NovelToon NovelToon
Legenda Dari Masa Depan

Legenda Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ahli Bela Diri Kuno / Time Travel / Mata Batin / Fantasi Wanita / Peramal / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: R. Seftia

Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.

(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ramalan Li Hua Jadi Kenyataan

Li Hua dan Xiao Yan saat ini ditahan di dalam penjara yang berbeda. Xiao Yan ditahan di penjara biasa, sedangkan Li Hua yang dianggap telah lancang kepada Ratu telah ditempatkan di penjara dingin.

Di dalam penjara dingin, Li Hua mendapatkan siksaan. Dia dicambuk dan juga dipukul, tetapi setiap luka yang ada di tubuhnya selalu kembali tertutup dan hilang. Hal itu sangat aneh bagi sang algojo.

Pukulan terus diberikan, tetapi luka pada tubuh Li Hua terus menghilang, hanya menyisakan darah segar dibagian luar, tanda jika memang sebelumnya ada luka di sana.

Keanehan itu ingin dilaporkan kepada Ratu, tetapi belum sempat dia melangkah lebih jauh, Shu Hua yang kini telah bermandikan darah banyak orang menghentikan langkahnya, sekali lagi memutus kepala dari tubuhnya.

Tangis Shu Hua pecah saat melihat Kakaknya diikat dan banyak noda darah di pakaiannya. Shu Hua tidak bisa berhenti menangis, Shu Hua merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan Li Hua sendirian.

"Kakak..." Shu Hua berlari langsung kepada Li Hua, memeluk sang Kakak dengan erat sambil menangis dalam pelukannya.

"Su-a... kamu datang..." Suara Li Hua terdengar sangat lemah. Walaupun luka di tubuh Li Hua hilang, Li Hua tetap mendapatkan dampak buruk. Darah yang keluar dari tubuhnya tidak bisa kembali karena lukanya tertutup dengan cepat, akibatnya kini Li Hua pucat dan lemah karena kekurangan darah.

"Maafkan aku. Harusnya aku tidak meninggalkan Kakak sendiri. Harusnya aku tetap bersama dengan Kakak. Jika saja aku bersama Kakak... semua ini tidak akan terjadi. Kakak tidak akan ada di sini dengan kondisi seperti ini. Ini semua salahku! Salahku!" Shu Hua histeris, merasa dirinya sangat bersalah kepada Li Hua.

"Hey, jangan menangis. Ini bukan salah kamu, Shu Hua. Segala hal yang terjadi memang sudah takdir. Jangan salahkan dirimu." Li Hua dengan suara yang lemah, menggenggam erat tangan Shu Hua sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.

Melihat Li Hua kini tidak sadarkan diri, Shu Hua benar-benar murka. Dengan hati-hati dia membaringkan tubuh sang Kakak, menutupnya dengan jubah yang sebelumnya Shu Hua pakai.

"Pedang!" Shu Hua kembali memanggil satu pedang. Kini kedua tangannya dilengkapi dengan senjata.

Dengan tatapan mata yang kosong dan dingin, Shu Hua berjalan keluar dari penjara dingin itu. Dan tepat saat Shu Hua keluar, banyak prajurit yang telah bersiaga menunggu Shu Hua dengan ancang-ancang yang siap untuk menyerang. Namun, mereka tidak bisa menutupi ketakutan mereka kepada Shu Hua, terlebih lagi setelah melihat begitu banyak kepala yang putus karena pedang Shu Hua.

"Biar aku bertanya. Dan aku hanya akan bertanya satu kali. Jika kalian tidak memberikan jawaban yang aku inginkan, kepala kalian juga akan terlepas!" Shu Hua mengancam dengan kedua pedang tajam di tangannya.

"Katakan kepadaku, di mana Ratu kalian?" tanya Shu Hua.

Target Shu Hua jelas. Shu Hua mengincar Ratu Shen Wanqing. Alasan Shu Hua menargetkan Ratu Shen Wanqing bukan tanpa alasan; Ratu Shen Wanqing adalah orang yang telah memfitnah dan melukai Kakaknya, Li Hua. Shu Hua hanya ingin membalas apa yang telah Ratu Shen Wanqing lakukan kepada sang Kakak.

Para prajurit hanya diam saat Shu Hua bertanya; mereka mungkin takut kepada Shu Hua saat itu, tetapi mereka juga takut dengan Ratu mereka. Mereka tidak berani memberitahu keberadaan sang Ratu.

"Sepertinya kalian semua sangat setia kepada Ratu kalian. Kesetiaan itu adalah hal yang bagus, tetapi harusnya kalian memilih dengan bijak ingin setia kepada siapa! Dan kuharap kalian tidak menyesal telah memilih Ratu kalian!"

Shu Hua mengangkat pedangnya, mengambil ancang-ancang untuk menyerang, namun tiba-tiba Hao Lin datang dan menghentikan Shu Hua.

"Shu Hua, hentikan!" teriak Hao Lin.

"Shu Hua, kali ini kamu sudah sangat keterlaluan. Tidak cukup membunuh satu orang, tetapi kamu membunuh banyak orang hari ini. Kendalikan dirimu, Shu Hua!" seru Hao Lin.

"Siapa kamu berhak memberikan perintah kepadaku?"

"Kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik. Aku akan bicara kepada Ibu Ratu agar dia membebaskan Li Hua dan juga membersihkan namanya. Aku akan melakukan itu dan aku berjanji akan bisa melakukannya," kata Hao Lin.

Shu Hua tampak sedikit bimbang. Di satu sisi ia tidak ingin percaya kepada Hao Lin, tetapi di sisi lain, ia ingin mencoba percaya kepadanya.

"Bagaimana kamu bisa membujuk Ratumu itu untuk membebaskan Kakakku dan membersihkan namanya? Apa kamu bisa menjamin jika dia akan mendengar apa yang kamu katakan?"

"Iya, aku bisa jamin itu!"

"Bagaimana bisa kamu seyakin itu?"

Hao Lin sedikit ragu untuk menjawab, tetapi pada akhirnya Hao Lin tetap harus memberikan jawaban kepada Shu Hua.

"Karena dia Ibuku. Dia Ibu kandungku, dan anak putranya. Dia pasti akan mendengarkan putranya," jawab Hao Lin.

Mendengar jawaban dari Hao Lin, Shu Hua tertawa terbahak-bahak.

"Wah! Luar biasa, Hao Lin! Sejak tadi kamu terus bertanya kepadaku apa alasan aku membencimu. Sekarang aku punya alasan untuk membencimu!" ucap Shu Hua.

"Tidak masalah jika memang kamu ingin membenciku. Tetapi aku harap kamu mau membicarakan semuanya baik-baik. Dan jika kamu setuju, aku bisa membawamu kepada Ratu," ucap Hao Lin.

Shu Hua tampak berpikir beberapa saat. Kemudian Shu Hua memutuskan untuk menghilangkan pedang di tangannya, bersedia ikut dengan Hao Lin.

→→→

Hao Lin membawa Shu Hua yang telah bermandikan darah kepada Ratu Shen Wanqing. Dan saat melihat Shu Hua, Ratu begitu takut sampai tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri.

"Oh, jadi begini rupa dari Ratu yang kalian sayangi?" Shu Hua mengambil beberapa langkah, mendekat kepada sang Ratu, tetapi Ratu Shen Wanqing memiliki refleks yang cepat; dia langsung berlari mencari perlindungan kepada Putra kesayangannya, Hao Lin.

"Ternyata Ratu pun punya rasa takut. Kupikir seorang Ratu tidak punya rasa takut." Shu Hua memberikan tatapan dingin kepada Ratu Shen Wanqing dan Hao Lin.

"Pangeran, bagaimana bisa kamu membawa wanita bengis ini kemari?" tanya Ratu Shen Wanqing kepada Hao Lin.

"Biar aku bantu jawab. Putramu membawaku kemari karena ingin membuatmu memohon maaf dariku karena telah menangkap, memfitnah dan juga menyiksa Kakakku!" seru Shu Hua dengan mata yang berapi-api.

"Apa?! Pangeran, kamu tidak benar-benar akan melakukan itu bukan? Ibundamu ini seorang Ratu! Ratu yang memimpin Dinasti Tianzhu! Tidak mungkin seorang Ratu meminta maaf kepada orang biasa!"

Jelas sekali, Ratu Shen Wanqing tidak akan mau meminta maaf kepada Shu Hua dan Li Hua. Dan semua itu memang sudah diperkirakan oleh Shu Hua.

"Lihat bukan? Aku sudah bilang kepadamu, Ibumu tidak akan mau meminta maaf kepadaku. Baginya dia adalah maha benar. Dan karena sudah seperti ini, aku harus melakukan apa yang harus aku lakukan," ucap Shu Hua.

"Shu Hua, demi aku... tolong maafkan Ibuku untuk kali ini saja. Sebagai Pangeran Mahkota, aku akan membebaskan Li Hua dan aku juga akan melupakan semua tindakan buruk yang kamu lakukan. Kamu tidak akan dihukum untuk kesalahanmu, aku berjanji." Hao Lin berusaha membuat kesepakatan dengan Shu Hua, tetapi saat itu Shu Hua tidak sedang ingin bernegosiasi dengan siapapun!

"Aku dan Kakakku memang berhutang banyak kepadamu dan Xiao Yan. Tetapi, hal itu tidak bisa menjadi alasan bagiku untuk tidak memberikan balasan atau perbuatan buruk yang dilakukan Ibumu. Dan mengenai orang-orang yang aku bunuh... aku tidak peduli dengan hukuman apapun yang menantiku," ucap Shu Hua.

"Kamu tidak punya hak untuk memberikan hukuman kepadaku, Hao Lin!" tegas Shu Hua.

"Pedang!"

Cepat, Shu Hua memanggil pedangnya, dan dengan satu kali gerakan, Shu Hua berhasil menangkis anak panah yang menargetkan dirinya.

Dan pada detik berikutnya, pedang di tangan Shu Hua hilang; dan kemudian Shu Hua kembali memanggil senjata lain.

"Panah!"

Dengan sudut yang tepat, Shu Hua melepaskan anak panah yang bercahaya, dan anak panah itu pun langsung mengenai target yang tepat. Pemanah yang bersembunyi sejak tadi, kini telah jatuh, dan saat orang-orang kagum dengan hal itu, Shu Hua kembali memanggil pedangnya.

"Pedang!"

Tepat! Pedang itu berada pada posisi yang sangat tepat. Pedang tajam itu mengarah langsung ke urat nadi Ratu Shen Wanqing.

Seketika semua orang terdiam: beberapa orang tiba-tiba mendapatkan kilas balik, tepat pada saat Li Hua memberikan peringatan kepada Ratu Shen Wanqing. Tetapi Ratu tidak mempercayai Li Hua dan masih tetap melanggar larangan yang Li Hua berikan.

-Bersambung-

1
Chen Nadari
mampir Thor
SecretS
Up lagi kak, besok aja langsung double 5 eps 😄😄😄 sekarang istirahat yang cukup aja kak, tapi cerita kakak Sungguh seru loh, oh ya Aku penasaran apa Li Hua sama Shu Hua itu anak dari orang penting kok sampek diburu terus 🙏😄😄
SecretS
Lanjut kak 😆😆😆, shu hua bakal tau ngak kalau kakak Li Hua nya pingsan, Tolong up lagi kak 🙏🙏🙏
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!