NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

"Buka mulutnya, Ai. Kamu harus makan yang banyak supaya nggak gampang sakit lagi."

Suara lembut Alvaro terdengar seperti musik indah bagi telinga para penghuni kantin SMA Garuda, namun bagiku, itu adalah lonceng kematian. Aku duduk di meja yang paling pojok, berusaha menenggelamkan wajahku di balik buku cetak biologi yang tebal. Di tengah kantin yang riuh, meja nomor satu yang ditempati Alvaro dan Airin tampak seperti panggung sandiwara yang sangat sempurna.

Alvaro menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulut Airin dengan tatapan penuh pemujaan. Airin tersenyum manja, menyandarkan kepalanya di bahu Alvaro seolah dia adalah putri paling rapuh di dunia. Semua orang di kantin menatap mereka dengan iri, lalu sedetik kemudian beralih menatapku dengan tatapan jijik. Mereka masih ingat instruksi Alvaro tempo hari: "Anggap Aira tidak pernah ada."

"Varo, lihat... Aira duduk sendirian. Apa kita nggak keterlaluan?" bisik Airin, namun matanya melirik ke arahku dengan binar kemenangan yang tajam.

Alvaro bahkan tidak menoleh ke arahku. "Biarkan saja. Orang yang nggak punya hati buat merusak barang pemberian orang lain nggak pantas dapet simpati, Ai. Fokus saja sama makananmu."

Aku meremas ujung rokku di bawah meja. Rasa perih di hatiku sudah melampaui batas. Aku ingin pergi dari sini, tapi kakiku terasa seperti terpaku di lantai. Hingga tiba-tiba, suasana kantin yang tadinya bising mendadak senyap. Benar-benar sunyi sampai suara denting sendok yang jatuh pun bisa terdengar jelas.

Bruk!

Pintu kantin terbuka kasar. Sosok tinggi tegap melangkah masuk dengan gaya santai namun mengintimidasi. Dia mengenakan jaket kulit hitam yang sedikit kusam, seragam yang dikeluarkan, dan rambut hitam berantakan yang justru menambah kesan garang namun sangat tampan. Luka kecil di sudut bibirnya memberikan binar liar di wajahnya yang kokoh.

Bara Galaksi. Sang Serigala sekolah yang selama ini dianggap sebagai "sampah" oleh kaum elit seperti Alvaro.

Bara berjalan lurus menembus kerumunan. Siswa-siswa yang menghalangi jalannya langsung menyingkir seolah sedang memberi jalan bagi seorang pemangsa. Matanya yang tajam seperti elang terkunci pada meja utama. Tanpa permisi, Bara menarik sebuah kursi kosong tepat di depan Alvaro, menciptakan suara decitan kayu yang sangat memilukan di tengah keheningan.

Aku tersentak saat Bara tiba-tiba menoleh padaku. "Sini."

Aku mematung. Seluruh kantin kini menatapku.

"Gue bilang... sini, Aira," suara Bara rendah, berat, dan penuh otoritas yang tak terbantahkan.

Dengan tubuh gemetar, aku berdiri dan melangkah mendekat. Bara tiba-tiba menarik lenganku, membimbingku duduk di kursi di sebelahnya, lalu dengan santainya ia merangkul bahuku. Tangannya yang besar dan hangat menekan bahuku, memberikan sensasi terlindungi yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. Wangi tembakau dan parfum maskulin yang kuat darinya seolah menghapus aroma kemunafikan di meja ini.

Wajah Alvaro berubah seketika. Ia meletakkan sendoknya dengan dentingan keras. Matanya menatap jijik ke arah tangan Bara yang berada di bahuku.

"Bara, lo cari masalah lagi?" desis Alvaro dengan nada meremehkan. "Nggak cukup lo bikin onar di luar sekolah, sekarang lo mau bawa kotoran lo ke meja ini?"

Bara justru menyeringai. Sebuah seringai dingin yang membuat nyali siapa pun menciut. Ia mengambil sebuah kerupuk dari piring Alvaro dan memakannya dengan santai, seolah ia adalah penguasa tempat itu.

"Kotoran?" Bara menaikkan sebelah alisnya. Ia melirik Airin yang kini tampak pucat, lalu kembali menatap Alvaro. "Maksud lo, cowok yang ngerasa suci tapi sebenarnya cuma pelihara ular di sampingnya? Itu yang lo maksud kotoran?"

"Jangan kurang ajar lo!" Alvaro berdiri, tangannya mengepal di atas meja. "Lepasin tangan kotor lo dari Aira. Dia memang bukan siapa-siapa di mata gue, tapi dia masih menyandang nama keluarga Maheswari. Lo nggak pantes nyentuh dia."

Bara tidak gentar sedikit pun. Ia justru semakin merapatkan tubuhku ke sisinya. Aku bisa merasakan detak jantungku yang berpacu gila. Di balik kacamata tebal ini, aku melihat Bara mendongak, menatap Alvaro dengan pandangan yang sangat liar dan penuh kemenangan.

Bara tiba-tiba berdiri, namun tangannya masih tetap memeluk bahuku. Ia menarik napas panjang, lalu bersuara dengan nada yang sangat lantang, cukup untuk didengar sampai ke ujung dapur kantin.

"Woi, denger ya semua! Terutama buat lo, Pangeran Kodok!" Bara menunjuk Alvaro tepat di depan wajahnya. "Mulai hari ini, siapa pun yang berani nyentuh, ngata-ngatain, atau bikin cewek ini nangis lagi... berarti lo semua nantang maut. Gue nggak peduli lo anak siapa atau seberapa kaya bapak lo."

Seluruh kantin menahan napas. Aku menatap Bara dengan mata membelalak. Apa yang dia katakan?

Bara menunduk sedikit, menatapku dengan tatapan yang tiba-tiba melunak namun tetap tegas, lalu ia kembali menatap seluruh siswa di kantin.

"Karena suatu saat nanti," Bara menjeda kalimatnya, memberikan efek dramatis yang mencekam. "Cewek ini bakal jadi istri gue! Dan gue nggak suka barang milik gue diganggu sama pecundang kayak lo semua."

Deg.

Duniaku seolah berhenti berputar. Apa tadi dia bilang? Istri?

Alvaro tertawa hambar, namun wajahnya merah padam karena amarah yang meluap. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh orang yang paling ia remehkan di sekolah ini.

"Lo gila, Bara," Alvaro melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka. "Loe pikir dia mau sama berandalan kayak lo? Lihat dia! Dia itu Aira, anak yang nggak dianggap di rumahnya sendiri. Tapi setidaknya dia masih punya harga diri buat nggak jatuh ke tangan preman pasar kayak lo!"

"Harga diri?" Bara tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat berbahaya. "Harga diri itu nggak ada artinya di tangan orang yang cuma bisa nindas cewek tanpa alas kaki di depan umum. Lo mungkin punya uang buat beli sepatu baru buat ular ini, tapi lo nggak akan pernah punya cukup nyali buat ngelindungi Aira kayak yang gue lakuin."

Bara kembali menatapku, jemarinya mengusap lembut helai rambutku yang berantakan, sebuah gerakan yang begitu kontradiktif dengan aura beringasnya.

"Ayo pergi, Ra. Di sini baunya amis... banyak ular yang lagi sandiwara," ucap Bara tajam.

Alvaro hendak mengejar, namun langkahnya terhenti saat Bara menoleh sekali lagi dengan tatapan yang begitu dingin hingga sang pangeran sekolah itu terdiam di tempatnya.

"Inget kata-kata gue, Varo. Dia milik gue. Sentuh dia, dan lo bakal tahu kenapa gue dijuluki Serigala."

Bara membimbingku keluar dari kantin dengan langkah tegap. Di belakang kami, bisik-bisik ketakutan dan keterkejutan mulai pecah kembali. Aku berjalan di sampingnya, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Di bawah lindungan jaket kulitnya, aku merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupku. Sebuah harapan. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Alvaro tampak begitu kecil dan malang di mataku.

1
Ma Em
Aira seharusnya keluar saja dari rumah itu untuk apa Aira bertahan dirumah seperti neraka itu karena Aira tdk diharapkan dan selalu direndahkan tanpa Aira Airin hanya tong kosong hanya sampah Aira msh mau saja dibodohi .
Aletheia
gak semudah itu kak,kan nunggu Aira dewasa atau lulus SMA dulu
Allea
sampai bab ini masih mempertahankan kebodohannya ckck aira aira dah pergi aja sih,selama ada kemauan jalan selalu ada pergilah menjauh dari keluargamu buktikan kamu hebat
Ma Em
Semangat Aira buktikan kalau Aira bkn anak yg bawa aib bkn anak yg bawa sial tapi sebaliknya Aira anak yg berprestasi dan sangat bersinar buat ayah , ibu dan Airin menyesal dan bongkar semua kebohongan dan keburukan Airin didepan Alvaro dan bilang pada Alvaro bahwa teman masa kecilnya bkn Airin tapi Aira , Airin cuma ngaku2 saja jadi Aira , jgn mau memaafkan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu Aira .
Ma Em
Aira jgn takut dgn Alvaro , lawan dia kalau Aira takut Alvaro makin berani menghina Aira , semoga saja kebenaran tentang Airin yg ngaku2 teman Alvaro waktu kecil segera terungkap .
Ma Em
Aira bangkitlah lawan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu , bongkar semua keburukan dan kelicikan Airin agar kedua orang tuamu tau bahwa yg bodoh itu Airin bkn Aira , Aira jgn mau dipermainkan dan dimanfaatkan lagi sama Airin balas lah perbuatan mereka padamu Aira jgn takut ada Barra yg akan menjadi pelindungmu Air 💪💪💪.
Ma Em
Makanya Aira kamu hrs bangkit jgn mau diperalat sama Airin , buat Airin membayar semua perbuatan nya padamu Aira buat kedua orang tuamu menyesal juga Alvaro tunjukan pada mereka keahlianmu yg sebenarnya bkn Airin yg pintar tapi otak Aira yg digunakan Airin untuk mengelabui orang mereka .
Aletheia: sabar ya kak,kita buat supaya Aira bisa teguh jika nanti harus meninggalkan keluarganya☺️
total 1 replies
Ma Em
Bagus Aira bangkitlah dan balas semua perbuatan mereka yg sdh menyakiti dan memfitnah mu Aira terutama Airin jgn diberi maaf juga Alvaro buat dia menyesal .
Ma Em
Heran ya ada orang tua berat sebelah sama anak sendiri dijelek jelekan didepan orang lain hanya untuk dapat perhatian dari Alvaro , tunggu saja saat waktu sdh tiba dan kebenaran akan terungkap siapa Airin dan siapa Aira .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!