"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 37
Beberapa menit kemudian ...
Ketika Bara dan Anya telah sampai di area perusahaan Ara Tech. Bara menuju basement bawah di lahan parkir yang sangat luas milik perusahaan.
Bara membuka pintu mobilnya. Di ikuti Anya yang berjalan di samping Bara. Ini pertama kalinya Anya melihat bangunan yang mempunyai lahan parkir seluas ini.
"Waah~ ini sih luas banget! Lebih luas dari halaman depan keluarga Adiwijaya" ucap Anya. Ia melihat sekelilingnya area luas yang di penuhi dengan banyak mobil mewah yang sedang terparkir.
"Apa mobil-mobil ini tidak ada yang menjaga?" gumam Anya pelan, seraya mengikuti langkah Bara yang perlahan menjauh karena Anya sibuk melamun kagum.
"Selamat pagi pak Bara~" sapa salah satu security yang menjaga dan bertugas di basement bawah. Ia menunduk laluk tersenyum menyapa kehadiran Bara.
"Pagi."
Petugas itu, melirik Anya yang datang di belakang Bara. Petugas itu tidak tahu, kalau Anya berangkat bareng bersama Bara. Karena tamu, harus lebih dulu konfirmasi kehadirannya kepada petugas sebelum masuk lobby perusahaan.
"Ini ..."
"Dia datang bersama ku" potong Bara. Melihat Anya yang sudah berdiri bingung di sampingnya. Mendengar ucapan Bara, petugas itu tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menatap Bara yang pergi meninggalkannya.
Petugas itu menunduk ketika Bara melewatinya. Di ikuti Anya yang mengekor di belakangnya. Anya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Melihat semua orang selalu bersikap hormat kepada Bara.
"Dia ..." gumam Anya pelan dalam hati. Melirik petugas itu yang masih menunduk bahkan setelah Bara sudah melewatinya.
Ketika sedang berjalan menuju lobby di samping Bara. Anya merasakan aura yang berbeda. Ia seperti sedang bersama orang lain. Bukan Bara yang ia temui kemarin. Anya sesekali mencuri untuk melihat wajah Bara, memastikan kalau ia masih orang yang sama.
"Kamu ingatkan, dengan permintaan saya tadi di mobil?" tanya Bara, terus berjalan fokus menuju lobby tanpa melihat Anya.
Sesaat Anya kembali berpikir. Berusaha mengingat apa maksud ucapan Bara ini.
"Hm?"
"Ah, iyaa! ... ingat Bar—"
"Maksudku pak Bara!" ucap Anya. Mendadak gugup karena Bara selalu menekankan permintaannya itu. Permintaan yang tidak Anya mengerti maksudnya.
Sebuah pintu kaca yang besar terbuka secara otomatis. Ketika Bara dan Anya mulai memasuki lobby perusahaan.
Banyak orang yang berlalu lalang di dalamnya. Ada sebagian yang sedang bekerja di depan komputernya, ada yang sedang berbincang dengan para klien di ruang tamu berlapis kaca transparan.
Anya tiada hentinya terpukau. Dengan keadaan yang baru pertama kali ia rasakan. Semua interior dan tempat duduk disini terlihat sangat mahal.
Lantai marmer kinclongnya saja di balut dengan permadani panjang berwarna merah. Hampir mirip dengan hotel-hotel kelas atas.
"Ekhm!"
Lamunan Anya pecah. Ketika suara Bara berhasil membuatnya kaget. Bara ingin Anya segera kembali fokus mengikutinya di samping. Ketika, sudah ada beberapa orang dari kejauhan yang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Lihat deh ... bukannya itu pak Bara?" ucap salah satu karyawan perusahaan yang tidak sengaja melihat mereka. Bertanya kepada wanita di sebelahnya untuk memulai gosip.
"Iyaa bener! Siapa wanita disebelahnya?" sambung temannya. Meneruskan gosip mereka di pagi hari.
"Ah, aku tahu! Mungkin mereka ..."
"Sst! Udah. Jangan bicara yang tidak-tidak. Kalau ketahuan ... kita bisa kehilangan pekerjaan," potong temannya yang lain. Membuat obrolan mereka berakhir dan kembali meneruskan pekerjaan.
•••
Ketika Bara dan Anya telah keluar dari lift secara bersama. Mereka berjalan melewati sebuah lorong transparan yang terbuat dari kaca. Dari sudut pandang mereka, dapat melihat pemandangan ramainya jalan raya kota yang sedang ramai.
Mereka berdua berjalan perlahan menuju gedung lain terhubung dengan lorong tersebut. Sering kali juga, beberapa orang yang bertemu dengan mereka selalu memberi hormat dengan sopan menyapa Bara dan Anya.
"Selamat pagi pak, bu ..."
"Pagi."
Orang itu menunduk memberi salam. Membuat Anya ikut menunduk memberi salam karena sungkan. Setelah melewatinya, Anya berpikir.
"Hah, ibu? ... apa wajah aku setua itu?" gumam Anya bicara sendiri di dalam hati.
Tepat di ujung lorong mereka berjalan. Telah berdiri seseorang yang tidak asing dan Bara kenal. Pria itu membawa sebuah dokumen di tangannya. Dengan sebuah senyuman kecil yang ia tahan sebelum bertemu dengan Bara.
"Astaga ... Bara! Baru hilang beberapa hari, sudah ada wanita yang mengikuti. Memang benar ... ketampanan seseorang tidak bisa di bohongi," ucap Kenan dengan nada yang santai dan hangat.
Dia merupakan karyawan sekaligus teman dekat Bara yang bekerja di perusahaan Ara Tech ini. Rambut kuning yang di belah tengah, menjadi ciri khasnya.
Serta, setelan jas merah maroon dan celana panjang yang selaras, membuat Kenan tidak kalah ganteng dengan Bara. Membuat Anya saja, melamun saat pertama kali melihatnya.
"Tidak usah bicara yang aneh-aneh. Ini Anya, wanita yang sempat kuceritakan waktu itu," balas Bara dingin. Memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Pandangan Kenan dan Anya bertemu, Anya yang sedang di perkenalkan Bara, sontak menunduk memberi salam hormat kepada Kenan. Pria yang baru pertama kali ia temui.
"Kenan ..." sapa Kenan, ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Anya. Dan pada saat itu juga, Bara langsung mengeluarkan tangannya dari saku.
"Tidak usah terlalu formal. Aku sedang buru-buru," ujar Bara. Ketika ia menurunkan kembali tangan Kenan agar tidak melakukan hal yang membuang waktunya.
"Saya Anya ..." jawab Anya kikuk. Merasa bingung dengan situasinya saat ini. Ketika ia melihat ekspresi Kenan yang menatap Bara saat tangannya tidak perlu berjabat dengan Anya.
"Haha ... baiklah. Oke~" ucap Kenan, menormalkan kembali ekspresinya dengan nada di akhir kalimatnya agar mencarikan suasana.
Kenan merasa bingung, karena ini pertama kalinya ia melihat Bara bersikap demikian saat bersama wanita. Entahlah, mungkin itu hanya perasaan Kenan saja yang sudah lama berteman dengan Bara.
"Aku minta tolong pekerjakan dia di perusahaan ini. Sebagai asisten kebersihan juga tidak masalah," kata Bara, dengan nada kalimatnya yang semakin membuat Kenan merasa bingung.
"Hah, tolong? ... dia kenapa sih? Apa otaknya terbentur sesuatu," gumam Kenan dalam hati. Merasa aneh dan mencoba mengerti apa maksud dari Bara.
"Ha. Ha. Ha ... bukankah kamu sendiri bisa—"
Saat kalimat Kenan belum selesai, Bara langsung menatapnya dengan tajam. Tetsirat jelas di wajahnya ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan sekarang. Dan Kenan harus mengerti itu.
"Tolong Kenan," ucap Bara lagi meminta tolong lebih jelas. Agar Kenan dapat segera mengerti.
Huh~
"Baiklah ... aku akan mengurus ini," jelas Kenan. Membuat kekhawatiran Bara terbayar sudah. Ia saat ini menyerahkan Anya untuk di interview dengannya.
Melihat obrolan kedua pria tampan di depan Anya, membuat Anya semakin bingung dan tidak mengerti sama sekali tentang ada apa sebenarnya. Anya hanya bisa beberapa kali bergatian melirik Bara dan Kenan yang sedang berbincang.
"Anya ... mulai saat ini, Kenan yang akan membantu mu untuk bekerja di perusahaan ini. Kamu tidak perlu merasa takut dengannya," kata Bara. Memberikan ketenangan ruang untuk Anya agar tidak terlalu cemas karena gugup.
Mendengar kalimat Bara, membuat Kenan tidak habis pikir lagi. Tentang mengapa harus ada wanita yang takut dengannya.