Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12 Pak Guru Kael
Sore itu, bias cahaya keemasan matahari terbenam memantul di atas permukaan laut, menyelimuti Desa Sekar dengan kehangatan yang tenang. Kael berjalan perlahan menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah desa, menikmati embusan angin laut yang membawa aroma asin khas pesisir sebuah aroma yang anehnya perlahan mulai terasa akrab di inderanya.
Di sampingnya, Rani berjalan dengan langkah riang. Gadis kecil itu sesekali melompat, dengan sengaja menghindari genangan air sisa hujan semalam sambil memeluk erat sebuah buku gambar tebal di dadanya. Meskipun bibirnya terkunci rapat oleh sunyi, sepasang matanya yang bulat bersinar jenaka, selalu berhasil menghidupkan suasana di sekitar mereka tanpa perlu satu kata pun.
Langkah Rani mendadak terhenti di depan sebuah rumah panggung sederhana yang menghadap langsung ke arah deburan ombak. Ia berbalik menatap Kael, lalu menjulurkan telunjuk kecilnya ke arah bangunan kayu tersebut dengan senyum lebar.
Rumah itu jauh dari kata mewah. Dinding-dinding papannya tampak kusam dan menua, digerogoti oleh udara garam bertahun-tahun. Namun, pekarangan rumah itu dipenuhi oleh pot-pot dari belahan bambu yang ditanami bunga-bunga liar berwarna cerah, tertata sangat rapi dan terawat.
Kael mendongak, mengamati struktur bangunan itu sesaat sebelum menunduk menatap Rani. "Jadi, ini rumahmu?"
Rani mengangguk cepat hingga rambut kuncirnya bergoyang, lalu menarik-narik ujung kemeja Kael, mengajak pria itu mendekat.
Belum sempat kaki mereka menginjak anak tangga pertama, pintu kayu yang berderit pelan terbuka. Seorang wanita tua melangkah keluar. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, disanggul rapi di belakang kepala. Tubuhnya sedikit bungkuk dimakan usia, namun binar di matanya memancarkan keteduhan yang luar biasa hangat.
"Kau... Kael, bukan?" tanya wanita tua itu lembut, menyipitkan mata demi menghalau silau matahari sore.
Kael seketika menghentikan langkah. Ia menurunkan pundaknya dan menundukkan kepala dengan takzim. "Iya, Bu. Saya Kael."
"Masuklah, Nak. Pak Kades sudah datang ke sini tadi siang dan menjelaskan semuanya," ucap wanita itu sembari mengayunkan tangannya, memberi isyarat agar mereka naik.
Wanita tua itu adalah Bu Ratih. Dialah sosok tunggal yang merawat Rani dengan penuh kasih sayang sejak ayah gadis kecil itu tiada di laut, dan ibunya pergi merantau ke kota bertahun-tahun lalu tanpa pernah mengirimkan kabar lagi.
"Rumah ini memang tua dan sederhana," kata Bu Ratih seraya menggeser pintu anyaman bambu, mempersilakan Kael melangkah melewati ambang pintu. Ia menepuk bahu Kael pelan dengan tangannya yang keriput. "Tapi selama kau tidak keberatan dengan segala kekurangannya, anggap saja tempat ini rumahmu sendiri."
Kael terpaku di tempatnya berdiri. Dadanya mendadak berdesir hangat, menyisakan rasa sesak yang asing namun menenangkan. Sudah terlampau lama mungkin seumur hidupnya tidak ada seorang pun yang menatapnya dengan ketulusan seperti itu, apalagi menawarkan sebuah tempat untuk pulang.
Kael berdeham pelan, mencoba menekan gejolak emosi di suaranya. "Terima kasih banyak, Bu. Ini sudah lebih dari cukup."
Kamar yang disediakan untuk Kael terletak di bagian paling belakang rumah. Ruangan itu sempit, hanya memuat sebuah tempat tidur kayu beralas kasur kapuk tipis, sebuah meja kayu kecil yang permukaannya mulai mengelupas, dan sebuah jendela engsel yang menghadap langsung ke cakrawala laut lepas.
Namun bagi Kael, ruangan sunyi ini terasa jauh lebih aman dan nyaman ketimbang barak-barak militer dingin atau hotel-hotel mewah tersembunyi yang pernah ia singgahi selama pelariannya.
Malamnya, mereka bertiga duduk melingkar di atas tikar pandan untuk makan bersama. Hidangannya sangat bersahaja; beberapa ekor ikan bakar yang kulitnya sedikit gosong hasil tangkapan nelayan pagi tadi, semangkuk sayur bening bayam yang masih mengepulkan uap, dan secowek sambal terasi yang aromanya menggugah selera.
Rani duduk tepat di sebelah Kael. Alih-alih segera menghabiskan nasinya, ia sibuk menyodorkan lembaran-lembaran kertas dari buku gambarnya ke hadapan Kael. Salah satu halaman menampilkan coretan krayon yang menggambarkan seorang pria jangkung berambut hitam Kael yang sedang berdiri kaku di depan papan tulis, dikelilingi oleh lingkaran-lingkaran kecil yang menyerupai kepala anak-anak.
Bu Ratih yang sedang menyendokkan sayur tertawa kecil melihat tingkah cucunya.
"Sepertinya Rani benar-benar menyukaimu, Kael. Biasanya dia sangat pemalu pada orang baru."
Mendengar godaan neneknya, pipi Rani seketika bersemu merah. Ia buru-buru menutup buku gambarnya dan menyuap nasi dengan canggung, berpura-pura sibuk.
Kael melirik gadis kecil di sampingnya, lalu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang jarang sekali ia perlihatkan.
"Aku juga senang bisa menemaninya, Bu."
Gerakan tangan Bu Ratih terhenti. Sepasang matanya mendadak berkaca-kaca, memantulkan cahaya temaram dari lampu teplok di dinding. Ia menghela napas panjang, menatap cucunya dengan tatapan sendu.
"Sejak ayahnya meninggal... Rani mengunci dirinya dari dunia luar. Dia jarang sekali mau sedekat ini dengan orang lain. Ibu bersyukur kau ada di sini."
Kael tidak menyahut. Ia hanya menatap Rani yang kini kembali asyik mencoret-coret sudut kertas tanpa memedulikan percakapan orang dewasa di dekatnya. Di dalam hati, Kael merasakan sebuah kedamaian aneh yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Apakah ini yang dinamakan kehidupan normal?
✨✨✨
Hari-hari berikutnya bergulir dengan ritme baru yang belum pernah Kael bayangkan sebelumnya.
Pagi hari ia habiskan untuk mengajar anak-anak di sekolah darurat, siang hari ia turun ke pesisir membantu para nelayan memperbaiki jala atau membetulkan atap rumah warga yang bocor, dan sore harinya ia akan duduk di tepi pantai, mengawasi Rani yang asyik bermain pasir.
Lambat laun, keberadaan Pak Guru Kael menjadi pemandangan yang paling dinantikan oleh anak-anak Desa Sekar.
"Pak Guru Kael! Lihat, aku bisa menulis namaku sendiri!" seru seorang anak sambil melompat-lompat di depannya.
"Pak Guru, ini gambar ikan paus untuk Bapak!" sahut yang lain, menyodorkan selembar kertas lecek.
"Pak Guru, besok kita belajar berhitung lagi, ya?"
Setiap kali melangkah di koridor sekolah yang terbuat dari kayu, selalu ada tangan-tangan kecil yang menarik ujung bajunya atau sekadar berlari menyalipnya sambil tertawa riang. Awalnya, insting waspada Kael membuat tubuhnya menegang setiap kali didekati. Namun perlahan, kekakuan itu meleleh. Kael bahkan mendapati dirinya kerap menatap jam dinding, tanpa sadar menantikan bel masuk kelas berbunyi setiap pagi.
Suatu sore yang cerah setelah lonceng sekolah usai berdentang, Kael memilih duduk di bawah naungan pohon ketapang besar di halaman sekolah. Ia membuka lembar demi lembar buku tugas murid, mengoreksi tulisan mereka yang masih miring dan berantakan dengan sebuah pulpen hitam.
Beberapa meter darinya, Rani sedang duduk bersila di atas rumput, tenggelam dalam dunianya sendiri bersama krayon warnanya.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan. Seorang murid laki-laki bertubuh kurus dengan seragam yang salah satu kancingnya lepas, berlari mendekat lalu berhenti tepat di depan meja kayu Kael.
Kael menghentikan goresan pulpennya. Ia mendongak, menatap anak itu tenang.
"Ada apa, Budi?" Tanya Kael
Anak bernama Budi itu meremas ujung seragamnya, wajahnya memerah karena malu sekaligus kelelahan setelah berlari. Ia menatap Kael dengan mata bulatnya yang jujur.
"Pak Guru..."
"Ya?"
"Kalau saya sudah besar nanti... saya mau jadi guru seperti Pak Kael," ucap Budi dengan suara lantang, meski sedetik kemudian ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum malunya.
Kael tertegun. Jemarinya yang memegang pulpen mendadak kaku.
"Kenapa ingin jadi seperti saya?" tanya Kael pelan, suaranya nyaris berbisik.
Budi kembali mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata kelam Kael. "Soalnya... Pak Guru baik. Pak Guru tidak pernah marah, dan selalu mengajari kami sampai bisa. Saya mau jadi orang baik seperti Bapak."
Orang baik.
Kata-kata sederhana itu menghantam dada Kael layaknya godam tak kasatmata. Selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang organisasi, namanya adalah sinonim dari kematian, ketakutan, dan kehancuran. Tidak pernah ada satu makhluk pun di dunia ini yang berani mengaitkan kata 'baik' dengan dirinya.
Namun sekarang, di tempat terpencil ini, seorang anak kecil mengatakannya dengan ketulusan mutlak yang tanpa pamrih.
Kael perlahan mengulurkan tangannya yang dipenuhi bekas luka tersembunyi, lalu mengusap rambut Budi dengan gerakan yang sangat lembut seolah takut kekuatannya akan menyakiti anak itu.
"Kalau begitu... belajar yang rajin. Jangan malas."
Budi tersenyum lebar hingga matanya menyipit, mengangguk penuh semangat. "Siap, Pak Guru!" Tanpa menunggu lama, anak itu langsung berbalik dan berlari kencang menuju gerbang sekolah, bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Kael memperhatikan punggung kecil itu menjauh hingga menghilang di tikungan jalan.
Tanpa sepengetahuannya, dari koridor Poskesdes yang terletak tak jauh dari halaman sekolah, Dokter Hana berdiri bersandar pada pilar kayu. Ia menyilangkan kedua tangan di dada, memperhatikan seluruh interaksi itu dari kejauhan. Sebuah senyuman lembut terukir di wajah manis dokter muda itu.
Pria misterius yang beberapa minggu lalu ia temukan terdampar dalam kondisi sekarat dan penuh luka tusuk di pantai, kini perlahan-lahan mulai melebur, menjadi bagian tak terpisahkan dari urat nadi Desa Sekar.
Hana mengembuskan napas lega, membatin dalam hati bahwa mungkin tebakannya benar Kael akhirnya menemukan apa yang selama ini dicari oleh jiwa-jiwa yang terluka. Sebuah rumah.
"Dia manis juga," gumam Hana, yang seketika langsung mengetuk kepalanya sendiri.
Apa yang baru saja ia katakan? Manis?
"Apa yang terjadi padaku?" Hana menggeleng-gelengkan kepala, lalu segera masuk ke dalam Poskesdes untuk merapikan beberapa perabotan setelah seharian tadi harus menghadapi beberapa pasien kesayangannya.
Bersambung...