NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Dinding ruang kerja gawat itu seolah mendadak merapat, menghimpit sisa oksigen yang ada. Di atas layar monitor, angka digital berwarna merah darah itu terus bergerak mundur tanpa ampun. 59:58... 59:57... Setiap detikan waktu terasa laksana hantaman gada besi yang memukul dada Hani.

"Sarah..." bisik Hani dengan suara yang melengking pecah. Tubuhnya gemetar hebat, matanya melebar menatap visual karibnya yang terikat tak berdaya dengan wajah penuh lebam kebiruan di balik layar kaca. Ketakutan yang amat sangat mencengkeram nadinya, membuat napasnya memburu pendek dan tidak teratur.

Reza dengan cekatan langsung menangkap tubuh Hani yang nyaris luruh ke lantai marmer. Ia mencengkeram kedua bahu wanita itu, memberikan remasan kuat yang sarat akan ketegasan protektif. "Hani! Lihat aku! Tenang, Hani. Jangan kehilangan kesadaranmu sekarang!"

Narendra Baskara melangkah maju dengan wajah yang mengeras, guratan kemarahan seorang mantan petinggi korporasi terpancar dari sepasang matanya.

Ia menatap layar monitor dengan rahang yang mengatup rapat. "Surya Adiguna... bajingan tua itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Dia berani melakukan tindakan kriminal terang-terangan di bawah hidungku."

"Waktu terus berjalan, Tuan-Tuan yang terhormat," suara distorsi digital dari pengeras suara komputer kembali menggema, dingin dan mengejek.

"Jangan coba-coba melibatkan kepolisian, atau saya pastikan leher wanita ini akan patah sebelum sirine mobil patroli kalian terdengar di ujung jalan. Dermaga tua nomor empat, Pelabuhan Tanjung Priok. Sembilan puluh persen draf asli Proyek-X dan alat perekam itu harus ada di tempat dalam waktu satu jam."

Klik.

Semua layar elektronik di dalam ruangan itu mendadak mati serentak, kembali menampilkan lembar kerja dan berita bisnis yang statis, menyisakan keheningan yang mencekam dan rasa ngeri yang kian mengental.

Hani mencengkeram kemeja putih Reza dengan sisa kekuatannya, air matanya menetes deras membasahi kain katun mahal tersebut. "Pak Reza, saya mohon... selamatkan Sarah. Ini semua salah saya. Jika saya tidak mengirimkan foto dokumen itu padanya sore tadi, dia tidak akan terseret ke dalam neraka ini. Saya mohon..."

Reza menatap lekat-lekat ke dalam mata Hani yang dipenuhi keputusasaan. Rasa perih akibat tuduhan keji Hani beberapa jam lalu telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh naluri mutlak untuk melindungi wanita ini dan apa pun yang berharga baginya.

"Aku akan menyelamatkannya, Hani. Aku berjanji padamu," ucap Reza dengan nada rendah yang begitu sarat akan keyakinan.

Ia membantu Hani berdiri, lalu menoleh ke arah ayahnya. "Pah, siapkan tim pengaman internal kita. Jangan hubungi polisi umum, tapi hubungi jalur pribadi kita di unit kejahatan kekerasan. Minta mereka bergerak tanpa seragam dan tanpa sirine."

Narendra mengangguk mantap, langsung meraih ponselnya dan melangkah menuju sudut ruangan untuk melakukan panggilan darurat.

Sementara itu, Reza berjalan cepat ke arah brankas tersembunyi di balik lukisan dinding ruang kerjanya. Ia memasukkan kode kombinasi dengan lincah, lalu mengeluarkan sebuah map kulit hitam tebal, draf asli Proyek-X yang sesungguhnya, yang selama ini ia sembunyikan bahkan dari jangkauan Hendra Baskara.

"Kita tidak punya banyak waktu, Hani," kata Reza sambil menyambar kunci SUV hitamnya di atas meja, lalu menyelipkan alat perekam suara mini dan map hitam itu ke dalam jaketnya.

"Jarak dari kantor pusat ke Tanjung Priok dalam kondisi malam hari setidaknya memakan waktu empat puluh menit. Kita hanya punya sisa waktu kurang dari dua puluh menit untuk melakukan konfrontasi. Ayo."

...****************...

Malam itu, SUV hitam milik Reza membelah jalanan protokol Jakarta dengan kecepatan yang mengerikan. Deru mesin mobil berkapasitas besar itu meraung memecah kesunyian malam, bermanuver lincah di antara sisa-sisa kemacetan ibu kota.

Di kursi penumpang, Hani duduk dengan tubuh yang kaku, kedua tangannya saling meremas dengan erat di atas pangkuan.

Sesekali, Hani melirik ke arah Reza melalui sudut matanya. Pria itu fokus menatap lurus ke depan, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Keringat dingin tampak menetes dari pelipis rahangnya yang tegas. Hani tahu, luka jahitan di punggung Reza akibat malam penyerangan itu belum sepenuhnya pulih. Pria ini sedang memaksakan fisiknya di ambang batas demi dirinya.

"Pak Reza..." bisik Hani, memecah keheningan di dalam kabin mobil yang menegangkan. "Maafkan saya. Untuk sore tadi... saya benar-benar buta karena hasutan itu."

Reza tidak menorehkan pandangannya dari jalanan, namun sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman sayu yang menenangkan.

"Simpan permintaan maafmu untuk nanti, Hani. Fokus kita sekarang adalah membawa Sarah pulang dalam keadaan hidup. Setelah semua ini selesai, kamu punya waktu seumur hidup untuk menebus kesalahanmu padaku."

Kalimat 'seumur hidup' yang keluar dari bibir Reza berdesir aneh di dalam dada Hani, memberikan secercah kehangatan di tengah badai ketakutan yang sedang melanda batinnya.

Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima malam ketika SUV hitam itu akhirnya mengerem mendadak di depan gerbang berkarat Dermaga Tua Nomor Empat, Pelabuhan Tanjung Priok.

Suasana di tempat itu sangat gelap dan sunyi, hanya diterangi oleh lampu merkuri tua yang berkedip-kedip redup. Aroma asin air laut yang pekat berpadu dengan bau karat besi dan minyak solar yang menyengat indra penciuman begitu mereka turun dari mobil.

Angin laut yang berembus kencang menerbangkan rambut Hani, menambah kesan mencekam di area gudang-gudang kontainer yang terbengkalai itu.

"Tetap di belakangku, Hani. Jangan pernah melepaskan genggamanmu," instruksi Reza dengan suara setengah berbisik. Ia menggandeng tangan kanan Hani dengan erat, sementara tangan kirinya meraba map kulit hitam di balik jaketnya.

Mereka melangkah perlahan memasuki area dalam dermaga. Suara langkah sepatu mereka yang berketuk di atas lantai beton berlumut terdengar begitu nyaring, menggema di antara dinding-dinding kontainer tua.

Hingga akhirnya, di ujung dermaga yang langsung menghadap ke laut lepas, mereka melihat sebuah area terbuka yang diterangi oleh lampu sorot portabel yang sangat terang. Di tengah pendar lampu tersebut, Sarah duduk terikat di atas kursi kayu, persis seperti yang terlihat di layar monitor beberapa waktu lalu. Kepalanya terkulai lemas, namun ia masih bernapas.

Di samping Sarah, berdiri tiga orang pria berbadan tegap dengan pakaian kasual hitam dan penutup wajah. Salah satu dari mereka, pria dengan postur paling tinggi melangkah maju sambil memegang sebuah belati perak yang berkilat tajam di bawah sinar lampu sorot.

"Tepat waktu, Tuan Reza Baskara," ucap pria bertopeng itu dengan suara berat yang serak. "Dua menit lebih cepat dari perkiraan saya. Apakah Anda membawa apa yang diminta oleh bos kami?"

Reza melangkah maju satu setapak, memosisikan tubuh jangkungnya tepat di depan Hani untuk menghalangi pandangan para penjahat itu dari wanitanya. Ia mengeluarkan map kulit hitam dan alat perekam dari balik jaketnya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Semua draf asli Proyek-X yang bisa menghancurkan dinasti Surya Adiguna ada di tanganku," ujar Reza dengan suara yang lantang dan penuh wibawa, sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun.

"Lepaskan wanita itu terlebih dahulu, maka barang-barang ini akan menjadi milik kalian."

Pria bertopeng itu tertawa sinis, suara tawanya terdengar meremehkan. "Anda tidak berada dalam posisi untuk bernegosiasi, Reza Baskara. Letakkan barang-barang itu di atas lantai beton, mundur lima langkah, baru kami akan membiarkan wanita ini tetap bernapas."

Hani mencengkeram lengan kemeja Reza dengan kian erat, air matanya kembali merebak melihat kondisi Sarah yang mulai sadar dan menatapnya dengan tatapan sayu penuh ketakutan dari kejauhan. "Han... i..." bisik Sarah dengan suara yang teramat lemah di balik sumpalan kainnya.

"Lakukan apa yang dia minta, Pak Reza..." bisik Hani dengan suara yang bergetar.

Reza menarik napas dalam-dalam. Dengan gerakan lambat, ia berlutut dengan satu kaki, meletakkan map kulit hitam dan alat perekam suara mini itu di atas lantai beton yang dingin dan lembap. Ia kemudian berdiri kembali, lalu melangkah mundur lima langkah bersama Hani, sesuai dengan instruksi sang penculik.

Pria bertopeng itu memberikan isyarat kepada salah satu anak buahnya untuk maju memungut barang-barang tersebut. Begitu dokumen dan perekam suara itu berada di dalam genggamannya, pria bertopeng itu memeriksanya sejenak di bawah lampu sorot, sebelum akhirnya mengangguk puas.

"Bagus. Kerja sama yang sangat indah," ucap pria bertopeng itu, lalu melangkah mendekati kursi Sarah.

Dengan satu gerakan cepat belatinya, ia memotong tali nilon yang mengikat tubuh Sarah, membuat tubuh wanita yang lemas itu hampir saja terjatuh jika tidak ditahan oleh anak buahnya. "Sekarang, bawa temanmu ini pergi."

Hani langsung berlari kencang menghambur ke arah Sarah begitu ikatannya terlepas. Ia memeluk tubuh sahabatnya itu dengan tangis yang membuncah, membantu melepaskan sumpalan kain di mulut Sarah. "Sarah! Kamu tidak apa-apa? Maafkan aku, Sar... maafkan aku..."

"Hani... kita harus pergi dari sini... ini jebakan..." bisik Sarah dengan sisa tenaganya, suaranya terdengar sangat panik dan ketakutan.

Mendengar kalimat Sarah, jantung Hani seketika mencelos. Ia menoleh ke arah Reza yang masih berdiri diam beberapa meter di belakangnya.

Di bawah pendar lampu sorot yang terang, pria bertopeng itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk remot kontrol dari balik sakunya. Sebuah senyuman kejam tampak tersirat dari balik matanya yang menyipit.

"Surya Adiguna mengirimkan salam terakhirnya untuk keluarga Baskara," ucap pria bertopeng itu dengan nada dingin yang mengerikan. "Bos kami tidak pernah membiarkan saksi hidup membawa dokumen ini pergi secara cuma-cuma."

Klik.

Pria bertopeng itu menekan tombol pada remot kontrol tersebut. Detik itu juga, suara detikan digital yang sangat cepat.

Bip Bip Bip Bip

Sebuah bom waktu dengan indikator merah yang menyala telah dipasang di sana, dan waktu yang tersisa di layarnya hanya... sepuluh detik.

Pria bertopeng dan anak buahnya dengan cepat berbalik dan melompat ke arah sebuah speedboat yang sudah menunggu di tepi dermaga bawah, melarikan diri membelah malam laut lepas.

Reza membelalakkan matanya sempurna saat menyadari situasi maut yang mengurung mereka. Jalur keluar darat mereka telah ditutup oleh bahan peledak yang siap meledak dalam hitungan detik, sementara di belakang mereka hanyalah laut lepas yang gelap gulita.

"Reza! Hani! Cepat melompat!" sebuah suara teriakan berwibawa mendadak menggema dari arah kegelapan pintu masuk dermaga, itu adalah suara Narendra Baskara yang baru saja tiba bersama tim pengaman internal, namun posisi mereka terlalu jauh untuk bisa menjangkau ujung dermaga.

00:03... 00:02...

Reza tidak berpikir dua kali. Ia berlari kencang menerjang tubuh Hani dan Sarah yang masih terduduk lemas di atas beton.

Pria itu menggunakan seluruh kekuatan tubuhnya yang masih cedera untuk merangkul dan mendekap kedua wanita itu dalam satu pelukan protektif yang maha kuat, lalu melempar tubuh mereka bersama-sama, melompat keluar dari tepi dermaga menuju kegelapan laut lepas tepat di detik terakhir.

BOOOMMMM!!! Sebuah ledakan dahsyat seketika mengguncang langit malam.

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!