Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.
Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.
Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.
Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 CEO Mulai Berubah
Perubahan kecil selalu paling cepat ditangkap kantor, jauh lebih cepat daripada memo resmi atau pengumuman direksi. Orang-orang bisa melewatkan laporan keuangan, tetapi hampir mustahil melewatkan kebiasaan yang tiba-tiba berubah dari seseorang yang selama ini terasa tetap. Di Alvero Group, pusat perhatian semacam itu hanya punya satu nama, dan semua orang tahu siapa yang sedang dibicarakan tanpa perlu menyebutnya keras-keras.
Zayden Alvero.
Selama bertahun-tahun, ritme perusahaan seolah menyesuaikan dirinya dengan ritme pria itu. Jika lampu lantai tiga puluh satu masih menyala lewat pukul sembilan malam, para staf akan berkata CEO masih di kantor dan tak seorang pun heran. Jika email datang pukul sebelas lewat dua belas malam dengan revisi tiga halaman, semua orang hanya menghela napas lalu mengerjakan. Jika rapat mendadak dijadwalkan jam tujuh pagi, keluhan muncul diam-diam sambil tetap datang tepat waktu.
Ia konsisten, keras, dan nyaris tak bisa ditebak kecuali dalam satu hal. Zayden selalu bekerja lebih lama dari orang lain.
Karena itu, ketika minggu ini pintu ruang CEO terbuka pukul lima lewat sepuluh sore dan pria itu keluar dengan jas sudah terpasang rapi, seluruh lantai terasa kehilangan keseimbangan kecil. Suara ketikan mereda. Beberapa kepala terangkat bersamaan. Bahkan Mira yang biasanya pura-pura sibuk sampai lupa berkedip ikut menatap jam dinding.
Zayden berjalan lurus menuju lift privat sambil membawa ponsel. Arsen mengikuti dua langkah di belakang dengan tablet di tangan dan wajah datar seperti biasa.
"Meeting luar?" bisik salah satu staf legal.
"Jam segini?" sahut yang lain.
"Pak Zayden sakit kali."
"Mulutmu dijaga."
Pintu lift tertutup rapat dan barulah bisik-bisik pecah seperti bendungan kecil yang dibuka.
Elvara yang sedang merapikan dokumen di mejanya tetap menatap layar laptop, tetapi fokusnya sudah buyar sejak tadi. Ia sadar perubahan itu lebih cepat daripada siapa pun. Tiga hari berturut-turut Zayden pulang lebih awal. Tiga hari berturut-turut pula ia tak lagi memanggilnya menjelang sore hanya untuk meminta file dicetak ulang, jadwal diperbarui, atau pertanyaan yang jawabannya sudah tertulis jelas.
Seharusnya ia lega.
Nyatanya, ketenangan itu justru terasa mencurigakan.
Arsen kembali dari lift dan berjalan melewati mejanya. Langkahnya selalu rapi, seperti orang yang bahkan berjalan sesuai agenda.
"Besok jam sembilan rapat tim regional. Materi sudah saya kirim ke email Anda."
"Baik."
Elvara menahan diri sesaat, lalu bertanya dengan nada yang berusaha santai. "Pak Zayden ada agenda luar?"
"Tidak."
"Lalu kenapa pulang cepat?"
Arsen menatapnya singkat. "Pak Zayden bisa pulang kapan saja."
"Jawaban yang sangat membantu."
"Saya memang dibayar bukan untuk membantu gosip."
Ia melanjutkan langkah sebelum Elvara sempat membalas. Dari sudut mulutnya, seolah ada senyum tipis yang sengaja disembunyikan.
Elvara mendesah pelan. Orang-orang di gedung ini terlalu menikmati teka-teki, terutama jika teka-teki itu bernama Zayden Alvero.
Di sisi lain kota, mobil hitam Zayden berhenti di seberang ruko tiga lantai yang ramai menjelang sore. Papan besar bertuliskan Bright Seed Learning Center menyala cerah di atas pintu kaca. Dari luar terlihat gambar pensil warna, roket kartun, dan huruf-huruf besar yang ditujukan untuk anak-anak.
Tempat les membaca, matematika dasar, robotik pemula, dan seni kreatif.
Ia mematikan mesin, tetapi tak segera turun. Tangannya masih berada di setir, sementara pandangannya tertuju ke pintu masuk bangunan itu.
Pukul lima tiga puluh dua.
Beberapa menit kemudian, taksi online berhenti di depan trotoar. Elvara turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang untuk Rheon. Anak itu melompat keluar dengan kaus kuning dan tas kecil bergambar roket. Mulutnya bergerak cepat, kedua tangannya ikut bicara, seolah cerita yang dibawanya terlalu besar untuk disimpan dalam kata-kata saja.
Elvara mendengarkan sambil menggenggam tangannya. Wajah wanita itu terlihat lelah, tetapi setiap kali Rheon menarik lengan bajunya, matanya otomatis melunak.
Zayden memperhatikan terlalu banyak hal.
Cara Elvara mencondongkan kepala saat mendengar cerita. Cara Rheon meloncat kecil ketika antusias. Cara tangan kecil itu mencari jemari ibunya saat hendak menyeberang. Cara mereka masuk ke gedung dengan irama yang terasa sangat terbiasa satu sama lain.
Pintu tertutup.
Baru setelah itu Zayden mengembuskan napas panjang.
Ia bisa menyuruh orang lain mengawasi. Bisa meminta laporan. Bisa mencari data tambahan dalam satu jam jika mau. Namun semua itu tak memberi jawaban yang sama dengan melihat langsung.
Ia ingin tahu bagaimana anak itu bergerak.
Bagaimana anak itu tertawa.
Bagaimana anak itu hidup.
Dan mungkin, meski ia enggan mengakuinya, ia hanya ingin berada dekat.
Keesokan harinya gosip kantor tumbuh lebih liar.
"Pak Zayden pulang jam lima lagi."
"Ini hari keempat."
"Jangan-jangan pacaran."
Mira mengucapkan kalimat itu sambil menyeruput kopi, cukup keras agar beberapa meja lain mendengar. Nada suaranya setengah bercanda, setengah berharap.
Daniel tertawa sambil menutup laptop. "Kalau pacaran, siapa korbannya?"
Beberapa mata bergerak ke arah meja Elvara.
Ia tetap mengetik tanpa menoleh. "Jangan lihat saya. Saya juga ingin hidup tenang."
Tawa kecil terdengar di beberapa sudut. Namun rasa penasaran justru makin hidup.
Menjelang pulang, pintu ruang CEO terbuka lagi.
"Bu Elvara, file tender."
Ia berdiri cepat dan menyerahkan map yang memang sudah siap sejak satu jam lalu. Zayden mengambilnya, menatapnya sejenak lebih lama dari perlu, lalu berkata datar.
"Besok datang lebih pagi."
"Kenapa?"
"Banyak kerja."
Ia mengangguk singkat, meski tahu jawaban itu terlalu umum untuk dipercaya. Zayden berjalan menuju lift seperti biasa.
Begitu pria itu menghilang, Mira mendekat sambil membawa map kosong yang jelas hanya alasan.
"Kamu yakin tidak tahu apa-apa?"
"Tahu."
"Wah?" Mata Mira berbinar.
Elvara menatapnya tenang. "Saya tahu kamu sangat kurang kerjaan."
Daniel tertawa keras sampai batuk sendiri.
Sore itu Zayden datang lagi ke tempat yang sama. Kali ini ia memilih duduk di kedai kopi kecil seberang gedung les. Dari meja dekat jendela, pintu masuk Bright Seed terlihat jelas tanpa perlu mencolok.
Pelayan meletakkan secangkir americano di depannya.
"Pak, kopinya."
Ia mengangguk.
Tak lama kemudian Elvara dan Rheon datang. Anak itu berhenti di trotoar sambil menunjuk langit, memaksa ibunya ikut melihat balon udara promosi yang melintas jauh di atas gedung. Elvara tertawa kecil, lalu mendorong punggung Rheon agar mereka masuk karena waktu kelas hampir mulai.
Zayden menatap tanpa sadar sambil mengangkat cangkir.
"Menunggu anak les, Pak?" tanya pelayan ramah.
Ia terdiam sepersekian detik.
"...Bisa dibilang begitu."
Jawaban itu membuat dirinya sendiri terganggu. Ia bukan ayah yang menunggu anak les. Belum tentu.
Satu jam berlalu lebih cepat dari perkiraannya. Saat kelas selesai, anak-anak berhamburan keluar membawa kertas warna-warni dan suara ribut. Rheon keluar sambil memegang robot kecil dari balok susun.
"Mommy lihat. Aku juara kedua."
Elvara berjongkok dan memeluknya. "Hebat."
"Aku hampir juara satu. Tapi Dimas curang karena dia tinggi."
"Orang tinggi bukan berarti curang."
"Itu keuntungan genetik."
Zayden hampir tersedak kopi. Kata-kata itu terasa terlalu akrab.
Elvara tertawa sambil mengusap kepala anaknya. Mereka lalu berjalan ke trotoar, berbagi roti isi dari minimarket sebelah. Zayden menatap sampai mobil mereka hilang dari pandangan.
Rasa hangat datang bersama kekosongan yang tak ia sukai.
Namun keesokan hari ia datang lagi.
Seminggu kemudian, seluruh kantor resmi kebingungan. Pola kerja CEO mereka berubah cukup lama untuk disebut kebiasaan baru.
"Pak Zayden pulang tepat waktu enam hari kerja."
"Email malam berkurang."
"Rapat sore selalu dipercepat."
"Apakah ini reformasi budaya kerja?"
Daniel mengangkat tangan seperti pembicara seminar. "Saya dukung reformasi."
Arsen yang lewat membawa dokumen menatap datar. "Kerjakan laporan kalian."
Begitu ia pergi, tawa kecil pecah di beberapa meja.
Elvara justru makin gelisah. Ini terlalu konsisten untuk kebetulan. Zayden bukan tipe pria yang mendadak jatuh cinta pada work life balance.
Saat makan siang, ia akhirnya bertanya langsung ketika pria itu sedang membaca laporan di ruangannya.
"Bapak beberapa hari ini sering pulang cepat."
Zayden tak mengangkat kepala. "Kamu menghitung?"
"Sulit tidak sadar kalau satu lantai merayakannya."
"Apa kamu keberatan?"
"Saya curiga."
Kini ia menatapnya. "Curiga apa?"
"Bapak sedang merencanakan sesuatu."
Pria itu menutup map pelan. "Benar."
Dada Elvara menegang. "Apa?"
"Saya sedang melihat masa depan."
Jawaban itu begitu absurd sampai ia ingin melempar pena ke arahnya.
"Bapak senang bicara seperti teka-teki."
"Dan kamu senang pura-pura tidak paham."
Elvara keluar dari ruangan dengan kesal yang tak punya bentuk jelas.
Sore itu hujan turun tipis. Jalanan memantulkan lampu kendaraan dan udara menjadi lebih dingin. Zayden tetap datang ke kedai kopi seberang tempat les, kali ini berdiri dekat jendela sambil memegang cangkir.
Dari balik kaca berembun, ia melihat Rheon duduk di kelas robotik. Anak itu sedang serius merakit sesuatu. Lidah kecilnya sedikit menjulur saat fokus.
Zayden menahan napas.
Kebiasaan itu sama.
Ia dulu berkali-kali dimarahi guru karena melakukan hal yang sama ketika berkonsentrasi. Memori lama datang tanpa diundang.
Ia menggeser pandangan ke ruang tunggu. Elvara duduk di sana dengan laptop terbuka, sesekali mengetik, sesekali menoleh ke arah kelas. Wajahnya lelah, tetapi setiap kali melihat anaknya, matanya berubah hidup.
Tiba-tiba ia sadar bahwa selama lima tahun wanita itu menjalani semuanya sendiri.
Mengandung.
Melahirkan.
Membesarkan.
Bekerja.
Menjaga sesuatu yang tak ia ketahui.
Rasa marah yang selama ini tumbuh perlahan mendadak bercampur hormat.
Ponselnya bergetar. Arsen menelepon.
"Pak, investor Jepang minta call malam ini."
"Pindah besok pagi."
"Mereka sudah menyesuaikan jadwal."
"Besok pagi."
Arsen diam sejenak. "Baik, Pak."
Zayden menutup telepon dan kembali menatap kelas kecil itu.
Investor bisa menunggu.
Anak di balik kaca itu tidak akan selamanya lima tahun.
Namun malam itu kebiasaannya hampir terbongkar.
Kelas selesai. Rheon keluar sambil membawa payung kecil bergambar dinosaurus. Elvara sedang sibuk menjawab telepon sehingga berjalan sedikit di belakang.
Rheon menoleh ke seberang jalan, lalu matanya membesar.
"Om dingin!"
Suara nyaring itu menembus hujan tipis dan membuat beberapa orang menoleh. Elvara membeku di tempat. Zayden yang berdiri dekat mobil tak sempat menghindar.
Anak itu melambaikan tangan keras-keras. "Om dingin ngintip lagi!"
Zayden menutup mata sepersekian detik, lalu hampir tersenyum.
Saat lampu pejalan kaki hijau, ia menyeberang dengan tenang dan berhenti di depan mereka.
"Sore."
"Bapak ngapain di sini?" tanya Elvara pelan namun tajam.
"Membeli kopi."
"Seminggu penuh?"
Rheon terkekeh. "Aku bilang juga, Mommy. Om dingin suka ngintip."
Zayden menatap anak itu. "Observasi."
"Aku juga bilang itu kata keren."
Elvara menarik napas panjang, jelas menahan ledakan.
"Rheon, masuk mobil."
"Tapi aku mau tunjukin sertifikat robot."
"Nanti."
Anak itu menurut, walau masih menoleh ke arah Zayden berkali-kali. Begitu pintu mobil tertutup, Elvara mendekat sedikit.
"Bapak sudah gila?"
"Mungkin."
"Kenapa datang ke sini?"
Zayden melirik ke arah mobil. Rheon sedang menempel di kaca sambil membuat wajah aneh agar terlihat lucu.
"Lihat sendiri."
Ia kembali menatap Elvara.
"Karena saya ingin melihatnya."
Kalimat itu sederhana, tanpa permainan kata. Justru itu yang membuat napas Elvara goyah.
"Bapak tidak berhak."
"Kalau ternyata saya berhak?"
Hujan terasa lebih dingin di antara mereka.
Elvara menggenggam tas lebih erat. "Jangan datang lagi."
Ia berbalik, masuk ke mobil, lalu pergi tanpa menoleh.
Zayden berdiri di tepi jalan dengan jas terkena rintik hujan. Mobil itu menjauh bersama wanita yang marah dan anak kecil yang masih melambaikan tangan dari balik kaca.
Awalnya ia datang karena curiga.
Sekarang ia datang karena rindu pada seseorang yang bahkan belum pasti miliknya.
Dan itu jauh lebih berbahaya.