NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pukul lima sore, Tara sampai di rumahnya dengan diantar David. Begitu mobil berhenti di halaman depan, David keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Tara. Tara tersenyum hangat. Merasa tersanjung karena sangat diperhatikan oleh David.

Tara mempersilakan David duduk di teras. Dia akan membuatkan kopi hangat untuk mantannya itu. Namun, saat dia hendak membuka pintu depan, tiba-tiba pintu sudah terbuka dari dalam. Haris muncul dan menatap Tara datar. Tara terkesiap.

“Dari mana aja kalian?” tanya Haris seraya melirik David yang duduk di teras.

David juga terkejut melihat Haris karena Tara mengatakan jika Haris akan lembur hari ini. Namun di jam lima sore ini, Haris malah sudah ada di rumah.

“Itu… ehm… kami dari kota sebelah, Bang. Abang kok udah pulang?” Tara menjawab gugup.

Masalahnya Tara mengatakan akan jalan-jalan sebentar saat berpamitan dengan Haris lewat pesan singkat tadi pagi. Tara tak mengatakan bahwa dia akan pergi bersama David.

Haris melangkah keluar. Duduk di kursi teras sebelah David. “Apa kabar, Vid?”

David tersenyum. “Aku baik, Bang. Abang apa kabar?” tanya David santai.

Tara melongo heran. Kenapa Abangnya itu tak marah pada David? Atau setidaknya memasang wajah tak ramah karena membawa adiknya tanpa berpamitan.

“Ngapain malah melongo disana, Ra? Sana, buatin kopi. Dua gelas. Abang mau ngopi juga. Mumpung ada temannya,” ucap Haris melirik Tara yang berdiri di depan pintu.

“Eh.. Iya, Bang,” angguk Tara langsung masuk ke dalam.

Setelah Tara masuk, Haris mengeluarkan bungkus rokok, mengambilnya sebatang dan menawarkan bungkusan rokok itu pada David. David menggeleng. Dia tak merokok. Haris mengangguk dan meletakkan rokok itu di atas meja.

“Gimana Tara hari ini? Sudah ada perubahan?” tanya Haris sambil menatap ke depan.

“Dia banyak tertawa hari ini, Bang. Aku banyak ngobrol sama dia,” jawab David.

“Nostalgia, heh?”

David menggeleng. “Nggak sepenuhnya sih, tapi nyerempet sedikit ke arah sana.”

Haris mengangguk. “Gue pingin Tara ceria lagi. Dia harus nglanjutin hidup dengan bahagia. Dan saat gue lihat kalian turun dari mobil tadi, gue yakin kalau hari ini dia bahagia.”

David mengangguk. Sepanjang mereka berada di danau, lalu jalan-jalan ke Mall, hingga makan siang di foodcourt, Tara memang selalu tersenyum. Mereka mengobrol hal yang membahagiakan. Apa saja. Topik pembicaraan random. Yang penting Tara terus tersenyum bahagia selama bersamanya.

“Thanks. Lo udah pamit sama gue kalau lo mau pergi sama Tara. Kalau enggak, mungkin gue udah khawatir pas gue pulang, Tara nggak ada. Dia cuma pamit mau jalan-jalan sebentar,” lanjut Haris sambil mengepulkan asap rokok ke udara.

David mengangguk lagi. “Aku tahu, Bang. Makanya aku yang pamit sama Abang.”

Pembicaraan mereka terhenti. Tara keluar membawa penampan berisi dua cangkir kopi dan diletakkan di atas meja.

“Ayo, ngopi, Vid,” ajak Haris mengambil cangkir kopinya dan menyeruputnya perlahan.

David mengangguk dan ikut menyeruput kopinya. Namun sambil menyeruput, David menatap ke arah Tara yang duduk di seberang mereka. David tersenyum tipis.

“Kamu mau ikut ngobrol sama kami, Dek?” Haris melirik Tara yang duduk di seberangnya.

“Kalau iya, kenapa? Abang mau ngusir aku dari rumahku sendiri?” Tara menatap Haris heran.

“Tapi Abang nggak bebas ngobrol sama David kalau kamu ada disini,” jawab Haris.

“Kenapa nggak bebas? Emang kalian mau ngomongin apa?”

“Rahasia cowok lah. Cewek dilarang nguping. Lagipula nanti David curi-curi pandang lagi ke kamu. Apalagi sekarang kamu udah jadi janda,” seloroh Haris.

Tara mencebik. “Ih.. diejek mulu. Emang kenapa kalau janda? Timbang Abang, umur udah tua, tapi nggak nikah juga,” balas Tara mengejek.

Haris tertawa. “Cowok itu makin tua makin mateng. Iya nggak, Vid?” tanya Haris menoleh. Meminta

David setuju dengan omongannya. David tertawa dan mengangguk.

“Kalau kematengan lama-lama busuk,” ucap Tara menjulurkan lidah, mengejek Abangnya sekali lagi, lalu masuk ke dalam rumah.

David menggeleng geli, melihat kelakuan kakak beradik itu. Haris tertawa. Cukup terhibur dengan ejekan adiknya.

“Gimana usaha bengkel lo? Lancar?”Haris mencomot sembarang topik obrolan.

“Lancar, Bang.”

David menjelaskan garis besar bagaimana usahanya sekarang yang semakin maju. Keduanya saling mengobrol hangat. Membicarakan banyak hal mengenai urusan para lelaki, hingga kopi di gelas habis tak tersisa.

Setelah menghabiskan kopinya, David pamit pulang. Dia titip salam untuk Tara yang dibalas anggukan oleh Haris. Tak lama kemudian, mobil David melaju ke jalan besar.

Haris membereskan gelas dan membawanya masuk. Dia terkejut saat melihat Tara ada di meja makan sambil menikmati kopi hangat juga.

“Kamu ngopi, Ra?”Haris melirik gelas di atas meja.

Tara mengangguk. “Bikinin kalian kopi, aku pingin juga. Tapi aman kok. Ini kopi aman buat lambung. Kata tulisan di sachet nya tapi.” Tara nyengir.

Haris menggeleng jengah. “Awas aja kalau ngeluh lambungnya perih.”

“Nggak kok. Jarang juga aku ngopi.”

Setelah meletakkan gelas kosong di tempat pencucian piring dan gelas, Haris melangkah keluar dapur, hendak ke kamar.

“Jangan lupa, nanti matiin semua lampu utama ya. Abang lupa ada kerjaan di kamar, tadi malah ngajak David ngobrol,” ucap Haris lalu melangkah ke dalam kamarnya.

Tara mengangguk. Segera menghabiskan kopinya, mematikan lampu utama, dan melangkah ke dalam kamarnya.

***

Satu bulan berlalu dengan cepat. Tara mulai bosan di rumah sepanjang hari. Dia butuh pekerjaan agar tak terlalu merepotkan Haris. Walau Haris bisa memenuhi semua kebutuhannya, tapi tetap saja rasanya beda kalau Tara memiliki penghasilannya sendiri.

Dia membuka salah satu aplikasi media sosial. Tak sengaja melihat postingan Dea yang mengunggah foto poster lowongan pekerjaan. Tara melihat dengan saksama kualifikasinya.

Setelah merasa dia memenuhi persyaratan, Tara langsung mengirim direct message ke akun Dea. Nomor Dea hilang karena dia ganti nomor dan ganti ponsel. Salahnya yang tak mencadangkan nomor siapapun. Jadinya dia kehilangan semua kontak nomor teman-temannya.

Tak lama kemudian, Dea membalasnya.

@mynameDea [Kita ketemuan aja gimana, Ra? Biar lebih enak ngobrolnya. Kalau lewat pesan, aku takut balesnya lama soalnya kerjaanku lagi banyak banget.]

Tara membalasnya. [Oke. Aku sekalian bawa surat lamarannya ya. Mau ketemu dimana Mbak ?]

@mynameDea [Di kafe Prestana. Hari Sabtu jam satu siang. Bisa nggak?]

[Oke, Mbak.]

Tara tersenyum. Dia berharap dia memenuhi kualifikasi yang diinginkan kantor Dea dan bisa mulai bekerja. Tara ingin menyibukkan diri.

Selanjutnya Tara menyiapkan surat lamaran kerja. Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk.

“Masuk,” seru Tara tanpa menoleh. Tahu, pasti Haris yang mengetuk pintu.

Haris masuk dan melangkah mendekati Tara. “Lagi apa, Dek?”

“Bikin surat lamaran kerja.”

Haris mengernyit. “Kamu mau kerja?”

Tara mengangguk. “Bosen, Bang di rumah terus. Aku pingin kerja. Pingin punya kegiatan yang menghasilkan uang,” jawab Tara tanpa menoleh.

Haris menghela napas pelan. “Mau nglamar kerja dimana?”

“Di kantornya Mbak Dea. Tadi lihat postingan dia. Kantornya buka lowongan kerja. Aku juga udah kirim pesan ke dia kalau aku berminat dengan lowongan itu.”

Haris cukup terkejut. Namun setelahnya mengangguk. “Ya sudah. Apapun itu, Abang dukung asal itu positif.”

Tara menoleh dan tersenyum. “Terima kasih, Bang.”

Haris mengangguk dan mengelus pucuk kepala Tara sekilas lalu keluar kamar. Membiarkan Tara meneruskan membuat surat lamaran kerja.

***

Sabtu siang, Cafe Prestana.

Tara dan Dea duduk saling berhadapan dipisahkan meja kecil. Setelah berbasa basi sebentar menanyakan kabar, Tara mengambil map coklat dari tasnya dan menyerahkannya pada Dea.

Dea mengangguk, menerimanya. “Aku bakal usahain biar kamu dipanggil untuk menjalani beberapa tesnya, Ra. Semoga kamu bisa keterima.”

Tara mengangguk dan tersenyum. “Semoga saja, Mbak. Jujur aku udah jenuh banget di rumah.”

“Jadi, ini mau kerja karena jenuh di rumah ?” Tanya Dea lalu mengambil kentang goreng di depannya dan memakannya.

Tara meringis. “Ya biar dapet duit juga, Mbak. Kasihan Abang Haris kalau harus nanggung hidupku terus. Lama-lama tabungannya bisa habis.”

Dea terkejut dan menatap Tara heran. “Kenapa hidupmu ditanggung Haris? Emangnya suamimu bangkrut?”

Tara tersentak. Dia menatap Dea. Lupa jika sedari tadi, Tara tak menceritakan tentang statusnya yang baru. Dea mengernyit saat melihat sikap Tara.

“Eh.. maaf, Ra. Bukan maksudku ngomong gitu.. tapi…” Dea kikuk. Merasa bersalah karena ucapannya tadi yang mungkin membuat Tara tak nyaman. Suasana jadi sedikit canggung diantara mereka berdua.

Tara tersenyum tipis. “Nggak papa, Mbak. Aku yang lupa. Harusnya aku juga jelasin dari awal tentang statusku.”

Dea makin mengernyit, tak mengerti.”Status apa?”

Tara menghela napas pelan. “Aku janda, Mbak.”

Dea tercengang. Terkejut, sampai tubuhnya mematung, menatap Tara tak percaya.

Respon Dea membuat Tara tertawa kecil. “Maaf ya, Mbak. Aku lupa ngasih tahu Mbak. Apa lowongan kerja itu berlaku untuk seorang yang sudah pernah menikah? Soalnya di tulisan kriteria yang aku baca, nggak ada persyaratan mengenai status calon karyawannya.”

Dea berdehem dan meminum air di gelasnya dengan cepat. Sungguh, berita ini mengejutkannya.

“Maafin aku, Ra. Aku bener-bener nggak tahu tentang kamu,” ucap Dea menatap tak enak. Merasa bersalah karena ucapannya tadi.

Tara mengangguk dan tersenyum. “Nggak papa kok, Mbak.”

“Ehm.. untuk masalah status, sepertinya tak ada masalah. Yang penting umurmu memenuhi kriterianya. Bagian itu harus segera diisi karena memang cukup penting. Aku akan usahain kamu lolos seleksi awal ya,” ucap Dea tersenyum kaku.

“Iya, Mbak. Semoga saja ya.”

“Tapi, Tara, maaf.. sejak kapan kalian bercerai?” Tanya Dea penasaran.

“Sudah dari dua bulan yang lalu,” jawab Tara.

“Ya Tuhan. Aku beneran nggak nyangka loh kalau kalian bakal cerai. Beberapa bulan lalu, kalian masih mengundangku di acara anniversary pernikahan kalian yang ketiga. Dan sekarang, kalian sudah bercerai. Aku benar-benar terkejut, Ra.”

Dea menggeleng. Masih tak percaya jika Tara sudah berganti status lagi. Dari single, menjadi istri, lalu single lagi. Semuanya terjadi begitu cepat.

Tara tersenyum. Meneguk air di cangkirnya. “Aku sudah kalah, Mbak. Aku menyerah. Perjuanganku sia-sia.”

“Apa dia kembali ke tabiat aslinya?”

Tara mengangguk. Dea menghembuskan napas pelan. Merasa iba dengan nasib Tara. Dia pikir Tara berhasil merubah Devan mengingat acara anniversary mereka yang ketiga di adakan sangat meriah di sebuah aula besar. Mereka juga selalu memperlihatkan kemesraan di sepanjang acara waktu itu.

“Lalu bagaimana perasaanmu sekarang?” Tanya Dea menatap prihatin. Tara harus menyandang status janda di usianya yang belum ada tiga puluh tahun. Pastilah tak akan mudah menjalaninya.

Tara tersenyum. “Lebih baik, Mbak. Lebih bahagia. Aku nggak perlu nutupin kesedihanku lagi demi menjaga nama baik dia.”

Dea ikut tersenyum. Namun hanya sesaat, sebelum matanya menangkap pemandangan di depannya. Tepat di belakang Tara. Senyum Dea langsung lenyap. Berganti dengan raut wajah terkejut.

Tara yang melihat perubahan ekspresi Dea, sontak menoleh ke belakang. Ke arah pandangan Dea. Dia lebih terkejut lagi saat melihat dua orang pria masuk ke dalam cafe dengan sesekali tertawa dan melempar senyum yang hanya dipahami oleh mereka dan orang-orang yang mengetahuinya.

“Devan … dan …”

Bersambung …

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!