NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pagi itu, kantor pusat Zyan Group tampak seperti biasa: sunyi, wangi aroma kopi mahal, dan penuh dengan orang-orang bersetelan jas yang berjalan terburu-buru seolah setiap detik adalah lembaran dolar. Namun, ketenangan itu mendadak pecah saat sebuah raungan mesin yang memekakkan telinga terdengar dari arah gerbang depan.

BRUUUM! VROOOAM!

Suara itu bukan berasal dari supercar koleksi klien penting, melainkan dari sebuah Kawasaki Ninja ZX-25R hitam yang melaju kencang, melakukan manuver selap-selip di antara mobil-mobil mewah di area parkir. Satpam di depan sampai melongo saat motor itu bukannya menuju parkiran motor karyawan di belakang, melainkan langsung menuju slot parkir khusus bertuliskan "RESERVED FOR CEO".

Alexa melepas helmnya, mengibaskan rambut wolfcut-nya yang lepek karena keringat, lalu turun dari motor dengan santai. Ia memakai jaket denim belel dengan patch band punk di punggungnya, celana jeans sobek di bagian lutut, dan sepatu Converse yang warnanya sudah memudar.

"Pagi, Pak Satpam! Om Kaku udah dateng belum?" tanya Alexa sambil melepas sarung tangan kulitnya.

"Maksud Mbak... Pak Zyan? Beliau sudah di atas sejak satu jam lalu, Mbak. Tapi maaf, Mbak nggak bisa parkir di sini, ini slot khusus Direksi," ujar satpam itu dengan sopan tapi panik.

"Tenang aja, Pak. Saya calon 'pendamping' di hidup dia, kok. Bentar lagi saya bakal jadi Bos juga," sahut Alexa sambil mengedipkan sebelah mata, lalu melenggang masuk ke gedung megah itu tanpa dosa.

Di lantai paling atas, Zyan sedang memimpin rapat mingguan yang menegangkan. Wajahnya sedingin es saat ia menatap grafik penjualan yang tidak sesuai target.

"Saya tidak mau tahu alasannya. Jika minggu depan angka ini tidak naik tiga persen, saya akan merombak seluruh divisi pemasaran. Mengerti?"

"Mengerti, Pak," jawab para manajer dengan suara gemetar.

Tepat saat Zyan hendak menutup rapat, pintu ruang boardroom yang berat itu terbuka tanpa ketukan. Semua mata tertuju ke arah pintu. Di sana berdiri seorang gadis mahasiswi dengan gaya yang sangat kontras dengan kemewahan ruangan itu.

"Halo, Om! Dicariin Mama Ratna nih, katanya ponselnya nggak aktif," teriak Alexa dari ambang pintu, suaranya menggema dengan ceria—terlalu ceria untuk ruangan yang sedang mencekam itu.

Zyan memejamkan mata sejenak, menghirup napas panjang untuk menahan urat sarafnya agar tidak putus saat itu juga. Ia menatap sekretarisnya, lalu memberi kode untuk membubarkan rapat. Para manajer segera berhamburan keluar seolah baru saja diselamatkan dari kandang singa, sambil melirik Alexa dengan tatapan penuh tanya: Siapa cewek pemberani ini?

Setelah ruangan kosong, Zyan berdiri, merapikan kancing jasnya, lalu berjalan mendekat. "Alexa. Saya rasa saya sudah bilang semalam, jangan panggil saya Om. Dan ini kantor, bukan bengkel atau kampus kamu."

Alexa malah duduk di atas meja rapat yang terbuat dari kayu jati mahal, mengayun-ayunkan kakinya yang memakai sepatu kotor. "Ya abisnya, Om kaku banget kayak kanebo kering. Ponsel kenapa dimatiin? Tante Ratna panik tahu, dia mau mastiin kita jadi fitting baju pengantin siang ini."

Zyan mendengus, ia mengambil ponselnya dari meja. "Baterainya habis. Dan saya punya tiga jadwal rapat lagi siang ini. Fitting itu bisa ditunda."

"Enggak bisa! Tante Ratna bilang kalau Om nggak datang, motor ZX kesayangan gue bakal disita Papa karena dianggap pengaruh buruk. Jadi, lo harus tanggung jawab!"

Alexa melompat turun, berdiri tepat di depan Zyan, menantang tinggi badan pria itu dengan mendongak.

Zyan menatap wajah Alexa. Tanpa make-up berlebih, gadis ini sebenarnya memiliki kecantikan yang murni, namun tertutup oleh sikap bar-bar-nya. "Kamu mengancam saya demi sebuah motor?"

"Ini bukan sekadar motor, Om. Ini belahan jiwa gue. Lebih setia daripada mantan istri lo, mungkin?"

Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Tatapan Zyan menajam, auranya berubah menjadi sangat mengintimidasi. "Jangan pernah membawa masa lalu saya ke dalam percakapan ini, Alexa. Kamu tidak tahu apa-apa."

Alexa sedikit tertegun. Ia sadar ia mungkin sudah kelewatan. Tapi, rasa gengsinya lebih besar. "Makanya, jangan jadi robot. Ayo jalan sekarang, atau gue bakal teriak di lobby kalau lo itu sebenernya suka koleksi boneka Barbie!"

Zyan menatapnya tak percaya. "Saya tidak koleksi..." Ia berhenti, menyadari berdebat dengan Alexa hanya akan membuang waktu. "Sepuluh menit. Tunggu di lobby. Saya akan ganti mobil."

"Nggak usah pake mobil! Macet! Pake motor gue aja!"

Zyan tertawa sinis. "Saya? Naik motor berisik itu? Dalam mimpi kamu."

Sepuluh menit kemudian, seluruh karyawan Zyan Group menyaksikan pemandangan paling ajaib dalam sejarah perusahaan. Direktur mereka yang paling disegani, yang biasanya keluar gedung dengan Rolls Royce, kini tampak berdiri di samping motor Ninja hitam dengan ekspresi wajah seperti ingin menelan orang hidup-hidup.

"Pakai ini," Alexa menyodorkan helm cadangan berwarna pink mencolok (sengaja ia pinjam dari temannya tadi pagi untuk mengerjai Zyan).

"Saya tidak akan memakai helm pink, Alexa."

"Ya udah, ditilang polisi ya tanggung sendiri. Lagian cocok kok sama jas mahal lo, biar ada sentuhan soft boy-nya dikit."

Zyan, yang sudah terdesak waktu dan teror telepon dari ibunya, akhirnya merampas helm itu dengan kasar dan memakainya. Saat ia duduk di jok belakang yang sangat kecil, posisinya terasa sangat konyol.

"Pegangan, Om! Gue mau nge-gas!"

"Jangan panggil sa—"

Belum sempat Zyan menyelesaikan kalimatnya, Alexa sudah menyentak gas. Mesin ZX-25R itu menjerit, dan motor itu melesat keluar dari area kantor, meninggalkan kepulan asap dan aroma bensin di depan hidung para karyawan yang masih melongo.

Sepanjang jalan, Zyan terpaksa memegang pinggang Alexa karena gadis itu membawa motor seperti sedang dikejar setan. Angin kencang menerpa jas mahalnya, dan helm pink itu menjadi pusat perhatian setiap orang di lampu merah.

"Alexa! Pelankan kecepatannya! Ini melanggar hukum lalu lintas!" teriak Zyan di balik helm.

"Hukum itu buat ditaati, tapi adrenalin itu buat dinikmati, Om! Pegangan yang kenceng, kita bakal cornering!"

Zyan memejamkan mata saat Alexa memiringkan motor di tikungan tajam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang terencana, Zyan merasa tidak memegang kendali. Ia merasakan detak jantungnya berpacu, bukan karena takut jatuh, tapi karena aroma parfum jeruk yang segar dari rambut Alexa yang menyelinap masuk ke dalam helmnya. Aroma yang sangat berbeda dengan parfum mahal wanita-wanita yang biasa mendekatinya.

Begitu sampai di depan butik pengantin, Zyan turun dengan langkah gontai. Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan. Ia segera melepas helm pink itu dengan wajah merah padam.

"Gimana, Om? Masih mau bilang naik motor itu nggak efisien?" tanya Alexa sambil melepas helmnya, wajahnya tampak sangat puas melihat sang Direktur berantakan.

"Itu... itu adalah pengalaman paling buruk dalam hidup saya," bohong Zyan sambil merapikan jasnya yang kusut. Padahal, jauh di lubuk hatinya, ada percikan kegembiraan yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Halah, bohong! Tadi pas di tikungan lo meluk gue kenceng banget tuh. Ngaku lo, ketagihan kan?"

"Saya hanya berusaha tidak mati, Alexa!"

Mereka masuk ke dalam butik sambil terus berdebat. Di dalam, Bu Ratna dan orang tua Alexa sudah menunggu dengan senyum lebar.

"Wah, calon pengantin baru datang! Kok berantakan gini, Zyan?" tanya Bu Ratna heran.

"Tanya sama calon menantu kesayangan Mama ini," jawab Zyan ketus, sambil berjalan menuju ruang ganti.

Alexa hanya menjulurkan lidah ke arah punggung Zyan. "Siap-siap ya, Om. Itu baru pemanasan. Setelah nikah, hidup lo bakal lebih berwarna dibanding pelangi!"

Zyan berhenti sejenak, tanpa berbalik ia bergumam, "Atau mungkin hidup kamu yang akan saya disiplinkan, Alexa."

Alexa tertawa menantang. Di butik itu, di antara kain-kain brokat dan jas-jas formal, mereka tidak tahu bahwa benang takdir mulai terikat kuat. Alexa yang ingin menghancurkan kekakuan Zyan, dan Zyan yang tanpa sadar mulai tertarik dengan kekacauan yang dibawa Alexa. Perang baru saja dimulai, dan kali ini, lokasinya adalah di pelaminan.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!