Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Kau Tidak Boleh Pergi dari Sisiku
Bab 28 — Kau Tidak Boleh Pergi dari Sisiku
Malam turun perlahan di mansion keluarga Moretti.
Namun setelah kejadian siang tadi, suasana mansion berubah total.
Penjaga bertambah.
Setiap lorong dijaga.
Gerbang utama ditutup lebih awal.
Bahkan para pelayan bicara lebih pelan dari biasanya.
Semua orang tahu—
ada sesuatu yang mulai bergerak.
Dan pusat dari semua itu sekarang adalah…
Amelia.
Di kamarnya, Amelia duduk diam di dekat jendela.
Jas Lorenzo masih ada di bahunya.
Padahal tadi dia berniat mengembalikannya.
Tapi entah kenapa…
dia belum mengembalikan.
Mungkin karena masih ada sedikit rasa aman yang tertinggal.
Atau mungkin…
karena sekarang dia terlalu sering memikirkan pemilik jas itu.
Tok tok.
Amelia langsung menoleh.
“Masuk…”
Clara masuk sambil membawa teh hangat.
Begitu melihat Amelia masih memakai jas itu, senyumnya hampir muncul.
Tapi ditahan.
“Nona Amelia… makan malam nanti Tuan Lorenzo meminta Anda turun.”
Amelia sedikit terkejut.
“Dia bilang begitu?”
Clara mengangguk.
“Dan…” Clara terlihat ragu sebentar. “Beliau juga meminta saya memastikan Anda tidak sendirian.”
Amelia terdiam.
Lalu pelan bertanya,
“Dia marah ya tadi?”
Clara sedikit berpikir.
“Tuan Lorenzo… jarang marah.”
Amelia menunduk.
“Iya…”
“Tapi hari ini…” Clara tersenyum kecil, “saya rasa beliau lebih takut daripada marah.”
Deg.
Amelia langsung diam.
Takut.
Kata itu masih terasa aneh saat disandingkan dengan Lorenzo.
Pria itu terlalu kuat.
Terlalu dingin.
Tapi tadi…
dia memang terlihat berbeda.
—
Di ruang kerja.
Lorenzo berdiri sambil membaca laporan.
Marco masuk tanpa mengetuk.
“Ada kabar.”
Lorenzo tidak menoleh.
“Bicara.”
Marco meletakkan beberapa lembar foto.
“Orang yang masuk tadi siang bukan anggota inti Black Raven.”
Tatapan Lorenzo turun.
“Lalu?”
“Kurir.”
Sunyi.
Marco melanjutkan.
“Artinya mereka cuma mau menyampaikan pesan.”
Tatapan Lorenzo makin dingin.
Marco diam beberapa detik lalu berkata,
“Dan mereka tahu posisi Amelia.”
Ruangan langsung terasa lebih dingin.
Lorenzo menutup map.
“Mereka tidak akan sempat mendekat lagi.”
Marco menatap bosnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Kau mulai kehilangan objektivitas.”
Tatapan abu-abu itu langsung terangkat.
Marco tidak mundur.
“Kalau ini orang lain, kau pasti sudah memindahkannya.”
Lorenzo diam.
Marco melanjutkan,
“Tapi ini Amelia.”
Sunyi.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Lorenzo berkata pelan,
“…aku tidak ingin dia pergi.”
Marco menatapnya.
Dan kali ini dia tidak bercanda.
Karena dia tahu—
kalimat itu bukan soal strategi lagi.
—
Malam.
Amelia akhirnya turun ke ruang makan.
Begitu masuk—
dia langsung berhenti.
Karena meja makan besar itu hanya diisi dua orang.
Dirinya.
Dan Lorenzo.
Pria itu sudah duduk lebih dulu.
Tatapannya terangkat saat melihat Amelia.
Dingin seperti biasa.
Tapi Amelia sekarang mulai bisa membedakan.
Hari ini dia terlihat lelah.
Amelia berjalan mendekat lalu duduk pelan.
Suasana langsung canggung.
Pelayan mulai menyajikan makanan.
Namun tidak ada yang bicara.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya Amelia membuka suara.
“…maaf.”
Lorenzo tetap makan.
“Untuk?”
Amelia menggenggam sendok kecil.
“Tadi siang.”
Sunyi.
Lalu Lorenzo meletakkan alat makannya.
Tatapannya langsung ke Amelia.
“Kalau kau minta maaf karena keluar kamar, iya.”
Amelia langsung menunduk.
“Maaf…”
Lorenzo memperhatikannya beberapa detik.
Lalu menghela napas pelan.
“Kenapa keluar?”
Amelia diam.
Awalnya dia ingin bilang bosan.
Tapi akhirnya berkata jujur.
“Aku tidak mau jadi beban.”
Tatapan Lorenzo berubah sedikit.
Amelia lanjut bicara pelan.
“Aku lihat semua orang jadi sibuk karena aku.”
“Dan aku pikir… kalau aku hati-hati, mungkin tidak apa-apa.”
Sunyi.
Lorenzo memandang Amelia cukup lama.
Lalu berkata tenang.
“Dengarkan aku.”
Amelia perlahan mengangkat wajah.
Lorenzo menatap langsung matanya.
“Musuhku bukan orang yang bermain adil.”
Suara pria itu rendah.
“Kalau mereka ingin mengambilmu, mereka tidak akan menunggu kau lengah.”
Jantung Amelia pelan-pelan tidak nyaman.
Lorenzo melanjutkan.
“Jadi jangan berpikir kau merepotkan.”
Tatapannya sedikit menggelap.
“Karena mulai sekarang aku memang akan menjagamu.”
Deg.
Amelia langsung diam.
Kalimat itu terlalu langsung.
Dan itu membuat wajahnya mulai panas.
Untung Lorenzo kembali makan seolah tidak mengatakan apa-apa.
—
Setelah makan.
Amelia keluar ke balkon lantai dua.
Malam terasa lebih dingin.
Dia berdiri sambil menatap halaman.
Pikirannya kacau.
Karena semakin lama…
semakin sulit baginya berpura-pura.
Dia peduli pada Lorenzo.
Dan itu mulai terasa berbahaya.
Suara langkah terdengar.
Amelia menoleh.
Lorenzo berdiri di pintu balkon.
Tidak bicara.
Hanya berjalan mendekat lalu berdiri di sampingnya.
Beberapa saat mereka diam.
Lalu Amelia pelan bertanya,
“Dulu… hidupmu selalu seperti ini?”
Tatapan Lorenzo lurus ke depan.
“Iya.”
“Tidak capek?”
Sunyi.
Lorenzo tidak langsung menjawab.
Lalu pelan berkata,
“Sudah terbiasa.”
Jawaban sederhana.
Tapi entah kenapa membuat Amelia sedih.
Pria ini hidup seperti itu sejak kecil?
Sendirian?
Tanpa bisa percaya siapa pun?
Amelia menunduk.
Lalu tanpa sadar berkata,
“…kasihan.”
Lorenzo langsung menoleh.
Seumur hidup…
orang memandangnya dengan takut.
Dengan hormat.
Dengan ambisi.
Tapi tidak pernah…
kasihan.
Pria itu memperhatikan Amelia.
Dan untuk pertama kalinya…
dia tidak tahu harus menjawab apa.
Amelia sadar ucapannya aneh.
Dia langsung panik.
“Bukan maksudku meremehkan!”
Lorenzo tetap diam.
Lalu tiba-tiba bertanya,
“Kalau kau takut… kenapa masih di sini?”
Amelia langsung diam.
Karena dia sendiri tidak tahu.
Kenapa?
Kenapa dia belum pergi?
Kenapa dia masih ingin tetap di dekat pria ini?
Dan sebelum dia sempat menjawab—
Lorenzo bergerak sedikit mendekat.
Jarak mereka jadi sangat dekat.
Tatapannya turun ke wajah Amelia.
Suara rendahnya terdengar pelan.
“…karena kau juga tidak ingin pergi?”
Jantung Amelia langsung berisik.
Dia tidak bisa menjawab.
Dan diamnya…
terasa seperti jawaban.
Angin malam bertiup pelan.
Lalu Lorenzo berkata lagi.
Kali ini lebih pelan.
Lebih jujur.
Dan membuat Amelia sulit bernapas.
“Kalau bisa…”
Tatapannya tetap pada Amelia.
“…aku juga tidak ingin kau pergi.”
Sunyi.
Amelia membeku.
Namun sebelum suasana berubah—
Suara langkah tergesa terdengar.
Marco muncul.
Wajahnya tidak santai.
“Bos.”
Tatapan Lorenzo langsung berubah dingin lagi.
Marco berhenti sebentar.
Lalu berkata—
“Kita dapat kiriman.”
Semua langsung terasa aneh.
“Apa?”
Marco menyerahkan kotak kecil.
Lorenzo membukanya.
Dan dalam hitungan detik—
wajahnya langsung berubah.
Di dalam kotak itu…
ada pita rambut milik Amelia.
Yang hilang tadi siang.
Dan secarik kertas.
Tulisan pendek.
Kau tidak bisa menjaganya selamanya.
Ruangan langsung jadi dingin.
Amelia langsung pucat.
Karena itu berarti—
mereka memang sudah sangat dekat.
Dan sedang mengawasi dirinya.
Setelah membaca kertas itu, tidak ada yang langsung bicara.
Angin malam masih berembus pelan di balkon.
Tapi sekarang udara terasa jauh lebih dingin.
Amelia menatap pita rambutnya.
Benda itu kecil.
Biasa.
Tapi kenyataan kalau seseorang sempat mengambilnya tanpa dia sadar…
membuat punggungnya terasa dingin.
Tangannya perlahan mengepal.
Lorenzo menutup kotak itu pelan.
Tidak keras.
Tidak terburu-buru.
Tapi justru itu yang membuat suasana terasa lebih menekan.
Marco memperhatikan wajah bosnya sebentar lalu berkata hati-hati,
“Ini provokasi.”
Lorenzo diam.
Marco melanjutkan,
“Mereka ingin kita bergerak gegabah.”
Lorenzo masih diam.
Lalu akhirnya dia menyerahkan kotak itu ke Marco.
“Cari.”
Marco langsung paham.
“Semua orang?”
Tatapan Lorenzo dingin.
“Semua.”
Marco mengangguk lalu pergi.
Sekarang tinggal Amelia dan Lorenzo lagi.
Amelia menunduk.
“…maaf.”
Lorenzo menoleh.
Amelia menggigit bibir pelan.
“Kalau bukan karena aku—”
“Berhenti.”
Amelia langsung diam.
Lorenzo menatap lurus ke arahnya.
Suara pria itu rendah.
“Tadi aku sudah bilang.”
Dia melangkah mendekat.
Berdiri tepat di depan Amelia.
“Kalau seseorang memilih menjadikanmu target…”
Tatapannya menggelap.
“…itu bukan salahmu.”
Amelia diam.
Lorenzo memperhatikan wajah gadis itu beberapa detik.
Lalu untuk pertama kalinya malam itu—
dia mengangkat tangan dan merapikan sedikit rambut Amelia yang berantakan karena angin.
Gerakannya pelan.
Hampir hati-hati.
Dan itu justru membuat Amelia makin sulit bernapas.
Lorenzo menarik tangannya kembali.
Lalu berkata singkat—
“Mulai besok.”
Tatapannya tidak berpindah.
“Kau ikut denganku.”
Amelia sedikit membelalak.
“Apa?”
Lorenzo berbalik.
“Tidak ada lagi sendiri.”
Langkahnya berhenti sebentar.
Lalu tanpa menoleh—
“Kalau mereka mau mengambil sesuatu dariku…”
Suara rendah itu terdengar pelan.
“…mereka harus melewatiku dulu.”
Lalu Lorenzo pergi.
Meninggalkan Amelia yang masih berdiri diam.
Dan untuk pertama kalinya—
Amelia sadar.
Yang berubah bukan cuma situasi mereka.
Tapi juga Lorenzo.