Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Tung.
Tung.
Bel pulang sekolah berbunyi. Sekolah yang tadinya hening langsung berubah jadi arus manusia yang tumpah ke lorong. Murid-murid berhamburan keluar kelas seperti tahanan yang baru dibebaskan, sementara para guru menghela napas lega, seolah baru lolos dari ujian kesabaran tingkat dewa.
Setelah drama di UKS, Narisa akhirnya kembali ke kelas dijemput Putri. Bukan disambut hangat, tapi disambut omelan panjang karena ditinggal bolos.
"Put, nebeng ya," kata Narisa santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Oke," sahut dua suara bersamaan.
Narisa langsung menoleh. "Putra. Putra."
Putri mendengus. "Yang jelas napa."
Putra yang sudah berdiri sambil memanggul ransel mengangkat bahu santai. "Lo tumben gak sama si Cakra."
Narisa mengibaskan tangan. "Dia chat tadi katanya masih ada urusan sama anak basket,"
"Oh,"
Putri langsung menyikut lengan Narisa. "Diomelin gak lo?"
Narisa memutar mata. "Dia bilang, 'aku liat kamu di lapangan kayak jemuran. Abis ngapain lagi?' Nah, bingung gak lo?"
"Gak bingung sih," kata Putri santai. "Itu udah kode,"
"Paling bentar lagi lo diputusin," timpal Fahri dari belakang tanpa dosa.
Narisa langsung mendelik. "Bacot lo."
Tanpa nunggu balasan, dia menyambar tasnya dan keluar kelas duluan. Langkahnya cepat, tapi tiba-tiba melambat saat otaknya memutar ulang satu hal.
Toilet lantai tiga.
"Lo kenapa?" tanya Fahri yang menyusul.
Narisa menyibak rambut panjangnya dengan malas. "Gak ada, Gak penting."
Dan seperti biasa, hal yang 'gak penting' itu langsung dia buang jauh-jauh. Dia menuruni tangga tanpa beban, seolah hukuman tadi cuma angin lewat.
Sampai di parkiran, matanya menyapu sekitar. Tidak ada kara. Tidak ada Harum. Wajar. Jadwal mereka latihan basket.
Narisa langsung duduk di boncengan motor Putra.
"Biarin aja tuh dua anak bersihin toilet," gumamnya santai.
Putra menoleh sedikit sambil memundurkan motor.
"Lo kenapa sih? Dari tadi aneh,"
"Gak ada," jawab Narisa cepat. "Mood gw lagi bagus aja."
Dan mungkin memang begitu. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang aneh. Sampai akhirnya motor berhenti di depan rumah. Narisa turun, lalu langsung terdiam.
Di sana, terparkir satu mobil baru. Mengilap. Bersih. Mencolok seperti benda asing yang nyasar ke lingkungan sederhana.
Narisa melongo. Jangan-jangan.. mobil calon suami gw.
"Eh, udah pulang anak cantik mama."
Narisa menoleh. Nuri muncul dari balik mobil dengan senyum yang terlalu lebar untuk ukuran manusia normal. Tangannya sibuk mengelus body mobil seperti sedang mengelus anak sendiri.
Narisa bukannya menyapa, malah makin bengong.
"Mobil baru, Tante?" tanya Putra sambil melirik.
"Iya nih, Put," jawab Nuri bangga. "Lagi dapet rezeki nomplok."
"Wuidih," Putra bersiul. "Udak kaya lo sekarang, Nar."
Narisa langsung menoleh tajam. Bukan tersinggung. Tapi curiga.
"Ini mobil titipan," katanya datar.
"Eh?"
"Mau mampir makan dulu, Put?" tawar Nuri basa- basi. "Tante masak tempe."
Putra langsung cengengesan, " Gak deh, Tante. Di rumah mama saya masak ayam."
Narisa langsung menendang ringan body motor. "Dih, anj-cabut lo sana!"
Putra tertawa lepas, putar balik, lalu tancap gas tanpa rasa bersalah.
Nuri menggeleng. "Temen kamu gak ada yang waras, Risa, "
"Lah, emang-"
Kalimat Narisa terputus karena Nuri sudah kembali sibuk dengan mobilnya. Kemoceng di tangannya bergerak penuh cinta.
"Mobil dari bos papa, ma?"
"Iya," jawab Nuri santai. "Nanti malem kita makan sama Pak Bramantyo."
Narisa mendengus. Tanpa komentar, dia masuk ke dalam rumah. kepalanya langsung panas setiap ingat perjodohan absurd itu.
Memangnya ada manusia yang kurang kerjaan sampai segitunya?
Setelah menutup pintu kamar, tas langsung dibanting. Seragam dilepas asal. Di depan cermin meja rias, Narisa sempat berhenti dan menatap dirinya sendiri.
"Dada gw mantep sih," gumamnya. "Tapi masa iya buat si Santen. Harusnya buat si Cakra dong."
Dia mendecak kesal, lalu mengambil kaos rumah dari lemari. "Lagian dia cewek," lanjutnya sambil ganti baju. "Ya kali mata si Bramantyo siwer."
Gerakannya tiba-tiba berhenti.
"Jangan- jangan." matanya membelalak. "Dia gay."
Narisa langsung menggeleng cepat.
"Gak penting."
Dia keluar kamar menuju dapur. Begitu membuka tudung saji.. sunyi. Di dalamnya hanya ada satu telur mata sapi dan sedikit nasi goreng. Sisa sarapan yang bahkan tidak berniat disembunyikan. Tempe yang disebutkan Nuri tadi bahkan tidak terlihat batang kedelainya.
Narisa memejamkan mata. Menarik napas. Menghembuskan. Diulang sampai sepuluh kali.
Nuri muncul dari samping dengan senyum dan kemoceng yang masih setia.
"Ma," kata Narisa pelan. Sangat pelan, "Aku laper"
"Oh iya!" Nuri menepuk dahi. "Mama sampe lupa masak,"
Narisa duduk perlahan. Tiba-tiba lemas.
"Tadi udah niat," lanjut Nuri sambil membuka kulkas, "Eh, ada yang nganter mobil."
Narisa diam, menatap kosong.
"Nasi ada sih. Mama bikinin yang simpel ya."
Narisa mengangkat kepala sedikit. "Apa?"
"Nasi goreng."
"Lah, tadi pagi kan udah, ma."
"Oh iya juga," Nuri berpikir dua detik. "Yaudah, tumis pare aja."
Narisa langsung mendengus. Sejak kapan dia suka pare? Dia mulai merasa ibunya sedang mabuk mobil baru.
"Minta duit aja, ma. Aku mau beli pret ciken,"
Nuri langsung merogoh kantong daster dan mengeluarkan selembar lima ribu. Narisa menatap uang itu lama.
"Mana cukup, ma."
"Kamu beli cekernya aja. Yang penting kan ada tepungnya."
"Ma... mama dapet mobil itu berkat aku loh." Wajah Narisa makin datar. "Tega mama nyuruh aku makan ceker tepung doang?"
Hening dua detik. Nuri akhirnya menghela napas, lalu mengeluarkan selembar dua puluh ribu lagi.
"Udah, pergi sana. Mama bikinin sambelnya. Mama juga belum makan,"
Narisa memutar mata, tapi tetap mengambil uang itu. Dia keluar rumah lagi. Langkahnya santai, tapi pikirannya tidak. Saat melewati halaman, matanya kembali melirik mobil mengilap itu.
Keren sih. Tapi bayarannya. . . . Kemahalan.
~
Hal serupa terjadi di rumah Kara sore harinya. Baru membuka pagar, pandangannya langsung tertumbuk pada satu mobil yang terparkir rapi di halaman. Kara berhenti sebentar. Alisnya naik sebelah.
"Udah kayak rumah pejabat," gumamnya.
Dia masuk ke dalam rumah tanpa banyak reaksi. Niatnya mau tanya, tapi belum sempat buka suara, pemandangan di ruang tamu sudah menjawab setengah pertanyaan.
Eka duduk santai di sofa. Kaki naik satu. Rokok terselip di jari, asapnya melingkar malas ke udara. Di sampingnya, asbak penuh puntung. Di depannya, televisi menyala tanpa benar-benar ditonton,
"Gimana mobilnya?" tanya Eka tanpa menoleh. "Kece gak?"
"Itu dari bos papa pasti."
Eka terkekeh kecil. "Ya iyalah. Kalau jatuh dari langit, udah jadi kaleng gepeng."
Kara melirik sekilas. "Haha. Lucu, ma. Udah ah, aku mau mandi. Gerah," Baru dua langkah, suara Eka menahan.
"Eh, Sini dulu." Nada suaranya berubah sedikit. Bukan galak, tapi cukup untuk membuat Kara berhenti.
"Apa lagi?"
Eka mengetuk abu rokok ke asbak. "Lo siapin baju ya. Jam enam kita cabut. Ketemu sama bos bokap lo."
Kara mengernyit. "Ngapain?"
"Ya gak tau, Emang gw cenayang?"
Kara menghela napas. "Terus kenapa aku harus ikut?"
Eka akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, tapi santai. Kombinasi yang tidak pernah enak dilawan.
"Karena yang mau dinikahin itu lo, bukan gw."
Kara menarik napas panjang. "Ma..." suaranya turun, setengah protes. "Emang harus ya?"
"Harus lah. Mobilnya aja udah nongol. Lo tumben ribet gini."
Kara mendecak pelan, lalu melangkah cepat ke kamar. Begitu pintu tertutup, helaan napas panjang lolos dari mulutnya.
"Yang nikah siapa, yang girang siapa," gumamnya kesal sendiri.
"Ini termasuk eksploitasi anak gak sih?"
.