NovelToon NovelToon
Kebangkitan Pewaris Rahasia

Kebangkitan Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.

Tapi takdir berkata lain.

Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.

Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.

Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Cordelia

Setelah menikmati makan malamnya di restoran hotel, Atlas terlihat sibuk mencoba menghubungi Buzz. Wajahnya menunjukkan rasa kesal karena Buzz masih belum menjawab panggilannya.

"Di mana bajingan itu? Sial, aku tidak bisa melacaknya dengan kekuatanku."

Piring kosong itu bergetar saat Atlas menggoyangkan kakinya, mencoba menghilangkan kegelisahannya. Matanya mengembara ke sekitar sampai tanpa sengaja ia melihat seorang gadis berambut pirang sedang menatapnya dengan senyum hangat.

Atlas tercengang, dan dalam hatinya ia bergumam, "Apa aku salah lihat? Apa gadis itu sedang melihatku?"

Gadis itu memberi isyarat, menunjuk kursi kosong di depan Atlas. Atlas membalasnya dengan mengacungkan jempol.

Gaun merah itu membalut tubuh wanita tersebut, menonjolkan lekuk tubuhnya. Seketika jantung Atlas berdegup kencang. Ia belum pernah bertemu atau didekati wanita seperti ini sebelumnya, bahkan saat ia mengejar Bianca dulu.

"Hai."

Aroma tubuh gadis itu dengan cepat memenuhi hidung Atlas, memicu kekuatan Atlas untuk memindai beberapa aktivitas terakhirnya sebelum bertemu Atlas.

"Hai," jawab Atlas sambil menjabat tangan yang ditawarkan wanita itu. Tangannya begitu halus, tetapi tidak sehalus apa yang Atlas lihat di dalam pikirannya saat ini.

Menurut penglihatan Atlas, wanita ini menangis di kamarnya dan melempar barang-barang ke dinding sebelum tidur lalu turun untuk makan di restoran ini.

"Cordelia."

Atlas membalas dengan senyum hangat lalu berkata, "Atlas, nama yang indah, seindah matamu."

Setelah melihat sekilas air mata Cordelia, Atlas dapat melihat tumpukan kesedihan di mata birunya.

"Jadi, apakah kau sendirian di hotel ini?"

"Ya, bagaimana denganmu, Cordelia?"

"Ini seharusnya menjadi salah satu liburanku, aku seharusnya tidak berada di sini. Tapi karena aku mengikuti keinginan pacarku, aku harus datang ke kota ini terlebih dahulu. Tapi ternyata dia berbohong padaku, dia berselingkuh dan bersenang-senang dengan wanita lain. Apa yang seharusnya menjadi liburan menyenangkan malah berubah menjadi menjijikkan. Maaf, aku seharusnya tidak menceritakan ini kepadamu," Cordelia menundukkan pandangannya.

"Tidak apa-apa, aku justru senang mendengarnya. Setidaknya kau benar-benar sendirian, bukan pasangan orang lain," jawab Atlas.

Cordelia mengangguk pelan sambil sedikit tersipu. Ia memainkan rambutnya yang tertata rapi di belakang telinganya, menandakan bahwa ia tertarik pada Atlas. Mereka terdiam sesaat, dan Atlas melihat jam menunjukkan pukul delapan malam.

"Restoran mulai ramai, aku tidak terlalu suka keramaian seperti ini. Mau ikut ke kamarku?" usul Atlas.

Cordelia mengangguk lembut dan berkata, "Tentu saja, kenapa tidak?”

Ternyata tawa bukanlah satu-satunya aktivitas yang terjadi antara Atlas dan Cordelia. Ketertarikan kuat di antara mereka berdua membawa mereka pada hubungan yang penuh gairah dan liar.

Hanya dalam tiga jam percakapan, Atlas berhasil meyakinkan Cordelia untuk menyerahkan tubuhnya kepada pria yang baru dikenalnya itu. Senyum cerah menghiasi wajah mereka berdua saat Atlas menatap Cordelia dengan hangat. Sejak putus dengan Bianca, Atlas belum menemukan wanita lain yang menarik perhatiannya. Terlebih lagi, ia terlalu sibuk dengan urusan kekuatan dan berbagai masalah lainnya.

"Aku belum pernah bertemu gadis secantik dirimu, Cordelia."

"Aku ingin jujur padamu, Atlas. Mungkin aku terdengar naif, tapi aku belum pernah melakukan hubungan satu malam sebelumnya. Kau begitu karismatik hingga aku merasa nyaman membuka semua masalahku dengan mantan pacarku yang bodoh itu. Dan apa yang baru saja kita lakukan terasa luar biasa. Kau memberiku pengalaman baru yang tak akan terlupakan."

Cordelia mengelus wajah Atlas dengan lembut, tidak lupa mengecup bibir pria itu.

Atlas merasa sangat puas dan bangga menerima pujian dari wanita cantik yang jauh melampaui Bianca dalam segala hal.

"Apakah terlalu cepat jika aku memintamu menjadi milikku?"

Cordelia menggeleng pelan dan menarik tangan Atlas lebih dekat kepadanya. Ia meletakkan jarinya di bibir Atlas lalu berkata, "Tentu saja tidak ada kata terlalu cepat. Aku tidak akan ragu mengatakan ya, aku bersedia menjadi milikmu, Atlas."

Ciuman penuh gairah kembali terjadi.

Malam panjang penuh gairah itu akhirnya harus berakhir saat matahari terbit.

Namun, kasih sayang di antara keduanya masih terus berlanjut. Atlas dan Cordelia masih saling membelai dengan penuh cinta, meskipun mereka telah menikmati tubuh satu sama lain sepanjang malam.

Jika saja tidak ada suara ketukan pintu dari pengawal Atlas, mungkin bibir mereka masih akan saling menempel.

"Diam! Kau mengganggu kami!" bentak Atlas.

"Tenang, Sayang. Kita masih bisa bersenang-senang lagi setelah kau mengetahui kenapa orang di balik pintu itu datang."

"Dia hanya—."

Kalimat Atlas terputus. Ia memang belum memberitahu Cordelia alasan dirinya datang ke kota ini. Sejak malam sebelumnya, pertemuan mereka hanya dipenuhi kisah cinta penuh gairah. Atlas sengaja diam karena tidak ingin Cordelia tertarik padanya hanya karena kekuasaan dan kekayaannya.

"Kenapa?"

"Tidak ada, oke. Aku akan menemui mereka."

Atlas segera mengenakan celana pendeknya lalu berjalan keluar tanpa memakai baju. Pengawalnya langsung menundukkan kepala sebagai bentuk hormat.

"Ada apa? Apa kita punya jadwal hari ini? Kita harus istirahat sebelum kembali terbang besok! Kau menggangguku tanpa alasan!"

"Maaf, Tuan, aku hanya ingin memberitahu bahwa ada tamu yang menunggumu di lobi hotel."

"Siapa?"

Pengawal itu tampak menelan ludah sebelum berkata, "Bianca, dia ada di bawah dan sedang menunggumu."

"Apa?! Kenapa dia ada di sini? Sial, baiklah, awasi dia, aku akan segera menemuinya!"

Atlas segera masuk kembali ke kamar dan memasang ekspresi tenang, menyembunyikan keterkejutannya atas kedatangan mantan pacarnya.

"Ada apa, Atlas?"

"Hanya pelayan kamar, dia memberitahuku ada tamu yang datang menemuiku. Bolehkah aku pergi sebentar? Aku janji paling lama hanya satu jam. Aku akan kembali."

"Tentu saja, selama apa pun itu aku akan menunggumu di sini. Pergilah."

Atlas mengecup bibir Cordelia lalu dengan cepat mengenakan kemeja dan celananya. Ia segera berjalan menuju lobi hotel. Wajahnya yang sebelumnya penuh semangat kini berubah serius karena ia tidak sabar menemui Bianca dan mendengar permintaan nekat wanita itu.

"Dasar jalang." Atlas menarik napas panjang saat keluar dari lift dan melihat Bianca duduk di sofa merah di lobi hotel dengan kepala tertunduk.

Suara langkah sepatu Atlas membuat Bianca mengangkat kepalanya. Ia langsung berdiri dengan mata penuh air mata dan berkata, "Atlas."

"Apa yang kau inginkan? Cepat katakan! Aku tidak punya waktu berbicara dengan wanita murahan sepertimu, Bianca!"

Bianca tampak menelan ludah sambil menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.

Tiba-tiba, ia memeluk kaki Atlas dan menjadi tontonan bagi para tamu yang baru datang dan hendak duduk di sofa lain di dekat sana.

"Maafkan aku, Atlas. Aku mohon padamu, ampuni aku!"

Atlas mencengkeram tangan Bianca dan mencoba melepaskannya. "Jangan bertindak bodoh! Aku tidak ingin menendangmu, lepaskan kakiku!"

Bianca melepaskan pegangannya lalu menatap Atlas dengan ekspresi kosong. "Tolong, dengarkan penjelasanku dulu, Atlas. Aku butuh bantuanmu, aku janji akan memberitahumu di mana Stevan berada. Aku datang karena sedang diancam, aku tidak ingin mati. Tolong, Atlas."

Atlas sebenarnya ingin menggunakan kekuatannya untuk mencari kebenaran, tetapi rasa iba sedikit mengganggu konsentrasinya. Atlas memang cukup sulit melihat seorang wanita menangis, ia membenci saat air mata membasahi wajah wanita.

"Bawa dia ke kamarku."

Atlas menoleh kepada pengawalnya.

Pria muda itu langsung membawa Bianca dan mengarahkannya menuju lift. Bianca tampak pasrah mengikuti perintah Atlas.

Begitu pintu lift tertutup, Atlas berkata, "Aku akan menemuimu lagi dalam dua atau tiga jam. Sampai saat itu tiba, aku harap kau tidak melakukan hal bodoh. Walaupun kalian bekerja sama, tolong beri aku sedikit waktu untuk bersenang-senang. Mengerti?"

"Aku tidak bekerja sama dengannya! Aku tidak tahu—"

"Diam, Bianca. Aku tidak butuh penjelasanmu." Atlas memotong ucapan Bianca lalu segera keluar dari lift dan kembali menuju kamarnya.

"Kau kembali sangat cepat, pertemuanmu sudah selesai? Aku baru saja ingin tidur."

"Um, aku menjadwalkan pertemuan lagi tiga jam dari sekarang. Sambil menunggu waktu itu tiba, sebaiknya kita kembali bersenang-senang. Aku masih belum puas bercumbu denganmu."

Atlas menatap Cordelia, dan mereka berdua saling tersenyum hangat. Tidak perlu menunggu lama, mereka kembali tenggelam dalam permainan yang sama seperti malam sebelumnya.

1
Was pray
flhasbacknya terlalu panjang, diringkas aja Thor, singkat tepat padat, kalau terlalu panjang jadi kayak emak2 yg lagi ngerumpi gak kelar2
Was pray
Alicia sosok cewek lemahkah?
Was pray
awal cerita dimulai konflik yg membosankan, urusan apem cewek
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Sebagai manusia, kita seharusnya belajar untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan tentang seseorang hanya dari penampilannya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.

Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗
amida
ditunggu part selanjutnya dengan sabar tapi deg-degan
Coutinho
teruskan kak
sweetie
semangat truss kak author
ariantono
.
Stevanus1278
dobel up dong kk
oppa
lanjut kak, jangan lama-lama
cokky
lanjut terus ya kak
corY
next chapter please, lagi butuh hiburan nih
Coutinho
kok bingung ya dengan jalan ceritanya, sebenarnya Benjamin ingin menyelamatkan Atlas atau ingin membunuhnya???
sweetie
terimakasih Thor, dobel up nyaaa, semangat terus
Billie
kualitas cerita selalu konsisten, keren
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
laba6
keren karya nya tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Coffemilk
hadir tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
ariantono
jangan lama-lama up nya ya kak🙏🙏
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
king polo
ini baru seru
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Budiman
ditunggu up berikutnya ya kak
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!