Stefani Agnesia Smith, Dokter cantik berumur 22 tahun yang terlahir dari keluarga terpandang. Memiliki otak super cerdas dan cantik membuat semua pria tertarik kepadanya. Tapi karena sifatnya yang judes dan dingin membuat semua lelaki tidak berani untuk mendekatinya. Hingga ada seorang pria tampan yang merupakan ceo muda dari perusahaan terkenal mendekatinya.
Bisakah sang Ceo menaklukan hati si Dokter cantik?
Tunggu lanjutan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat terindah
"Lo gapapa?" tanya Leo saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Emang gue kenapa?" tanya balik Stefani sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Ya, lo nggak sakit hati gitu saat lihat pacar lo selingkuh" ucap Leo.
"Nggak ada kata sakit hati di kamus gue. Satu pergi, pasti akan ada lagi yang datang. Justru malah gue bersyukur karena tuhan nunjukin kebusukan dia sekarang. Sebelum hubungan gue sama dia lebih serius." jawab Stefani santai.
"Emm iya juga sih. Btw, lo mau nggak ikut gue?" ucap Leo.
"Terserah. Kalau pun gue nggak mau, lo pasti bakal tetep maksa gue buat ikut lo" cebik Stefani. Leo menyengir saat mendengar ucapan Stefani.
Leo lalu melajukan mobilnya kesuatu tempat. Saat perjalanan, tak ada percakapan diantara mereka. Kedua orang itu larut dalam kegiatannya masing². Leo fokus menyetir, sedangkan Stefani fokus bermain ponsel.
Tak butuh waktu lama, kini mobil Leo berhenti di pinggir jalan. Leo mengajak Stefani untuk berjalan karena mereka akan melewati jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
Setelah sekian lama berjalan, rasa lelah yang mereka rasakan sirna seketika. Stefani yang tadinya terus menggerutu langsung tersenyum lebar saat disuguhi pemandangan alam yang sangat mempesona. Kini mereka berdua sedang berada di dataran tinggi yang dikelilingi oleh bunga matahari dan bunga lavender. Saat melihat kedepan, mereka dihadapkan oleh pemandangan laut yang sangat memukau.
"Lo suka?" tanya Leo sambil duduk di sebelah Stefani.
"Suka banget. Ini tempat terindah yang pernah gue datengin saat gue di negara ini. Thanks ya" ucap Stefani sambil tersenyum. Tanpa sadar, ia memeluk tubuh Leo sangat erat. Leo yang awalnya terkejut pun ikut membalas pelukan Stefani.
"Emm sorry" gugup Stefani saat menyadari perbuatannya. ia segera melepas pelukannya dari Leo.
"Gapapa, peluk tiap hari juga boleh" goda Leo.
"Modus lo" hardik Stefani sambil memalingkan wajahnya yang sudah merona merah.
Leo tersenyum, ia memetik salah satu bunga berwarna putih.Dia menarik dagu Stefani agar menghadap kearahnya. Secara perlahan, Leo menyelipkan bunga itu di telinga Stefani. Stefani tertegun, bahkan dia lupa bagaimana caranya bernafas. Apalagi saat wajah Leo sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan deru nafas Leo sangat terasa di pipinya.
"Cantik" ucap Leo saat dirinya sudah selesai memasangkan bunga di telinga Stefani. Stefani yang mendapat pujian seperti itu jadi salting sendiri, dan jangan lupakan jantung sialannya yang sudah berdetak kencang seperti orang lari maraton.
"Duh jantung gue....diskoan disaat yang tidak tepat." batin Stefani sambil menggigit bibir bawahnya.
"Pipi lo kenapa, kok merah gitu" ledek Leo saat dirinya melihat pipi Stefani yang merona.
"Ya itu gara² lo ogeb" batin Stefani kesal
"Pergantian kulit" jawab Stefani asal
"Emang bisa?"
"Ya bisa lah. Apapun selalu bisa kalo gue yang lakuin" ucap Stefani dengan angkuhnya.
"Kalo mencintai gue, bisa nggak?" ucap Leo dengan senyum tulusnya. Spontan Stefani menoleh kearah Leo. Sorot mata pria itu, membuat tubuhnya membeku seketika.
"Emm ap-apaan sih lo." Stefani gelagapan dibuatnya. Leo menyunggingkan senyum saat melihat reaksi Stefani.
"Mungkin gak sekarang. Tapi suatu saat nanti, lo pasti jatuh ke pelukan gue" batin Leo sambil menatap lekat wajah Stefani. Mendapat tatapan seperti itu menjadi gugup.
"Pulang yuk, udah mau malem nih" ajak Stefani. Sebenarnya dia masih mau disini, tapi karena suasana yang tidak nyaman membuatnya ingin segera pergi.
"Yaudah yuk" ucap Leo. Mereka berjalan beriringan menuruni jalan setapak. Banyaknya kerikil dan batu besar membuat tubuh Stefani tidak seimbang. ia terjatuh tepat dibelakang leo.
"Aww" pekik Stefani saat merasakan pergelangan kakinya sangat ngilu dan telapak tangannya perih akibat tergores bebatuan.
"Astaga, Hati² dong kalo jalan" ucap Leo. ia lalu berjongkok di samping Stefani.
"Kaki gue sakit" ringis Stefani sambil memegangi kakinya.
"Lo bisa jalan gak?" tanya Leo khawatir. Stefani menggeleng pelan. Tak pikir panjang, Leo menggendong Stefani ala bridal style. Sontak Stefani mengalungkan tangannya di leher Leo. Perlahan, Leo menuruni jalan dengan hati². Keringat membasahi tubuhnya karena dia membawa beban 2 kali lipat.
"Gue berat ya?" tanya Stefani. ia merasa tak enak hati melihat Leo.
"Nggak kok. Lo enteng, gak pernah makan ya" ucap Leo sambil terkekeh. Stefani mencebik kesal, rssa simpatinya hilang sudah ditelan kejengekelan.
"Apaan sih lo, gak lucu tau" ketus Stefani.
"Siapa juga yang ngelucu" jawab Leo.
Stefani tak menjawab ucapan Leo. ia terus menatap lekat wajah tampan Leo yang sedang berkeringat, dan gilanya itu membuatnya semakin tampan.
"Lo tuh ganteng, tapi sayang. Otaknya gesrek" batin Stefani.
"Liatnya biasa aja kali. Gue tau kok kalo gue ganteng" ucap Leo tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
"Ap-apaan si-siapa juga yang liatin lo. GR banget" kilah Stefani. ia sudah seperti maling yang ketangkep basah mencuri daleman tetangga.
Tak terasa, kini mereka sudah sampai di dekat mobil. Leo mendudukan Stefani disamping kursi kemudi. ia lalu berlari kecil memutari mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Mobil Leo melaju menuju mansion Stefani.
*****
Smith's Mansion
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kini mobil Leo sudah terparkir mulus di halaman mansion keluarga Smith. Ia lalu menggendong Stefani memasuki mansion.
Ting..tong...
Bunyi bell membuat orang yang ada di dalam mansion terdiam sejenak.
"Biar aku yang buka" ucap Agnes. ia lalu berjalan kearah pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Loh Stefani, kamu kenapa sayang" pekik Agnes saat melihat putrinya digendong oleh seorang pria.
"Mom, nanyanya bisa nanti aja nggak." ucap Stefani.
"Akh iya², ayo masuk dulu" ucap Agnes. ia lalu berjalan masuk diikuti Leo yang masih menggendong Stefani. Setelah sampai di dalam, Leo mendudukan Stefani di sofa.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alferd khawatir.
"Cuma kesleo kok dad" jawab Stefani.
"Lalu ini?" tanya Agnes sambil melirik Leo. Leo yang merasa dilirik pun segera menjawab ucapan Agnes.
"Saya Leo tante, om" jawab Leo sambil menyalami Agnes dan Alferd.
"Oh Leo. Terima kasih ya, sudah menolong putri saya" ucap Alferd sambil tersenyum ramah.
"Tumben nih bapak²" batin Stefani heran saat melihat sikap ayahnya.
"Gapapa kok om, udah tanggung jawab saya" jawab Leo sambil mengedipkan sebelah matanya ke Stefani. Stefani langsung memelototi Leo, takut jika kedua orang tuanya salah paham.
"Hahaha, nak Leo ini bisa saja" jawab Alferd terkekeh.
"Hehe, yaudah ya om, tante. Saya pamit pulang dulu. udah malem" pamit Leo, ia lalu mencium punggung tangan Agnes dan Alferd. Saat di depan Stefani, ia menyodorkan tangannya. Stefani menganggap jika Leo hanya ingin salaman biasa. Ternyata salah, Leo mendorong tangannya sehingga Stefani mencium tangan Leo. Setelah itu, Leo langsung ngacir kabur dari sana.
"LEO!!!!!"
"HAHAHAHA" Alferd dan Agnes malah tertawa.
"MAAP BABY, ASSALAMUALAIKUM" teriak Leo dari luar Mansion.
Setelah kepergian Leo, Stefani masih duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.
"Leo itu ganteng ya" ucap Agnes yang tiba² membahas soal Leo.
"Biasa aja tuh" sahut Stefani.
"Daddy lebih setuju kalo kamu berhubungan sama Leo daripada sama Stuard. Keliatannya, dia pria yang baik" mendengar ucapan daddy-nya membuat Stefani ingin muntah seketika. Baik darimananya coba,pikir Stefani.
"Lagian siapa juga yang berhubungan sama Stuard" tukas Stefani.
"Ya kamu lah, masa' daddy" sahut Alferd.
"Udah enggak" ucap Stefani.
"Serius, wah kalo gitu kamu sama Leo aja. Daddy suka sama dia" girang Alferd.
"ihhh daddy apaan sih" sungut Stefani. Dengan langkah tertatih-tatih, dia menuju ke kamarnya. Muak rasanya jika orang tuanya selalu membahas soal Leo, Leo, dan Leo.
**Tandai typo....jangan lupa like, coment, and vote ya guys. Mampir juga ke "Beautiful Bad Girl"
Happy Reading 😘**