnya bergerak naik turun dengan cepat. "Aku... aku cuma mau pastiin semuanya aman kalau sewaktu-waktu ada serangan dari pihak luar."

"Alibi yang bagus." Shanaya kembali ke kursi kerjanya, seolah pembicaraan itu sudah tidak menarik lagi. "Sekarang kamu mending keluar. Aku punya banyak kerjaan yang jauh lebih penting daripada dengerin rasa insecure kamu soal Steven."

"Ini belum selesai, Nay." Alvian merapikan jasnya dengan gerakan kaku. "Aku bakal buktiin kalau Steven itu cuma mau manfaatin kamu. Dan waktu itu terjadi, jangan nangis minta tolong ke aku."

"Nggak akan, Al. Justru aku yang khawatir sama kamu." Shanaya tersenyum manis, senyum yang mengirimkan sinyal bahaya ke saraf Alvian. "Hati-hati di jalan ya. Jangan sampai nabrak gara-gara kepikiran foto di koran tadi."

Alvian mendengus kasar lalu keluar dari ruangan, membanting pintu lebih keras dari sebelumnya.

Begitu ruangan itu kembali sunyi, Shanaya membuang napas panjang. Ia meraih ponselnya, melihat notifikasi yang masuk. Sebuah pesan dari Mira, reporter Kanal Satu.

Nona, Alvian baru saja hubungin redaktur pelaksana kami. Dia coba minta rekaman mentah pertemuan Anda sama Pak Steven kemarin. Tapi Pak Steven udah blokir semua aksesnya.

Shanaya mengetik balasan pendek: Biarkan dia terus berusaha. Semakin dia panik, semakin banyak jejak yang dia tinggalin.

Ia meletakkan ponselnya, lalu membuka laci meja kerjanya. Di sana, ada dua folder fisik yang tertata rapi.

Folder pertama, berwarna merah tua, berisi semua bukti kejahatan Alvian yang sudah ia kumpulkan selama dua minggu ini. Catatan utang judi, aliran dana fiktif, hingga rekaman suara Anastasia yang mengonfirmasi keterlibatan Alvian dalam skandal plagiat. Folder ini adalah bom waktu yang tinggal menunggu detik untuk diledakkan.

Folder kedua, berwarna perak metalik, berisi rencana bisnis barunya. Strategi rebranding Kesuma Mode, kontrak kerjasama dengan para pengrajin sutra lokal, dan skema investasi digital yang ia diskusikan dengan Steven. Ini adalah fondasi masa depannya.

Shanaya menatap kedua folder itu bergantian. Jari-jarinya mengusap permukaan folder perak. Menghancurkan Alvian itu mudah, tapi membangun kembali reruntuhan yang ditinggalkan pria itu adalah tantangan sesungguhnya.

Ia tahu Alvian tidak akan tinggal diam. Pria itu patriarkal sampai ke tulang. Baginya, kesuksesan Shanaya tanpa campur tangannya adalah sebuah penghinaan. Alvian akan mulai bergerak lebih agresif sekarang, mungkin melalui Anastasia atau lewat jalur direksi yang masih bisa ia suap.

Tapi Shanaya sudah siap. Ia justru butuh Alvian melakukan kesalahan besar. Kesalahan yang dipicu oleh kecemburuan dan rasa haus akan kekuasaan. Karena hanya dengan begitu, ia bisa menyingkirkan Alvian secara permanen dari hidupnya tanpa sisa.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!