Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 : Karma Evan dan Raka
Evan merasa sedikit lega karena lelaki yang sudah melukai hidup adiknya kini mendapatkan karmanya. Akan tetapi, rasa penyesalan karena gagal melindungi keselamatan adiknya masih menggerogoti hatinya yang beku. Tanpa sadar, Evan meneteskan air mata.
"Sudah, kau tenangkan dirimu, Evan. Laki-laki yang sudah menghancurkan hidup adikmu itu kini sudah mendapatkan karmanya. Kau hanya perlu berdamai dengan keadaan," ujar Satria yang saat itu ada di samping Evan. Dia merangkul lelaki tersebut, berusaha menenangkannya.
Evan menarik napas dalam-dalam. Dadanya masih terasa sesak. Lelaki itu bangkit menatap potret Dara yang ada di dinding ruang tamu. Tangannya terulur, mengambil foto itu dan mendekapnya erat.
"Aku hanya menyesal, aku tidak bisa melindungi adikku sampai dia berakhir tragis seperti ini," ucap Evan dengan terbata-bata. Air mata perlahan keluar dan wajahnya sedikit pucat.
Satria menghampiri Evan yang sedang merangkul foto Dara. Dia sekali lagi meraih pundak lelaki itu sambil berusaha tersenyum tipis untuk memberikannya perhatian. Satria merangkul Evan, memberinya pelukan saudara meski mereka bukan siapa-siapa.
Merasakan pelukan itu, dada Evan menjadi makin sesak. Dia menarik napas dalam-dalam sambil mendekap erat foto Dara. Air mata tak berhenti mengalir di pipinya.
"Aku jadi teringat sama adikku, aku gagal jadi kakak yang baik. Andai saja aku bisa menyelamatkan dia waktu itu, mungkin ini tidak akan terjadi," ujar Evan dengan sedikit terbata-bata.
"Jangan perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Semuanya sudah berlalu, Evan. Kau harus fokus menata hidupmu. Jangan menengok roda yang sudah berputar, Evan...," tegur Naja yang baru saja datang.
Kali ini, Naja datang dalam wujud gadis yang cantik dan penuh perhatian. Auranya terasa lebih lembut daripada sosok menyeramkan yang kemarin sempat memberikan hukuman untuk Evan. Dia berjalan cepat menghampiri mereka berdua dengan senyum manis yang menenangkan.
Evan menoleh sekilas padanya. Dia menghapus sejenak air matanya dan membalas senyuman Naja. "Naja? Aku hanya ingin bisa memperbaiki keadaan," ujarnya.
Naja melipatkan kedua tangan di depan dada. Tatapannya berubah sinis dan senyuman di wajah cantiknya memudar. Dia menatap tak acuh Evan yang matanya sembab karena menangis.
"Ckck... kamu makan nasi kan?" Evan mengangguk menanggapi ucapan Naja.
"Ini tuh ibaratnya… nasi kalau sudah dicerna jadi apa? Yap, eeq. Sesuatu yang sudah jadi eeq nggak akan bisa berubah jadi makanan kembali Evan," tegur Naja, memberi nasehat secara santai namu dingin pada Evan yang terus menyesali kejadian yang sudah berlalu.
"Tapi eeq bisa buat pakan lele, Naja. Kamu lihat kan jamban di atas ternak lele pak RT kemarin malam?" kekeh Satria geli.
"Cih... aku lagi ngomong serius tau, jangan dibercandain!” Naja melirik malas sambil memukul kepala Satria. "Yah, intinya gitu deh ya, Evan."
“Serius, tapi perumpamaanmu aneh.” Celetuk Satria lagi.
Naja ingin lelaki itu bisa move on dan tidak terus meratapi kematian atau kejadian malang yang menimpa adik perempuannya itu. Bagaimanapun, itu sudah terjadi. Dara, adik perempuan satu-satunya sudah meninggal. Pelaku yang sudah membuat adiknya menderita juga sudah mendapatkan karmanya. Mereka sudah impas sekarang. Bagi, Naja meratapi masalalu hanyalah hal sia-sia saat ini.
Satria menoleh pada Evan. Dia menatapnya lembut.
"Apa yang dikatakan Naja itu benar, kau harus memulai hidup baru lebih baik, Evan. Jangan sampai masalalu menjadi bayang-bayang gelap yang membuatmu buta akan masa depan," tegur lelaki itu dengan suara tegas tapi lebih perhatian daripada cara Naja menegur.
Evan menghela napas panjang. Dia mengusap air matanya. Foto Dara yang tadi didekap erat, kini ditaruh di atas meja. Lelaki itu berjalan mendekati jendela yang basah karena hujan deras tadi siang. Daun hijau yang masih basah sejenak menyentuh hatinya yang sesak, seolah memberi sentuhan yang menyejukkan.
Evan melihat itu menjadi lebih tenang. Dia menghapus sisa air mata yang ada di pipinya. Senyuman di wajahnya kembali terukir meski terlihat kaku atau dipaksakan. Melihat itu, Satria tersenyum.
"Jangan takut untuk memulai hal baru, Evan. Aku hanya bisa berpesan agar kamu selalu berbuat baik karena orang jahat pasti akan berakhir dengan penyesalan yang tak ada habisnya," ucap Satria mencoba menasehati Evan dengan mengingat kisah beberapa orang yang sudah mendapatkan hukuman sadis dari Naja.
Merasa tersinggung, Naja mendelik menatap Satria membuat lelaki itu sedikit salah tingkah dan kembali menatap Evan.
"Intinya, kalau kamu berbuat jahat sekali lagi, Naja tidak akan mendiamkan mu seperti sekarang..," jelas Satria mencoba memperingati Evan untuk hati-hati ke depannya.
Evan mengerutkan kening, masih merasa tidak percaya dengan kebaikan yang dilakukan Naja padanya. Dia menghampiri gadis itu dengan rasa penasaran dan juga rasa khawatir.
"Kenapa ... Kenapa kamu melakukan ini padaku, Naja? Kenapa kamu mau membantuku mencari keadilan?" tanya Evan dengan rasa penasaran yang sangat dalam. Mata lelaki itu menatap Naja dengan tajam, mencoba mencari jawaban dari wajah cantik yang dipandangnya itu.
Naja menggeleng, tatapannya masih sinis tapi tidak sedingin biasanya. Dia melipat kedua tangan di depan dada.
"Jangan geer dulu. Itu bukan untuk mu, Evan. Aku menghukum Niko, itu untuk memberi keadilan pada Dara yang sudah meninggal sia-sia." tegas Naja.
"Lagipula, sudah jadi urusanku untuk memberi hukuman atas kejahatan dia. Lagian kamu juga tidak sebaik itu," lanjut gadis itu membuat Evan terdiam dan menundukkan kepalanya, mengalihkan pandangan matanya dari tatapan Naja yang tajam.
Naja tidak ingin Evan merasa diperhatikan berlebihan olehnya. Bagaimanapun, Evan juga tidak sesuci itu sampai harus mendapatkan perhatian khusus dari Naja.
Dia tetap mendapat hukuman karena perbuatannya. Walaupun sepertinya Evan sendiri tidak sadar.
Hukuman Evan adalah menanggung rasa bersalah kehilangan adiknya untuk selamanya.
Evan beruntung , dia tidak dapat hukuman sesadis Niko karena dosa yang mereka lakukan berbeda. Niko jauh lebih keji daripada Evan, itu sebabnya hukuman yang didapat jauh lebih berat. Bahkan pemuda itu juga pantas mati saat diadili oleh Naja.
Tak mau meratapi nasib malangnya, Evan pun mencoba untuk mengalihkan perhatiannya. Dia menghela napas sambil tersenyum tipis. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar lalu memandang langit biru di balik jendela kacanya yang sedikit berdebu seperti hatinya saat ini.
"Maafkan aku, adikku. Maafkan kakakmu ini yang gagal melindungi keselamatan mu. Kakak janji, akan berubah menjadi lebih baik. Kakak tidak ingin kamu di surga sana kecewa melihat kakak," ucap Evan sambil tersenyum menatap langit seolah membayangkan bahwa Dara, adik kesayangannya masih ada di depannya sambil tersenyum.
Melihat keadaan sudah mulai membaik, Naja pun tersenyum dan menepuk pundak Evan. "Jangan menyerah, semangat berbuat baik. Aku pamit kalau begitu," ucapnya lembut lalu memilih menghilang dari ruangan, meninggalkan Evan sendiri bersama Satria.
Satria yang melihat kepergian Naja pun menoleh pada Evan dengan senyum kikuk. "Aku juga pamit ya, anggap ini pelajaran. Terus semangat!"
Evan mengangguk sambil membalas senyuman mereka. "Iya, terimakasih banyak atas semuanya," ucap lelaki itu yang hanya dibalas senyuman oleh Satria.
Kini, Evan sendirian di ruangan. Suasana sunyi membuat jiwanya merasa hampa. Dia memeluk dirinya sendiri sambil menarik napas dalam-dalam. Senyuman tipis terukur di wajahnya.
"Dara, kakak minta maaf gagal melindungi mu. Mulai sekarang, kakak berjanji akan berusaha untuk lebih baik lagi dan kakak selalu berdoa agar kamu tenang di sana," ucap Evan lembut dengan mata yang berbinar menatap langit biru itu. Perlahan, rasa sakit di hatinya memudar.
Evan yang sedang meratap nasib tertegun ketika telpon berdering. Nomor tidak dikenal, membuat jidatnya mengkerut.
“Halo…”
Seseorang dengan nada profesional berkata di seberang sana. “Halo, Evan, ini mamanya Raka. Tolong beritahu Pak Guru, besok Raka tidak masuk karena hari ini dioperasi.”
“Operasi?”
“Iya nak Evan, tangannya di gigit anjing peliharaan kami.”
Naja dan Satria hanya tertawa dari belakang.
“Tenang Evan. Itu cuma bonus kecil untuk Raka karena diam saja waktu Dara butuh bantuan.”