NovelToon NovelToon
STH: Beyond Immortal

STH: Beyond Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RA.AM

Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥


Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:

"Zaman dan Era telah berubah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 — Senyuman Di Balik Kain Hitam

Udara di ruangan itu terasa lebih berat setelah pertanyaan Li Daoqing menggantung di antara mereka.

Li Yao mengambil napas dalam-dalam. Ia sudah memikirkan jawaban ini berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Namun mendengar pertanyaan itu langsung dari mulut Li Daoqing — pria yang sama yang memungutnya dari desa hancur, yang memberinya nama, yang mengajarinya membaca kitab suci — membuat segalanya terasa lebih nyata.

“Aku tidak akan melawan mereka dengan kekerasan,” kata Li Yao akhirnya.

Kata-kata itu keluar pelan, namun jelas. Tidak ada keraguan di dalamnya.

“Kekuatanku saat ini belum cukup untuk meyakinkan mereka. Jika aku memaksa, aku hanya akan mati sia-sia. Dan jika Penguasa Suci yang turun tangan…” Ia menggeleng. “Seperti yang sudah Penguasa Suci katakan, itu akan menjadi perang saudara. Yao Guang akan terpecah. Apapun hasilnya, tanah suci ini akan menebang batang nya sendiri.”

Li Daoqing tidak membantah. Ia hanya duduk diam, menunggu.

“Lalu?” desaknya.

“Kita rangkul mereka.”

Kata-kata itu menggantung di udara. Li Daoqing mengerutkan alisnya — bukan karena marah, tapi karena tidak percaya. Atau mungkin karena ia tidak pernah memikirkan opsi itu sebelumnya.

“Rangkul?” ulangnya. “Maksudmu… ajak mereka bekerja sama?”

“Bekerja sama, bergaul, memahami — apapun istilahnya.” Li Yao mengangkat tangannya, isyarat agar Li Daoqing bersabar. “Pewaris Ruthless Emperor bukan monster sejati, Penguasa Suci. Mereka adalah kultivator seperti kita. Mereka memiliki ambisi, ketakutan, keinginan untuk bertahan hidup. Mereka mewarisi teknik Pemakan Langit — teknik yang kejam, tapi itu bukan satu-satunya jalan bagi mereka.”

“Kau terlalu optimis,” potong Li Daoqing. “Teknik Pemakan Langit adalah racun. Semakin sering digunakan, semakin sulit untuk berhenti. Itu sudah terbukti selama ribuan tahun.”

“Aku tidak bilang mereka harus berhenti,” kata Li Yao. “Tapi mereka tidak harus menggunakannya pada sesama penghuni Yao Guang.”

Li Daoqing terdiam.

“Jika mereka punya target lain — musuh bersama, ancaman dari luar — bukankah itu lebih baik daripada mereka melahap saudara sendiri?” lanjut Li Yao. “Kita beri mereka alasan untuk percaya bahwa Yao Guang bisa memberi mereka masa depan tanpa harus mengkhianati. Bahwa mereka dibutuhkan — bukan sebagai ancaman yang harus ditakuti, tapi sebagai pilar yang harus dihormati.”

“Kesetiaan buta tidak akan pernah datang dari orang-orang seperti mereka.”

“Bukan kesetiaan buta.” Suara Li Yao sedikit meninggi, tapi segera ia kendalikan. “Maaf. Maksudku… bukan kesetiaan buta. Tapi pemahaman bahwa Yao Guang adalah rumah mereka. Bahwa kepentingan mereka tidak terpisah dari kepentingan tanah suci ini.”

Ia menatap Li Daoqing tepat di mata — meskipun matanya tertutup kain hitam, ia tahu Li Daoqing bisa merasakan tatapannya.

“Jika mereka percaya bahwa Yao Guang bisa memberi mereka masa depan tanpa harus melahap sesama… mengapa mereka masih memilih jalan gelap?”

Pertanyaan itu menggantung.

Li Daoqing tidak menjawab. Ia berdiri lagi, berjalan ke jendela. Kabut pagi mulai menipis. Sinar matahari pertama menembus celah-celah awan, menyinari puncak gunung dengan warna keemasan.

“Di dalam kehidupan ini,” kata Li Daoqing pelan, “aku sudah melihat terlalu banyak orang yang memilih jalan gelap bukan karena tidak punya pilihan, tapi karena mereka sudah terlalu nyaman di jalan itu. Cahaya menyilaukan mata mereka yang sudah terbiasa dengan kegelapan.”

“Maka kita beri mereka waktu untuk membiasakan diri dengan cahaya,” kata Li Yao. “Perlahan. Tidak perlu terburu-buru. Biarkan mereka tetap merasa aman. Biarkan mereka tidak curiga bahwa kita tahu.”

“Lalu?”

“Kita bangun hubungan. Satu per satu. Bukan dengan paksaan — tapi dengan ketulusan. Atau setidaknya, dengan sesuatu yang tampak seperti ketulusan.” Li Yao tersenyum tipis. “Penguasa Suci bilang aku optimis. Tapi aku tidak naif. Aku tahu tidak semua dari mereka bisa berubah. Tapi jika sebagian bisa… bukankah itu sudah cukup untuk mengurangi ancaman?”

Li Daoqing berbalik. Matanya menatap Li Yao dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan — campuran antara kekaguman, kekhawatiran, dan mungkin sedikit rasa takut.

“Kau tahu,” katanya setelah hening cukup lama, “ketika aku memungutmu di desa hancur itu, aku hanya melihat bayi biasa. Aku bahkan hampir tidak jadi membawamu.”

Ia berjalan mendekat, lalu duduk di samping Li Yao. Bukan di hadapannya. Di sampingnya. Seperti seorang ayah yang duduk di samping anaknya.

“Tapi ketika kau membuka matamu — matamu yang aneh itu, dengan pupil yang tidak seperti bayi normal — aku tahu kau bukan anak biasa. Aku tidak tahu kenapa. Hanya firasat. Dan selama bertahun-tahun, firasat itu terbukti benar.”

Li Yao tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan.

“Ternyata kau juga bukan jenius biasa. Bukan karena Pupil Ganda-mu, meskipun itu sudah sangat langka. Tapi karena caramu berpikir. Kau masih sangat muda tapi melihat lebih jauh dari yang seharusnya. Kau tidak hanya melihat musuh — kau melihat manusia di balik musuh itu. Itu… jarang. Sangat jarang. Dan berbahaya.”

“Apakah itu buruk?” tanya Li Yao.

“Tidak.” Li Daoqing menggeleng. “Tapi kau harus berhati-hati. Orang-orang yang bisa melihat terlalu jauh sering kali buta terhadap apa yang ada di depan mata mereka. Jangan sampai itu terjadi padamu.”

“Aku akan berusaha.”

Li Daoqing menghela napas. “Baiklah. Kita lakukan dengan caramu. Tapi ingat — rencana ini tidak bisa terburu-buru. Kita butuh waktu. Bertahun-tahun, mungkin puluhan tahun. Dan selama itu, kau harus terus berkembang. Karena jika suatu hari mereka benar-benar bergerak dan rencanamu gagal, kau harus siap dengan rencana cadangan.”

Ia menatap Li Yao tajam.

“Aku tidak akan ragu untuk melindungi tanah suci ini dengan cara apa pun.”

“Aku mengerti, Penguasa Suci,” kata Li Yao.

“Kau boleh pergi.”

**

Udara di luar ruang kultivasi terasa lebih segar.

Atau mungkin itu hanya perasaan Li Yao karena ia sudah berhasil melewati percakapan yang melelahkan itu tanpa kesalahan fatal. Kain hitam di matanya benar-benar longgar sekarang — ia menyesuaikannya dengan jari-jari yang sedikit gemetar.

“Aku berhasil,” bisiknya pelan. “Aku benar-benar berhasil.”

Ia tidak tahu apakah rencananya akan berhasil. Tapi setidaknya, Li Daoqing setuju untuk mencoba. Itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.

“Kakak Li Yao!”

Suara ceria itu datang dari ujung koridor.

Yao Xi berjalan cepat mendekat, jubah emas mudanya berkibar ringan. Wajahnya agak merah — mungkin karena baru saja selesai latihan, mungkin karena ia berlari. Rambutnya yang panjang terurai bebas, tidak diikat seperti biasanya.

“Kak Li Yao!” panggilnya lagi. “Dari mana saja? Aku cari kakak ke mana-mana.”

“Ruang kultivasi Penguasa Suci,” jawab Li Yao.

“Lama sekali.” Yao Xi mengerutkan hidungnya. “Apa yang Penguasa Suci bicarakan dengan kakak?”

“Hal-hal kecil.”

“Bohong.” Yao Xi memutar mata. “Penguasa Suci tidak akan memanggil kakak ke ruang kultivasinya untuk hal-hal kecil.”

“Kau terlalu banyak bicara, Yao Xi. Mungkin kamu bisa menjadi pendongeng di sebuah restoran.” Li Yao tertawa kecil, nada bicaranya sedikit mengejek Yao Xi

“Kurang ajar!” Yao Xi menghentakkan kaki. Tapi meskipun begitu, ia tidak bisa menyembunyikan senyum kecil yang ada di sudut bibirnya.

“Ayo makan,” kata Li Yao. “Aku lapar.”

“Kakak selalu lapar,” kata Yao Xi sambil menghela napas dramatis. “Baiklah, ayo.”

Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor batu giok. Kabut pagi sudah hampir sepenuhnya menghilang, digantikan oleh sinar matahari yang hangat. Burung-burung spiritual mulai berkicau di kejauhan.

Di dalam hatinya, Li Yao berdoa semoga rencananya berhasil. Karena jika tidak, Yao Guang akan hancur. Dan ia tidak ingin melihat tempat yang memberinya rumah kedua itu runtuh.

Tidak sekarang. Dan tidak selama ia masih hidup!

1
Eza Bae
tes
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
T28J
saya mampir Thor 👍👍
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor semangat thor
SnowEdge: test ombak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!