Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Ketemu Rayi
"Hah? Serius lo? Emang kamu kerja di mana sekarang, Lin?"
"Aku keterima kerja di butik elit, jadi model baju di sana. Ternyata gajinya lumayan besar, Kak, dan jam kerjanya juga sebentar banget. Nggak perlu lari-larian bawa nampan panas berisi soto begini sampai betis gede," ucap Alin sambil tersenyum bangga, membayangkan interaksi "greget" nya dengan Rakha di studio foto tadi.
"Wah, nggak nyangka banget! Ternyata kamu punya bakat terpendam jadi model ya. Syukur deh kalau begitu, ikut seneng aku," Elis mengelus bahu Alin dengan tulus. "Hmm, berarti kita nggak bakal sering ketemu dong kalau kamu berhenti kerja di sini? Bakal sepi nih rumah makan nggak ada lawakan kamu."
"Iya, Kak. Tapi tenang aja, nanti kalau aku sudah gajian pertama dari butik Oma Karin, aku bakalan datang ke sini lagi buat traktir Kak Elis, Kak Diana, sama Kak Emil juga makan besar!" seru Alin penuh semangat juang 45.
"Duh, nggak usah repot-repot, Lin. Mendingan uang gajinya kamu simpan aja buat keperluan sekolah kamu," tolak Elis sungkan.
Alin terkekeh pelan dengan suara manisnya. "Nggak apa-apa kok, Kak. Aku emang pengen banget traktir kalian makan-makan cantik nanti kalau gaji pertamaku cair."
"Kamu tuh ya... udah baik, cantik, glowing lagi. Pantas aja kepilih jadi model baju mahal," puji Elis tulus.
"Ah, Kak Elis bisa aja bikin aku terbang ke awan!" sahut Alin sambil tersipu malu-malu kucing.
Baru saja mereka akan melanjutkan obrolan seru itu, sebuah suara cempreng berfrekuensi tinggi dan menggelegar mendadak membelah suasana rumah makan, membuat keduanya terjingkat kaget sampai hampir menjatuhkan piring.
"Ekhmm!! Kalian ngapain berdiri di situ malah ngegosip?! Bukannya kerja melayani pembeli, malah asyik ngerumpi! Cepat bubar-bubar! Kerja yang benar atau saya potong gaji kalian!" teriak Bu Sinta—sang pemilik rumah makan—yang muncul tiba-tiba dari balik sekat ruangan dengan daster batik warna merah mencolok dan puluhan rol rambut plastik yang masih menempel heboh di poninya.
"Baik, Bu!" sahut Elis ketakutan, langsung pura-pura sibuk mengelap meja yang sudah bersih.
"Baik, Bulekong!" celetuk Alin spontan tanpa sempat menyaring bibirnya.
Langkah kaki Bu Sinta yang tadinya hendak berbalik menuju laci uang langsung terhenti seketika. Ia memutar tubuh tambunnya perlahan-lahan dengan mata menyipit tajam bak elang kelaparan ke arah Alin.
"Kamu tadi bilang apa ke saya, Alin?"
"Bulekong, Bu," jawab Alin polos tanpa dosa dengan senyum manekin.
"Apa itu artinya? Kedengarannya kok aneh dan mencurigakan di kuping saya," tanya Bu Sinta penuh selidik, sambil mendekatkan wajahnya yang sudah dipoles bedak tabur tebal putih layaknya donat gula.
Alin memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar majikannya itu mendekatkan telinga. "Ibu... sini deketan dulu biar nggak kedengeran pelanggan lain. Artinya itu... Ibu Lele Koneng," bisik Alin tepat di lubang telinga Bu Sinta, merujuk pada bentuk rol rambut kuning di kepala sang bos yang mirip kumis lele.
Wajah Bu Sinta langsung berubah warna drastis dari putih bedak menjadi merah padam menahan luapan emosi gunung merapi.
"ALIN!!! Jangan coba-coba kamu sebut nama julukan itu lagi ya! Dan jangan mentang-mentang kamu hari ini hari terakhir kerja di sini, kamu jadi ngelunjak dan kurang ajar ya! Ngerti kamu?!" teriak Bu Sinta sambil berkacak pinggang, membuat botol kecap manis di meja sebelah sampai ikut bergetar hebat.
"Iya, Bu... ampun, becanda!" sahut Alin sambil langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam dapur sebelum sutil besi terbang mengenai jidat mulusnya.
****
Beberapa hari kemudian...
Waktu pun tak terasa cepat berlalu melompati hari. Di satu sisi, hari ini adalah momen yang sangat dinantikan dalam hidup Alin—hari pertama ia resmi menginjakkan kaki di jenjang SMA Garuda, sekolah elit impiannya. Namun di sisi lain, bagi Alin yang menyembunyikan identitas ubi magisnya, waktu seolah merayap sangat lambat dan terasa begitu berat, menghadirkan paduan suka dan duka yang menyesakkan dada dalam satu tarikan napas.
Ckittttttt!!!
Decitan ban bus kota ekonomi yang bergesekan kasar dengan aspal jalanan membuat tubuh Alin terjerembap hebat ke depan. Ia segera mencengkeram erat tas sekolah barunya di pangkuannya demi menahan guncangan.
"Duh, kenapa lagi sih ini busnya? Kenapa hobi banget berhenti mendadak pagi-pagi buta begini?" gerutu Alin kesal sambil melirik jarum jam tangan plastiknya dengan gelisah. "Ini kapan nyampenya? Kalau kayak gini terus, aku bakalan telat di hari pertama sekolah! Kenapa juga busnya nggak jalan-jalan?!"
Suasana di dalam bus seketika gaduh oleh keluhan puluhan penumpang lain yang mengejar jam kantor. Tak lama kemudian, sang supir bus menoleh ke belakang dengan wajah masygul dan pasrah.
"Mohon maaf kepada semua penumpang bus. Sepertinya ban belakang sebelah kiri kita pecah kena paku. Silakan untuk turun terlebih dahulu demi keselamatan. Silakan kalian cari bus lain atau angkutan umum darurat lainnya. Terima kasih," ucap supir itu dengan nada menyesal.
Dengan helaan napas panjang yang terdengar sangat frustrasi, para penumpang pun terpaksa turun satu per satu ke bahu jalanan yang berdebu. Termasuk Alin, yang kini berdiri lemas di pinggir trotoar jalan raya sambil memandangi aspal dengan raut wajah cemas tingkat dewa. Ia tahu sepuluh menit lagi gerbang SMA Garuda akan dikunci rapat oleh satpam galak.
Di tengah keputusasaannya yang mendalam, sebuah mobil mewah super elit bermerek Rolls-Royce Phantom berwarna putih mutiara perlahan melambat dari arah kanan dan berhenti tepat di depannya. Kemilau bodi mobil miliaran rupiah itu tampak sangat kontras dengan debu-debu jalanan pinggiran kota.
Perlahan namun pasti, kaca mobil samping yang gelap pekat itu turun otomatis, menampilkan sosok seorang pemuda tampan dengan rambut hitam tertata rapi, berwajah bersih, dan memiliki tatapan mata yang sangat teduh nan damai. Ia mengenakan setelan seragam putih abu-abu yang masih sangat rapi dan wangi parfum mahal, persis seperti seragam yang Alin pakai saat ini.
Pemuda tampan itu membuka pintu mobil, lalu turun dari kabin kemudi dengan gerakan yang sangat sopan, elegan, dan penuh wibawa. Ia melangkah menghampiri Alin yang masih mematung layaknya manekin.
"Hai, kayaknya kita satu sekolahan ya? Seragam kita sama," sapanya dengan senyum tipis yang sangat ramah dan menenangkan, sangat berbeda dengan aura dingin yang biasa Alin temui. "Kalau kamu nggak keberatan karena busnya mogok, boleh aku ngajak kamu berangkat bareng ke sekolah?"
Alin tersentak kaget dari lamunannya. Alih-alih merasa senang mendapat tumpangan mobil mewah, Alin justru memundurkan langkah kakinya dua langkah ke belakang dan menatap pemuda itu dengan pandangan penuh curiga.
"Kamu... kamu ngapain sih ngikutin aku terus?! Dari kosan, ke butik, sekarang sampai ke jalan raya ini! Jangan-jangan kamu ini penguntit psikopat ya, Rakha?!" tuduh Alin galak sambil mendekap tasnya erat-erat.
Pemuda tampan itu seketika mengerutkan keningnya, tampak sangat bingung dan terkejut dengan tuduhan mendadak bin ajaib tersebut.
"Maksud kamu apa? Aku sama sekali nggak ngerti sama ucapan yang kamu bilang barusan. Aku juga baru pertama kali ketemu dan lihat kamu di jalan ini hari ini. Eh... atau mungkin ini pertemuan yang kedua kalinya bagi kamu?"
Ia terkekeh pelan dengan suara baritonnya yang lembut, mencoba mencairkan suasana tegang. "Kenalin, nama aku Rayi Arjuna Bagaskara. Panggil aja aku Rayi," lanjutnya sopan sambil mengulurkan tangan kanannya yang bersih.
Alin sama sekali tidak menyambut uluran tangan itu. Ia malah memajukan wajahnya, menatap wajah Rayi lekat-lekat dari jarak dekat, meneliti setiap lekuk wajahnya yang kembar identik dengan tetangga kosannya. "Bukannya nama kamu Rakha ya? Tuan Muda arogan pemilik black card?"