Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
"Lagi apa?" tanya Reiga mengawali absennya begitu pesawatnya sudah mendarat di Charles de Gaulle, Paris.
Suara pria itu masih terdengar parau. Pengaruh Jetlag. Penerbangan 17 jam lebih dengan transit 2 jam di Qatar. Bagaimana mungkin tidak lelah? Hanya saja Reiga tidak bisa menahan dirinya untuk tetap menghubungi Hana.
"Lagi menyesal karena nggak terima ajakan ciuman kamu kemarin," jawab Hana nyeleneh sambil memasukkan peralatan latihan tenis miliknya ke dalam tas yang diletakkannya di atas meja rias.
Hari ini ada jadwal latihan tenis dengan Zidane. One of Reiga best friend. Salah satu manusia yang berada dalam jejeran manusia favorit-nya Reiga Reishard. Yang kata Sam, teman seangkatannya di Harvard. Ah masa iya? Kok dia bisa nggak ingat? Lebih dari itu, begitu tahu lawannya dan Zidane dalam pertandingan tenis nantinya adalah Lana-Arnold, tentu Hana makin tidak ingin kalah.
Terdengar tawa Reiga nan jauh di sana. "Lets kissing when i'm home," balas Reiga membuat Hana terkekeh.
"Tidak segampang itu, Pak Reiga," jawabnya seraya pakai lipstik berwarna nude di depan cermin meja rias miliknya.
Tawa Reiga kembali berderai.
"Rei," panggil Hana karena Reiga tampak diam. Kasihan pria itu pasti kelelahan.
"Hmm?"
"Tutup telepon ini. Terus istirahat ya," ucap Hana mencemaskan kesehatan Reiga.
"Kalau aku nggak mau?"
"Reisharddddd."
"Aku mau dengar suara kamu," aku Reiga.
Hana terhenyak. Lelaki ini seriuskah dengan semua ucapannya pada Hana?
"Kenapa nggak sekalian tontonin film-film aku di pesawat? Ada banyak loh."
Reiga terkekeh.
"Udah, Sayangku," sahutnya.
Sayangku, katanya?
Begitu enteng dan mudah Reiga mengucapnya.
"Dan aku nggak tahan," ujar Reiga.
"Nggak tahan? Kenapa? Akting aku jelek?"
"Bukan."
"Terus?"
"Aku nggak tahan sama Dimas yang terus-terusan spoiler plus kasih informasi nggak penting sama aku," jawab Reiga setengah masih jengkel pada kelakuan absurd Dimas di pesawat.
Tawa Hana pecah.
"Nggak lucu sih, Han sebenarnya," ujar Reiga.
Hana masih tertawa.
ya?" "Dimas kayaknya orang yang menyenangkan
"Benar sekali. Tapi nggak semenyenangkan aku sih," ujar Reiga.
"Idih!" tukas Hana.
Reiga terkekeh.
"Gimana reading hari ini?"
"Lancar. Menyenangkan. Semua pemain welcome dan..." Hana baru ingat. Reiga mengirimkan 80 paket berisi makanan dan minuman dari Bakerman. Sebuah toko roti yang ada di Ashta. Dan berkat itu semua, Hana melihat wajah keki Arnold untuk pertama kalinya. Juga menerima ledekan akan beruntungnya punya pacar yang royal dan perhatian kayak Reiga. Padahal pacaran aja belum.
"Makasih ya, udah kirimin makanan sebanyak itu," ucap Hana sebagai lanjutan kalimat terpotongnya.
"Sama-sama, Sayangku," jawab Reiga.
Sayangku lagi?
Reiga sadar kan kalau mereka belum pacaran?
Tapi Hana kadung kesenangan.
"Well, ada misi tersendiri sih kenapa aku kirim itu," aku Reiga.
"Misi? Apa?"
"Sekedar pengumuman aja buat Arnold," jawab Reiga.
"Pengumuman apa?"
"Kalau Adrianne Hana punya Reiga Reishard," jawab Reiga.
Hana terhenyak. Melongo.
"Idih! Sejak kapan Adrianne Hana milik Reiga Reishard!?" seru Hana.
Reiga terkekeh.
"Ya udah demi perdamaian aku ubah kalimatnya, kalau Reiga Reishard punyanya Adrianne Hana," ujar Reiga.
Ah sekarang dia beneran kangen sama Hana.
Matilah dia! Gimana caranya mau fokus kalau begini? Pulang aja kali ya ke Jakarta, pilihan kurang waras itu meluncur beberapa kali dalam pikiran Reiga.
Hana tertawa renyah.
"Nggak jelas banget asli!"
"Tapi yang tadi itu too much, jangan buang-buang uang, Rei," gumam Hana tak enak.
"Gimana nih?"
"Apanya yang gimana?" bingung Hana.
"Padahal aku udah siap lahir bathin loh buang-buang uang demi kebahagiaan, kesenangan baik itu sesaat maupun jangka panjangnya, anak perempuan semata wayangnya Bapak Denis Soediro," ledek Reiga.
Bahkan terpisah jarak sejauh 11 ribu kilometer, Reiga masih mampu membuat kedua pipi Hana bersemu merah dengan sekujur muka terasa panas. Terlebih Hana mendengar tawa Dimas karena ucapan Reiga yang kelewat clingy itu.
"Reisharddddd, dekat aku toyor nih!" sebal Hana
Reiga tertawa.
"Aku nggak merasa keberatan sedikitpun. Itu bentuk dukungan aku buat kamu," ucap Reiga tulus kembali serius.
Hana terenyuh.
Selain fans-nya baru pertama kali ada yang sebegininya mengirim makanan dan minuman.
Yang harga dan rasanya nggak kaleng-kaleng pula.
Reiga memang another level sih.
"Why you're always so sweet like this?" puji Hana.
"Aku juga bisa hot dan sexy loh. Mau lihat nggak?" ledek Reiga.
Kedua pipi Hana memerah. Gadis itu tak mampu menahan tawa-nya.
"Heh!" pekik Hana.
Tawa Hana bagai baterai baru untuk lelahnya tubuh Reiga.
"Ada adegan percintaan nggak di skenario-nya?"
"Ya ada lah. Namanya juga film komedi romantis," jawab Hana.
Reiga diam.
"Kenapa? Cemburu?" tanya Hana dalam senyum terkulum.
"Harus ditanya?" jawab Reiga.
Hana terkekeh.
Jadi ini ya, rasanya dicemburuin sama seorang cowok? Feels so damn good, ucap Hana dalam hati.
"Cuma pegang tangan 4 kali, peluk dari belakang satu kali, dan cium kening 3 kali. Oh iya! Cium pipi kiri satu kali," ujar Hana mencoba mengingatnya.
Reiga terdengar menghela napas kuat.
"Kedengaran nggak?"
"Apa?" Hana bingung mulai cemas.
"Remuknya hati aku mendengar semua adegan romantis kamu."
Hana melongo.
"Reisharddddd!! Padahal aku udah serius! Malah nge-jokes!" sebal Hana.
Reiga tertawa.
"Kok nge-jokes sih!? Asli remuk, Han. Aku kesel. Aku aja belum pernah peluk kamu dari belakang," jujurnya.
"Idih! Pervert," ujar Hana.
Reiga terkekeh.
"Siapa lawan mainnya?"
"Emangnya kamu tahu soal artis?"
"Perhaps," gumam Reiga.
"Dion Wiyoko," jawab Hana.
Reiga diam sesaat. Dia kenal Dion. Teman main tenis-nya.
"Kok diam?"
"Lagi menimbang, mau wa Dion atau enggak buat jaga tangan sama kamu," jawab Reiga setengah tertawa.
"Heh!" Hana memekik dengan sedikit rembesan tawa. "Kayak kenal aja!" tambah Hana.
"Dion teman main tenis aku," ujar Reiga.
Hana diam berpikir.
"Jangan macam-macam ya, Rei. Aku nggak mau dibilang nggak profesional cuma karena kamu ..."
"Iyaaaa, bercanda, Sayangku," potong Reiga membuat Hana diam.
Deg-degan atas panggilan sayangku yang berulang diucap Reiga.
"Aku percaya sama Dion dan lebih dari itu aku percaya sama kamu, Hana," tambah Reiga.
"Miss you more, Rei," aku Hana membuang harga dirinya untuk mengakui kebenaran itu.
"Aku jemput ya," tawar Reiga.
Hana tertawa.
"Sedekat itukah Paris-Jakarta?" ledek Hana.
"Sejauh apapun itu, when you want me to come than i will come, Han," ujar Reiga.
Hana terdiam.
"Gombalannya makin-makin ya, Pak," ucap Hana tidak ingin terlalu diambil hati. Takut patah hati lagi.
"Aku serius," ujar Reiga yang memang terdengar serius.
"Kalau aku minta kamu pulang sekarang, apa kamu bakal pulang?"
"Ya," jawab Reiga tanpa berpikir.
"Jadi nggak? Mumpung aku masih di bandara nih," ujar Reiga lagi.
Reiga tahu Hana tidak akan meminta hal kurang kerjaan seperti itu padanya.
"Enggak usah. Anggap aja ini bentuk dukungan aku sama karir kamu," ucap Hana.
Reiga tersenyum.
"Udah ah, aku mau latihan tenis dulu. Sama Zidane. Dan Sam bilang sih, semua manusia favorit kamu bakal datang cuma buat mengevaluasi apakah aku cocok buat kamu," ujar Hana sama sekali tidak keberatan dengan itu. Toh dulu Niyo juga dia evaluasi bersama Na.
Reiga tersenyum.
"Are you afraid?"
"Enggak," jawab Hana.
"Baguslah," sahut Reiga.
Lalu hening. Ada gumpalan rasa yang memenuhi dada masing-masing.
"Aku kangen sama kamu, Hana," jujur Reiga.
Hana terhenyak.
Kenapa mendengar pernyataan kangen Reiga begitu membahagiakan untuknya?
"I miss you too, Reishard," balas Hana jujur.
Reiga tersenyum mendengarnya. Sebuah ucapan rindu yang tulus dari seseorang untuknya. Dua kali didengarkannya dalam waktu yang sama.
"Aku pergi dulu ya. Bye," ucap Hana.
"Bye, Sayang. Semangat ya latihannya.
Lawannya pasangan favorit kamu kan?" ledek Reiga.
"Dih! Nyebelin!" seru Hana sambil tertawa.
Reiga pun ikut tertawa mendengarnya.
"I'll call you soon, pretty," ucap Reiga lalu telepon itu terputus.
Hana mengigit bibir bawahnya. Perasaan bahagia yang tidak bisa disembunyikannya. Berpendar bagai batu mulia yang ditemukan dalam tumpukan tanah. Apa yang dilakukan Reiga adalah lebih dari apa yang diinginkannya terjadi dalam hidupnya? Lebih dari ekspektasi-nya atas Arnold.
*
Hana menghela napas melihat permainan payah Zidane yang jauh lebih payah darinya. Jangankan menang. Membalas pukulan saja belum tentu bisa. The worst is tim Hana bisa menderita Bagel atau mungkin Double Bagel. Kekalahan telak 6-0 dalam satu set. Tidak terbayangkan betapa malunya Hana nanti.
"Dane, stop!" pekik Hana yang sudah tidak tahan melihat Zidane tak kunjung berhasil melakukan serve.
Sam yang sejak tadi menontoni mereka sampai mengernyitkan dahi. Hana berjalan menghampiri dokter bedah jantung itu.
"Kenapa, Han?" tanya Zidane yang juga sadar permainan tenisnya sungguh payah.
"Serve lo salah, Dane. Tangan lo harusnya nggak dalam posisi begitu. Dengan badan sebagus ini gue yakin lo bisa lebih," ujar Hana memberi instruksi.
Zidane mendengarnya baik-baik dengan sedikit kesenangan karena Hana memuji badannya. Karakter yang mirip Reiga. Saat menasehati, tidak pernah menjatuhkan yang dinasehatinya. Sam tersenyum mendengar ucapan Hana.
"Sorry ya, Han. Gue nggak jago tenis," ucap Zidane.
"Sama, Dane. Tapi lo nggak mau kan kalau kita jadi bulan-bulanannya Arnold sama Lana nantinya? Mereka jago banget, Dane. Paling nggak kita cetak skor kek. Nggak bagel," ujar Hana yang ditanggapi anggukan oleh Zidane.
"Kita bisa, Dane! We have a great team work!"
seru Hana mengobarkan semangat Zidane. Bahkan dilengkapinya dengan mengajak sebuah tinju kepalan pada Zidane. Awalnya Zidane bingung, namun ia menerima ajakan tinju kepalan dari Hana.
"Pantes lu tergila-gila ya, Rei. Hana memang sebaik ini ternyata, bukan hanya image belaka," gumam Zidane dalam hati.
Lalu Hana memulai melatih teknik-teknik dasar tenis pada Zidane yang memperhatikan Hana dengan serius.
Sam tersenyum. "Hana... Hana ... Nggak berubah lu dari zaman dulu. Selalu bisa menarik orang untuk mengeluarkan kemampuan maksimal mereka," ucap Sam.
"Serasa liat Reiga versi cewek," celetuk Syein dari kursi belakang yang diduduki Sam.
Perempuan itu terkejut. Kapan mereka semua datang? Sam melirik Niyo yang ada di pinggir lapangan. Tersenyum sambil mengedipkan mata kanan kearahnya. "Dasar!" sebal Sam dalam hati, padahal Samanta sudah berpesan pada Niyo agar memberikannya woro-woro jika Tristan, Rama, Syein, dan Brandon sudah datang. Samanta ingin empat lelaki itu mendapat kesan yang baik dari Hana. Mereka berempat tidak boleh menjadi penjegal hubungan Hana dan Reiga. Ini malah tahu-tahu sudah duduk di belakang. Sam tidak menyadarinya pula. Sudah sejak kapan?
"Ternyata freezer 17 pintu, ceweknya cakep banget," ujar Brandon sambil cengar-cengir.
"Dan sabar pula! Kalau gue jadi Hana, udah gue tampolin tuh si Zidane. Serve aja nggak becus!" komen Tristan dengan sebuah gelengan kepala.
"Mirip banget sama cowoknya. Sabarnya, caranya ngomong ke orang," ujar Brandon.
"Jodoh itu memang cerminan diri sih," ujar Tristan.
Syein terkekeh.
"Gimana, Ram? Kabur semua nggak prasangka nggak berdasar lu buat Hana?" ledek Tristan.
Rama mendengus sebal. Ia pun mengiyakan semua komentar positif sahabatnya mengenai Hana. Lebih dari itu, intuisi Rama berkata bahwa Adrianne Hana adalah end game-nya Reiga.
"Gue rasa kalimat jodoh adalah cerminan diri tengah dipelajari serius oleh Rama," ledek Syein melirik Rama yang langsung senewen.
"Diam deh lu, Syein!" sewot Rama.
"Emangnya jadi, Nyet?" tanya Brandon kearah Syein.
"Ini apaan sih? Kok gue nggak tahu!" sebal Tristan merasa ketinggalan.
"Namanya Krisa," ujar Brandon.
Rama langsung melotot.
"Anjir! Diam lu, Ndon!"
"Krisa?" gumam Tristan merasa familiar.
"Berisik lu semua!!" galak Rama yang ditanggapi semuanya dengan tawa.
"Han," panggil Niyo pada Hana yang baru selesai latihan dengan Zidane.
Hana mendongakkan kepala.
"Kenapa, Yo?" tanya Hana.
Sam berjalan mendekat. Berbisik di telinga kanan Hana. "Mereka semua mau kenalan sama lu, Han," bisik Sam.
Kedua alis Hana melengkung naik.
"Ada yang mau kenalan," ujar Niyo diikuti empat orang lelaki tampan, tegap, dan keren dibelakangnya.
Hana menghela napas. Jadi inilah waktunya?
"Hai, Han. Kenalin, gue Syein," ucap Syein begitu ramah dengan sebuah uluran tangan.
Hana menjabatnya. Raut wajahnya pun sama ramahnya.
"Hana," ucap Hana.
"Brandon," sahut Brandon sambil mengangkat tangan kanan seakan sedang diabsen. Pemuda yang sepertinya berdarah chinese itu berdiri tepat di sebelah Syein.
"Gue Tristan, satu RS sama sepupu lo, Han," ucap Tristan mengulurkan tangan yang kemudian dijabat Hana.
Ah, Hana memang agak familiar dengan muka Tristan.
"Dan yang itu, Han," ujar Niyo menunjuk Rama. Berdiri paling ujung kanan. "Itu namanya Rama. Jangan salah paham sama muka ketatnya ya, Han.
Rama memang dilahirkan begitu," ucap Niyo.
"Sialan lu, Yo," seru Rama.
Lalu, Rama menoleh kearah Hana.
"Tapi Niyo benar kok, Han. Jangan kemakan ekspresi gue yang kurang senyum ini," ramah Rama membuat mereka semua tercengang.
"Hujan dah, Rama begitu ramah sama Hana," celetuk Brandon.
Yang lain tertawa. Sementara Sam dan Hana bingung.
"Kalau Rama sudah seramah ini, itu tandanya dia kasih lu restu, Han," celetuk Zidane sudah berdiri di samping kiri Hana. Tersenyum.
Restu?